Sabtu, 19 Januari 2019

Kelahiran Bayi IVF Kami



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Wiihh lama nggak blogging, berasa kangen. Sebenarnya sudah direncanakan buat update blog, tapi yah rencana tinggal rencana. Qadarallah, adaaa aja yang harus diprioritaskan selain blogging. Maklum, emak baru, harus banyak belajar dan adaptasi. Jadi weh tahu-tahu udah selama itu, tahu-tahu udah tahun baru aja, hehehe.

Anyway, Selamat Tahun Baru 2019. Semoga segala keinginan dan resolusi saya dan temen-temen semua, pembaca blog saya dapat terkabul, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa ijinkan keinginan kita untuk menjadi nyata, Aamiin… Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamiin…

Jadi sekarang mau cerita soal apa? Tentu saja soal kelahiran si Adek dooong… member baru di keluarga kecil kami. Alhamdulillah. Yuukk…

Kelahiran Puteri Pertama Kami
Alhamdulillahhirabbil’alamiin, telah lahir dengan selamat sehat wal ‘afiat, puteri pertama kami, hasil dari keberhasilan program IVF yang kami ikuti dua tahun lalu. (Yang belum baca atau kepo kenapa kami memilih hamil dengan cara program IVF silakan baca urutannya mulai dari sini ya). MasyaaAllah, kami pun kadang masih nggak percaya, akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’alaa titipkan seorang anak kepada kami. Alhamdulillah.

Allah Subahanhu Wa Ta’alaa pun menjadikannya istimewa, mengijinkannya untuk bertemu kami pertama kalinya di dunia Hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2018 jam 13.46 WIB, selisih sehari dengan tanggal kelahiran kami berdua, otomatis jadi kado terindah dalam hidup kami. Puteri kami lahir dengan cara bedah Caesar atau Sectio Caesarian, dengan berat 3,5 kg dan panjang 52 cm. Besar yaaa, MasyaaAllah, bongsor, sesuai dengan prediksi dr. Aditya Kusuma, SpOG dan dr. Aryando Pradana, SpOG di trimester awal dan trimester kedua kehamilan saya. Dan sekarang Alhamdulillah si Adek sudah masuk usia 5 bulan. Mohon doanya ya teman-teman semua, semoga puteri kami bertumbuh dan berkembang dengan sehat wal ‘afiat. Aamiin…

Bayi IVF Kami :)

Mengapa memutuskan untuk melakukan Bedah Caesar?
Cerita dulu nih ya, jadi di trimester kedua kehamilan saya, saya sempat berkonsultasi dengan dokter Nando perihal cara melahirkan. Karena berbagai riwayat yang pernah saya alami, diantaranya riwayat Operasi Laparoskopi yang belum genap setahun, mata minus saya dan tonjolan yang ada di belakang (maaf dubur), yang mungkin memberatkan saya jikalau saya ingin melahirkan secara Normal. Jadi dokter Nando menyarankan untuk Bedah Caesar saja, cari aman.

Di trimester akhir kehamilan saya, kami (saya dan suami saya) masih mempertahankan option melahirkan secara Normal, mengusahakannya, siapa tahu masih bisa. Saya masih rajin ikut yoga prenatal, jalan-jalan tiap pagi sehabis Subuh, meminta surat keterangan Operasi Laparoskopi dari RSIA Bunda tentang jahitan di dalam rahim saya, bahkan saya mengikuti Kelas Childbirth Education by AMANI (akan saya ceritakan soon yaaa…). Qadarallah, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa berkehendak lain, dokter yang menangani saya untuk melahirkan memutuskan untuk melakukan Bedah Caesar dengan pertimbangan bayi kami adalah bayi hasil program IVF, riwayat infertilitas selama kurang lebih lima tahun, riwayat Operasi Laparoskopi, mata minus dan tonjolan yang ada di belakang (maaf dubur). Yang paling menjadi pertimbangan beliau adalah riwayat Operasi Laparoskopi, yaitu adanya bekas jahitan di rahim saya yang belum tahu pasti tepatnya dimana karena surat keterangan dan video dari RSIA Bunda tidak bisa menunjukkan dengan jelas dan tepat lokasinya, yang bisa menyebabkan pendarahan jika saya memaksa untuk melahirkan secara Normal.

Rujukan Bedah Caesar dari dr. Santi

Bagaimana perasaan saya? Yang pertama jelas takut. Bayangan terbaring di meja operasi dengan dikelilingi berbagai pisau, peralatan medis dan lampu super terang diatas kepala itu masih membekas di ingatan saya, ingatan tentang Operasi Laparoskopi yang saya jalani dua tahun lalu. Bayangan saya seperti itu kurang lebih untuk operasi Bedah Caesar. Apalagi ternyata suami saya tidak diijinkan untuk ikut menemani saya menjalani operasi Bedah Caesar. Ini yang luput dari perhatian kami. Memang, ada banyak pertimbangan dan tentu kebijakan RS juga perihal adanya anggota keluarga yang masuk ke ruang operasi. Saya bahkan sempat menangis beberapa jam sebelum operasi dijadwakan, saking stress dan takutnya saya, sendirian menghadapi proses operasi Bedah Caesar (jangan dicontoh yaa). Saya berkali-kali ke kamar mandi, saking nervous-nya, lapar juga, karena memang tidak boleh mkan beberapa jam sebelumnya, jadi makin nggak karu-karuanlah kondisi emosi saya. Suami saya dengan tenang selalu menemani saya, mengajak saya Sholat Dhuha berjamaah kemudian Sholat Dhuhur berjamaah sebelum akhirnya turun untuk melakukan prosedur medis sebelum operasi (bercukur, pasang infuse, kateter, dll).

Akhirnya saya pun digledek ke ruang operasi dengan tendangan si Adek yang masih heboh di perut (mungkin sudah nggak sabaran pengen ketemu ayah ibunya dan semua anggota keluarga yang lain, atau mungkin takut, sama kayak saya, ibunya, hehehe). Pasca dibius Spinal, saya dibaringkan telentang, di depan wajah saya dipasang gawang yang ditutupi kain hijau sehingga saya tidak dapat melihat bagaimana proses pembedahan berlangsung, kalau bisa mungkin saya yang stress, melihat perut saya diobok-obok, hahaha. Di tangan kiri saya dipasang infuse dan alat deteksi jantung, sementara tangan kanan saya bebas bergerak, jadi saya terus berdzikir sambil menggigil dengan menggunakan tangan kanan saya. Operasi berlangsung dengan diiringi alunan Murrotal, nggak lama setelahnya ada suara teriakan dan tangisan bayi saya yang sangat keras, Alhamdulillah. Seketika itu juga saya ikut menangis. Iya, saya menangis, terharu, bahwa akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’alaa kabulkan keinginan kami, impian kami, MasyaaAllah… Alhamdulillah.

Sakitkan suntikan Spinal atau bius lokal sebelum menjalani Bedah Caesar?
Buat saya yang sudah mengalami asam garam suntikan (cieh!), berbagai suntikan akibat program IVF, suntikan Spinal tidak lebih sakit daripada suntikan penguat rahim yang ada di pantat. Suntikan itu masih memegang peringkat satu buat saya, hehehe. Sensasi saat disuntik dan setelahnya itu membekas banget diingatan saya, sakit banget, pegel atau kemeng, gatel juga, dan itu bertahan satu sampai dua hari pasca disuntik, bahkan bisa lebih. Dan nggak boleh diapa-apain, Cuma boleh diusap-usap aja pelan-pelan, nggak boleh digaruk juga, padahal nih, gateeeelll banget-banget-banget deh.

Bagaimana cara penyuntikan bius lokal untuk Bedah Caesar?
Yang saya alami, setelah saya digledek ke ruang operasi, saya diminta duduk dengan posisi menelungkup. Saya memeluk tangan dokter anestesi yang berada horizontal dibawah leher saya, memegangi tubuh saya juga agar tidak bergerak. Sementara dokter lain, mungkin asistennya, menyuntikkan di antara tulang belakang bagian bawah, beberapa ruas dari tulang paling bawah kalau nggak salah. Pernah mendengar juga kalau tidak bisa duduk, mungkin karena suatu hal, penyuntikan bisa dilakukan dengan cara berbaring miring dengan posisi menelungkup juga sehingga tulang belakang terlihat menonjol yang memudahkan petugas mencari titik yang tepat untuk anestesi.

Bagaimana rasanya pasca anestesi Spinal?
Beberapa menit pasca anestesi Spinal, bagian bawah tubuh saya terasa kebas ya. Setelah itu dokter yang bertugas akan memegangi bagian bawah tubuh saya, ngecek, apakah kaki dan perut saya masih terasa disentuh olehnya, kalau sudah nggak terasa, baru beliau mulai melakukan operasi.
Saya sadar? Sadar doong… saya merasa kalau perut bawah saya di bedah tapi nggak merasa sakit sama sekali. Nggak lama kemudian, dokter yang berada di samping saya memberikan aba-aba, ‘tarik napas panjang… siap-siap ya bu…’ sambil menekan-nekan perut atas saya sebanyak tiga kali, kemudian terdengarlah suara jeritan dan tangisan bayi saya yang keras banget, MasyaaAllah… Alhamdulillah.

Berapa lama waktu operasi Bedah Caesar?
Berdasarkan yang saya alami, saya mulai di gledek di jam 12.30, kemudian bayi saya lahir di jam 13. 46, saya diantar ke ruang pemulihan sekitar jam duaan, hampir 14.30 dan berada di ruang pemulihan sampai kira-kira jam 16.00 atau seharusnya sekitar dua jam kurang lebih. Tetapi saya sudah bisa menggerakkan kaki saya pelan-pelan, indikator lain sebagai penanda bahwa pasien siap kembali ke kamar atau tidak ada komplikasi berarti pasca operasi Bedah Caesar. Sehingga saya boleh diantar ke kamar perawatan saya bersama suami, bayi dan keluarga saya.   

