Tampilkan postingan dengan label Food Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Food Note. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Oleh – oleh khas Madiun: Brem



Pada suka brem nggak sih? Eh, belum tahu brem? Itu lhoo, salah satu oleh-oleh khas Madiun, yang terbuat dari fermentasi sari ketan? Masih nggak paham? Bentuknya aja nggak tahu? Wah parah nih... Oke2, Lisa ceritain yaa...

Brem adalah makanan tradisional khas yang berasal dari Kota Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sedangkan penghasilnya di Kota Caruban sendiri berasal dari dua desa, yaitu Desa Bancong dan Desa Kaliabu. Brem dikemas dalam bentuk lempengan agak kekuningan, rata-rata berukuran kurang lebih 15 cm x 5 cm x 0,5 cm. 

Pada masa perkembangannya, brem dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Madiun karena Kota Caruban masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Madiun. Pengertiannya, brem adalah makanan yang berasal dari sari ketan yang dimasak dan dikeringkan, merupakan hasil dari fermentasi ketan hitam yang diambil sarinya saja yang kemudian diendapkan dalam waktu sekitar sehari semalam. Bagaimana rasanya? Sensasi saat menikmati makanan ini akan muncul ketika makanan dimasukkan ke dalam mulut, dimana brem akan langsung mencair dan lenyap meninggalkan rasa 'semriwing' di lidah. Rasa yang ditimbulkan dari makan brem adalah sedikit rasa manis dan dingin.

Image Source

Dahulu kala, brem hanya memiliki satu rasa, alias rasa brem itu sendiri. Sekarang, brem mengalami banyak variasi dari segi rasa. Pada beberapa merk dagang tertentu memiliki brem dengan rasa buah-buahan. Yang umum saya jumpai adalah brem rasa cokelat, stoberry, anggur, melon, dll. Sedangkan rasa brem yang sebelumnya merupakan rasa asli disebut sebagai brem rasa original. Mungkin, bagi penikmat brem, mereka bisa membedakan rasa brem original dan brem-brem lain yang sudah mengalami variasi rasa. Tapi bagi saya pribadi yang bukan penggemar brem, saya kurang bisa membedakan, bahkan sama sekali tidak bisa membedakan antara brem rasa original dengan brem dengan tambahan rasa buah-buahan. 

Cara pengemasannya pun sudah mengalami banyak perkembangan, sebelumnya, kemasan standar brem adalah berukuran kurang lebih 15 cm x 5 cm x 0,5 cm. Sekarang ini, saya banyak menjumpai kemasan brem yang lebih kecil, saya kurang tahu berapa ukuran persisnya, yang pasti panjangnya adalah setengah dari ukuran standarnya. Pengen ngicipin tapi takut nggak habis? Jangan khawatir, saya pernah menjumpai cara pengemasan brem yang lebih ekonomis lagi, yaitu dikemas kecil-kecil seukuran permen dan ditata rapi di dalam stoples berukuran diameter 20 cm. Kemasan kecil ekonomis ini dibuat untuk memenuhi permintaan pasar dimana memudahkan penikmatmat untuk menikmati brem, sehingga tidak perlu memotongnya sedikit demi sedikit karena telah tersedia dalam ukuran kecil.

Sekarang ini, banyak sekali merk dagang dari brem yang bisa kita temui di toko oleh-oleh yang terletak di Madiun dan sekitarnya. Masing-masing memiliki produsen sendiri, tidak terbatas dari penghasil pertamanya seperti yang saya ceritakan di awal. Produksi tersebut diantaranya adalah homemade yang banyak diminati konsumen kemudian pemiliknya melakukan produksi secara massal atau mass production yang kemudian dipatenkan kedengan merk dagang tertentu.

Untuk merk dagang yang recommended, mohon maaf, saya kurang bisa memberikan referensi, karena semua kembali ke selera masing-masing. Seperti saya misalnya, kurang suka brem, maka saya pun kurang bisa membedakan mana yang oke dan mana yang enggak. Kalau setahu saya beberapa merk dagang yang terkenal adalah, Mirasa, Suling Gading, Tongkat Mas, Taman Sari, dll. Kalau keluarga saya sih, sukanya beli yang Suling Gading atau Tongkat Mas, karena masih saudaraan sama keluarga besar Bapak saya dan tokonya dekat dengan rumah orang tua saya. Kalau suami saya, sukanya yang Taman Sari yang katanya lebih sip dari yang lain. Saya yang bukan penikmat diantaranya, masih nggak paham juga dimana letak perbedaannya. Hehehe.

