Sabtu, 16 Juni 2018

Proses IVF – Ovum Pick Up (OPU)


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah… Tahu-tahu sudah mau sharing soal OPU ya… MasyaAllah cepet banget. Itu juga yang saya rasakan saat selesai tahapan semua suntik-suntik stimulus. Seneng sekaligus deg-degan. Senengnya, nggak lagi wara-wiri ke klinik setiap hari, nggak lagi ngerasain sakit dan pegel-pegelnya disuntik stimulus, Alhamdulillah. Tapi deg-degan mau tindakan Ovum Pick Up (OPU), takut sama prosesnya, takut hasilnya nggak baik dan segala kekhawatiran lain yang luar biasa bisa bikin stress kalau dipikirin terus menerus. Saya ngapain biar nggak stress? Istirahat aja sambil main HP, hehehe. Sholat, mengaji, makan teratur, apapun yang bisa saya lakukan untuk mengalihkan pikiran saya dari OPU, berdzikir dan mengikhlaskan diri, bahwa segalanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah subhanahu wa ta’alaa. Again, saya ingatkan juga kalau support pasangan itu juga penting, support disini bukan melulu soal uang ya, tapi apapun. Saya berusaha membiasakan diri saya membicarakan apapun dengan suami saya, apapun itu, keluhan seringan apapun, sehingga suami saya tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya mau sehingga suami saya bisa ikut mengambil tindakan dan keputusan kalau-kalau ada apa-apa dengan saya. Keputusan ikut program harus dibarengi dengan tanggung jawab penuh, bukan hanya istrinya saja yang harus bertanggung jawab, tapi suami pun juga harus siaga.

Sebenarnya tindakan OPU (Ovum Pick Up) cukup sederhana kalau dilihat dari kacamata pasien, tapi pasti lebih rumit dan perlu keseriusan penuh kalau dilihat dari kacamata paramedis (dokter, suster, anaetesiolog, embriologyst dan keseluruhan team-nya) mengingat bahwa pekerjaan paramedis selalu berhubungan dengan nyawa. Jadi, untuk memudahkan, postingan ini akan saya buat Question and Answer yang berisi apa aja yang mungkin banget ditanyakan tentang tindakan OPU.

Langsung aja yuk…! Bismillahhirrahmannirrahim…

Jadi apa sih sebenarnya OPU itu?
OPU (Ovum Pick Up) atau Tindakan Petik Telur adalah salah satu tahapan dalam Program IVF (In Vitro Fertilitation)/ Bayi Tabung. Seperti yang sudah saya jelaskan disini bahwa secara gampangnya nih, IVF itu mempertemukan sperma pria dan sel telur wanita yang diambil dari dalam tubuh masing-masing kemudian di pertemukan (dikawinkan) di luar tubuh yaitu melalui media tertentu di laboratorium, di biarkan berkembang sampai hari ke-3 atau hari ke-5 kemudian baru dimasukkan kembali ke dalam rahim wanita. Nah, proses pengambilan sel telur wanita ini disebut sebagai tindakan Ovum Pick Up (OPU). Sementara untuk pengambilan sperma pria, jika tidak ada gangguan tertentu yang memberatkan atau dokter tidak menyarankan metode tertentu, biasanya pengambilan sperma bisa dilakukan dengan cara masturbasi.

Masuk ke proses nih yaa…
Proses OPU dilakukan tepat 36 jam dari suntikan Ovidrel (pemecah telur). Jadi, waktu suntiknya harus benar-benar on time karena akan berhubungan langsung dengan tindakan OPU yang akan dilakukan selanjutnya. Tidak boleh terlambat sedikit pun. Kalau di klinik, suster selalu mencatat waktu suntikan yang diberikan kepada kita. Kalau suntikan yang lain, boleh ada toleransi selama kurang lebih 15 menit. Tapi kalau suntikan Ovidrel harus sangat on time. Waktu untuk suntikan Ovidrel akan diinfokan kemudian atas instruksi dokter yang bertugas oleh suster koordinator.

Apa saja persiapan untuk tindakan OPU?
Selain menjaga kesehatan, mengkonsumsi makanan dan minuman yang dianjurkan sejak join program, pada hari – H pasien diminta untuk datang satu jam sebelumnya dengan kondisi puasa, tidak makan dan minum dimulai dari malam hari sebelumnya, tidak memakai parfum, no make up, no kutek, no perhiasan, dll. Jadi bener-bener polosan ya, hanya mandi saja, terus langsung cuzz berangkat ke klinik. Pasien harus sesteril-sterilnya kalau menurut saya, mungkin nih ya mungkin, karena ruangan tindakan OPU berada tepat di sebelah ruang embriologi, jadi harus sesedikit mungkin bahkan jika mungkin tidak boleh ada kontak dengan bahan-bahan kimia. Mungkin juga bahan-bahan kimia yang menempel di tubuh kita yang berasal dari pemakaian kosmetik dsb dikhawatirkan menimbulkan reaksi kontradiksi di tubuh kita pada saat ataupun pasca OPU. Nggak mau kan kita atau telur-telur terbaik kita yang jadi bakal calon embryo terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia berbahaya? Jadi, ikutin aja semua instruksi dokter dan suster yang bertugas, jikalau ragu boleh bertanya, but stop complaining, dan jangan ngeyel. Ingat, bahwa ini hubungannya dengan nyawa dan sudah jadi tugas paramedis untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan kita.

Bagaimana Step by step-nya?
Jadi setelah sampai di klinik, kita (pasien dan suami) akan langsung menuju ke lantai 2, melapor di bagian admission di lantai 2. Selanjutnya kita akan dipandu oleh suster yang sedang bertugas. Sebelum masuk ke ruangan, pasien akan diminta untuk berganti pakaian ke pakaian yang sudah disediakan. Semuanya dilepas ya seingat saya, termasuk pakaian dalam, diganti dengan pakaian pasien. Sementara untuk suami diminta untuk memakai jubah hijau, saya nggak tahu apa namanya, hehe.

Kemudian, kita akan diminta tiduran di ruangan tertentu (ditunjukkan oleh suster) dan menunggu suster yang bertugas untuk melakukan pengecekan kondisi awal dan memasang infus. Jika waktunya sudah tiba (ruang, dokter dan team siap), suster akan mengantar kita ke ruang tindakan OPU. Jangan kaget, kita akan diminta jalan sendiri ya, terus rebahan sendiri di meja tindakan sambil diarahkan untuk posisinya. Iyes, jalan sendiri. Rasanya gimana? Deg-degan luar biasa. Seumur hidup saya, Alhamdulillah saya tidak pernah sakit yang sampai mengharuskan saya untuk menginap di rumah sakit, jadi otomatis pula saya nggak pernah diinfus dan saya takut disuntik. Jadi berjalan sendiri dengan diantar suster ke ruang tindakan itu rasanya kayak mau diadili, dieksekusi, menunggu keputusan. Selebay itu? Iya. Hehehe. Anggap saja saya lebay :D

Prosesnya gimana? Kita sebagai pasien diapain aja?
Nah, ini yang kita nggak tahu dan nggak bakal tahu. Karena selama proses berlangsung, kita berada dalam kondisi tertidur dengan bius total. Prosesnya sendiri katanya hanya berlangsung 10-15 menitan saja. Kalau menurut penjelasan dari suster sebelum tindakan, telur-telur kita akan diambil dengan menggunakan kateter.  Karena (mungkin) saya kelihatan tegang banget, saya sampai ditenangkan oleh petugas anestesiolog. ‘Sudah pernah operasi bu?’ Saya jawab ‘belum’. Katanya, ‘Tenang aja buuk, cuma dibobok2in aja kok, kita mulai yaaa’. Si masnya ngomong begitu dan tahu-tahu 1-2 jam kemudian saya sudah dibangunkan suster di ruang pemulihan J

Oh iya, tindakan OPU yang saya jalani tidak dengan dokter Nando ya, tapi dengan dr. Indra N. C Anwar, SpOg. Saya kurang tahu mekanismenya seperti apa, dan kenapa bukan dokter Nando yang melakukan tindakan OPU untuk saya, tapi jangan khawatir, laporan akhir tetap diserahkan ke dokter Nando atau dokter yang merawat kita dari awal, dan konfirmasi apapun tetap bisa dilakukan dengan suster koordinator yang ditunjuk.

Sakitkah tindakan OPU?
Buat saya, TIDAK sama sekali. Saat dibangunkan oleh suster, suster akan melakukan pengecekan kondisi kita pasca tindakan OPU. Suster pun akan ngecek pendarahan yang terjadi, banyak atau sedikit. Lhoh, kok ada pendarahan? Iya, ada, tapi sedikit banget, dan saya nggak merasa sakit sama sekali, cuma di seprei di bawah pantat dan vagina saya terdapat sedikit bekas-bekas pendarahan. Apa dijahit? Tidak, nggak ada sama sekali, muluuuss banget seperti awal sebelum tindakan OPU, kayak nggak diapa-apain, bener deh.

Setelah dibangunkan oleh suster, kita akan diminta untuk makan dan minum yang sudah disediakan. Dan jika tidak ada keluhan apapun, kita diperbolehkan untuk pulang. Saya lupa ya, dibawain obat atau tidak pasca OPU, kondisi saya saat itu masih agak ngantuk dan nge-fly aja, masih ada sisa-sisa efek obat bius di saya. Jadi sampai di rumah pun saya langsung lanjut tidur.