Apakah proses melahirkannya harus melalui Bedah Caesar jika mengikuti program IVF?
Saya rasa TIDAK ya, jadi tergantung kondisi tubuh dan riwayat kesehatan masing-masing pasien, dikonsultasikan saja dengan dokter kandungan masing-masing. Jika memang tidak bisa melahirkan secara Normal, jangan bersedih ataupun menyesal. Karena tujuan kita sebagai pasien dan paramedis itu sama, keselamatan ibu dan bayi. Jangan malah stress kayak saya, plis jangan dicontoh ya. Ibu harus tetap happy dan selalu diusahakan happy agar hormon tetap stabil bagus dan tentu saja agar tidak mempengaruhi kesehatan bayi kita. Jika kita stress dikhawatirkan bisa mempengaruhi bayi kita, jangan sampai bayi kita ikutan stress juga gara-gara kita. Naudzubillahiminzalik. Kita nggak pengen itu.

Kalau menurut dr. Susanti Mintarsih, SpOG atau dokter Santi, dokter yang menolong saya untuk melakukan Bedah Caesar, syarat pasien untuk dapat melahirkan Normal itu ada 3, yaitu Passenger, Passage dan Power.

Passenger adalah penumpang kalau dalam bahasa Indonesia, mengacu pada Bayi yang akan dilahirkan. Bagaimana kondisi kesehatan bayinya, apakah memungkinkan untuk melalui persalinan Normal dan tidak ada satu hal pun yang dapat menghalanginya untuk melalui persalinan Normal. Karena dalam persalinan Normal, tidak hanya si ibu yang berjuang, tetapi bayi kita pun berjuang sekuat tenaganya untuk keluar, melalui jalan lahir yang sempit, yang mungkin saja bisa mengancam jiwanya.

Passage adalah jalan lahir. Bagaimana kondisi jalan lahir yang akan dilalui oleh bayi kita. Amankah? Lancarkah? Adakah indikasi Placenta Previa? Adakah kemungkinan-kemungkinan hambatan lain yang bisa menghambat atau memperlambat proses melahirkan, yang dikhawatirkan bisa menyakiti bayi kita.

Power adalah kekuatan, mengacu pada kekuatan si calon ibu untuk menahan rasa sakit kontraksi melahirkan, kekuatan mengejan untuk mengeluarkan bayinya dan kekuatan untuk menjalani pemulihan pasca proses melahirkan.

Apakah harus melahirkan di RSIA Bunda?
TIDAK. Kalau untuk dokter Nando, dokter yang menangani program IVF saya, beliau membebaskan pasien untuk memilih, bisa melahirkan dimana saja sesuai kemauan pasien, dengan catatan pasien dan bayinya sehat, tidak ada sesuatu hal yang mengharuskan pasien dan bayinya berada dalam pantauan atau perawatan intensif dokter Nando dan team-nya.  Dan kalau bisa dan mungkin, diharapkan mencari dokter kandungan pengganti penolong persalinan yang mengenal dokter Nando, sehingga mudah untuk melakukan cross-check jikalau ada kondisi khusus tentang pasien dan bayinya. Tapi, jika memang tidak ada ya nggak apa-apa juga, Alhamdulillah saya dan bayi saya sehat. Lagian kami (saya dan suami saya) memilih untuk melahirkan di kampung halaman kami, Madiun. Kami kesulitan juga mencari dokter yang mengenal dokter Nando di Madiun, hehehe. Yasudahlah Bismillah.

Yup, saya melahirkan dengan pertolongan dr. Susanti Mintarsih, SpOG, dokter Santi dan team-nya, di RS Islam Siti Aisyah Madiun.

Jadi begitu ya, cerita soal kelahiran bayi IVF saya yang pertama. Ada yang kedua, dst? InsyaAllah…, jika Allah Subhanahu Wa Ta’alaa menghendaki saya untuk hamil melalui IVF lagi, InsyaAllah kami (saya dan suami saya) ikhlas dan tawakkal, jika memang itu takdir yang harus kami jalani. Bismillahhirrahmannirrahim.

Next, saya akan bahas persiapan melahirkan dan apa aja barang yang mesti dibawa berdasarkan rules dari RS Islam Siti Aisyah Madiun. So, Sampai jumpa di next post…



Salam,



Lisa.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Seberapa pentingkah USG 4D?


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sudah positif hamil ya… Alhamdulillah… Program kehamilan yang saya dan suami saya ikuti berhasil di FET kedua. Bagaimana rasanya? Seneng banget dong… nggak bisa ungkapkan dengan kata-kata pokoknya. Maunya senyum-senyum aja, rasanya nggak sabaran buat kontrol kehamilan, nggak sabaran ngintip si Adek via USG, sudah sebesar apa, tumbuh dan berkembang seperti apa. MasyaAllah. Subhanallah. Nggak terasa tahu-tahu sudah berada di tahap ini. Kadang pun kami masih nggak menyangka Allah Subhanahu Wa Ta’alaa begitu baiknya pada kami, begitu sayangnya pada kami sehingga meluluskan kami dari ujian memperoleh keturunan lebih cepat dari pasien-pasien lain, dari pasutri-pasutri lain yang mungkin saja ujiannya lebih berat, mungkin saja memulai programnya lebih dulu dan mungkin saja diminta untuk menunggu lebih lama dibandingkan dengan kami. Subahanallah wal hamdulillah. Inilah yang selalu melecutkan semangat kami untuk selalu bersyukur dan bersyukur atas segala ujian Allah Subhanahu Wa Ta’alaa untuk kami.

Terus sekarang gimana? Apa nih langkah selanjutnya?

Nah, masuk ke Trimester pertama (TM1) ya, kehamilan masih di tahap awal banget, masih rentan, masih rawan banget dan masih harus selalu berhati-hati dengan apapun yang dimakan, diminum dan dilakukan. InsyaAllah perjalanan masih panjang, semoga dilancarkan segalanya. Aamiin… Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamin…

Di TM1, pada usia kehamilan saya 10 minggu, saya dirujuk untuk melakukan tes USG 4D di usia 12 minggu, dua minggu dari kontrol kami sebelumnya, ke dokter kandungan subspesialis fetomaternal, dr. R. Aditya Kusuma, SpOG fetomaternal (@janin_sehat).

Apa sih USG 4D itu?

Kalau menurut saya, versi bahasa sederhana saya, karena saya juga awam banget, baru belajar dan nyari infonya ketika mengalami sendiri. USG 4D adalah USG yang bisa meneliti lebih jauh tentang janin, pertumbuhan dan perkembangan janin, deteksi kelainan dini yang mungkin timbul pada janin, bahkan bisa mendeteksi apapun se-detail-detail-nya tentang janin sejak dini, sebagai langkah awal untuk mempersiapkan kehamilan. Sehingga sekali periksa untuk USG 4D minimal adalah setengah jam ya, lama, saking banyaknya yang perlu diteliti dan diperiksa untuk menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan janin.

Kalau versi peralatannya, mirip banget sama USG biasa yang USG Abdomen ya (entah itu 2D atau 3D), hanya saja monitor dan keybord-nya lebih gedhe dengan tombol-tombolnya lang lebih banyak dan lebih rumit, macem-macemlah.

USG-nya dilakukan via abdomen ya, atau dari perut, tapi di TM2 saya pun pernah menjalani USG transvaginal juga di dokter Adit untuk mendeteksi mulut rahim saya adakah kemungkinan untuk kelahiran premature. Sampai se-detail itu, betapa canggihnya dunia kedokteran sekarang ini. Subahanallah.



Apa saja yang diperiksa di USG 4D?

SEMUA. Mulai dari otak, tulang, organ-organ dalam seperti jantung, paru-paru, ginjal, kepala, tengkorak, kemungkinan kelamin, detak jantung, aliran nutrisi, dll, semuanya pokoknya. Jadi, bukan asal-asalan ataupun gegayaan orang tuanya yang mau ngintipin wajah anak ataupun kepo sama kemungkinan jenis kelamin anak ya, tapi memang diperlukan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin dan prosedur ini hanya bisa dibaca oleh dokter-dokter yang memiliki subspesialis di bidang ini.

Saya juga baru tahu setelah mengalami sendiri bahwa sebenarnya pemeriksaannya lebih kompleks dan lebih men-detail. Sementara kabar yang beredar di luar sana, dari orang-orang awam seperti saya, dulu menganggap bahwa USG 4D adalah hanya untuk gegayaan orang tua yang pengen ngintipin wajah bayinya ketika USG 4D dilakukan di TM3, sementara jika dilakukan di TM1, orang tua bisa mengetahui lebih awal kemungkinan jenis kelamin janin dengan persentase kebenaran sekitar lebih dari 80%. Dilihatnya dari mana? Kan biasanya kemaluannya belum tumbuh atau bahkan belum terbentuk di TM1. Nah, disini letak kecanggihannya, kemungkinan jenis kelamin ini bisa diketahui dari pengukuran sudut tulang belakang dan tulang kelamin janin. Jika besarnya < 45’ maka kemungkinan jenis kelamin janin adalah perempuan, begitu juga sebaliknya, jika besarnya sudut yang terbentuk besarnya > 45’ maka kemungkinan jenis kelamin janin adalah laki-laki.

Dimana melakukan USG 4D? Ke dokter siapa?

Saya melakukan USG 4D atas rujukan dari dokter Nando, dokter yang merawat saya dari awal saya mengikuti program kehamilan, ke dokter R. Aditya Kusuma, SpOG Fetomaternal (@janin_sehat) yang praktek di RSIA Bunda Jakarta. Jadi USG 4D-nya bukan atas kemauan saya sendiri ya, tapi memang karena rujukan dokter Nando. Beruntungnya kami bertemu dengan dokter seperti dokter Nando yang begitu teliti dalam menangani setiap pasien-pasiennya, termasuk kami.

Berapa biaya USG 4D?

Biaya USG 4D lebih mahal ya dari USG Abdomen atau USG Transvaginal biasa. Tepatnya berapa saya agak lupa. Soalnya saya selalu pakai asuransi dari kantor suami saya pasca saya dinyatakan positif hamil, jadi saya nggak tahu berapa tepatnya untuk biaya cek USG 4D untuk kehamilan singleton seperti saya. Tapi, setiap cek USG 4D kami selalu ditagih untuk kelebihannya sekitar Rp. 400.000,00 dari total Rp 1.600.000,00 – 1.700.000,00 sekian.