Tapi, brem ternyata membawa banyak manfaat lhoh bagi tubuh. Karena brem terbuat dari sari ketan hitam yang bersifat panas, maka brem dapat membantu menyembuhkan dan mengurangi jerawat, begitu katanya. Tapiii, ada tapinya juga, eh ada kelemahannya maksud saya. Dibalik manfaatnya tersebut, brem ternyata membawa dampak yang kurang baik juga kalau kondisi lambung penikmatnya kurang sehat atau tidak tawar dengan panasnya. Jadi saran saya, icip dulu sedikit, pastikan kondisi lambung Anda siap untuk menerima. Kalau ternyata tidak merasa panas, boleh lah dilanjut.

Okee, itu tadi sedikit ulasan dari saya tenteng brem khas Madiun. Jangan lupa sempatkan mampir ke toko oleh-oleh untuk mengicip-icip dan kemudian membeli brem dengan berbagai rasa jika Anda sedang berada di Madiun dan sekitarnya. Jangan khawatir, di setiap toko oleh-oleh selalu disediakan tester untuk ngicipin dulu sebelum membeli, jadi bebas mau memilih rasa apa.




Salam,

Lisa.

Selasa, 29 September 2015

My Very First Snap: Nasi Bakar Tanpa Aroma Gosong ala Cabe Merah

Interior Dalam Cabe Merah


Interior Atas Cabe Merah


Saya termasuk orang yang gagal move on kalau soal makanan. Keharusan untuk tinggal di Pulau Sumatera membuat saya semakin gagal move on, memperparah kegagalan saya. Lebay. Haha. Why? Karena saya tidak suka masakan atau makanan pedas. Sedangkan kuliner di Pulau Sumatera sangat didominasi oleh masakan pedas bersantan dan turunannya, yang lebih dikenal dengan Masakan Padang. Layaknya penjual Nasi Pecel di Madiun yang sudah saya ceritakan disini, bahwa hampir setiap jengkal tempat makan, restoran, warung, depot bahkan asongan menjajakan menu Nasi Pecel. Serupa dengan disini, hampir setiap jengkalnya adalah penjaja Masakan Padang, yang notabene selalu pedas. Sulit sekali menemukan tempat makan yang menjajakan masakan Jawa yang rasanya pas dengan lidah Jawa saya yang pemilih ini. Solusinya? Saya lebih sering mencari resep untuk makanan atau masakan yang saya inginkan, kemudian membuat sendiri dirumah. Sebagian dari hasil gmo saya sudah saya pamerkan disini. Sok diintip.

Tapi, ada kalanya saya merasa ribet dan capek banget untuk memasak apa yang saya inginkan. Mengapa saya harus seribet ini kalau yang diinginkan hanya sesuap dua suap untuk memuaskan rasa kerinduan saya dengan masakan Jawa? Apalagi skill memasak saya yang masih amatiran ini. Jadi tambah meragukan kan ya? Hahaha. Akhirnya, saya pun banyak bertanya kesana-kemari, keluar-masuk tempat makan dengan suami saya demi mencari yang berjodoh dengan lidah Jawa saya. Dipertemukanlah saya dengan Cabe Merah.

Cabe Merah adalah salah satu tempat makan favorit saya disini. Cabe Merah terletak di dalam Mall Mandau City, Duri, Kab. Bengkalis, Riau. Menu yang ditawarkan di Cabe Merah tidak sebanyak menu yang ditawarkan di tempat makan atau resto saingannya. Tapi, sejak pertama saya makan di Cabe Merah dengan menu yang berbeda-beda, mencoba menu baru, Cabe Merah tidak pernah mengecewakan saya. Yang artinya rasanya sesuai dengan lidah Jawa saya. 

Menu yang ditawarkan di Cabe Merah kebanyakan adalah masakan Jawa yang jarang sekali atau bahkan tidak ada di tempat makan lain. Menu yang ditawarkan diantaranya adalah Nasi Kuning, Nasi Uduk Komplit, Soto Ayam, Soto Daging, Rawon, dll. Menu yang menjadi favorit saya adalah Nasi Uduk dan Nasi Kuning yang sudah menjadi menu andalan saya sejak pertama kali saya berkunjung ke Cabe Merah.


