Sabtu, 09 Januari 2016

Lawang Sewu - Semarang




Lawang Sewu - Semarang
 
Assalamualaikum...
 
Belum bosen sama Kota Semarang kan ya? Fokus area masih seputaran Kota Semarang nih...

Iyalah, masih banyak yang pengen saya ceritain tentang Kota Semarang yang panasnya sudah melebihi kota Surabaya ini.

Jadi, ada apa lagi di Semarang? Jawabannya adalah Lawang Sewu. Yuukk...

Lawang Sewu adalah salah satu gedung bersejarah di Indonesia yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kata Lawang Sewu berasal dari Bahasa Jawa yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah Seribu Pintu. Apakah benar Lawang Sewu memiliki pintu sebanyak seribu? Tentu saja tidak. Bangunan Lawang Sewu memiliki jendela berukuran besar yang ukurannya hampir menyerupai pintu dan jumlahnya sangat banyak sehingga masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. Pada kenyataannya, tentu saja jumlah pintu tidak mencapai seribu walaupun sudah ditambah dengan jumlah jendela (yang dianggap sebagai pintu).

Dahulu kala, Lawang Sewu merupakan kantor pusat perusahaan kereta api (trem) Belanda yang disebut Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Bangunan ini mulai dibangun pada tahun 1904 dan selesai di tahun 1907. Lawang Sewu pun menjadi saksi dari pecahnya perang antara tentara Jepang dengan pemerintah Indonesia pada tahun 1942 saat Jepang menjajah Indonesia. Setelah perang usai, Lawang Sewu dikembalikan kepada Pemerintah Indonesia dan menjadi kantor PT. Kereta Api Indonesia.

Pada perkembangan dunia industri dan per-kereta-api-an Indonesia, Lawang Sewu dipandang tidak dapat memenuhi fungsinya sebagai lokasi yang memadai untuk menjalankan administrasi perkantoran sehingga pada tahun 1992 pemerintah setempat menetapkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Beberapa tahun setelah penetapan keputusan dari Pemerintah Kota Semarang, Lawang Sewu mulai dilupakan keberadaanya. Bangunan Lawang Sewu menjadi tidak terurus dan banyak kerusakan di setiap tempat.
Setelah tahun 2009, sebagai akibat dari tereksposenya kerusakan dan tidak terurusnya Lawang Sewu melalui The Jakarta Post, Lawang Sewu ditutup untuk umum dan mulai direnovasi dengan tujuan untuk meningkatkan tourist attraction. Di tahun 2011, Lawang Sewu yang telah selesai di renovasi dan diresmikan kembali oleh ibu negara pada saat itu, Ani Yudhoyono. Pemerintah Semarang pun mengharapkan renovasi dapat menghilangkan “spooky image” yang melekat pada Lawang Sewu. Jadilah bangunan Lawang Sewu yang tetap terawat dan tetap menunjukkan aspek historis yang tidak menyeramkan seperti sekarang ini.

Sebelumnya, saya hanya mengenal Lawang Sewu dari teman-teman yang telah lebih dulu berkunjung kesana. Saya pun mengetahuinya hanya sebatas Lawang Sewu sebagai iconic tourist destination yang wajib dikunjungi jika sedang berada di Kota Semarang. Saya tidak menyangka kalau aspek sejarah yang melekat pada Lawang Sewu seheroik itu. Proud to be Indonesian.

Menurut adik saya, view Lawang Sewu akan terlihat megah dan memukau kalau dikunjungi saat pagi atau sore hari. Jadilah kami mengunjungi Lawang Sewu pada sore hari, tapi sayangnya kami berangkat terlalu sore, sehingga kami hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menikmati keindahan bangunan Lawang Sewu. Kami pun tidak sempat melihat ke lantai dua, kami hanya sempat mengelilingi sebagian dari lantai satu.

Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, lebih tepatnya di sudut Jalan Pandanaran dan Jalan Pemuda, Semarang. Di depan gedung utama Lawang Sewu terdapat (entah replika atau patung) lokomotif kereta api jaman dahulu.

Lokomotif Kereta Api di halaman depan Lawang Sewu

Lawang Sewu terdiri dari empat gedung, gedung A adalah gedung paling luar yang biasanya dapat kita lihat dari tepi Jalan Pandanaran atau Jalan Pemuda, merupakan Exhibition Centre.  Dalam Exhibition Centre, terdapat gallery foto kereta api pada jaman dahulu, miniatur lokomotif kereta api, miniatur landmark Lawang Sewu, beberapa patung dengan pakaian seragam petugas kereta api, sejarah kereta api indonesia, sejarah Lawang Sewu, dll. Yang tidak kalah menarik lagi adalah dibuatnya spot foto dengan background penggalan sedikit dari bagian depan lokomotif kereta api, yang membuat siapa saja merasa gatal banget kalau nggak foto didepannya. Hehehe.

Sejarah Kereta Api Indonesia - Sejarah Lawang Sewu

Penggalan bagian depan lokomotif

Gedung B merupakan Retail, Food, Galeri dan Office Area. Gedung C adalah museum, gedung D adalah ruang tunggu/ ruang P3K, dan gedung E adalah Kantor Pengelola. Sayangnya, saya dan adik-adik saya serta suami saya, tidak sempat mengunjungi Gedung B, C dan D, karena hari sudah hampir gelap. Mungkin next time, semoga ada kesempatan lagi.  

Tiket masuk ke Lawang Sewu hanya sebesar Rp 10.000 / orang untuk dewasa, sedangkan anak-anak dibawah usia 12 tahun dan pelajar dikenai tarif Rp 5.000 / orang. Jam buka Lawang Sewu adalah mulai jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Saran saya, sebaiknya berkunjung ke Lawang Sewu pagi hari dibawah jam 11 siang atau sore selepas Ashar, agar tidak panas, karena panasnya Kota Semarang luar biasa menyengat. Jangan lupa isi penuh baterai kamera atau smartphone Anda karena saya yakin Anda pasti gatel banget kalau sampai nggak mengabadikan keindahan Lawang Sewu, minimal selfie-lah. Hehehe.

Halaman tengah Lawang Sewu


Salam,



Lisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar