Rabu, 19 Februari 2020

Pizza Teflon


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai-hai... Lama banget nggak nulis di blog. Iyaa... lama. Tapi saya masih sempet kok update instagram, hehe. Sibuk? Enggak. Cuma sok sibuk aja kadang-kadang 😅

Kemarin tema di @uploadkompakan (UK) adalah pizza, sedari kemarin udah ngubek-ubek stok foto, cuma dari pagi kok bimbang banget mau setor, merasa stok foto pizza saya nggak proper buat disetorin di UK. Akhirnya waktu berlalu, tahu-tahu udah malam aja, udah kelewatan, hehe. Jadi pelariannya kesini, ke blog, untungnya belum pernah diupload juga di blog.

Jadi ini itu stok foto pizza hasil ngubek-ubek Gallery sejak kemarin malam. Ternyata resepnya belum pernah di upload, di instagram juga, tapi mungkin disini sudah. Sementara saya udah move On dari resep ini, alias punya resep pizza andalan baru yang lebih ciamik hasilnya. Jadi resep ini udah nggak saya pakai lagi. Resep Untuk dough-nya maksudnya. Untuk saus toppingnya saya tetap bertahan dengan urutan ini. Merasa cocok untuk membuat jenis pizza gurih apapun. 



Pizza Teflon 
Sources: Erna Infitharina via shared on fb
Modified by @arlisa_jati

Bahan:
500 gr tepung terigu pro tinggi
1 ½ sdt ragi instan
3 sdm margarin cair
½ sdt garam
½ sdt gula pasir
250 ml susu cair
1 btr telur ayam

Saus:
1 sdm mentega
1 bks saus bolognese instant La Fonte (280 gr)
2 buah bawang bombay, iris tipis

Topping:
Mayonaise
Sosis, rebus, iris sesuai selera
Paprika hijau dan merah, iris sesuai selera
Keju cheddar, parut memanjang.
Keju mozarrella / cheddar melted, parut memanjang.

Cara Membuat:
•Panaskan mentega, tumis bawang bombay hingga harum, masukkan saus bolognese instant, aduk rata, masak hingga mengental dan matang, sisihkan.
•Campur semua bahan, uleni adonan sampai kalis (kurang lebih 15 menit).
•Tutup adonan dengan serbet atau plastik wrap, diamkan selama 40 menit (proofing 40 menit).
•Siapkan pan teflon anti lengket, olesi pan teflon anti lengket dengan margarin secara merata.
•Bagi adonan pizza menjadi beberapa bagian, bulatkan sampai benar-benar bulat dan halus agar hasil pizza saat matang tidak bergelombang-gelombang.
•Pipihkan adonan di atas pan teflon yang sudah diolesi dengan margarin. Lebarkan adonan sesuai dengan ukuran pan teflon yang digunakan.
•Olesi bagian dasar adonan pizza dengan mayonaise, tumpuk di atasnya saus bolognese yang telah dimasak.
•Tata topping di atas saus bolognese sesuai dengan keinginan.
•Taburi dengan keju cheddar dan keju mozarella.
•Tutup rapat pan teflon.
•Masak diatas api yang sangat kecil selama kurang lebih 12 menit. Lakukan tes tusuk jika perlu.
•Angkat. Siap disajikan.



Saat memipihkan roti dough-nya di Teflon,  kalau bisa sih tipis saja, tipis banget malah, karena roti akan mengembang saat dipanggang. Tapi, tingkat ketebalan bisa disesuaikan dengan keinginan ya, kalau ingin rotinya tebal, yaaa boleh agak tebal juga adonan yang dipipihkan. Nah, punya saya ini ketebelan ya, jangan ditiru, kurang tipis waktu memipihkannya, jadi rotinya jadi tebel banget waktu matang. Trus jaga apinya tetep kecil banget, karena kalau apinya stabil, dia bisa cepet gosong bagian bawahnya. Itu saya males nungguin, jadi satunya saya taruh di loyang trus dioven sebentar sampai matang. Karena api saya stabil dan teflon saya cepet banget panasnya.

Resep ini saya dapat dari facebook. Tahu kan? Biasanya ada Gallery save-save resep-resep kalau mendekati bulan Ramadhan. Dan resep ini salah satu yang saya simpan, then saya screenshoot juga, trus simpan di HP saya yang lama. Biar nggak hilang, akhirnya saya save juga di blog ini. Kenapa pakai resep ini? Karena resep ini ada step by step-nya, per gambar juga. Jadi cocok buat saya yang masih amatiran dan newbie banget saat itu, duluuu banget, jauh sebelum resep ci @tintinrayner ngetrend, saya beratahan dengan resep ini. Alhamdulillah resep ini berhasil menghalangi kami buat jajan pizza diluar, karena udah bisa bikin sendiri. Lumayan ngirit.