Untuk kehamilan kembar dua, tentu lebih mahal ya, karena janin yang diperiksa ada dua. Kalau nggak salah dari ig Mb Vega habis Rp 2.600.000,00 untuk sekali cek USG 4D. Untuk kehamilan triplets tentu lebih mahal lagi.

Di USG 4D diapain aja?

USG 4D sama dengan USG Abdomen ya, peralatannya sama, cuma bedanya dia bisa mendeteksi dan memeriksa lebih kompleks dan lebih detail apapun untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Jadi USG-nya ya dilakukan di abdomen atau perut pasien dan kita diminta untuk buang air kecil dulu sebelum masuk ke ruang pemeriksaan. Untuk apa? Ya karena di USG ini agak ditekan-tekan ya perut kita sementara untuk USG biasa tidak sampai ditekan-tekan, biar nggak terasa kebelet pipis atau ngompol saat diperiksa. Kenapa harus ditekan-tekan? Nah ini, karena ukuran janin di TM1 dan TM2 tergolong masih kecil ya, sementara ruang tumbuhnya masih sangat besar ataupun luas, sehingga biasanya janin akan bebas bergerak. Kebebasan bergerak janin ini tentu agak menyulitkan dokter untuk mengukur dan memeriksa janin. Seperti janin saya yang agak bandel, susah diukur dan diperiksa baik di TM1 maupun di TM2 karena si Adek ternyata muter-muter, malu-malu, dsb sehingga pemeriksaan jadi tambah lama. Antara lucu, nggemesin tapi bikin geregetan juga. Hehehe. Maaf ya dok… J

Apa pentingnya USG 4D?

Saya juga baru tahu informasi soal USG 4D ini ketika kami mengalami sendiri, membaca-baca dari berbagai sumber tentang seberapa pentingnya USG 4D dan apa gunanya pemeriksaan USG 4D ini. Sekarang saya tuliskan di post ini sebagai catatan saya dan sebagai informasi juga untuk teman-teman, mbak-mbak, ibu-ibu, para calon orang tua, semoga bermanfaat.
Di TM1, pada usia kehamilan 11-14 minggu, USG 4D dapat mengidentifikasi kelainan hingga 85%. Kelainan yang dimaksud adalah kelainan pada kromosom, down syndrome atau mendeteksi kelainan jantung bawaan dini. Resiko janin terkena down syndrome dapat dilihat dari tebal Nuchal Transflucency pada tengkuk bayi. Kalau kehamilan beresiko lebih lagi akan disarankan untuk melakukan tes NIPT. Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa prosedur ini bukan gegayaan orang tuanya mau lihat wajah anaknya ya, tapi memang ini diperlukan dan hanya bisa dibaca oleh dokter yang sub spesialisnya di bidang ini.

Apa sih kromosom itu? Mengapa dibutuhkan jumlah kromosom yang seimbang?

Nah, kita belajar sama-sama ya, kalau masih inget pelajaran Biologi pada saat duduk di bangku SMA, maka penjelasan yang saya dapat ini tentu mudah untuk di pahami. Semasa kehamilan jarang sekali kita mencoba mengenal atau mempelajari kromosom, termasuk saya, padahal kromosom adalah hal yang paling krusial dalam pembentukan dan perkembangan janin. Kromosom merupakan benang-benang yang terdapat di dalam nucleus atau inti sel. Kromosom terdiri dari DNA dan protein dari kedua orang tua.

Kromosom yang normal berjumlah 46 kromosom, 23 kromosom bawaan dari sang ibu dan 23 kromosom bawaan dari sang ayah. 2 kromosom dari 46 kromosom membawa DNA gender atau jenis kelamin bayi, yaitu kromosom X (perempuan) dan kromosom Y (laki-laki). Sehingga pada umumnya jumlah kromosom seorang laki-laki adalah 46XY dan kromosom perempuan adalah 46XX.

Kromosom inilah yang menyatukan gen orang tua ke anak. Kromosom ini membawa DNA yang bisa berupa warna kulit, warna mata, tinggi badan, dll. Dibutuhkan jumlah kromosom ayah dan ibu yang seimbang untuk sebuah kelahiran yang sehat. Kelebihan atau kekurangan satu kromosom disebut sebagai Abnormalities Chromosome yang dapat menyebabkan beberapa syndrome seperti Down Syndrome (Trisomi 21), Edward Syndrome (Trisomi 18) atau Patau Syndrome (Trisomi 13).

Apa saja yang termasuk dalam Abnormalities Chromosome?

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya kalau di TM1, pada usia kehamilan 11-14 minggu, USG 4D dapat mengidentifikasi kelainan hingga 85%. Kelebihan atau kekurangan satu kromosom disebut sebagai Abnormalities Chromosome yang terdiri dari Down Syndrome (Trisomi 21), Edward Syndrome (Trisomi 18) atau Patau Syndrome (Trisomi 13)(sumber: @cordlifeindonesia).

Down Syndrome (Trisomi 21)
Down Syndrome (Trisomi 21) adalah kelainan kromosom yang terkait dengan kecacatan intelektual, tampilan wajah yang khas dan kelemahan otot pada masa bayi. Kelainan ini terjadi pada 1 dari 800 kelahiran. Tingkat kecacatan intelektual bervariasi dari yang ringan hingga sedang. Orang dengan sindrom Down Syndrome dapat lahir dengan berbagai masalah kesehatan seperti kelainan jantung atau kelainan pencernaan. Mereka juga memiliki resiko untuk mengalami gastroesophageal reflux, celiac disease, hipotiroidisme, masalah pendengaran dan penglihatan, leukemia dan penyakit Alzheimer. Down Syndrome disebabkan oleh adanya 3 salinan kromosom 21 (trisomi 21) dan bukan 2 salinan seperti biasanya. Kondisi ini umumnya tidak menurun. Pengobatan akan berfokus pada gejala tertentu yang ada pada setiap orang.

Edward Syndrome (Trisomi 18)
Edward Syndrome (Trisomi 18) adalah kelainan kromosom yang ditandai dengan adanya 3 salinan kromosom 18, bukan dua salinan seperti biasanya. Kelainan ini terjadi pada 1 dari 6.000-8.000 kelahiran. Tanda dan gejala meliputi kecacatan intelektual yang berat, berat badan kurang saat lahir, bentuk kepala kecil dan tidak normal, rahang dan mulut kecil, tangan mengepal dengan jari yang tumpang tindih, cacat jantung bawaan dan berbagai kelainan organ lainnya.
Trisomi 18 adalah kondisi yang mengancam nyawa, banyak orang yang mengalami kelainan ini meninggal sebelum kelahiran atau di bulan pertama kehidupannya. Beberapa anak dapat bertahan sampai usia remaja mereka, namun disertai dengan masalah medis dan perkembangan yang serius. Sebagian besar kasus tidak menurun.

Patau Syndrome (Trisomi 13)
Patau Syndrome (Trisomi 13) adalah kelainan kromosom yang ditandai dengan adanya 3 salinan kromosom 13 di sel tubuh, bukan 2 salinan seperti biasanya. Kelainan ini terjadi pada 10.000-16.000 kelahiran. Pada beberapa orang yang mengalami kelainan ini, hanya sebagian sel yang mengandung ekstra 13 (disebut mosaic trisomi 13), sedangkan sel lainnya mengandung pasangan kromosom normal.

Trisomi 13 menyebabkan kecacatan intelektual yang berat dan banyak kelainan fisik seperti cacat jantung bawaan, kelainan otak atau sumsum tulang belakang, mata yang sangat kecil atau kurang berkembang (microphthalmia), jari tangan atau kaki berlebih, bibir sumbing dengan atau tanpa sumbing langit-langit mulut dan otot lemah (hypotonia). Sebagian besar kasus bukanlah kelainan turunan namun merupakan hasil dari pembentukan telur atau sperma yang tidak sempurna pada orang tua sehat.

Oleh karena berbagai kondisi media berat yang dialami, banyak bayi dengan trisomi 13 tidak dapat bertahan melebihi beberapa hari atau minggu.

Semua kelainan kromosom ini dapat di deteksi dengan screening NIPT (Non-Invasive Prenatal Test) pada masa kehamilan. NIPT ini akan menganalisis DNA bebas sel di dalam darah ibu untuk mendeteksi apakah janin memiliki kelianan kromosom.

Apa penyebab kelebihan atau kekurangan kromosom?

Penyebab kelebihan atau kekurangan kromosom sendiri pada umumnya adalah karena adanya keabnormalan yang terjadi saat pemecahan sel di dalam tubuh (cell division). Kita tahu bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini, tentu sudah merupakan takdir atau rencana Allah Subhanahu Wa Ta’alaa untuk orang-orang yang terpilih sebagai orang tua dan anak-anak yang memiliki kekhususan tertentu. Jadi bukan karena keturunan ataupun kesalahan pihak orang tua, murni karena some people are too special sehingga cerita mereka dapat memberkati banyak orang. Walaupun ada kepercayaan dan chance bahwa orang tua yang ‘special’ di salah satu atau keduanya akan mendapatkan anak-anak yang special kalau dilihat dari ilmu genetika. Dan lagi, USG 4D adalah bagian dari serangkaian tes yang harus kita sadari bahwa USG tidak bisa meng-cover keseluruhan genetic syndrome yang mungkin muncul. Kita hanya berusaha, apa yang akan terjadi nanti, tetap berdasarkan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’alaa yang Maha Merencanakan segala sesuatu.

Apa pentingnya mengenal kromosom saat kehamilan?

Menurut saya penting banget untuk mengenal kromosom semasa kehamilan sebagai pengingat bagi para orang tua dan ibu hamil khususnya.