Nasi Iga Bakar Komplit

Bulan ini, Cabe Merah meluncurkan menu terbarunya yang tidak kalah enak dengan menu andalan saya yaitu Nasi Bakar. Saya pernah mencicipi menu Nasi Bakar dua kali sebelum cocok di Cabe Merah. Yang pertama ada di salah satu foodcourt di salah satu Mall di Madiun dan yang kedua ada di salah satu resto di kawasan Cempaka Putih, Jakarta. Keduanya memberikan kesan yang menurut saya kurang cocok dengan lidah saya. Saat saya memasukkan Nasi Bakar ke dalam mulut saya, ada bau gosong (atau sangit dalam Bahasa Jawa) yang tercium di hidung saya. Sejak saat itu saya agak trauma dengan Nasi Bakar. Nah, Nasi Bakar ala Cabe Merah, sangat berbeda dengan dua Nasi Bakar yang saya makan sebelumnya. Nasi Bakar ala Cabe Merah sangat jauh dari aroma gosong. Justru saya sangat menikmatinya sampai saya tidak sadar kalau sudah memakan penuh hampir satu bungkus. Lapar banget mah itu. Hahaha. Serius. Enak. Dan sepertinya akan menjadi menu andalan saya berikutnya kalau berkunjung ke Cabe Merah lagi.

Nasi Bakar ala Cabe Merah adalah nasi putih yang dimasak dengan bawang merah dan bawang putih goreng, seledri, dicampur dengan Ikan Teri yang kecil-kecil berwarna putih, dibungkus dengan daun pisang yang dibentuk memanjang menyerupai lontong kemudian dibakar. Hasilnya, asin, gurih dan enak banget. Dijamin ketagihan. Pelengkapnya adalah Ayam Goreng, Tempe dan Tahu goreng, dengan lalapan selada, irisan mentimun dan tomat serta sambal. Nikmat banget.


Nasi Bakar Ikan Teri Komplit

Sore kemarin, saya sedang ingin makan Nasi Bakar dan sekaligus mencicipi salah satu menu baru Cabe Merah, yaitu Nasi Iga Bakar yang dipesan oleh suami saya. Sambil menunggu makanan pesanan saya dihidangkan, saya mencoba beberapa feature baru dari OpenSnap. OpenSnap adalah aplikasi Social Dining Guide lansiran dari OpenRice dimana kita dapat rate makanan resto melalui foto. Nah, OpenSnap ini meluncurkan beberapa feature baru diantaranya Personalized Your Food App by Bookmark, Social Visited, Map View, Personalize Your Favorite Location dan Everyone Tab. Personalized Your Food App by Bookmark adalah kita dapat mem-bookmark atau menandai restoran, jenis masakan atau makanan favorit kita, yang fungsinya kalau menurut saya adalah sebagai jurnal pribadi, jadi semakin mempermudah kita untuk mengingat apa yang sudah pernah kita makan di suatu restoran. Jadi kalau kita sudah pernah mencoba satu menu, kita dapat mencoba menu yang lain jika berkunjung di restoran yang sama melalui bookmark tersebut. Selain itu, kita juga dapat memfilter restoran berdasarkan bookmark terbanyak oleh foodies (penikmat makanan). Jadi, semakin restoran atau jenis masakan atau makanan tersebut di-bookmark, berarti makanan tersebut semakin banyak digemari. Yang tentunya membuat kita semakin panasaran bagaimana rasanya. Nilai plusnya, feature baru OpenSnap ini dapat memperkaya katalog restoran dan menambah daftar panjang makanan yang akan masuk dalam jadwal kuliner kita. Social Visited adalah kita dapat melihat restoran mana saja yang dikunjungi oleh teman kita (yang kita follow). Jadi kita bisa tahu juga restoran mana yang paling banyak atau digemari oleh teman – teman kita. Seru kan? Belum selesai lho. Masih ada Map View dimana kita dapat melihat berbagai restoran yang terdekat dari lokasi kita berada. Ini memudahkan banget untuk para traveller yang hobi jalan-jalan tapi biasanya bingung mau makan dimana dan apa yang enak. Ada juga Personalize Your Favorite Location yang artinya kita dapat mengatur lokasi yang sering kita kunjungi untuk menjadi laman terdepan. Yang terakhir adalah Everyone Tab dimana kita akan ter-update dan terkoneksi oleh seluruh foodie yang berada di kota tersebut, misalnya Pekanbaru dan apa yang sedang mereka makan. Seru kan ya?