Dimanakah pak suami saat kita melakukan tindakan OPU?
Saat kita menuju ke ruang tindakan OPU, suami/ pasangan kita akan diminta ke lantai 3 untuk melakukan Masturbasi, mengeluarkan spermanya di ruangan tertentu. Jadi proses ini disebut Fresh Ejaculated, menggunakan sperma pria yang fresh. Alhamdulillah.

Setahu saya, ada juga gangguan tertentu pada pria yang menjadikannya harus beberapa kali melakukan masturbasi, mengeluarkan sperma. Apa aja gangguannya? Banyak yaaa, bisa googling sendiri. Dan yang menentukan cara pengambilan dan pemilihan sperma yang bagus adalah dokter. Jadi ikutin aja semua saran dokter yang merawat. Maksudnya beberapa kali pengambilan sperma gimana? Iyaaa, selain fresh ejaculated, ya di bekukan (freezing). Tujuannya? Memilih sperma yang paling baik untuk dikawinkan dengan sel telur yang diambil dari wanita melalui proses OPU. Ada juga yang mungkin gangguannya atau memiliki sakit tertentu yang menyebabkan spermanya masih kurang baik kualitasnya jika diambil melalui fresh ejaculated dan freezing beberapa kali, maka mungkin bisa diselesaikan dengan jalan tindakan pesa tesa. Tindakan Pesa Tesa adalah proses pengambilan sperma yang langsung berasal dari sumbernya. Untuk caranya bagaimana saya kurang tahu ya, saya cuma pernah dapat ceritanya aja. Untuk biaya tindakan Pesa Tesa, katanya kurang lebih sama dengan biaya tindakan OPU. Jadi cukup mahal juga ya. Tapi balik lagi, semua tergantung gangguan atau sakit apa yang diderita oleh pasien (suami) dan dokter akan menyarankan cara mana yang terbaik untuk mendapatkannya.

Setelah tindakan OPU selesai dan suami sudah melakukan masturbasi, diperoleh sel telur dan sperma yang siap untuk dikawinkan di laboratorium. Dan saat itu juga akan dilakukan pengecekan dan pemilihan sel telur dan sperma, mana-mana aja yang baik dan bisa untuk dikawinkan. Kemudian akan langsung dikawinkan dengan metode tertentu di laboratorium. Dan kita (pasien dan suami) dipersilakan untuk pulang jika tidak ada keluhan. Hasilnya akan diinfokan oleh suster koordinator.

Kapan hasil tindakan OPU diinfokan?
Hasil OPU akan keluar sehari setelahnya dan akan diinfokan oleh suster koordinator. Saya tindakan OPU di tanggal 16 Juni 2017, dan hasil tindakan OPU diinfokan tanggal 17 Juni 2017. Ini hasil tindakan OPU saya:
19 oocyte (sel telur)
5 immature (sel telur yang masih muda sehingga tidak bisa diproses)
14 imsi (sel telur yang di-inject dengan sperma)
12 fertilisasi (sel telur yang berkembang menjadi embryo)

Alhamdulillah saya memiliki sel telur yang lumayan banyak. Sesuai dengan hasil USG yang dipantau oleh dokter Nando sejak pertama kali periksa, tidak ada yang rusak ataupun pecah duluan. Saya kurang tahu ya berapa minimalnya untuk bisa diproses dikawinkan dengan sel sperma pasangan. Tapi setahu saya, semakin banyak semakin bagus, artinya kita memiliki banyak cadangan telur, jaga-jaga terhadap adanya sesuatu yang tidak diinginkan, Naudzubillahiminzalik, tapi kita tidak pernah berkeinginan buruk ya, kita mintanya diikhlaskan dan diberikan jalan yang terbaik. Telur yang bagus disini maksudnya adalah telur yang memiliki sel telur (oocyte) sehingga bisa dikawinkan dengan sperma yang bagus juga, memiliki spermatozoa (inti sel sperma). Jika salah satu atau keduanya tidak memiliki inti sel atau terlalu muda, maka tidak bisa diproses dikawinkan (fertilisasi), pun tidak bisa menghasilkan embryo.

Bisakah sel telur rusak atau pecah duluan sebelum melalui tindakan OPU?
Bisa banget. Saya bertemu dengan seorang pasien yang lebih dulu melalui tindakan OPU 30 menit sebelum saya. Dan dari tujuh atau sembilan kalau nggak salah total telur yang dimilikinya, hanya tersisa dua saja. Lainnya rusak atau pecah duluan. Segala sesuatu bisa saja terjadi, dan itu berada diluar kuasa kita dan tim dokter. Apa sebabnya? Banyak faktor. Bisa saja memang terlambat, bisa saja karena usia bertahannya yang kurang, usia pasien, pengaruh hormon pasien, dll yang kita dan tim dokter tidak bisa mengetahui itu dengan pasti. Kenapa? Ya itu dia, ada hal-hal yang memang sudah begitu adanya, berada di luar kuasa kita, ada Allah subhanahu wa ta’alaa dan takdirnya yang tidak bisa kita elak. Padahal semua sudah dipantau dan dikontrol sedemikian rupa, bahkan sampai hitungan menitnya. Cerita nyata seperti inilah yang mendorong kami untuk selalu berdoa agar diikhlaskan apapun hasil yang akan kami peroleh nanti. Saya pun langsung merasa bersalah terhadap si ibu (pasien tersebut) karena saya ternyata lebih beruntung, memiliki sel telur lebih banyak. Dalam mobil di perjalanan pulang, sampai rumah pun saya jadi ikut menangis, mengingat betapa sedihnya perasaan si ibu. Mengingatkan saya betapa beratnya perjuangan suntik stimulus yang berakhir dengan hanya dua sel telur. Memang, tidak ada jaminan memiliki banyak telur lebih bagus, karena dari sekian banyak yang saya milikipun ternyata hanya 12 sel telur yang bisa berkembang menjadi embryo setelah dikawinkan dengan sperma. Jika dibandingkan, 2 sel telur yang dimiliki si ibu tersebut belum diketahui kondisinya, apakah bisa dikawinkan, bisa berkembang atau bagaimana. Jika memang tidak bisa, maka si ibu kemungkinan harus memulai lagi dari awal, dari suntik stimulus untuk mendapatkan sel telurnya kembali. Astagfirullah… semoga keluarga si ibu diberikan keikhlasan dan kekuatan.

Tapi di sisi lain, saya dan suami saya merasa sangat bersyukur kami memiliki banyak embryo, walaupun embryo-embryo tersebut harus terus dipantau perkembangannya sampai hari ke-3 atau hari ke-5 sehingga ada kemungkinan embryo akan di freeze di hari ke-3 atau hari ke-5 sebelum dilakukannya tindakan ET/ FET (Embryo Transfer/ Frozen Embryo Transfer).

Adakah keluhan atau efek samping pasca tindakan OPU?
Kalau di saya, ADA. Sepulang dari klinik, saya masih kliyengan, sedikit nge-blank, tanpa ada pusing atau mual. Hal ini terjadi akibat efek obat bius yang belum hilang seluruhnya. Jika ada keluhan pusing atau mual disarankan untuk minum panadol biru atau Mylanta, tapi perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan suster koordinator maupun dengan dokter yang merawat. Bagaimana cara penyembuhan saya? Saya cukup istirahat saja, sampai rumah saya langsung tidur. Alhamdulillah kliyengan berkurang menuju hilang di sore harinya. Ada satu kesalahan saya nih ya, yang orang biasa bilang sembrono atau ceroboh. Karena tindakan suntik stimulus sampai tindakan OPU dilakukan di bulan Ramadhan, otomatislah saya pengen cepet-cepet puasa, pengennya beraktivitas seperti biasa karena memang tidak ada keluhan berarti. Saya merasa sangat sehat, tidak merasa kalau saya habis melalui tindakan OPU. Maka keesokan harinya saya langsung ikut puasa dan beraktivitas seperti biasa. Qadarullah, saya merasakan kram ringan menuju sangat intens di sore harinya hingga saya merasa sulit bergerak saking sakitnya. Selain itu saya pun jadi sering buang air kecil padahal sedang dalam kondisi puasa. Ternyata, setelah saya konsultasi dengan suster Vita, suster koordinator yang membantu dokter Nando, keluhan ini terjadi karena saya kurang istirahat dan kurang asupan air atau kurang minum air putih. Seketika itu juga saya langsung dimarahi suami saya, diminta untuk membatalkan puasa saya dan langsung istirahat. Suami saya menyadarkan saya bahwa saya pasca melalui tindakan OPU yang tergolong operasi ringan, walaupun tidak ada keluhan berarti, tidak ada jahitan, tidak ada sobekan, kayak nggak diapa-apain. Tapi tetap saja, ternyata tubuh saya tidak mampu, tubuh saya perlu istirahat walaupun saya sendiri merasa sangat sehat. Itu kesalahan saya, kecerobohan saya. Akhirnya saya tidak puasa untuk dua hari berikutnya, hanya istirahat total, bed rest, makan bergizi dan banyak minum air putih. Di hari berikutnya, ketika saya sudah merasa lebih baik, saya bisa kembali ikut puasa. Tapi, ada juga pasien yang kondisi fisiknya kuat, langsung bisa beraktivitas seperti biasa tanpa ada keluhan berarti. Begitulah, kondisi fisik dan ketahanan pasien berbeda-beda setiap orang. Buat teman-teman nih ya, mbak-mbak, calon ibu yang sedang berjuang, hati-hati, silakan diukur sendiri kemampuan fisik dan ketahanannya, jangan sampai mengalami seperti saya. After effect-nya luar biasa soalnya, sakit kram-nya sangat intens hingga saya harus tahan tidur telentang.