1.       Don’t worry too much. In the end, kita harus berserah dan berdoa pada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa yang Maha Mengatur Segalanya. Meminta diikhlaskan dan dikuatkan jika ujian itu datang kepada kita.
2.       Don’t judge the people with syndrome. Melihat anak-anak yang mungkin terlihat ‘berbeda’ dari anak biasa bukan berarti mereka aneh. Mereka memiliki kesempatan yang sama, they are not contagious, they’re smile is though. Karena terkadang kita sendiri sudah berpikiran macam-macam saat melihat hal seperti itu ada di depan kita, tanpa tahu bagaimana asal-usulnya, penyebabnya dan seberapa struggle orang tuanya untuk merawat.
3.       Banyak-banyak bersyukur jika saat hari ini kita dan anak kita diberikan kesehatan. Karena kesehatan adalah berkah yang diharapkan oleh setiap orang tua. Be grateful and emphathyze.

Berapa kali USG 4D dilakukan selama masa kehamilan?

Kalau soal ini tergantung dari dokter yang merawat ya. Pada umunya disarankan untuk melakukan USG 4D 2-3 kali selama kehamilan. Sedangkan yang saya alami, saya dirujuk untuk melakukan USG 4D sebanyak 2x oleh dokter Nando, di TM1 dan TM2.

Apa fungsi screening USG 4D di TM2?

USG 4D di TM2 dilakukan di usia kehamilan 20-22 minggu untuk mendeteksi ketidaknormalan pertumbuhan dan perkembangan bayi (anomaly scan) sebagai tindak lanjut dari USG 4D di TM1. Ketidaknormalan yang dimaksud adalah cacat bawaan mayor dan pembuat kelainan kromosom.

Apa saja yang diperiksa? Kurang lebih sama dengan yang diperiksa di TM1, SEMUANYA. Dokter yang bertugas akan memeriksa kembali bagaimana pertumbuhan dan perkembangan setiap organ dalam tubuh bayi di TM2 sehingga lama waktu pemeriksaan pun kurang lebih sama dengan pemeriksaan USG 4D di TM1.

Sebelum melakukan USG 4D, kita juga akan diperiksa dengan USG transvaginal untuk melihat adakah kemungkinan kelahiran premature. Jika panjang services lebh dari 25 mm maka dikatakan si calon ibu berada dalam resiko rendah untuk memiliki kelahiran bayi premature.

Kira-kira begitu ya, informasi yang saya dapat soal USG 4D. Semoga bisa memberikan pengetahuan baru untuk para calon ibu dan calon orang tua diluar sana agar nggak salah paham lagi kalau diminta untuk melakukan USG 4D oleh dokter yang merawat. Daaannn… sampai jumpa di next postJ


Salam,

Lisa.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Alhamdulillah, I’m Positive!


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Tanggal 1 Desember 2017 menjadi salah satu tanggal bersejarah buat kami. Di tanggal itu saya melakukan cek darah BHcg yang pertama untuk FET kedua kami. Rasanya gimana? Deg-deg-an nggak karuan, dari pagi rasanya sudah luar biasa galau. Takut begini dan begitu, maklum, bayangan kegagalan di FET pertama masih membekas banget di ingatan saya walaupun sudah diusir jauh-jauh.
Kami berangkat pagi-pagi ke klinik dengan harapan segera mendapatkan hasil di siang atau sore harinya. Sepulang dari cek darah pun saya langsung kembali istirahat. HP yang saya gunakan untuk berkomunikasi dengan suster koordinator, Suster Vita, yang mengabarkan segala sesuatu tentang hasil tes atau penyambung antara pasien dengan dokter yang merawat, saya serahkan ke suami saya. Saya takut melihat HP saya sendiri, takut membaca wa dari Suster Vita, jadi HP saya berikan ke suami saya, biar suami saya yang tahu lebih dulu, apapun hasilnya. Saya ngapain? Istirahat. Tiduran. Walaupun nggak nyenyak dan gelisah banget. MasyaAllah luar biasa banget deh perasaan mau ‘bagi rapor’ ini.

Saya bangun saat masuk waktu Ashar. Ketika saya di toilet, saya di telepon oleh suster yang merawat saya, Suster Diana, dan yang mengangkat teleponnya adalah suami saya. Kami masih nggak ‘ngeh’. Karena kami masih belum mendapatkan kabar apapun dari Suster Vita. Suster Diana pun nggak jadi telepon dengan saya atau suami saya.

Tetiba suami saya mengajak Sholat Ashar berjamaah. Saya pun mengikuti. Selesai Sholat Ashar, suami saya duduk mendekati saya dan berkata, ‘Dek, Adek Positif!’ Saya diam, mematung, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan suami saya. Iya, saya nge-blank, banget. ‘Hah?’ Saya masih nge-blank. ‘Iya, positif!’ kata suami saya lagi. Saya tanya lagi untuk memastikan, ‘Mana?’. Kemudian suami saya menunjukkan wa dari Suster Vita. Seketika itu saya langsung menangis. Iya, saya lebay. Saya pikir wajar kalau lebay karena mendapat pesan wa yang kami tunggu-tunggu selama 4,8 tahun. Suami saya pun langsung merangkul saya, memeluk saya, menangis sambil tersenyum, mengucap Hamdalah berkali-kali. Kami sudah seperti pasangan lebay, berpelukan, tangis-tangisan berdua di kamar. Setelah saya agak tenang, saya keluar kamar, mencari ibu saya, ingin cepat-cepat mengabarkan bahwa ibu saya akan segera menjadi nenek untuk cucunya sendiri, dari darah dagingnya. Subhanallah. Ibu saya pun langsung memeluk saya sambil menangis. ‘Alhamdulillah Ya Allah, amanah ini Nduk, amanah, dijaga baik-baik’. Kami pun bertangis-tangisan bertiga, saya, ibu saya, adik saya dan suami saya yang terus-terusan tersenyum-senyum.

Suami saya pun langsung memberi tahu kalau tadi Suster Diana juga telepon, saya pun menelepon balik ke Suster Diana yang ternyata Suster Diana sudah tahu lebih dulu sebelum wa Suster Vita terkirim, tapi mengurungkan niatnya untuk memberi tahu kami lebih dulu. Saya pun kembali menangis saat menghubungi Suster Diana yang langsung ditenangkan bahwa saya nggak boleh menangis, demi janin dalam rahim saya. Tapi yaaaa, saya tetap lebay, saya tetap menangis sampai beberapa saat. Lagiaaan, siapa sih yang nggak terharu, yang nggak lebay dapat kabar yang ditunggu-tunggu selama sekian tahun? Coba sini saya cubit deh. J

Itu sedikit cerita ke-lebay-an saya menerima kabar berhasilnya program yang kami jalani. Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Nah, seperti post-post sebelumnya, sekarang saya mau post step-by-step soal teknisnya ya… Bismillahhirrahmannirrahim.

Berapa hasil tes darah BHcg saya? Berapa seharusnya nilai yang pas untuk disimpulkan hamil?

Saya menjalani tes darah BHcg I tanggal 1 Desember 2017 dengan hasil 238.90 yang bisa disimpulkan bahwa hasilnya adalah Positif, yang artinya program IVF yang kami jalani berhasil, Alhamdulillah. Berapakah nilai BHcg yang diharapkan untuk disimpulkan positif atau hamil? Nah, kalau soal ini saya nggak tahu ya. Setahu saya sih ratusan. Kalau dibandingkan, nilai BHcg mb Vega dan Mb Joanna kalau nggak salah 400an dan 700an (kalau nggak kebalik). Ketika saya melihat wa dari Suster Vita saya sempat agak sedih sih, karena nggak bisa sebanyak mereka. Iya, jauh malah. Saya pun kurang tahu ya penyebabnya apa. Sementara untuk hasil tes BHcg di FET pertama saya, hasilnya adalah nol koma sekian, saya lupa tepatnya berapa. Dari nilai ini disimpulkan bahwa program belum berhasil alias negatif.

Hasil BHcg I di FET 2


Apakah saya nyuri-nyuri start duluan dengan test pack sebelum cek darah?

Ini nih yang biasa dilakukan oleh pasien-pasien lain sesama program, nyuri start duluan, test pack duluan sebelum cek darah. Yah itu tergantung masing-masing pasien ya. Resiko tanggung penumpang. Kalau saya sih enggak. Saya trauma sama test pack sejak bertahun yang lalu yang selalu menunjukkan satu garis merah. Saya pernah berada di masa membuang banyak test pack, menangis tiap haid saya datang, pernah merasa cukup stres dan tertekan, dsb. Oleh sebab itu saya sangat menghindari test pack sendiri.

Karena hasil cek darah BHcg I saya menunjukkan kalau saya positif hamil, maka saya diminta untuk melakukan tes darah lagi di tanggal 2 Desember 2017 untuk cek ddimer dan progesterone untuk menyimpulkan terapi obat-obatan yang akan diberikan ke saya selanjutnya. Hasil ddimer dan progesterone saya adalah 0.40 dan 38.01. Cek ddimer untuk apa? Ddimer adalah cek darah yang digunakan untuk mengecek kadar kekentalan darah saya, seperti yang sudah saya ceritakan di postingan-postingan saya sebelumnya bahwa saya diterapi suntikan Lovenox dan obat oral ascardia sebagai pengencer darah. Mungkin, kadar ini digunakan sebagai dasar pemberian terapi pengencer darah lanjutan untuk saya. Berdasarkan dua hasil tersebut, instruksi dokter Nando, terapi obat-obatan yang telah diberikan kepada saya pasca FET atau di masa 2WW dilanjutkan sampai kontrol berikutnya, ditambah:

Hidroxy progesterone 500           2xseminggu
Pregnyl 1500                                2xseminggu

Suntikan Hidroxy progesterone adalah suntikan untuk penguat rahim yang sudah pernah saya post sebelumnya disini, suntikan ini diberikan sejak selesai FET, sebelum pasien pulang. Sedangkan suntikan Pregnyl berfungsi untuk nge-boost kadar BHcg dalam darah, yang pada akhirnya nanti berhubungan dengan pembentukan placenta dalam rahim ibu. Kalau nggak salah begitu ya, hasil saya tanya-tanya sama suster yang merawat saya. Boleh colek saya untuk koreksi kalau misal saya salah, soalnya saya juga agak-agak lupa juga.