Kalau favorit saya adalah Map View, cocok banget buat saya yang sering wara-wiri ngikutin suami entah untuk urusan pekerjaan atau hanya jalan-jalan berdua di negeri antah-berantah. Jadi kalau bosan dengan tempat makan dan menu yang itu-itu aja, tinggal buka OpenSnap. Sedang keluar kota, tapi nggak tahu mau makan apa dan dimana, buka juga OpenSnap. Map View-nya membantu banget. Apalagi kalau kita ingin mencoba sesuatu yang sedang ngetrend di suatu kota, tinggal klik aja Social Visited, terus Snap juga yang versi kita, biar ikutan ngeksis gitu. Hehehehe.

By the way, sudah kenalan kan sama OpenSnap? Belum? Download dulu-lah di App Store atau Play Store. Terus cuuz cobain serunya mantengin makanan-makanan ala restoran maupun homemade cooking yang bikin lapeerr dan mupeng penasaran. Oke? Saya makan dulu ya? Jadi pengen Nasi Bakar lagi. Ups!


Es Doger Cabe Merah

Salam.


Lisa.

Rabu, 23 September 2015

Es Dawet Suronatan - Madiun



Assalamualaikum...

Cerita tentang dunia kuliner memang tidak akan ada habisnya. Apalagi kuliner yang merupakan ciri khas dari sebuah kota, pasti sudah dihafal banget tanpa harus mempelajari. Dunia kuliner memang memiliki daya tarik tersendiri bagi penikmatnya baik yang berasal dari daerahnya sendiri maupun yang berasal dari luar daerah. Penikmat kuliner bisa siapa saja, mulai dari para perantau yang rindu akan kampung halaman sampai traveller dari daerah lain yang memang sengaja datang hanya ingin mencicipi dan mencari tahu apa yang khas dari suatu daerah. Kuliner dapat menjadi ciri khas dari sebuah daerah atau kota. Tidak jarang juga para perantau kemudian membuka usaha kuliner di lokasi merantau mereka demi memuaskan hasrat kerinduan terhadap kampung halaman atau ingin mengembangkan bisnis kuliner yang berasal dari kampung halaman di lokasi perantauan. Buktinya, banyak resto-resto yang menjual berbagai masakan khas suatu daerah, Nasi Pecel Madiun misalnya, kini tidak hanya bisa dinikmati di kota asalnya saja, kita bisa menemuinya di resto-resto yang menjajakan masakan Jawa. Ya walaupun banyak orang mengatakan bahwa rasanya akan berbeda jika dinikmati langsung di kota asalnya.

Di kampung halaman saya, Madiun, ada banyak kuliner yang bisa dinikmati dan sayang untuk dilewatkan, salah satunya adalah Nasi Pecel Madiun yang sudah sangat terkenal dan bisa dibeli dimana saja yang menjajakan masakan Jawa, ulasannya sudah saya posting disini ya. Kalau sedang berada di daerah sekitar Madiun, apa salahnya singgah sebentar, meluangkan waktu untuk mencicipi makanan-makanan khas dari kota kami. 

Kalau sebelumnya saat singgah di Kota Madiun, sudah pernah makan atau mencicipi Nasi Pecel Madiun, kini saatnya memperkenalkan makanan yang unik dari Madiun. Mungkin memang aslinya asalnya bukan dari Kota Madiun. Tapi kurang afdhol rasanya kalau berkunjung di Kota Madiun tanpa menikmati yang satu ini. Adalah Es Dawet Suronatan. Belum pernah dengar atau sudah pernah dengar? Kalau sudah pernah dengar dan sudah pernah mencicipi, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar. Kalau belum pernah dengar apalagi belum pernah mencicipi, mari saya kenalkan dengan es yang fenomenal ini yang pengelolanya sudah turun-temurun hingga generasi ketiga.