Bagaimana perkembangan embryo kami di hari ke-3 dan hari ke-5?
Hari ke-3 pasca tindakan OPU, tanggal 20 Juni 2017, kami dijadwalkan untuk kembali ke klinik di lantai 2, bertemu dengan pihak lab Embryology yang memantau proses perkembangan embryo-embryo kami untuk mendiskusikan perkembangan embryo sebelum dilakukan tindakan selanjutnya, freezing atau ET/FET. Jika di hari ke-3 minimal ada kondisi embryo yang Good maka arahan dari dr. Nando proses bisa dilanjutkan sampai hari ke-5 (blastosist). Alhamdulillah, setelah hari ke-3, dari ke-12 embryo kami, masih ada 8 embryo yang bertahan, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perkembangan sampai hari ke-5 di tahap blastosist. Kenapa bisa berkurang? Banyak faktor ya, anggap saja seleksi alam, bahwa ada yang dapat survive, ada yang tidak.

Di hari ke-5 pasca tindakan OPU, kami kembali ke klinik di lantai 2, bertemu kembali dengan pihak lab Embriology yang memantau proses perkembangan embryo-embryo kami. Alhamdulillah, setelah hari ke-5, masih terdapat 5 embryo yang bertahan dan masih terus berkembang.

Berdasarkan info dari dr. Nando saat USG pasca tindakan OPU hormon saya tidak optimal untuk langsung dilakukan tindakan ET (Embryo Transfer), Estradiol > 3000 dan progesterone > 1 sehingga disarankan untuk menunda ET, paling cepat di siklus berikutnya. Disinilah akhirnya kami putuskan untuk membekukan seluruhnya (freezing), sampai waktu tindakan FET ditentukan. Lagian, kami sudah mau mudik juga, karena berbagai pertimbangan personal dan tindalan Laparoskopi pada saya yang sudah dijadwalkan setelah Lebaran, akhirnya kami sepakat membekukan semua embryo kami.

Apa perbedaan embryo hari ke-3 dan hari ke-5?
Kalau ingat pelajaran Biologi pada saat sekolah dulu, ada tahapan-tahapan pembelahan sel. Kalau nggak salah ingat nih ya, ada Mitosis, Meiosis, Morula, Gastrula, Blastocys, dst. Nah, pembelahan sel-sel embryo di hari ke-3 disebut dengan Morula, pembelahan sel menjadi sekian kali lipat (maaf saya lupa tepatnya berapa). Sedangkan pembelahan sel embryo di hari ke-5 disebut dengan Blastocyst dengan pembelahan sel menjadi sekian kali lebih banyak. Bedanya? Kalau dari literature, katanya, embryo hari ke-5 diyakini lebih bisa survive daripada embryo hari ke-3. Apa sebabnya? Saya kurang tahu. Mungkin karena pembelahan sel lebih banyak, sehingga lebih kuat bertahan. Survive disini maksudnya adalah survive saat dibiarkan berkembang di laboratorium dan InsyaAllah lebih survive juga saat sudah berada di rahim si calon ibu. Tapi…, balik lagi, kita tidak bisa campur tangan diproses ini, begitu juga dengan tim dokter dan tim lab, embryo-embryo tersebut hanya diletakkan pada media tertentu di lab yang medianya dibuat sangat mirip dengan rahim calon ibu, dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri. Tanpa diapa-apain, sementara embriolog hanya memantau saja dan melaporkan hasilnya pada tim dokter dan pasien. Entah embryo-embryo tersebut bisa terus tumbuh dan berkembang, bisa survive sampai hari kesekian atau bahkan survive manjadi bayi kita nanti, semua tergantung dari kehendak Allah subhanahu wa ta’alaa, Tuhan Pemilik Semesta Alam, jadi terus berdoa dan ikhlaskan apapun hasilnya pada Sang Pemilik Hidup.

Grade Embryo?
Yes, setahu saya perkembangan embryo digolongkan menjadi beberapa grade yaitu Excelent, Good, Moderate dan Bad. Penggolongan ini didasarkan pada bagian rusak atau tidaknya kulit luar dari pembelahan sel-sel embryo (kalau sudah melalui tahap ini, pasti teman-teman akan tahu sendiri karena semua akan dijelaskan oleh embriolog). Seingat saya, semakin banyak rusak dibagian pinggirnya, maka penggolongan grade akan semakin turun ke grade bawah. Alhamdulillah, embryo-embryo kami semua berada di grade Good.

Yang boleh di freeze adalah embryo dengan grade Good dan Excelent, sementara grade Moderate tidak boleh di bekukan karena memiliki kemungkinan untuk rusak yang lebih tinggi menjadi Bad.

Adakah efek samping dari pembekuan (freezing) embryo?
Tentu ADA. Pada saat pencairan kembali embryo pasca dibekukan, ada kemungkinan embryo bisa bertahan, langsung bertumbuh dan berkembang seperti semula, atau malah rusak pasca dicairkan. Karena sifat dari pembekuan (freezing) embryo adalah untuk menghentikan sementara proses pertumbuhan dan perkembangan pembelahan sel-sel embryo, ditidurkan sementara sampai tindakan FET (Frozen Embryo Transfer) dijadwalkan. Di proses ini pun kita, tim dokter dan tim embriolog tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya murni terjadi begitu saja, sesuai dengan kehendak takdir Allah subhanahu wa ta’alaa.

Berapa lama maksimal pembekuan (freezing) embryo?
Seingat saya sekitar 5 tahunan ya, dengan biaya per bulannya Rp 300.000,00. Tiga bulan pertama pasca pembekuan, tidak dikenakan biaya apapun. Jadi biaya pembekuan (freezing) akan ditagihkan di bulan keempat. Jika dibayarkan tiap tiga bulanan akan ada pengurangan atau diskon sebesar 100 ribu menjadi Rp 800.000,00 / 3 bulan. Mahal atau murah itu tergantung, tapi untuk gampangnya, kami menganggap itu adalah biaya kos dan penjagaan embryo-embryo kami, calon anak-anak kami kelak, InsyaAllah. Semoga Allah memberikan kami kesempatan kembali suatu saat nanti. Aamiin… Aamiin… Aamiin…

Kayaknya itu aja Question and Answer soal OPU. Panjang yaaa… hehehe. Begitulah. Kalau dibuat dua part takut informasinya terpotong, ketinggalan atau saya malah kelupaan memasukkan per-step-nya, dengan agak panjang begini semoga informasinya lengkap, tidak terpotong dan membantu teman-teman, para calon orang tua yang akan atau sedang menjalani program. InsyaAllah lengkap, kalau ada yang tidak sengaja missed, akan saya update kemudian. Sampai jumpa di next post…


Salam,


Lisa.

Jumat, 18 Mei 2018

Question and Answer – Tentang Tahap Awal dan Suntikan Stimulus


Image Source


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sebenarnya postingan ini masih lanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang Proses IVF –Tahap Awal danSuntikan Stimulus. Maunya saya dijadikan satu aja, tapiii berhubung ternyata jadinya panjang banget, akhirnya terpaksa di lanjutkan di postingan ini. Buat teman-teman yang belum sempat baca bagian pertamanya, silakan baca disini.

Karena proses awal sampai suntikan stimulus sudah saya share semua di postingan saya sebelumnya, jadi postingan ini akan saya buat Question and Answer yang mungkin banget ditanyakan tentang tahap awal dan suntikan stimulus. Mungkin akan mengalami perubahan dan perkembangan. Dan kalau ada perubahan atau perkembangan dari jawaban kami, pengetahuan kami, akan kami update lagi. Tapi, saya ingatkan lagi bahwa jawaban ini didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan kami sendiri ya. Kalau ternyata informasi yang kami berikan ada yang missed di satu atau dua tempat, jangan ditelan mentah-mentah, silakan konfirmasi dengan provider kesehatan yang teman-teman datangi. Karena tujuan dibuatnya postingan ini adalah murni untuk sharing, saling berbagi pengetahuan, yang mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk sesama survivor. Karena kami meyakini bahwa sesama survivor harus saling support satu sama lain, agar kita tidak merasa sendirian, karena pilihan untuk mengikuti program dan menjadi IVF survivor itu benar-benar berat. Oke, Here we go…

Question and Answer – Tentang Tahap Awal dan Suntikan Stimulus


Screening awal setelah join program ada apa aja?