Seminggu kemudian saya dijadwalkan untuk cek darah BHcg II di tanggal 8 Desember 2017. Cek darah lagi? Iya, saya pun juga kaget. Dan hasil dari cek darah BHcg II ini harus naik berkali-kali lipat dari hasil cek darah BHcg I, harus ribuan menuju ke puluhan ribu malah. Hasil cek darah BHcg II saya 3203.00 dari target 4000. Ada targetnya? Iya, ada. Jika hasil cek darah BHcg II > 4000 maka suntikan Pregnyl akan dihentikan yang artinya placenta sudah terbentuk dengan baik. Sedangkan jika hasil cek darah BHcg II < 4000 maka suntikan Pregnyl masih akan dilanjutkan sesuai dengan instruksi dokter.

Hasil BHcg II di FET 2

Kesalahan saya nih, saya nggak nge-boost makan Sop Iga lagi pasca dinyatakan positif hamil. Seharusnya kalau menurut saya, saya tetap mengkonsumsi Sop Iga sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter untuk meningkatkan kadar BHcg saya secara alami sehingga terapi suntik Pregnyl dapat dihentikan karena kondisi Placenta sudah bagus dengan indikator BHcg > 4000. Begitu… Tapi, ya mau bagaimana lagi, sudah terjadi, Alhamdulillah semua berjalan baik dan sehat.

Saya dijadwalkan konsultasi ke dokter Nando di tanggal 11 Desember 2017. Jadi selama 2WW sampai sebelumnya segala konsultasi dilakukan via chat wa ke suster koordinator atas instruksi dokter Nando. Nah, pas konsul pertama dengan dokter Nando inilah saat-saat paling bikin deg-deg-an, karena kami bisa ngintip via USG apakah bener si Embryo menempel di rahim saya.

‘Selamat ya, Pak Ibu, berhasil!’ ucap dokter Nando pada kami saat itu. Alhamdulillah benar, embryo yang ditransfer ke rahim saya di tanggal 20 Nopember 2017 berhasil menempel. Kami tak henti-hentinya mengucap Hamdalah. Bersyukur bahwa program yang kami jalani berhasil, walaupun perjalanan kehamilan saya masih panjang dan masih perlu berhati-hati juga sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter. Usia kandungan saya saat itu masih sekitar 5 minggu, masih sangat kecil, seperti biji yang menempel di kantong rahim saya. Calon anak kami. Subhanallah wal hamdulillah…

Sampai kapan USG dilakukan via Transvaginal?

Untuk USG, masih dilakukan via USG transvaginal ya, karena ukuran janin masih sangat kecil sehingga nggak akan kelihatan kalau dipaksa menggunakan USG Abdomen. Soal USG Transvaginal sudah pernah saya bahas disini ya. Sampai kapan? Sampai kira-kira kalau nggak salah di usia kandungan 10 minggu, saya baru di USG Abdomen. Jadi sejak kita join program, USG akan terus dilakukan via transvaginal sampai usia kandungan memasuki 10 minggu.

Bagaimana dengan jadwal kontrol pasca dinyatakan positif hamil?

Kontrol kehamilan dilakukan 2 mingguan sampai usia kandungan memasuki 10 minggu, atau dinyatakan save oleh dokter. Selanjutnya kontrol dapat dilakukan 1 bulan sekali sampai usia kandungan 28 minggu. Untuk usia kandungan diatas 28 minggu, kontrol akan dilakukan setiap dua minggu sekali dan akan naik menjadi seminggu sekali jika sudah memasuki usia diatas 32 minggu.

Di fase ini, kita pun harus aktif ya. Aktif disini maksudnya adalah ikut memantau perkembangan janin kita, dari segi ukuran jika masih kecil dan selanjutnya bisa dipantau juga dari segi berat. Hitungan kita, dokter dan hasil USG harus sinkron. Kenapa? Karena USG adalah sebuah alat, bisa saja salah, menghindari human error juga. Di pengalaman saya, saya pernah dialihkan untuk USG dengan dokter lain karena dokter Nando cuti, ternyata disitu terjadi kesalahan USG yang membuat saya panik. Iya panik banget. Karena usia seharusnya di USG dan perhitungan saya adalah 8 minggu tapi dokter pengganti menyatakan usia kehamilan saya adalah 6 minggu. Berselang dua minggu tapi usia kandungan tetap berada di 6 minggu, kan aneh. Kami panik luar biasa. Takut terjadi apa-apa dengan janin kami, dirumah saya sudah menangis, takut janin kami tidak berkembang, Naudzubillahiminzalik. Kita tidak inginkan itu. Dengan bantuan Suster Diana, saya dibantu ngecek hasil print out USG dan dibantu untuk chat wa ke dokter Nando, istilahnya ngadu nih, atas kesalahan USG ke kandungan saya. Setelah kontrol ulang dengan dokter Nando, ternyata memang terjadi kesalahan USG, entah human error si dokter pengganti atau alat USG-nya yang tidak akurat. Sejak saat itu saya nggak mau pindah ke dokter lain, hehehe, trauma. Kalau slot full, saya akan meminta hari yang masih kosong di jadwal praktek dokter Nando. Yes, kami beranggapan dokter Nando lebih detail dan lebih teliti dalam memeriksa dan mendiagnosis kami. Jadi pelajaran juga buat saya untuk ikutan aktif memantau perkembangan dan pertumbuhan janin kami, nggak cuma ikutin apa kata dokter. Jadi pelajaran juga buat teman-teman ya, jangan mau asal ganti dokter karena dokter yang merawat cuti, rawan miskomunikasi seperti yang saya alami. Karena miskomunikasinya nggak cuma sama dokternya tapi sama suster yang membantu dan suster koordinator juga.

Kapan detak jantung janin bisa terdeteksi?

Detak jantung janin bisa terdeteksi di usia kandungan sekitar 10 minggu ya, kalau berdasarkan pengalaman saya. Dan ini imut banget deh kalau menurut kami J Detak jantung janin lebih cepat daripada detak jantung manusia dewasa. Kayak deg-deg-an gitu, tapi sebenarnya enggak. Subhanallah luar biasa banget kalau menurut saya, ukuran sekecil itu, sudah bergerak-gerak, berputar-putar dan berdetak di dalam rahim saya. Subhanallah. Saya berpikir betapa imutnya bayi mungil kami J

Adakah yang berubah di asupan makanan dan minuman setelah dinyatakan positif?

Kalau saya ada ya, ada beberapa penyesuaian atas saran suster yang merawat saya. Penyesuaian itu diantaranya adalah:
1.   Makanan yang saya makan harus matang sempurna, tidak boleh setengah matang apalagi mentah.
2.   Saya tidak diijinkan makan makanan yang cara memasaknya dibakar. Dipanggang boleh tapi dibakar tidak.
3.  Tidak diijinkan makan daging kambing, kalau cuma ngicip aja boleh, tapi kalau makan untuk lauk tidak.
4.  Disarankan untuk mengurangi konsumsi wortel karena kalau menurut suster yang merawat saya betakaroten pada wortel tidak baik untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, menimbulkan cacat janin kalau berlebihan. Jadi, jus 3 diva yang biasa saya konsumsi berubah isi jadi apel dan tomat aja.
5.  Saya belum boleh makan tahu ya, saya anak tahu soalnya, hehehe. Karena riwayat mioma yang saya miliki, saya masih belum boleh mengkonsumsi tahu. Karena berdasarkan informasi dari suster yang merawat saya, menurut dokter spesialis Onkologi, tahu mengandung banyak progesterone yang bisa mempengaruhi pertumbuhan mioma kembali. Sementara janin saya memerlukan banyak nutrisi untuk tumbuh dan berkembang. Jika saya mengkonsumsi tahu, maka yang akan mendapatkan nutrisi adalah mioma saya bukan janin saya, dan kita tidak inginkan itu.

Untuk makanan dan minuman lain yang tidak dianjurkan dikonsumsi masih sama dengan yang sudah saya post disini ya. Hanya itu saja penyesuaian yang saya dapatkan dari suster yang merawat saya. Kalau ragu-ragu tentang makanan dan minuman yang boleh ataupun yang nggak boleh, silakan dikonsultasikan dahulu dengan suster yang merawat, suster koordinator atau dokter yang merawat. Karena riwayat kesehatan dan kondisi pasien berbeda-beda. Nggak masalah kok kalau kita sering tanya-tanya. Itu juga yang sering saya katakan, sering banget neror suster dan dokter dengan pertanyaan penting nggak penting yang menurut kita galau banget tapi kalau menurut paramedis biasa aja bahkan nggak penting. Hahaha.

Apakah saya masih bed rest? Sampai kapan?
Masih ya, saya masih disuruh bed rest sama dokter Nando. Tapi saya sudah keluar kamar, nggak full di kasur. Full di kasur hanya dua mingguan selama masa 2WW sampai tes BHcg II. Sampai kapan? Sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter, saya masih bed rest. Bed rest-nya ngapain? Saya tetap nggak ngapa-ngapain ya, diatur-atur sendiri, waktu duduk jalan berdiri nggak lama-lama, nggak banyak gerakan yang terlalu nunduk-nunduk juga. Sering diingetin juga sama suami saya kalau sudah kelamaan duduk atau berdiri, disuruh berbaring dulu.