Yuuuk coba juga... next saya posting juga resep pizza andalan saya yang lainnya, tapi coba ini dulu yaaa...
Happy baking...


Salam,



Lisa.

Kamis, 09 Januari 2020

Kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya seneng nulis nggak sih? Mungkin. Tapi nulisnya nggak pernah ‘disempatin’ tapi ‘sesempatnya’. Beda ya... Disempatin itu sengaja meluangkan waktu untuk menulis. Tapi sesempatnya ya seadanya waktu, sesuai mood, kalau lagi ‘ada’, kalau lagi ‘nggak ada’ ya sepi 😅

Trus tiba-tiba, nggak sengaja baca pengumuman kelas menulis via WA grup di account ig @nulisyuk , Alhamdulillah berjodoh. Sekian bulan yang lalu, entah kapan, lupa tepatnya kapan, saya pernah ingin ikutan kelasnya, tapi ternyata belum berjodoh. Lupa juga waktu itu kelasnya temanya apa. Daaan terlupakan karena satu dan lain hal. Kemudian nggak sengaja kebaca di salah satu feed instagram, langsung buru-buru follow up biar nggak kelupaan atau keselip lagi.




Alhamdulillah sekarang tergabung di kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina. So far, seneng sih, dapet ilmu baru, ilmu literasi. Karena biasanya yang pengen saya ikuti adalah ilmu fotografi. Sudah banyak saya ulas juga di beberapa postingan saya. Karena belakangan suka nulis di blog perihal pengalaman program hamil dan tulisan-tulisan di caption instagram, tetiba kepikiran buat ikutan kelas menulis. Just because karena saya perlu UPDATE ILMU literasi biar tulisan saya lebih enak dibaca. Sesederhana itu. Nggak ada pikiran bakalan nulis buku atau apa, nggak ada. Just as simple as that. Dan ternyata seru.

Kelas pertama diadakan tanggal 2 Januari 2020 jam 20.00 WIB sampai 21.30 WIB. Dimulai dengan sedikit perkenalan dengan mentor menulis, kak @jeeluvina, kemudian langsung dilanjutkan dengan materi. Di pertemuan pertama via WA grup itu, kami diminta untuk menuliskan alasan kenapa mau menulis. Buat nglemesin jempol katanya. Hehehe. Dituliskan minimal 200 kata dalam waktu 15 menit. Nggak kebayang kan? 200 kata Lhoh, banyak itu. Mana waktunya cuma 15 menit lagi. But then I did it. 

Ini alasan menulis saya:
Menulis buat saya pertama adalah untuk menyalurkan ‘hasrat’ bicara dan berpikir  yang kadang nggak bisa ditumpahkan semuanya alias nggak nemu ‘tempat’ yang tepat buat menumpahkan semua. Karena sehari-hari cuma berdua bayi, bertiga kalau suami sudah pulang kantor. Kadang suka nggak tega sama suami, udah capek tapi masih perlu ndengerin celoteh penting nggak penting istrinya. Pernah baca juga kalau wanita bisa mengeluarkan berapa ribu kata sehari, dan itu harus dikeluarkan, disalurkan biar nggak stres, jadi wajar kalau cerewet, hehehe. Jadi, ‘tong sampah’ saya selama ini ya instagram dan blog. Hobi banget nulis panjang-panjang 😅 Pengaruh dari dosen saya juga kalau menulis itu haruslah bisa membuat pembaca paham tanpa harus bertanya apa maksud dari tulisan kita. Oleh karena itu saya selalu berusaha membuat kalimat yang sekiranya mudah dimengerti. Makanya panjang-panjang dah tuh 😅

Tujuan kedua tulisan saya adalah untuk reminder saya pribadi, sebagai jejak digital dalam bentuk tulisan yang sekaligus untuk sharing. Misal postingan saya soal program kehamilan yang saya ikuti, jadi reminder saya bahwa saya pernah berada di titik itu, posisi itu dengan segala hal yang saya usahakan dan saya alami, yang nantinya ingin saya bagi dengan anak-anak saya, siapa tahu juga bisa menginspirasi orang lain yang sedang mengalami hal serupa. Untuk postingan resep, jadi reminder juga buat saya, justifikasi apa saja yang saya lakukan untuk membuat masakan atau kue tersebut, jadi next kalau misal mau masak lagi, saya ada record-nya, tinggal baca ulang, duplikasi, nggak perlu merefer ke resep asli lagi.

Ternyata bisa lhooo... tapi saya nggak hitung ya berapa tepatnya. Dan saya nggak paham juga sih ngitungnya gimana. Kalau pakai laptop dan pakai MS Word sih udah pasti ketahuan ya berapa jumlah katanya. Nggak perlu hitung manual. Saya nggak pahamnya ngitung manual itu apakah kata sambung dihitung juga, atau gimana? Itu saya nggak paham. Mungkin next pertemuan mau saya tanyakan ke kak mentor.