Jadi sebelum dr. Nando memutuskan sebaiknya kita di trigger dengan obat-obatan stimulus apa aja, kita akan diminta melakukan serangkaian tes. Untuk kasus kami (sudah pernah saya posting di awal, cek disini), karena saya sudah pernah menjalani tes HSG dan suami saya pun sudah pernah beberapa kali menjalani Sperma Analysis, maka untuk saya hanya diminta untuk cek darah yang isinya (FSH, LH, AMH, Estradiol, Anti-Rubella IgG, Anti-Toxoplasma IgG, anti-CMV IgG, Prolactine, Progesterone, HIV dan Hepatitis) dan USG transvaginal yang diperiksa oleh dr. Nando sendiri sambil konsultasi, sementara untuk suami saya diminta untuk melakukan cek darah juga dan Sperma Analysis kembali untuk hasil yang terbaru. Oh iya, syarat terakhir join program IVF selain copy tanda pengenal dan copy buku nikah yang ditunjukkan di bagian admission, kita pun akan diminta untuk melakukan cek HIV. Kalau memang kita nggak merasa kenapa-kenapa atau berbuat diluar norma agama dan hukum, InsyaAllah nggak apa-apa ya tes HIV, jadi jangan tersinggung. Screening awal ini dilakukan di awal banget ya, sebelum kita memulai suntik-suntik stimulus. Jadi maksimal H-2 haid, atau bahkan mungkin sebelumnya.


Sakitkah suntikan stimulus?

Buat saya yang memang dari kecil ada trauma sama tindakan suntik-menyuntik, takut disuntik, maka buat saya selalu bikin deg-degan banget, hehehe. Tapi seharusnya, itu tidak boleh, kita diwajibkan untuk rileks dan bernafas dengan santai agar suntikan tidak terlalu menyakitkan. Jadi bagi saya ya SAKIT, ada efek pegel yang saya rasakan selama 30-60 menit pasca disuntik, jadi saya perlu banget mengusap-usap daerah suntikan dan sekitarnya untuk meredakan sakitnya. Yaaa… senut-senut sedep gitulaaah… Tapi buat saya sakitnya ya hanya berlangsung kurang lebih 1 jam aja, efek pegel (njarem kalau Bahasa Jawanya) selebihnya sudah tidak sakit sama sekali.

Tapi sakit dan tidaknya rasa suntikan ini bersifat relatif ya untuk sebagian besar pasien. Pasien dengan berat normal mungkin rasa sakitnya mirip dengan yang saya rasakan. Tapi bagi pasien yang tubuhnya cenderung kurus, suntikan ini katanya bisa terasa sampai ke ulu hati. Begitu juga dengan pasien yang bertubuh besar, memiliki banyak lemak di perut, mungkin suntikan ini akan terasa tidak ada apa-apanya. Pernah dengar juga dari salah satu suster jika berat badan si calon ibu lebih dari 70 kg, suntikan akan dilakukan di paha.

Berdasarkan jenis obatnya nih, Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel, ketiganya memiliki tekstur dan bentuk yang berbeda. Suntikan Pergoveris bagi saya sudah cukup menyakitkan ya, tapi ternyata suntikan Cetrotide lebih menyakitkan lagi, karena obat Cetrotide berbentuk serbuk yang harus dicampur terlebih dahulu dengan cairan bawaannya, jadi di –mix sendiri oleh suster yang bertugas. Serbuk obat Cetrotide bersifat kasar sehingga meskipun sudah dicampur dengan cairan bawaannya, saat disuntikkan ke perut rasanya aje gileee, hehehe. Lebih bikin pegel daripada suntikan Pergoveris, kalau saya. Tapi saat saya tanya suster pun ternyata memang begitu adanya, lebih sakit daripada suntikan Pergoveris. Sedangkan untuk suntikan Ovidrel sudah berbentik cair ya, tapi ya itu, lebih sakit juga jika dibandingkan dengan suntikan Cetrotide dan Pergoveris. Dari segi jarum suntiknya pun juga berbeda, jadi wajar ya kalau sakitnya lebih-lebih. Jadi kalau diurutkan, tingkat sakit dan pegel suntikannya naik bertahap, dari Pergoveris, Cetrotide sampai yang paling sakit Ovidrel. Tapiii… demi buah hati kita, sakit apapun akan kita tempuh. Mungkin ini cara Allah subhanahu wa ta’alaa mengajarkan pada saya tentang rasa sakit, untuk berani dengan suntik-suntik, hehehe.


Adakah efek samping suntikan stimulus?

Ada. Efek samping ini sangat bervariasi untuk setiap pasien ya, tergantung respon masing-masing pasien terhadap obat-obatan stimulus. Ada yang demam, mual, gatal dan panas di kulit bekas suntikan, dll, konfirmasi saja dengan suster koordinator masing-masing untuk memastikan dan meminta saran penyembuhan jika memang mengganggu banget. Kalau di saya, hari pertama pasca suntikan pertama saya, saya merasakan pusing luar biasa dan kram-kram ringan yang hilang timbul di perut bawah, kanan dan kiri. Setelah saya konfirmasi dengan suster Vita, suster koordinator saya, ini adalah salah satu efek samping dari suntikan stimulus, dan itu sangat wajar. Saya hanya dianjurkan untuk banyak minum air putih dan banyak istirahat aja. Selain itu, haid saya jadi lebih cepat berhenti dan vagina saya jadi berlendir. Haid saya terpangkas tiga hari, dari yang biasanya 7 hari jadi 4 hari aja dan sudah bersih. Di hari-hari berikutnya, perut saya terasa kembung dan membesar seperti hamil 3 bulan. Tapi lagi-lagi, hal itu sangat wajar, anjurannya hanya banyak-banyak minum air putih saja dan banyak-banyak istirahat. Untuk kram-kram perut tetap hilang timbul sampai saya selesai tindakan OPU, inipun hanya reda saat dipakai istirahat. Jadi, kita memang tidak dianjurkan untuk minum obat-obatan tertentu ya, dan kalau menurut saya jangan, sebaiknya hanya minum air putih dan istirahat saja. Ditahan saja, sambil belajar sabar dan ikhlas, bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah bagian dari merayu ridho Allah subhanahu wa ta’alaa, semata-mata untuk bayi kita nanti.


Cara mengatasi keluhan akibat suntikan stimulus?

Again, banyak minum air putih dan banyak istirahat saja, jikalau mengganggu banget mungkin ada yang sampai mual-mual parah, bisa dikonsultasikan dengan dokter ataupun suster koordinatornya. Ingat, jangan sembarangan minum obat luar. Apapun yang akan akan masuk kedalam tubuh kita, entah makanan atau minuman, jika ragu, baiknya ditanyakan terlebih dahulu pada suster koordinator. Mungkin inilah yang jadi sebab utama, worry kita yang berlebihan, takut kenapa-kenapa membuat kita menanyakan pertanyaan penting nggak penting pada dokter dan suster. Dan ini akan kita sadari setelah semuanya terlewati, bahwa kita rempong juga ya, hahaha. *pengalaman pribadi cyiiin


Sampai kapan kita perlu cek darah?

Cek darah adalah cara dokter dan suster memantau pergerakan hormon kita. Jadi hormon kita akan disesuaikan dengan ketebalan rahim dan pembesaran telur yang terjadi akibat di trigger dengan suntikan-suntikan stimulus. Oleh sebab itu, cek darah dan USG transvaginal bisa dilakukan hampir setiap hari selama kegiatan suntik-suntik stimulus. Jadi lengan bekas ambil darah pasti biru-biru lebam, itu biasa banget dan wajar, semua pasien mengalami itu. No worry. Sebisa mungkin berkompromi dengan pasangan kita atau orang-orang yang tinggal serumah dengan kita bahwa kita sedang menjalani program, harus selalu happy dan jauh dari stress dan pikiran negatif. Karena sedikit saja emosi kita berubah, itu akan berdampak buruk terhadap pergerakan hormon kita. Jika hormon kita nggak bagus hasilnya, tentu akan ngefek ke yang lain-lain juga, sementara kita maunya hasil yang kita peroleh bagus terus. Jadi ini merupakan salah satu yang memerlukan effort lebih.


Cek darah apa aja?

Cek darahnya tergantung dari kondisi masing-masing pasien ya. Biasanya akan diinfokan oleh suster koordinator atas instruksi dari dokter yang menangani kita. Kalau saya biasanya adalah Estradiol dan FSH. Saat konsultasi, dokter akan melihat kesesuaian perkembangan pembesaran telur, ketebalan rahim dan hormon, untuk memastikan bahwa obat-obatan stimulus yang diberikan sudah bekerja dengan baik.


Apa itu OHSS?

OHSS atau sindrom hiperstimulasi ovarium adalah efek samping yang umum dari terapi kesuburan, terutama obat-obatan yang digunakan selama program fertilisasi in-vitro (IVF). OHSS adalah kumpulan gejala yang terjadi ketika ovarium (indung telur) bereaksi berlebihan terhadap obat dan menghasilkan terlalu banyak kantung telur (folikel). Secara gampangnya nih, OHSS adalah adalah efek samping yang terjadi sebagai akibat dari penggunakan obat-obatan stimulus. Efek tiap pasien berbeda-beda tergantung dari daya tahan tubuh pasien. Kalau di saya, pasca suntikan yang pertama, saya merasa pusing banget dan ada sedikit nyeri yang hilang timbul di bagian perut bawah. Sembuhnya bagaimana? Saya hanya lapor ke suster koordinator, kemudian disarankan untuk banyak minum air putih dan banyak istirahat saja, Alhamdulillah segera membaik. Beberapa hari selanjutnya, saya merasa perut saya membesar dan kembung, tapi masih bisa ditolerir kalau ini, karena kembungnya mirip masuk angin biasa, sangat wajar kalau menurut suster koordinator. Secara umum, fisik saya tergolong kuat menerima obat-obatan stimulus, Alhamdulillah. Nah, buat teman-teman yang lain nih, yang mungkin fisiknya nggak sekuat saya, gejala apapun yang dirasakan, seringan apapun, baiknya laporkan dan tanyakan ke suster koordinator ataupun dokter yang merawat, agar kondisi kita terpantau dengan baik, sehingga jika terjadi sesuatu, kita dan tim dokter yang membantu kita bisa berinisiatif untuk cepat mengambil tindakan.