Bagaimana dengan makan saya?
Selama masih ada orang tua atau mertua saya yang nungguin dan ikut merawat saya, saya dimasakin. Tapi ketika orang tua dan mertua saya pulang, saya masih nggak masak ya, karena masih disuruh bed rest. Kalau makan go-food atau beli di warteg saat itu saya masih belum berani, takut sama MSG-nya. Akhirnya saya nyari catering khusus untuk program IVF, Alhamdulillah dipertemukan dengan postingan Mb Vega soal catering program IVF, catering ini punya account instagram namanya @qchendietcatering. Setelah saya coba kontak ternyata kita bisa setting atau sesuaikan sendiri, menu apa yang boleh dan nggak boleh dikonsumsi sehingga InsyaAllah aman untuk yang sedang program hamil seperti saya. Sebenarnya selain qchendietcatering banyak sih ya catering-catering sejenis yang bisa melayani untuk program kehamilan, tapi setelah diperhitungkan biaya disini lebih miring jika dibandingkan dengan catering lain, dan yang pasti halal, sehingga aman untuk yang Muslim seperti saya. Sayangnya, catering ini hanya untuk siang dan sore saja, sedangkan paginya saya dimasakin oleh adik atau suami saya, atau jika tidak sempat ya terpaksa dibelikan di luar. Dan untuk menghemat biaya ongkir, menu sorenya pun langsung dikirim di siang harinya, jadi mau nggak mau kita makan makanan yang sudah dingin. Kalau dari segi rasa, namanya juga catering untuk diet atau untuk program ya, jadi ya less salt dan less sugar. Untuk yang terbiasa masak sendiri masakan yang berempah banyak, nggak biasa makan makanan less salt dan less sugar tentu rasanya hambar dan kurang nendang ya, tapi demi kesehatan saya dan janin saya, apapun akan saya lakukan. Sampai kapan saya menggunakan catering ini? Nggak sampai sebulan ya ternyata, hahaha. Kenapa? Bukan ngeluh nggak enak atau nggak ada rasanya ya, bukan, rasanya enak kok dan menunya sangat bervariatif dari minggu ke minggu. Jadi kenapa? Namanya juga hamil muda ya, rempongnya mulai ada. Ternyata mual-mual saya cepet datangnya, mulai dari eneg lihat nasi merah (menu dari qchendietcatering adalah nasi merah, bisa diganti nasi putih jika tidak suka), males lihat lunch box mikanya, males makan, eneg sama bau-bauan tertentu, dll. Suami saya sampai marah dan bingung karena saya susah makan, sudah dicarikan yang mudah malah susah makan, akhirnya ya mau nggak mau kalau nggak dimasakin suami atau adik saya ya go-food juga akhirnya. Hehehe. Ya begitulah, namanya juga lagi hamil. Cuma minta suami lebih pengertian aja kalau sudah berada di tahap ini.

Jadi begitu ya, nggak banyak detail teknis ataupun step-by-step yang bisa saya post kalau sudah masuk ke tahap ini, tahap positif hamil, karena yang bisa kita lakukan hanyalah makan makanan bergizi untuk asupan janin kita dan berdoa untuk pertumbuhan dan perkembangannya semoga berjalan dengan lancar dan baik sambil penasaran nunggu jadwal kontrol berikutnya untuk ngintipin si bayi mungil J

So, Sampai jumpa di next post…


Salam,

Lisa.

x

Senin, 23 Juli 2018

Happy Two Weeks Waiting!!!


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Happy Two Weeks Waiting… JJJ
Seharusnya saat-saat Two Weeks Waiting adalah saat-saat yang membahagiakan yaaa… dan harus diusahakan untuk santai dan bahagia. Tapi kebanyakan dari pasien justru jadi galau, tegang, dll, termasuk saya. Iya, tegang banget bos, antara tegang dan takut, takut kenapa-kenapa, takut hasilnya nggak bagus, takut gagal, dsb, dsb. Jadi, di post ini saya akan ceritakan apa saja yang saya lakukan di masa Two Weeks Waiting (2WW), semoga bisa menjadi masukan atau inspirasi untuk teman-teman, ibu-ibu dan mbak-mbak yang bingung mau ngapain aja di masa ini. Bismillahhirrahmannirrahim.

Jadi, apa sih sebenarnya masa Two Weeks Waiting (2WW)?
Two Weeks Waiting (2WW) adalah masa tunggu pasca FET (Frozen Embryo Tansfer) selama kurang lebih dua minggu (tergantung dari usia embryo yang ditransfer) sebelum tes darah BHcg. Nah, 2WW menurut saya adalah fase puncak dari program IVF, dokter dan timnya hanya bisa membantu sampai tahap ET (Embryo Transfer) / FET (Frozen Embryo Tansfer), sedangkan setelahnya (pasca ET/ FET) kita serahkan semuanya pada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa sebagai Yang Maha Menentukan. Tapi, kita masih bisa berusaha di tahap ini. Usahanya apa? Usaha untuk tetap happy ya, jadi harapannya dengan perasaan happy kita hormon yang terbentuk pun bagus untuk si embryo yang mudah-mudahan mau ‘ikut’ kita, menempel di rahim kita, Aamiin ya rabbal ‘alamin…

Adakah keluhan pasca FET di 2WW?
Kalau keluhan sakit nggak ada ya, tapiii ada rasa-rasa kram sedikit atau nyeri (sengkring-sengkring kalau dalam Bahasa Jawa) dan ini wajar selama nggak ada flek ya. Kalau ada flek sedikiiit aja, langsung konsultasikan dengan suster yang merawat, suster koordinator atau dokter yang merawat agar cepat mendapatkan penanganan atau saran tentang apa yang harus kita lakukan. Rasa kramnya kayak gimana? Rasanya mirip banget sama kram atau nyeri saat suntik stimulus pembesaran telur atau telur mau pecah di fase akan tindakan OPU. Kenapa ada rasa kram atau nyeri seperti ini? Ini adalah rasa yang timbul karena pembesaran rahim akibat rahim kita ditransfer embryo. Jadi kalau biasanya rahim kita kosong, nggak ada isinya apa-apa, belum pernah hamil, sekarang ada isinya, yaitu embryo, calon janin kita, calon anak kita. Jadi beda ya sama hamil normal. Kalau hamil normal mungkin nggak akan ada rasa kram-kram atau nyeri-nyeri seperti ini, karena katanya baru ketahuan hamil setelah timbul mual-mual. Tapi kalau hamil program rasa ini wajar banget, karena ini adalah fase awal banget sebelum fase mual-mual timbul, jadi nggak usah takut, nggak usah bingung, nggak usah galau, dinikmatin aja. Sampai kapan nyerinya? Saya lupa ya sampai kapan, InsyaAllah akan berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya. Oleh sebab itu juga kita dianjurkan untuk tahan tidur telentang selama 2WW, demi menyamankan embryo kita memilih lokasi penempelan.

Apa saja terapi obat dan vitamin yang diberikan pasca FET untuk 2WW?
Soal terapi obat dan vitamin apa saja yang diberikan untuk 2WW sudah pernah saya ulas disini ya. Jadwal kapan aja biasanya sudah dijelaskan oleh suster sebelum kita pulang dari klinik pasca FET dan ditulis di buku kontrol. Jika kurang jelas atau misal lupa, bisa ditanyakan ke suster koordinator ya.

Apa aja yang saya lakukan di 2WW?
Ini adalah beberapa hal yang saya lakukan di masa 2WW. Saya dapat tipsnya dari ig mb @veganugrohos saya lakukan beberapa yang sesuai menurut saya, dan Alhamdulillah tertular berkahnya. Sekarang saya tulis ulang di post ini dengan beberapa tambahan dari saya, dengan harapan semoga yang menjalani ini tertular berkahnya, berhasil programnya dan positif hamil, Aamiin…  Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin…

1.       Malam atau pagi sebelum FET (Frozen Embryo Tansfer) saya meminta maaf pada ibu saya, meminta ridho dan restunya, minta didoakan agar FET (Frozen Embryo Tansfer) saya berjalan lancar dan berhasil juga tentunya. Kalau versi mb Vega, dia sampai mencuci kaki ibunya dan meminum air bekas cuci kaki ibunya tersebut. Ibu saya tidak bersedia, terlalu ekstrim banget kalau menurut ibu saya, dikhawatirkan malah jadi musyrik. Intinya sih meminta doa restu. Jadi terserah bagaimana cara kita untuk meminta restu kepada orang tua kita, terutama adalah ibu dan ibu mertua.

2.       Sejak ikut program sampai sekarang, kami rutin memberikan sedekah kepada anak-anak yatim piatu di salah satu yayasan atau rumah yatim piatu sebagai niat kami untuk merayu Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dan rasa syukur karena kami telah dimampukan untuk mengikuti program kehamilan. Alhamdulillah. Karena kami sadar bahwa segala rejeki datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’alaa, termasuk rejeki anak, rejeki yang kami inginkan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’alaa mengijabah dan meridhoi segala bentuk usaha kami.

3.       Makan Sop Iga atau Sop Buntut yang diselingi dengan olahan Ikan Kembung, yang dipercaya dapat menaikkan kadar BHcg dalam darah dan membuat embryo menempel kuat dalam rahim. Sebenarnya yang disarankan adalah Sop Sumsum, tetapi ketika saya konsultasikan dengan suster yang merawat saya, Suster Diana, suster tidak menyarankan itu karena sumsum tersusun atas lemak yang susah dicernah oleh tubuh, jadi alternatifnya adalah Sop Iga ataupun Sop Buntut. Suster Diana juga menyarankan saya untuk mengkonsumsi Olahan Ikan Kembung. Sebenarnya Ikan Salmon ya, tapi karena Ikan Salmon agak susah nyari yang fresh di pasar, saya takut terlalu merepotkan ibu saya yang merawat saya, mengolahnya pun kalau tidak benar gizinya jadi cepat hilang, maka bisa diganti dengan Ikan Kembung dimana lima ekor Ikan Kembung sama dengan satu ekor Ikan Salmon. Ikan Kembung banyak banget di pasar ya, pasar tradisional pun ada dan lebih mudah mendapatkannya. Jadi menu saya tiap hari lauknya ya Olahan Iga Sapi dan Olahan Ikan Kembung, diselang-seling. Jangan tanya diapain ya, saya dimasakin, dirawat oleh ibu saya dan ibu mertua saya bergantian. Tapi paling ya di masak Sop untuk Iganya, sedangkan untuk Ikan Kembungnya digoreng biasa, atau dibumbuin biar nggak bosen.