Es Dawet Suronatan adalah menu andalan di Depot Dawet Suronatan. Lokasi depot terletak di Jl. Merbabu Gg. Suronatan No. 10, sebelah barat Alun- Alun Madiun, sekitar 20 meter dari Alun- Alun Madiun. Dawet Suronatan adalah minuman yang terdiri dari semangkuk campuran bubur ketan hitam, bubur sumsum, dawet yang terbuat dari tepung beras, tape, dan kemudian diguyur air gula Jawa dan santan. Yang khas dari minuman ini adalah Depot Dawet Suronatan membuat dawetnya sendiri dari tepung beras, sehingga rasanya lebih gurih, kasar, dan kenyal. Es Dawet Suronatan cocok dinikmati sambil menyantap makan siang di tengah hari yang panas, karena rasa dawetnya yang segar akan segera melegakan dahaga dan membuat penikmatnya ketagihan.

Depot Dawet Suronatan juga menyediakan makanan utama sebagai teman menikmati Es Dawet Suronatan. Menu yang tidak kalah terkenal dari Es Dawet Suronatan adalah Gado-gado, Garang Asem, Sayur Asem, Soto dan Rawon. Jangan ditanya soal rasa, semuanya jawara untuk disandingkan dengan Es Dawet Suronatan. Jadi, pastikan untuk memilih baik-baik menu makanan utamanya, karena semuanya enak dan nikmat.

Es Dawet dan Gado-gado Suronatan
Untuk jam operasional depot adalah mulai jam 08.00 – 17.00 WIB. Saran saya, kalau ingin mengunjungi depot, jangan terlalu sore, pengunjung bisa saja kecewa karena Es Dawet Suronatan telah habis. Depot selalu ramai pada tepat jam makan siang. Jadi kadang saya pun bingung juga ya, kalau pas jam makan siang bisa ramai banget dan bisa jadi nggak dapat tempat duduk, kalau kesiangan atau kesorean bisa jadi nggak kebagian alias kehabisan. Hehehe.

Tapi kabar baiknya, karena banyaknya penikmat Es Dawet Suronatan yang ketagihan membuat pengelola depot melebarkan sayapnya dengan membuka dua cabang, satu cabang masih terletak di Kota Madiun dan cabang lain terletak di Yogyakarta. Cabang di Kota Madiun terletak di "Dawet Suronatan 2" Jl. Mangkuprajan No. 1 Madiun (belakang kantor PAN Jl. Mayjend Panjaitan Madiun), sedangkan untuk di Yogyakarta pengelola menggunakan nama WARUNG MADIUN agar lebih familiar bagi masyarakat sekitar Yogyakarta. Warung Madiun terletak di  Jl. Sukun Raya (Depan JEC Janti) Yogyakarta. Menu makanan yang ditawarkan di Warung Madiun tidak persis sama seperti menu makanan yang ditawarkan di Madiun karena selera dan mungkin keadaan lain dimasyarakat.

Penasaran dengan kesegaran Es Dawet Suronatan? Silakan berkunjung di salah satu cabangnya. Kalau sedang berada di Yogyakarta dan sekitarnya, bolehlah mencicipi dulu disana sebagai penanda bahwa Anda pernah merasakan kesegarannya. Tapi saat berada di Kota Madiun dan sekitarnya, WAJIB hukumnya untuk berkunjung di depot pusat maupun di cabangnya. Dijamin, akan ketagihan.


Salam,

Lisa.

Selasa, 22 September 2015

Tiny Cute Cake from Vanhollano

Rainbow Cake Small
Tinggal jauh dari kampung halaman merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Memang sudah konsekuensi yang harus saya hadapi dari menikahi orang yang pekerjaannya akan selalu berpindah tempat. Tantangannya adalah selain adaptasi lingkungan, saya harus beradaptasi juga dengan makanannya. Apalagi tinggal di Pulau Sumatera yang kulinernya banyak dipengaruhi oleh kuliner khas melayu, serba pedas, sementara saya tidak menyukai pedas. Jadi diperlukan efforts yang lebih untuk menjelajahi setiap sudut kota yang saya tinggali, demi mencari kuliner yang cocok untuk lidah Jawa saya. Termasuk dalam hal kue atau bakery. 