Haruskah konsumsi putih telur?

HARUS. Kalau saya, minimal 6 butir per hari, tapi ada pasien lain yang makan hingga 8-9 butir per hari. Di awal-awal mungkin kita merasa kuat ya, makan sebegitu banyak putih telur setiap hari. Tapi, semakin lama konsumsi putih telur ini jadi tantangan banget untuk sebagian besar pasien. Nggak cuma saya, tapi semua. Apa sih fungsinya buat tubuh kita? Jadi fungsinya itu untuk mencegah OHSS ya bu ibuuu, jadi beneran wajib ini, nggak boleh di skip. Fungsi lainnya adalah dipercaya membantu perlengketan embryo ke dinding rahim kita. Mulai kapan dikonsumsi dan sampai kapan? Untuk mulainya pastilah sejak pertama kali join program ya, sebelum trigger suntik-suntik stimulus dimulai. Untuk sampai kapannya tiap pasien bervariasi. Kalau saya, sampai saya dinyatakan positif pun saya masih terus mengkonsumsi putih telur. Seingat saya, saya berhenti ketika saya sudah tidak mampu lagi makan putih telur karena mual-mual di trimester pertama. Nggak langsung hilang sama sekali sih, tapi berkurang secara bertahap, kemudian diselang-seling pun pernah.


Sampai kapan konsumsi susu peptisol?

Susu Peptisol adalah susu tinggi protein yang fungsinya adalah untuk mencegah terjadinya OHSS. Jadi mirip-mirip dengan putih telur. Kalau putih telur itu alaminya, nah, susu peptisol ini buatannya gitu. Sampai kapan? Saya terus minum sampai stok susu dirumah habis, kira-kira sampai trimester pertama, saat usia kandungan saya 10-12 weeks.


Okee, mungkin sementara itu aja soal Tahap Awal dan Suntikan Stimulus, jika ada pertanyaan lain tentang proses di tahap ini, akan saya jawab juga disini, jadi postingan ini pun akan saya update. Sampai jumpa di next post…





Salam,



Lisa.

Selasa, 15 Mei 2018

Proses IVF – Tahap Awal dan Suntikan Stimulus



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah, akhirnya… Mulai sekarang kita akan ngomongin soal proses ya. InsyaAllah akan saya bahas satu per satu per prosesnya, sesuai dengan pengetahuan saya dan dari apa yang saya alami sendiri. Mohon maaf juga kalau jedanya lumayan panjang, karena sibuk beberes mau pindahan dan saya ikut kelas Childbirth Education-nya AMANI Birth tiap weekend selama bulan April bareng suami saya. InsyaAllah akan saya post juga tentang AMANI Birth. Jadi yaaa gitu deh, sudah mood swing bumil naik turun, ditambah kesibukan ini itu jadi berat banget rasanya mau buka laptop. Padahal ada beberapa orang yang sudah nanyain via comment dan dm di ig saya sejak saya posting foto bareng dr. Nando dan suster Diana.

Yes, mulai saya bayar hutang sharing dan posting saya satu per satu yaa…

Yuk! Bismillahhirrahmannirrahim…

Bulan April 2017, setahun yang lalu, kami yang nggak tahu apa-apa nekat datang ke the BIC – Klinik Fertilitas Morula IVF Jakarta. Langsung daftar ke bagian admission untuk bertemu dengan dr. Aryando Pradana, SpOG, walaupun saat itu kami masih sedikit ragu apakah kami jadi akan join program IVF atau tidak.

Di bagian admission, saya dan suami diminta untuk menyerahkan KTP, Surat Nikah dan hasil screening awal, yang nantinya akan di-copy-kan oleh suster yang bertugas sebagai syarat pendaftaran awal. Alhamdulillah-nya semua berkas syarat pendaftaran itu sudah kami persiapkan dari rumah sebelumnya, berdasarkan informasi yang kami peroleh via website, kecuali untuk screening awal ya, screening awal akan di instruksikan oleh dr. Nando, tapi kalau sudah pernah melakukan beberapa tes sebelumnya, boleh dibawa dan ditunjukkan ke beliau. Salah satu yang membuat kami sedikit lega adalah bahwa mereka serius membantu kami dan karena joining program ini nggak sembarangan, harus jelas siapa pasien, suaminya, keluarganya, yang dibuktikan dari dokumen-dokumen tanda pengenal dan pernikahan secara hukum dan agama.

Selanjutnya, pasangan suami istri akan dipanggil oleh suster untuk dilakukan wawancara singkat. Apa aja yang ditanyakan? Standar aja sih kalau menurut saya. Yang pertama perihal data pribadi, untuk calon ibu: siklus menstruasi, keputihan, nyeri perut, riwayat sakit dan operasi, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin, alergi obat, pap smear, riwayat HSG, IVF dan IUI sebelumnya. Sedangkan untuk suami: sperma analysis dan hasilnya, riwayat sakit dan operasi, penyakit genital, infeksi genital, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin dan alergi obat.

Pertama kali kami datang ke klinik, kami belum join program ya, karena kami masih lumayan galau, tapi kami sudah sempat bertemu dan konsultasi dengan dr. Nando, menceritakan segala keluhan kami dan usaha apa saja yang sudah pernah kami lakukan. Dr. Nando lumayan amazed ya sama kami berdasarkan berbagai usaha yang sudah kami tempuh untuk memperoleh buah hati, karena saya sudah pernah menjalani HSG, sementara suami saya sudah pernah beberapa kali menjalani sperma analysis dan terdeteksi menderita varikokel, walaupun belum sempat menjalani operasi. Yang saya suka dan kami merasa cocok dengan dr. Nando adalah beliau tidak menghakimi, mendengarkan dengan tangan terbuka tentang segala keluhan kami dan membiarkan kami memilih. Bener, bukan dr. Nando yang menyarankan kami untuk menjalani program IVF atau IUI, tapi kami sendiri yang memilih. Beliau cukup memberikan informasi-informasi apa saja yang perlu kami tahu sebelum menjalani salah satu program. Kenapa? Kami sadar diri saja bahwa kami tidak sesehat dan sesempurna pasutri kebanyakan diluar sana yang bisa dengan mudahnya hamil setelah menikah. (Sudah pernah saya bahas juga soal ini di postingan saya sebelumnya disini. Yuuk baca dulu kalau kepo J).

Kami baru join program sebulan kemudian. Trus ngapain aja sebulan itu? Nggak banyak sih yang bisa kami lakukan. Cuma lebih banyak googling kalau suami saya, saya nggak dibolehin googling macem-macem, takut saya setres duluan, hehehe. Kami banyak quality time, banyak diskusi, banyak sholat berjamaah, banyak sholat sunnah, banyak dzikir, banyak berdoa, saling support, menguatkan dan memantapkan diri bahwa kami memang ingin serius program.

Konsultasi pertama dilakukan di haid hari ke-2 atau hari ke-3 ya, di hari itu kita akan konsultasi langsung dengan dokter yang menangani kita, USG transvaginal dan cek darah. Sejak join program, USG akan selalu dilakukan lewat bawah, via vaginal sampai hamil di usia 10 weeks. Untuk yang belum tahu nih, saya akan coba jelaskan tentang USG transvaginal.

USG transvaginal

Apa itu USG transvaginal?
USG transvaginal adalah USG yang dilakukan via vaginal, jadi alat USG-nya dimasukkan ke lubang vagina kita oleh dokter atau suster yang bertugas. Untuk pengertian secara medis, atau definisi resminya, silakan googling sendiri aja yaa… Beberapa dokter pria ada yang meminta bantuan suster untuk memasukkan alat USG ke vagina pasiennya, tapi kalau dr. Nando, beliau sendiri yang akan melakukan USG. Jadi kita diminta melepas seluruh pakaian bawah kita termasuk celana dalam, kemudian duduk dengan posisi kaki berasa di atas penyangga, suster akan menyelimuti bagian perut sampai kaki kita dengan kain, dan USG akan dimasukkan ke lubang vagina kita. Jangan berpikiran negatif duluan ke dr. Nando ya, cuma berapa detik aja beliau akan ‘ngintip’ buat memasukkan USG ke lubang vagina kita, selebihnya beliau akan fokus ke monitor USG.

Apa bedanya dengan USG biasa?
USG biasa nama medisnya adalah USG abdomen. Fungsi dilakukannya USG transvaginal itu adalah untuk melihat kondisi rahim kita lebih jelas, USG abdomen hanya bisa menangkap gambar rahim dari atas, sementara USG transvaginal bisa menangkap gambar rahim kita dari bawah beserta telur dan indung telurnya dan lebih jelas jika dibandngkan dengan USG abdomen. Jadi diujung alat USG tersebut ada semacam kameranya yang bisa mengobservasi rahim kita secara keseluruhan.