4.       Minum jus 3 diva. Ini jus yang sudah terkenal banget untuk meningkatkan kesuburan ya, banyak resepnya di Google. Kalau versi saya, dua buah wortel impor, satu buah apel dan satu buah tomat, di jus dengan menggunakan juicer, jadi yang diambil adalah sarinya aja, nggak pakai air, nggak pakai gula. Jadinya satu gelas ya kira-kira, untuk diminum satu orang, kalau ingin untuk dua orang atau dua kali minum, silakan dikalikan sendiri. Buat yang belum pernah minum, rasanya gimana dicampur begitu? Enak kok. Beneran. Apalagi kalau pakai wortel impor ya. Seharusnya diminum 2x sehari pagi dan sore, tetapi, saya cukup sehari sekali aja karena banyak yang mesti dikonsumsi dalam satu hari, takut perut saya tidak mampu menampung, hehehe. Haruskah pakai wortel impor? Kalau saya iya, wortel impor lebih merah dan lebih manis ya rasanya, jadi lebih enak. Sedangkan kalau wortel lokal ada bau khas wortel yang saya kurang suka (langu kalau dalam Bahasa Jawa). Untuk apel dan tomatnya terserah ya, kalau apel saya lebih suka Apel Fuji RCC dan untuk tomat saya pakai tomat lokal tetapi yang sudah berwarna full merah atau sudah matang.

5.       Minum Susu Peptisol sekali sehari. Susu disarankan sejak kita mengikuti program ya. Tapi saya sempat berhenti beberapa kali. Sejak join program sampai pasca OPU saya masih minum Susu Peptisol. Kemudian berhenti karena saya akan menjalani Operasi Laparoskopi, saya minum lagi pasca Operasi Laparoskopi sampai beberapa waktu, kemudian saya rutin minum Susu Peptisol lagi 2 minggu sebelum FET sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter Nando sekitar usia 10w-12w sambil menghabiskan stok susu yang ada dirumah. Apa sih manfaat Susu Peptisol ini? Susu Peptisol ini adalah susu tinggi protein yang berguna untuk mencegah OHSS, sudah pernah saya bahas juga soal ini disini ya.

6.       Minum Jus Alpukat sekali sehari. Manfaat Jus Alpukat buat program hamil dan kesuburan Googling sendiri aja ya J Kalau bosen di jus boleh dimakan langsung. Terserah masing-masing aja bagaimana mengaturnya, yang penting asupan untuk sekali sehari terpenuhi.

7.       Sholat Tahajud lanjut Sholat Hajat. Tiap selesai sholat lanjut dzikir ya. Ajak suami atau pasangannya untuk sholat berjamaah, baik sholat wajib maupun sholat sunnah. Saya baca dzikir harian ditambah dzikir:
Ya Mushowwir                             50x
Subhanallahu Wabihamdihi         50x
Robbi habbli Minnasholihin         50x
Diawali dan diakhiri dengan sholawat Nabi SAW.

8.       Membaca Surat Al-Mulk, Ar-Rahman dan Al-Waqiah. Seharusnya dibaca setiap hari sejak sebelum OPU sampai hamil sekarang. Saya baca sehari sekali ya, tapi saya telat mulainya, baru saya baca pasca FET (Frozen Embryo Tansfer), baiknya dibaca sejak awal ikut program. Sampai kapan? Kalau saya sudah mulai jarang mengaji sejak datang mual-mual pas buka mulut dan sekarang mulai agak susah untuk mengaji dengan duduk lama, jadi kadang sambil tiduran atau berbaring.

9.       Saya Full Bed Rest ya! Untuk FET1 saya nggak full bed rest yang membuat program saya nggak berhasil (akan saya ceritakan di post terpisah soal ini), jadi di FET2 saya full bed rest. Semua saya lakukan di atas kasur kecuali yang berhubungan dengan kegiatan ke kamar mandi. Jadi segala sesuatunya diambilin, disiapin. Dan nggak naik turun tangga.

10.   Stop Browsing. Agar pikiran nggak kemana-mana kalau kebanyakan browsing atau searching. Saya pun nggak dibolehin pegang HP terlalu lama sama suami dan Suster Diana. Kalau tidur pun disarankan untuk jauh dari HP, pokoknya minimalisir kegiatan yang berhubungan dengan HP, kecuali konsultasi dengan suster dan dokter yang merawat kita kalau ada sesuatu yang perlu dikonsultasikan.

11.   Membaca Ya Mushowwir tiap mau makan, minum obat, memasukkan obat ke vagina dan kegiatan suntik-suntik.

12.   Do what makes you happy. Kunci utamanya adalah hati dan pikiran. Persiapkan segala sesuatunya sehingga kita nggak lagi kepikiran hal lain, jadi murni hanya untuk program, murni bed rest. Kalau saya, sebelum FET2 saya banyak belanja novel, novel fiksi, karena main HP dan main laptop nggak dibolehin oleh suami saya dan suster yang merawat saya maka alternative hiburan yang saya pilih adalah baca novel. Jadi aktivitas saya selama 2WW adalah makan, tidur, mengaji dan baca novel.

Banyak cara bisa diusahakan untuk meningkatkan kesuburan dengan harapan mempertinggi juga kesempatan keberhasilan program yang diikuti. Kalau versi mb Vega, mb Vega mengkonsumsi Kacang Brazil 1-2 butir/ hari, minum susu Aumom sekali sehari, makan serbuk kurma yang dicampur ke minuman, terapy akupuntur dan ikut hypnotheraphy. Banyak yaa… semua tergantung masing-masing. Kalau saya cukup 12 hal itu saja yang saya lakukan. Alhamdulillah sudah tertular berkahnya. Nggak ada salahnya juga kalau ingin sama persis dengan apa yang sudah dilakukan oleh mb Vega. Jadi, kenapa saya nggak ikutin semua? Ya jujur nih ya, budget kami tidak sebesar mb Vega. Mengikuti banyak hal dan mengkonsumsi macam-macam selama program itu juga perlu biaya, dan biaya yang dikeluarkan pun tentu nggak murah. Jadi kami hanya mengikuti apa yang disarankan oleh dokter dan suster yang merawat saya. Dan lagi, saya nggak mau membebani suami saya terlalu berat. Lebih baik ikut sedikit tapi fokus banget daripada ikutin macam-macam yang belum tentu kita cocok, takut malah bikin nggak fokus. Alhamdulillah Allah Subhanahu Wa Ta’alaa mempermudah jalan kami. Jadi, silakan dipilah-pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan saja, InsyaAllah Allah Subhanahu Wa Ta’alaa akan menunjukkan jalannya J

Bed rest saya kayak gimana?
Saya full bed rest. Semua saya lakukan di tempat tidur atau diatas kasur ya, yup, SEMUANYA, kecuali yang berhubungan dengan kegiatan ke kamar mandi. Semua saya lakukan pelan-pelan, atas arahan dari Suster Diana, suster yang merawat saya.  Beberapa arahan yang menurut saya juga penting diantaranya adalah:

1.       Tidak banyak bergerak atau menggerakkan otot perut, misalnya adalah duduk. Saya hanya duduk saat makan aja, itupun duduknya selonjoran aja di kasur setelah itu kembali tiduran atau berbaring lagi beberapa saat setelah makan. Pegel pasti ya, banget. Apakah nggak boleh duduk? Boleh. Caranya, saat bangun untuk kegiatan ke kamar mandi misalnya pipis, poop atau wudhu, boleh duduk sebentar di kursi karena sudah sekalian bangun, itupun tidak lama, hanya untuk menghilangkan pegel-pegel di badan saja karena banyak berbaring. Tapi niat bangun HANYA untuk duduk, itu tidak disarankan. Saya berbaring dengan posisi telentang ya, boleh miring tapi sesekali saja, hanya untuk meredakan pegel. Pegel dong ya selama 2WW posisinya berbaring telentang terus? BANGET. Tapi apapun akan saya lakukan jika itu bisa meningkatkan keberhasilan program yang saya ikuti, walaupun hanya sekian persen. Lagian tujuan kita banyak berbaring adalah untuk menyamankan embryo yang sudah di transfer ke rahim kita. Maksudnya menyamankan? Embryo kita masih ‘berenang-renang’ di rahim kita dalam rangka ‘memilih lokasi menempel yang cocok baginya’ jadi saya pikir sudah jadi kewajiban kita untuk menyamankannya memilih. Ibaratnya nih, kita sedang menggendong embryo, dan kita berusaha sekuat tenaga untuk menyamankan dia berada di rahim kita, agar dia mau untuk ‘ikut’ kita. InsyaAllah.

Kalau misalnya nih pegel banget dan kepengen banget dipijat, boleh. Tapi harus ekstra hati-hati. Mana yang boleh dipijat? Hanya punggung atas, itupun pelan-pelan juga, hanya untuk mengurangi sedikit pegel-pegelnya. Bukan seperti pijat capek dengan full power. Itu sangat tidak dianjurkan.

2.       Banyak minum, karena kita harus menjaga suhu tubuh agar tetap normal, tidak naik atau jangan sampai demam. Banyak minum disini harus disertai dengan manajemen pipis yang baik. Maksudnya gimana? Iya, pipisnya pun harus diatur agar kita tidak terlalu banyak bangun-bangun untuk pipis.

3.       Cara bangun dari berbaring dan kembali berbaring dari bangun pun harus diperhatikan. Jadi ketika kita akan bangun dari posisi berbaring, miringkan tubuh terlebih dahulu baru bangun pelan-pelan. Iya, PELAN-PELAN, SANGAT PELAN-PELAN. Begitu juga dengan kembali berbaring dari bangun, duduk dengan posisi tubuh miring terlebih dahulu baru berbaring pelan-pelan. Mulai dibiasakan seperti itu, jangan sampai kita bangun dari berbaring dengan posisi telentang. Atau haruskan miring dulu? HARUS. Karena cara bangun seperti itu akan mengurangi tekanan yang diterima oleh perut, jadi tumpuannya ada di pinggul, bukan di perut. Nggak percaya? Coba aja. Bangun dengan posisi telentang memberikan lebih banyak tekanan ke perut daripada dengan posisi miring. Cara seperti ini terus saya lakukan sampai hamil besar ya, karena bangun dengan posisi telentang dengan kondisi perut yang membesar itu berat banget. Dan lagi, kita TIDAK DIANJURKAN untuk tidur telentang saat perut sudah membesar, harus dengan posisi miring. Jadi perlakukan diri kita layaknya orang yang sudah hamil.