Saya termasuk orang yang menyukai berbagai jenis olahan bakery. Entah itu kue kering, kue tradisional, cake, roti, dan berbagai jenis olahan tepung lainnya. Why? Karena rasanya yang manis, gurih, nikmat. Dan jarang ada kue rasa pedas cabe kan?? Atau mungkin cuma saya yang belum nemu? Kalaupun berhasil menemukan, mungkin saya juga nggak akan beli. Hehehe. 

Karena seringnya saya makan berbagai jenis bakery, saya jadi sedikit pemilih terhadap merek kue tertentu. Ada kan ya, kue yang kelihatannya enaaak banget saat di display di etalase, menggoda banget buat beli dan ngicip, eh tapi ternyata rasanya tidak sesuai dengan harapan dan display yang tampak. Mengecewakan? Jelas. Dan itu akan memunculkan kata WARNING dalam ingatan saya, bahwa saya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan saat mencoba kue jenis X dari toko Y. Pengalaman saya membuat saya berpikir dua kali untuk membeli kue jenis yang sama di toko itu, mungkin saya masih mau mencoba membeli jenis yang lain, tapi jika mengecewakan lagi, mungkin bisa mendatangkan kata BLACKLIST dan saya pun tidak akan kesana lagi.

Nah, tinggal disini, memaksa saya untuk sering mencoba dan bertanya kanan kiri, bakery mana yang oke rasanya, sesuai antara harga, rasa dan pelayanan. Kalau saya tinggal di Pulau Jawa, sudah pasti saya langsung bisa menyebutkan bakery mana yang oke, misalnya kalau kita singgah di kota A maka yang oke itu bakery B, singgah di kota C oleh-olehnya bakery D, dan seterusnya. Atau sebut saja beberapa merek bakery terkenal yang hampir ada di setiap mall di Pulau Jawa. Nah, disini? Saya dan suami sangat buta kuliner, dimana yang enak, apa yang enak, karena ini merupakan pengalaman pertama kami tinggal di Pulau Sumatera.

Dari hasil survei kami, ada satu bakery yang cukup terkenal di Pulau Sumatera, namanya Vanhollano Bakery. Dari info yang saya peroleh, Vanhollano Bakery ada di beberapa kota di Pulau Sumatera, termasuk di Duri, Riau. Dan sejak pertama kali saya makan kue dari Vanhollano, saya belum pernah merasa kecewa dengan rasa dan penampakannya. Semuanya enak. Yang menjadi favorit saya adalah Chicken Triangle, Beef Triangle, Donat ayam, Abon Special Ayam, Abon Special Sapi, pizza kecil dan puding.


Beef Triangle, Chicken Triangle, Hot Nerazuri


Tidak semua toko bakery menyediakan cake untuk suatu event, misalnya ulang tahun, anniversary, dsb. Jika teman-teman mampir di Vanhollano, teman-teman perlu mencoba salah satu dari cake-nya. Karena mereka menyediakan cake dengan ukuran mini. Imut-imut banget tapi desain cake tetap bagus, membuat saya sayang banget untuk memakannya. Di bakery lain ukuran cake yang kecil bisa 10 cm atau 15 cm, di Vanhollano, saya menemukan cake mini dengan ukuran 7 cm, imut-imut banget kan?

Mini Cake | size: d = 7 cm | I shoot it zoom to take closer look to his cute eyes
Imut banget kan cake yang saya pilih? Ukurannya mini banget lhoh. Diameter cake-nya cuma 7 cm. sengaja saya abadikan dan saya zoom-in karena saya nggak tahan lihatnya, gemes banget lihat matanya ini, entah hewan apa, burung atau bebek. Hehe. Katanya suka bakery, tapi kenapa beli cake kecil banget? Penjelasannya adalah karena saya dirumah hanya berdua saja dengan suami, kalau terlalu besar, nanti pasti nggak habis, dan kami seringnya sih memang beli yang kecil-kecil, tapi banyak varian, agar bisa saling icip-icip satu sama lain, dan nyobain apa saja menu yang baru. 

Di Pulau Jawa, mungkin saya memiliki banyak pilihan dari sekian banyaknya merek bakery terkenal yang ada, tapi jika kita tinggal di Pulau Sumatera, ada outlet Vanhollano, wajib hukumnya untuk mampir dan menikmati hasil bakerynya yang enak dan cake-nya yang imut-imut.




salam,

Lisa.