Apa aja yang terlihat dengan USG transvaginal?
Karena tujuannya adalah untuk mengikuti program IVF maka yang harus diperiksa pertama kali adalah rahim, tentang ada tidaknya gangguan di rahim kita, misalnya mioma dan kista yang mungkin saja mengganggu terjadinya kehamilan atau memberikan sedikit ruang untuk calon bayi kita tumbuh dan berkembang. Hal kedua yang diperiksa adalah jumlah telur (ovum) yang nantinya akan diambil secara keseluruhan, dari indung telur kanan dan indung telur kiri. Semakin banyak telur yang kita miliki, insyaAllah semakin bagus, artinya banyak telur yang akan dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Walaupun TIDAK ADA JAMINAN PASTI bahwa telur yang sudah dikawinkan tersebut akan berkembang dengan baik menjadi embryo, bakal calon janin kita. Hanya saja, banyaknya jumlah telur membuat kita memiliki banyak cadangan, membuat kita rest assure.

Seperti apa bentuk alat USG transvaginal?
USG transvaginal berbentuk seperti tongkat dengan ujung bulat, kayak ujung ulegan gitu, hehehe. Bulatannya kecil kok, mungkin sekitar 2-3 cm diameter bulatannya.

Sakitkah USG transvaginal?
Enggak sakit sama sekali kalau saya, hanya saja untuk pertama kalinya, memang rasanya akan sedikit tidak nyaman. Yang perlu diperhatikan adalah kita harus rileks, tidak tegang dan posisi duduk kita harus benar, InsyaAllah tidak akan sakit. Sebelum memasukkan USG transvaginal ke lubang vagina kita, USG tersebut akan dilapisi oleh semacam lapisan, mirip (maaf) kondom sih ya kalau menurut saya, kemudian di ujungnya diberi gel pelumas, jadi nggak usah khawatir sakit dan ataupun tidak steril.

Itu tadi sedikit tentang USG transvaginal ya, semoga menjawab pertanyaan dan sedikit mengurangi kekhawatiran seputar USG transvaginal. Balik lagi ke konsultasi awal ya, jadi USG transvaginalnya pun dilakukan di hari ke-2 atau hari ke-3 haid. Jadi jorok dong? Haid kan lagi banyak-banyaknya, nanti darah haid kemana-mana? Memang begitulah prosedurnya, maka dari itu suster yang bertugas membantu dokter akan meminta kita menaikkan pakaian kita agar tidak terkena noda darah haid. Kursi duduk periksa pun selalu dilapisi dengan tisu yang selalu untuk setiap pasien. Dokter Nando pun selalu memakai sarung tangan baru untuk memeriksa setiap pasiennya dan beliau pun tanpa rasa jijik meletakkan tangan kirinya untuk mengambil darah haid kita yang (mungkin) ikut terbawa keluar saat alat USG transvaginal ditarik keluar. Malu? Nggak perlu malu, semua pasien mengalami itu. Buang jauh-jauh malunya, saya selalu menganggap saya ini ‘sakit’, perlu konsultasi, perlu berobat dan tim medis perlu mengetahui segala kondisi kesehatan saya, luar dan dalam. Tapi jika memang tidak nyaman dengan dokter pria, boleh ganti dengan dokter wanita. Di klinik BIC – Morula IVF Jakarta ada beberapa dokter wanita seperti dr. Anggia Melanie Lubis, SpOG, dr. Caroline Hutomo, SpOG dan dr. Merry Amelya PS, SpOG.

Setelah kita join program, sudah konsultasi, USG dan cek darah, dokter akan memutuskan jenis obat-obatan apa yang akan kita gunakan untuk menstimulasi telur. Sebelum tindakan OPU (Ovum Pick Up/ Operasi Petik Telur), telur (ovum) kita perlu dimatangkan semua dengan obat-obatan stimulus. Jika pada saat haid normal atau biasa, kita hanya melepaskan satu telur saja untuk dibuahi, dengan program IVF kita perlu mematangkan semua cadangan telur-telur kita untuk dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Haruskah sebanyak itu? Iya. Semakin banyak yang dikawinkan tentu akan semakin bagus, karena kita tidak akan tahu pasti perkawinan telur dan sperma yang mana yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi embryo, calon janin kita. Oleh sebab itu, perlu banget memiliki jumlah telur yang banyak.

Disaat kita mulai join program, suster yang bertugas pun akan menjelaskan makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi. Untuk makanan yang harus dihindari antara lain:
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung soda dan kafein seperti teh, kopi, cokelat dan minuman bersoda lainnya.
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari kacang-kacangan dan olahannya, misalnya susu kedelai, tahu, tempe, kecap, dll.
  • Tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.

Sedangkan makanan dan minuman yang dianjurkan adalah:
  • Susu peptisol 1x sehari, dosis boleh ditambah menjadi 2x sehari jika terjadi keluhan, bisa dikonsultasikan dengan suster koordinator.
  • Makan putih telur minimal 6 butir per hari.
  • Minum air 2-3 liter per hari.
  • Mengkonsumsi makanan tinggi protein dan vitamin C.

Itu adalah makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi selama kita mengikuti program. Sampai kapan makanan dan minuman tersebut harus dikonsumsi atau dihindari? Sebagian hanya sampai OPU (Ovum Pick Up) dan sebagian yang lain sampai kehamilan kita dinyatakan safe oleh dokter, boleh konfirmasi ke suster koordinator sebelumnya untuk memastikan. Kalau saya, ada tambahan minum jus 3 diva (wortel, apel dan tomat), buah atau jus alpukat, sekali sehari setiap hari. Kita juga diwajibkan untuk menjaga kesehatan kita, diusahakan untuk tidak sakit seringan apapun. Jika ternyata sampai sakit, harus konfirmasi ke suster koordinator atau dokter yang merawat tentang obat-obatan apa saja yang boleh dikonsumsi dan berapa dosisnya. Selain itu, kita diwajibkan untuk berolahraga secara teratur 2-3 kali seminggu minimal selama 30 menit. Untuk apa? Untuk menjaga agar fisik kita tetap fit tentunya. Jika fisik kita fit, InsyaAllah harapannya hormon kita akan stabil dan bagus. Diwajibkan juga untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, tidak boleh sampai demam. Caranya? Dengan minum air 2-3 liter per hari. Jika dirasa suhu tubuh agak naik, langsung perbanyak minum air putih. Untuk masalah berhubungan dengan pasangan, masih diperbolehkan sampai H-2 tindakan OPU. Tapiii, versi saya nih ya, kami udah nggak mikirin soal berhubungan. Kenapa? Karena ada efek samping yang timbul akibat suntikan-suntikan stimulus, jadi calon ibu harus banyak-banyak istirahat, menjaga kesehatan agar tetap fit, pokoknya jangan sampai sakit aja.

Setahu saya, ada dua macam obat stimulus, Pergoveris dan Gonal. Bedanya apa? Saya kurang tahu dan kurang paham juga. Sesuai dengan kondisi saya, saya mendapatkan paket obat-obatan:

Pergoveris 300 IU                             8 hari
Cetrotide                                           4 hari
Ovidrel 250 mg                                 1 hari

Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel adalah paket obat stimulus yang saya dapatkan. Harganya? Sekitar 16 jutaan, paket obat stimulus standar. Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel merupakan obat-obatan stimulus yang berbentuk injeksi. Kalau saya, datang ke klinik setiap hari sesuai jadwalnya untuk dibantu suntik oleh suster yang bertugas. Gratis. Tidak dipungut biaya apapun. Jadi paket obat-obatan saya dititipkan di apotek klinik. Tapi, kalau rumahnya jauh dan ingin suntik sendiri dirumah atau mungkin ada orang yang bisa membantu suntik, misal suami atau keluarga lain, bisa suntik dirumah. Cara dan instruksinya akan diajari oleh suster.

Di empat hari pertama, saya mendapatkan suntikan Pergoveris. Pergoveris adalah jenis suntikan yang berguna untuk membesarkan telur (ovum). Jadi telur-telur kita dibesarkan, dimatangkan sampai ukuran tertentu. Sebesar apa? Minimal 18 mm per telur. Selama program sebelum kita berhasil hamil, kita akan dipandu oleh satu orang suster koordinator. Suster koordinator ini ibaratnya adalah asistennya dokter. Kalau saya dengan dr. Nando, maka suster koordinatornya adalah suster Vita. Satu dokter dibantu oleh satu suster koordinator. Melalui suster ini juga kita akan mendapatkan instruksi-instruksi dari dr. Nando. Selama suntik-suntik stimulus, kita akan diinstruksikan untuk melakukan beberapa kali cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau respon tubuh dan telur terhadap obat-obatan stimulus.