4.       Untuk buah boleh makan buah papaya, buah naga, kiwi, pear atau mangga atau apapun (jika tidak yakin boleh dikonsultasikan dulu dengan suster yang merawat atau dengan suster koordinator) untuk membantu agar poop-nya lancar. Di tahap ini rawan banget sembelit ya, karena perubahan kebiasaan yang sangat besar, yang tadinya bebas beraktivitas, rajin olah raga sampai sebelum FET menjadi diam aja dan hanya berbaring di kasur. Jadi sembelit itu wajar, jadi kita bisa mengusahakannya dengan banyak minum air putih dan makan buah-buahan yang mengandung banyak serat dan air.

     Saya sempat sembelit ya, tapi saya biarin aja, nggak sampai mengejan, saya perbanyak minum air dan konsumsi buah-buahan berserat tinggi. Saya juga pernah mengalami deg-degan banget (detak jantung meningkat) setiap habis poop. Kenapa? Saya juga nggak tahu pasti, sebelum 2WW baik-baik saja, saya termasuk ke dalam orang yang jarang sembelit. Setelah saya konsultasikan dengan Suster Diana, kemungkinan saya kurang Kalium, jadi disarankan untuk makan buah Pisang. Pisang apa? Terserah. Maka sejak saat itu saya rajin mengkonsumsi Pisang Cavendish, satu buah per hari. Alhamdulillah berangsur-angsur membaik.

5.       JANGAN MENGEJAN SAAT POOP, jadi biarkan poop-nya keluar sendiri, jangan dipaksa, dikhawatirkan perut mendapatkan banyak tekanan jika kita mengejan.

6.       Aktivitas bangun dan duduk untuk melakukan apapun diberi batas waktu ya. Misalnya aktivitas mandi dan poop. Saya mandi sekali sehari selama 2WW sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter untuk menghindari terlalu banyak bangun. Dan harus diwaktuin ya, jangan terlalu lama juga duduk di kloset. Lebih baik beberapa kali ke toilet dengan waktu sebentar-sebentar daripada terlalu lama duduk atau berdiri.

7.       Hindari makan pedes untuk sementara. Tapi kalau pengen sih, boleh ya, asal diatur, dan JANGAN SAMPAI DIARE. Kenapa? Jika kita diare dikhawatirkan nutrisi ke embryo menjadi berkurang.

8.       Jalan kaki pelan-pelan dan maksimal waktu jalan kaki adalah 15 menit. Ini saya terapkan sejak pulang dari klinik pasca FET sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter. Tujuannya? Lagi-lagi adalah untuk menyamankan embryo kita. Kadang saya bosen dirumah terus, jadi kadang minta jalan-jalan ke minimarket dekat rumah sama suami, sambil diwaktuin jalan kakinya, hehehe, kalau sudah 15 menit saya akan cari tempat duduk atau masuk mobil.

9.       Sebisa mungkin untuk tetap fit dan tidak sakit seringan apapun pasca FET. Contoh sakit ringan seperti flu, pilek, batuk, demam dan bersin-bersin. Dikhawatirkan jika kita batuk atau bersin-bersin, akan ada hentakan terhadap embryo kita, dimana hentakan itu sangat kita hindari. Oleh sebab itu juga saya diberi obat anti alergi (Medrol) karena sinus saya yang membuat saya bersin-bersin pagi-pagi atau jika terkena dingin. Bisa juga dibantu dengan rajin-rajin minum air putih hangat, InsyaAllah bersin-bersinnya akan berkurang, walaupun nggak bisa sembuh ataupun hilang total, setidanya bisa mengurangi bersin, mengurangi hentakan di rahim.

Bagaimana kalau ada anggota keluarga serumah yang sakit? Nah, ini rawan juga ya. Hati-hati. Sebisa mungkin jangan mendekati anggota keluarga serumah yang sakit. Jauh-jauh deh, daripada ketularan. Karena urusannya jadi panjang kalau misal kita sakit di masa emas ini. Contoh nih, suami saya pernah tidur di luar, jauh dari saya ketika saya hamil, demi menghindari saya agar saya tidak ketularan. No, ini bukan lebay. Justru ini dianjurkan sekali oleh dokter dan suster yang merawat saya.

10.   Makan putih telur minimal 6 butir per hari. Putih telur dan Susu Peptisol berguna untuk mencegah overstimulan, efek samping dari pemberian obat hormon terus-menerus, misalnya pusing, sesak nafas, dll. Putih telur juga bisa membantu perlengketan embryo di dalam rahim, jadi harus rajin.

    Pengalaman saya, saya pernah sesak nafas di H-2 bagi rapor (tes darah BHcg) yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak selama dua hari berturut-turut. Saya mengira itu OHSS (sudah pernah saya bahas disini ya). Setelah saya konsultasikan dengan Suster Diana, disarankan untuk terus mengkonsumsi putih telur dan menaikkan dosis Susu Peptisol, dari sekali sehari menjadi dua kali sehari. Alhamdulillah langsung baikan. Sebelumnya, saya kroscek dengan suster koordinator saya, Suster Vita, ternyata saya mengalami OHSS dalam tahap ringan. MasyaAllah. Saya sudah membayangkan yang aneh-aneh, karena jika sesak nafas saya tidak mereda, saya diminta untuk ke UGD RSIA Bunda dan minta dihubungkan dengan dokter Nando. Saya takut dengan UGD RS, hehehe, jadi mencari second opinion ke suster yang merawat saya, Suster Diana.

   Untuk kapan berhentinya (telur dan Susu Peptisol) saya konsultasikan juga dengan suster yang merawat saya. Katanya kebanyakan pasien berhenti di usia kehamilan 12-16 w, pun kalau ingin berhenti sudah boleh pasca 2WW karena sudah tidak dalam tahap suntik-suntik stimulus lagi, cuma amannya, maunya saya tetap dikonsumsi sampai kehamilan usia 12 w. Qadarullah, beberapa hari setelah dinyatakan positif, saya mual dan eneg banget lihat putih telur atau telur rebus, alhasil konsumsi telur pun mulai berkurang sedikit demi sedikit sampai nggak bisa makan telur sama sekali, sementara kalau Susu Peptisol masih bisa terus saya lanjutkan sampai stok susu dirumah habis. Jadi, kalau sudah positif, tergantung masing-masing aja ya, seberapa banyak kuatnya. Karena tantangan banget itu makan putih telur, hehehe.

     Saya juga dianjurkan untuk mengurangi makan brokoli oleh Suster Diana, karena saya mengkonsumsi obat Ascardia dan suntik Lovenox, yang merupakan obat dan suntikan pengencer darah untuk membantu memperlancar aliran nutrisi ke embryo. Sedangkan brokoli memiliki efek mengentalkan arah, sehingga fungsinya sangat bertentangan dengan terapi obat yang diberikan pada saya.

11.   Jangan mengoleskan apapun di area perut. Apapun ya, apapun. Kalau misal perut kembung ya dibiarin aja, karena kembung adalah efek dari hamil, InsyaAllah. Jadi dinikmati aja kembungnya. Kalau misal biasa oles-oles pake minyak kayu putih, bolehlah dioles di punggung atas dan punggung bawah, tapi sedikit aja ya, jangan sampai terlalu panas hingga terasa ke perut. Itu sangat tidak dianjurkan. Misal kita merasa gerah nih ya, boleh pakai baju pendek, tapi jaga perut agar tetep hangat. Pakai kaos kaki juga salah satu saran yang dianjurkan, karena konon katanya bisa membuat rahim hangat. Tapi saya nggak pake, hehehe. Kenapa? Rumah saya nggak ada AC sama sekali ya, kami ini wong ‘ndeso’ parah, nggak bisa kena AC, sehingga pakai kaos kaki di kamar membuat saya gerah. Eh, saya pakai ding, tapi cuma beberapa hari saja, nggak full di masa 2WW.

Bagaimana dengan kewajiban sholat saya?
Saya sholat dengan duduk selonjoran bersandar di dinding menghadap kiblat. Sampai kapan? Sampai kehamilan saya dinyatakan save oleh dokter, baru saya belajar sholat dengan berdiri seperti biasa. Tapiii, jika saya kecapekan, merasa capek atau ada gejala kontraksi ringan, saya tidak memaksakan diri, saya akan kembali sholat dengan duduk. Jadi sejak 2WW sampai hamil, sholat saya tidak selalu dengan berdiri ya.

Apa lagi ya?

Intinya, kalau menurut saya adalah ikhlas dan tawakkal atas segala ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Niat dengan ‘hati’ lakukan dengan ‘hati’ juga untuk setiap tahapan dan prosesnya hingga kita bisa lillahi ta’alaa, berusaha berikhtiar hamil karena ujian Allah Subhanahu Wa Ta’alaa, bukan hanya asal pengen hamil, agar bisa diakui atau hal lain, Naudzubillahimindzalik. Jangan sampai seperti itu. Niatkan semuanya hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Karena anak adalah titipan Allah, Allah-lah yang memegang segala kendali atas segala sesuatu. Jadi tugas kitalah menyiapkan rahim kita sebaik-baiknya dengan beberapa cara yang sudah saya sebutkan sebelumnya agar Allah segera memampukan adanya kehidupan disana. InsyaAllah, Aamiin… Aamiin… Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamin…

Alhamdulillah… InsyaAllah begitu ya kira-kira beberapa tips dari berbagai sumber dan cerita pengalaman saya menjalani 2WW. Semoga nggak ada yang ketinggalan atau kelupaan, semoga informasinya lengkap, bisa membantu teman-teman, ibu-ibu, mbak-mbak para calon orang tua yang akan atau sedang menjalani program. Kalau ada yang tidak sengaja missed, akan saya update kemudian. Sampai jumpa di next post…


Salam,


Lisa.