Di hari ke-5 suntikan akan ditambah dengan suntikan Cetrotide, jadi dalam sehari akan dilakukan dua kali suntikan. Suntikan Cetrotide berfungsi untuk menahan agar telur (ovum) tidak pecah duluan selama di trigger dengan obat stimulus Pergoveris. Suntikan ini diberikan selama empat hari sampai hari ke-8. Di hari ke-8 kita akan diminta untuk melakukan cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau kembali perkembangan telur yang di trigger dengan obat-obatan stimulus. Jika dirasa sudah cukup, sudah sesuai antara darah dan USG maka siap untuk dilakukan suntikan Ovidrel (pemecah). Kalau saya, ditambah satu lagi suntikan Pergoveris dan suntikan Cetrotide. Tambahan suntikan ini tidak termasuk dengan paket obat ya, paket obat standar hanya yang saya sebutkan sebelumnya. Jika ada pasien yang mungkin memberikan respon yang berbeda terhadap obat-obatan stimulus, suntikan obat-obatan mungkin bisa berkurang atau bertambah tergantung respon tubuh tiap pasien. Jadi kita membeli lagi kekurangan obat stimulus berdasarkan instruksi dari dr. Nando.

Suntikan Ovidrel (pemecah) diberikan atas instruksi dari dr. Nando berdasarkan hasil darah dan USG terakhir. Suntikan Ovidrel ini berfungsi untuk memecah telur, maksud memecah disini saya agak kurang paham ya, tapi sepertinya hanya memisahkan saja, bukan memecah dalam arti sebenarnya, hanya memisahkan agar tidak bergerombol-gerombol (mungkin). Suntikan Ovidrel ini agak spesial dari suntikan stimulus yang lain ya. Suntikan Ovidrel diberikan tepat 36 jam sebelum tindakan OPU. Jadi, waktu suntiknya harus benar-benar on time karena akan berhubungan langsung dengan tindakan OPU yang akan dilakukan selanjutnya.

Suntikan-suntikan stimulus diberikan di perut dengan jarak dua jari dari pusar, jadi bukan di pantat ya. Untuk pasien dengan berat badan lebih dari 70 kg, tindakan suntik akan dilakukan di paha. Untuk tepatnya di paha bagian mana, saya kurang tahu juga ya. Jika suntikan mulai dilakukan dua kali, suntikan tetap di lakukan dengan cara yang sama, tapi  jangan khawatir, suntikan tidak dilakukan ditempat yang sama. Tetap dua jari di bawah pusar tapi bisa sebelahan, tergantung suster yang bertugas, yang mana menurut suster posisi yang bagus.

Alhamdulillah… InsyaAllah begitu, rangkaian proses tahap awal sampai suntikan stimulus. Sebenarnya masih ada beberapa lagi tentang suntikan stimulus, tapi karena sudah panjang banget, takut bosen dan capek baca, jadi akan saya lanjutkan di next post ya.

Again, saya ingatkan lagi, bahwa postingan-postingan ini saya buat murni sebagai pengingat untuk kami agar kami selalu bersyukur atas apapun yang takdir Allah subhanahu wa ta’alaa tetapkan untuk kami, sekaligus untuk sharing kepada sesama survivor yang mungkin sedang atau akan menjalani program. Postingan ini didasarkan pada pengalaman pribadi kami dan informasi apa saja yang kami ketahui. Jika ada missed di satu atau dua tempat, mungkin prosedur/ SOP-nya sudah mengalami perubahan atau perkembangan. Jadi harap dimaklumi yaa…

Buat teman-teman yang ingin bertanya, komentar atau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar ya, InsyaAllah akan saya jawab sesuai dengan kemampuan dan sepengetahuan saya. Atau jika mungkin follow sosmed saya, boleh komen di sosmed saya, tapi tetep jawaban lengkapnya akan saya posting di blog, bukan di sosmed ya. Terima kasih...





Salam,




Lisa.

Sabtu, 14 April 2018

Frequently Ask Question - Tentang IVF


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Waaahh… sudah lama banget ternyata saya nggak update blog, mohon maaf dan harap maklum yaaa… Padahal di posting sebelumnya ada janji buat cerita soal perjuangan IVF kami. Tapi qadarullah, mood swing bumil naik turun, ditambah sakit sepele yang berkepanjangan membuat saya harus istirahat total dan fokus untuk penyembuhan, demi kesehatan bersama. InsyaAllah akan saya posting juga saya sakit apa, apa dan bagaimana cara untuk merawat diri selama sakit saat hamil.

Jadi sekarang mau posting apa? Saya mau posting F.A.Q dulu aja yaaa… Frequently Ask Question yang mungkin banget ditanyakan soal Program IVF yang kami jalani. Soalnya kalau dibikin post terpisah bingung juga mau dikasih judul apa. Jadi disatuin aja disini, hehehe. Tapi, ini jawaban berdasarkan pengalaman dan sepengetahuan kami ya, kalau kami nggak tahu ya jangan marah dan sedih, bisa tanya langsung ke provider-nya, hehehe. Here we go…

Image source


F.A.Q Our IVF Journey

Program IVF dimana?
Sejujurnya, di awal rencana kami untuk melakukan program IVF, kami sama sekali buta arah. Kemana dulu, RS mana yang recommended untuk program IVF. Yang kami tahu hanya definisi program secara garis besar dan apa masalah fertilitas yang sedang kami hadapi saat itu. Sebagai catatan juga, kami bukan penduduk ibukota, kami (saya dan suami) ini orang desa yang numpang hidup di ibukota karena pekerjaan suami. Oleh sebab itu kami nggak tahu RS mana yang recommended, sama sekali blank, apalagi di ibukota, sekelas DKI Jakarta yang memiliki banyaaak banget rumah sakit besar, didukung pula dengan dokter yang ahli dibidangnya dan teknologi medis yang paling mutakhir tentunya. Nggak mungkin juga jika kami harus keliling seluruh RS kaaan… kalaupun mau tanya, bingung juga mau tanya ke siapa karena kami malu. Bener, malu, permasalahan fertilitas itu masuk ke ranah pribadi, privat, privacy. Jika kami bertanya, mau nggak mau kami pun harus menjawab dan menceritakan permasalahan kami pada lawan bicara yang kemungkinan besar kepo.

Jadi gimana dong? Bingung pasti. Qadarullah, suami saya dipertemukan dengan teman kuliahnya yang sama-sama belum memiliki buah hati dan sedang mempersiapkan untuk mengikuti program bayi tabung di klinik Morula Bandung. Disitu kami coba searching via search engine, ketemulah informasi tentang bayi tabung/ IVF, sederetan cerita tentang IVF, proses dan pilihan dokter yang ada.

Kami nggak langsung join program ya, karena keterbatasan budget seperti yang sudah kami ceritaan disini, kami harus menunggu kurang lebih satu tahun untuk kemudian memberanikan diri untuk datang ke the BIC – Klinik Fertilitas Morula IVF Jakarta.

Mengapa program di Morula?
Alasan pertama sudah tentu sama dengan jawaban pertanyaan sebelumnya ya, tahunya itu, ketemunya itu, temen suami program disitu juga, jadi kami iseng ngikutin, nyoba disitu juga. Pas kebetulan juga suami sedang ditugaskan di Jakarta, jadi sekalian, mumpung tinggal di Jakarta.

Sebenarnya, setahun yang lalu, ketika saya dan suami masih tinggal di Duri, Riau, saya pernah diajak oleh temannya teman saya untuk program di salah satu RS di Malacca, Malaysia. Menurut informasi dari teman saya, biaya program hamil di RS tersebut tergolong murah jika dibandingkan dengan RS di Jakarta, Pekanbaru dan Medan. Tapi ternyata suami saya tidak setuju dengan alasan transportasi dan akomodasi yang mungkin tidak murah, belum lagi soal makanan. Walaupun masih satu rumpun, urusan halal-haram makanan di tempat asing tentu memberatkan juga. Pas ternyata pekerjaan suami saya sulit untuk ditinggalkan sehari dua hari, sulit untuk ijin kepada atasan karena load pekerjaannya yang sedang tinggi. Begitulah, takdir dan rejeki, Allah subhanahu wa ta’alaa mengizinkan, mengatur dan mempermudah urusan kami untuk program hamil ketika kami tinggal di Jakarta. Alhamdulillah.

Dokternya siapa?
Dilema kedua adalah soal dokter. Saya agak sensitif ya kalau soal dokter, karena pengalaman dapat dokter yang nggak enak. Nggak enaknya gimana? Bukan karena dokternya yang kurag pinter atau gimana-gimana sih, saya yakin semua dokter itu pinter, mungkin saya aja yang kelewat baperan hehehe. Sebagai pasutri yang sudah kebanyakan searching ini itu, kami menganggap kami sudah ‘sok tahu soal permasalahan fertilitas’ ditambah lamanya masa tunggu yang telah kami jalani, jadi wajar dong ya kami perlu dokter yang welcome, mau mendengarkan, teliti, telaten dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya info apa saja yang perlu kami tahu tanpa meyinggung atau menyakiti perasaan kami.

Awalnya saya maunya dokter wanita, sesuai dengan syariat Islam yang jika dimungkinkan mendapatkan dokter wanita maka disunahkan untuk berobat ke dokter wanita. Begitu bunyinya kalau nggak salah ya. Tapi, mendapatkan dokter wanita dengan kriteria seperti yang saya sebutkan diatas tentu nggak mudah juga, nggak bakalan tahu kalau belum ketemu langsung kaaann…

Karena kebanyakan browsing dan searching (lagi-lagi), akhirnya saya nemu beberapa postingan dari beberapa pasien soal dr. Aryando Pradana, SpOG yang sesuai banget dengan kriteria dokter yang saya mau. Langsung lapor suami dan pindah haluan, fix, ke dr. Aryando Pradana, SpOG.

Range Biaya?
Soal biaya ini pun paliiiing sering ditanyakan oleh pasien yang akan memulai suatu program. Padahal nih ya, namanya sakit, keluhan, berbeda-beda tiap pasutri. Beda pasutri beda permasalahan, beda kondisi tubuh, beda penanganan, begitu kok ya masih ngotot tanya biaya, hehehe. Kadang kalau dipikir ya aneh ya. Tapi sebagai pasien, sebagai pasutri, tetep kepo kan ya, biayanya kira-kira berapa, sebagai budget utama, dan spare biaya pun harus berapa yang harus disediakan untuk join program.

Menurut pengalaman dan permasalahan kami, dimulai dari suntik stimulus sampai saya berhasil hamil, kami sudah menghabiskan biaya kurang lebih 150 juta. Biaya itu mencakup biaya join program, paket obat standar, 1x OPU, 2x FET, tidak termasuk biaya operasi laparoskopi, cek darah dan konsul dokter. Dari pengalaman pasien lain, jika 1x FET kemudian berhasil hamil, biaya yang mereka keluarkan kurang lebih 100 juta. Biaya kami lebih mahal karena saya menjalani 2x FET, karena FET pertama kami belum berhasil. Next time akan saya ceritakan juga soal ini ya…

Pokoknya kalau soal biaya spare saja 2-3x harga promo yang ada di flyer atau banner Morula. Dan jangan khawatir, biaya itu tidak langsung di bayarkan dimuka. Pembayaran bertahap sesuai dengan proses yang sudah dijalani.

IVF bisa pakai asuransi?
Nah, saya kurang tahu ya kalau soal ini, asuransi apa yang dapat menjamin pasien IVF. Tapi di bagian admission selalu ditanyakan oleh suster yang bertugas, apakah pembayaran pribadi atau memakai asuransi. Tapi kalau dipikir-pikir sih ya, mungkin nggak ada asuransi yang mau meng-cover pasien IVF, karena tingginya biaya IVF dan ketidakpastian keberhasilan program dalam satu kali program, KECUALI jika sudah hamil. Kalau sudah hamil kan masuk tagihannya ke kontrol kehamilan. Kalau kontrol kehamilan InsyaAllah ada asuransi yang bersedia meng-cover. Untuk asuransinya apa, saya kurang tahu juga ya. Kami memakai biaya pribadi untuk program IVF yang kami jalani, tetapi ketika saya sudah berhasil hamil, saya memakai fasilitas asuransi yang diberikan oleh kantor suami, jadi lumayan banget, bisa sedikit berhemat, walaupun tidak semua di-cover. Alhamdulillah.

Nah, bagaimana dengan BPJS? Kayaknya malah nggak mungkin di-cover ya. Coba dipikir deh, berapa sih premi bulanan BPJS per pasien? Kira-kira, apa iya negara kita punya dana sebanyak itu untuk membiayai pasien IVF? Wong dari curhatan para dokter ketika program BPJS dimulai, dana BPJS aja nggak cukup untuk membeli obat-obatan tertentu yang memang dibutuhkan pasien, apalagi untuk membiayai pasien IVF, dengan biaya obat, proses dan tindakan yang sama sekali tidak murah.

Pilih gender?
Kami nggak milih gender. Saya bisa hamil saja sudah sangat bersyukur sekali, apapun gender yang Allah subhanahu wa ta’alaa kehendaki. Berhasil hamil saja sudah merupakan suatu anugerah dan keajaiban bagi kami, kami tidak berani dan tidak berniat meminta lebih. Walaupun disunahkan untuk mendefinisikan dengan jelas doa kita, apa yang kita mau, seperti apa yang kita mau kepada Dzat Yang Maha Kaya, Allah subhanahu wa ta’alaa. Tapi cukup bagi kami untuk saya berhasil melalui setiap prosesnya dengan lancar tanpa hambatan berarti, berhasil hamil, sehat, lengkap, sempurna, sehat jasmani dan rohani, tanpa kekurangan suatu apapun, apapun gender-nya. Kami ikhlaskan dan pasrahkan semuanya kepada Allah subhanahu wa ta’alaa.

Untuk teknologi pilih gender, mungkin ada ya tapi saya kurang tahu soal itu. Yang saya tahu ada teknologi untuk melakukan pengecekan kromosom, dimana kromosom calon janin kita di cek secara keseluruhan apakah bagus atau tidak. Bagus dan tidaknya darimana? Mungkin dilihat dari kemungkinan ketidaksempurnaan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Nah, bonusnya, kita bisa tahu lebiiih cepat kemungkinan gender yang dibawa oleh kromosom yang diteliti. Biaya cek kromosom kurang lebih 48 juta, berdasarkan info dari suster yang menangani saya. Untuk cek kromosomnya kapan, sebelum atau setelah proses FET, saya kurang tahu juga.

Berapa lama proses IVF?
Ini nih yang bikin bingung. Kalau proses keseluruhan jelas sangat bervariasi ya, tergantung pasutri dan kondisi kesehatan pasutrinya juga. Tapi saya akan coba jawab waktu per proses aja ya… Untuk pembahasan lengkap per proses akan saya tulis di postingan selanjutnya.

  • Konsul dan USG pertama setelah join program dimulai di hari kedua atau hari ketiga haid.
  • Suntik stimulus (pembesaran, penahan dan pemecah) telur dimulai dari haid hari kedua atau hari ketiga selama 8-10 hari berturut-turut di waktu yang telah ditentukan, lama waktu bervariasi tiap pasien tergantung dari respon telur terhadap obat-obatan stimulus.
  • Proses OPU (Ovum Pick Up/ Petik Telur) dilakukan 36 jam dari suntikan pemecah (ovidrel). Lama waktu proses OPU 20-30 menit ditambah 1-1.5 jam istirahat. Proses OPU dilakukan dengan kondisi bius total.
  • Waktu kapan tepatnya dilakukan proses ET (Embryo Transfer)/ FET (Frozen Embryo Transfer) bervariasi, tergantung kondisi rahim, hormon dan panjang siklus haid calon ibu. Jika semua kondisi terpenuhi, ET/ FET akan diinfokan oleh dokter, lama waktunya tindakan ET/ FET 10-20 menit dengan 30 menit waktu untuk minum, kandung kemih harus dalam kondisi penuh dengan menahan pipis agar rahim dapat terlihat.
  • Waktu tunggu hasil kurang lebih 2 minggu, sesuai dengan embryo yang ditransfer, apakah embryo hari ke-3 atau embryo hari ke-5.


Begitu ya gambaran waktunya, kurang lebih seperti itu, rentang waktu per proses sangat bervariasi tergantung dari permasalahan dan kondisi kesehatan masing-masing pasutri.

Sakitkah proses IVF?
Untuk proses OPU dan ET/FET bagi saya nggak sakit sama sekali, cuma memang secara teknis ada rambu-rambu dari dokter dan suster yang wajib dan perlu dipatuhi. Untuk proses OPU-nya sendiri kita dalam kondisi dibius total, tidak sadar, 1-2 jam kemudian baru dibangunkan suster untuk melakukan cek kondisi tubuh kita, jadi memang nggak terasa sakit sama sekali. Begitu juga dengan proses ET/FET, nggak sakit, hanya saja kondisi kandung kemih kita harus penuh dan perlu menahan pipis selama proses ET/FET selama beberapa menit, setelah proses selesai baru boleh pipis sambil berbaring dengan menggunakan pispot.

Adakah prosesnya yang menyakitkan? Kalau bagi saya sih ada. Dan menurut cerita dari suster dan pasien-pasien lain, suntikan-suntikan stimulus sebelum proses OPU cukup menyakitkan. Buat saya, suntikan stimulus memberikan efek pegel di perut (kemeng atau njarem kalau dalam Bahasa Jawa) selama 30-60 menitan. Jadi saya selalu mengusap-usap bekas suntikan tersebut sambil senyam-senyum nahan sakit selama 30-60 menit, hehehe. InsyaAllah cuma sebentar aja kok. Setelah itu sudah nggak terasa sakit lagi. Suntikan pengencer darah dan penguat rahim juga nggak kalah pegel rasanya, hehehe. Sebenarnya, suntikan pengencer darah (Lovenox) nggak akan terasa sakit jika masih berada di awal kehamilan, tapi rasa sakit atau pegelnya itu semakin bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan. Jadi senut-senut sedep gitulaaah, hehehe. Suntikan yang nggak kalah heboh adalah suntikan penguat rahim yang diberikan ketika pasien sudah positif hamil, jarum dan lokasi injeksi bikin sakitnya agak lebih lama dibanding suntikan lain, efek sampingnya, pegelnya bisa terasa sampai H+2 injeksi, lama yaaa…

Jadi begitu yaaa… rangkuman jawaban dari beberapa pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh pasien sebelum memulai program IVF. InsyaAllah next post akan saya posting terpisah per prosesnya berdasarkan pengalaman saya.

Buat teman-teman yang ingin bertanya, komentar atau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar ya, InsyaAllah akan saya jawab sesuai dengan kemampuan dan sepengetahuan saya. Terima kasih.




Salam,



Lisa.