Yang nggak kalah seru ikutan kelas ini adalah cepet-cepetan enter hasil tulisan ketika kak Jee open chat. Itu serunya bukan main. Gimana nggak seru coba. Itu di keterangan WAG ganti-gantian bla-bla-bla is typing... rebutan enter chat sebelum ditutup ðŸĪĢ kan bikin geregetan buat yang udah mau enter tapi keburu di closed chat ðŸĪĢ berasa pengen nimpuk kak Jee deeehh ðŸĪĢ🙏ðŸŧ *saking geregetannya ðŸĪĢðŸĪĢ

Kemudian kelas dilanjutkan lagi dengan materi. Bahwasanya kita nggak perlu pusing mikirin mau nulis apa.

Tulis apa saja yang kita tahu.
Tulis apa saja yang kita dengar.
Tulis apa saja yang kita lihat.
Tulis apa saja yang kita rasakan.
Tulis apa saja yang kita pikirkan.

5 ini aja kata kuncinya. 

Nggak perlu mikir jauh-jauh.

That’s it. Tapi kadang adaaa aja yaaa, alasannya. Yang inilah, yang itulah, banyak. Intinya sih males aja. Mungkin.

Then, tantangan senam jempol kedua adalah dengan meluangkan waktu 10 detik untuk memejamkan mata, kita diminta untuk menikmati setiap tarikan napas, merasakan, apa yang sedang dirasakan. Tuliskan tentang rasa itu, minimal 200 kata dalam 15 menit!

Dan ini hasil saya:
10 detik memejamkan mata, tarik nafas, ternyata begini rasanya jadi ibu. Ikutan kelas @nulisyuk sambil nyusuin buat nidurin anak. Rasanya? Ya otaknya mikir ngikutin kelas, nenennya di kenyot bayi yang On the way tidur. Ngetik sambil sesekali usap-usap punggung, si anak bayi yang lagi manja. MasyaAllah tabarakallah. Riweh-riweh sedep. Alhamdulillah. Tapi riweh inilah yang saya tunggu-tunggu. MasyaAllah.

Di tantangan kedua saya cuma bisa nulis sedikit. Karenaaa yaaa ituuu, sesuai hasil tulisan saya. Lagi nidurin si anak bayik. Tangan kiri pegang hape, nyimak kelas, tangan kanan nggak bisa nyambi nulis karena si bayi minta diusap-usap punggungnya sambil nenen. Begitulah. Multitasking yang hanya bisa dialami dan dilakukan ketika sudah menjadi ibu. Tapi, multitasking inilah yang saya tunggu-tunggu sekian tahun. Our struggle is real. Seperti yang sudah saya ceritakan melalui postingan-postingan saya sebelumnya, tentang program hamil yang telah saya dan suami saya lalui demi mendapatkan anak kami ini.

Then, kelas ditutup dengan pertanyaan atau tanggapan dari peserta, karena nggak sengaja waktunya udah melebihi jadwal kelas.

Kesan? Seneng Alhamdulillah, seru, dapet ilmu baru. Dan dari kak Jee juga saya baru tahu kalau istilah EYD sekarang nggak lagi digunakan untuk menyebutkan kata-kata baku, ejaan dan tulisan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Sekarang gantinya ada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Pengetahuan simpel tapi ternyata perlu. Dan yang perlu jadi highlights lagi adalah penyingkatan kata. Seringnya nih kalau saya nulis di caption instagram, kebanyakan saya singkat biar muat dalam kuota caption instagram. Tapi penyingkatan kata dalam dunia literasi ternyata nggak dibenarkan. Sebaiknya ditulis lengkap, jika nggak muat bisa dilanjutkan di space komen, kecuali memang buru-buru banget, hindarin menyingkat kata layaknya SMS yang terbatas karakter. Alhamdulillah nya saya nggak pernah menyingkat kata kalau sedang nulis di blog. Jadi bismillahirrahmanirrahim mari kita kembali ke jalan yang benar sesuai dengan ilmunya.

Sebagai penutup, peserta mendapat Challenge pertama di Instagram untuk @nulisyuk batch 43. Tugasnya adalah menulis caption tentang, "Apa yang ingin kamu lakukan melalui menulis sebagai seorang istri dan ibu?" Dan sampaikan semangat menulis peserta setelah mengikuti pertemuan pertama. Berat yaaa... Next saya post juga disini jawaban saya untuk Challenge ini. 
Sekian dulu...



Salam,




Lisa.

Minggu, 05 Januari 2020

My Decade Recape


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Iseng-iseng bikin #decaderecape lah, walaupun udah telat sih yaaa... Cuma pengen tahu aja, saya udah ngapain aja 10 tahun terakhir, secara saya bukan tipe visioner yang bikin planning duluan, mau apa aja, ngapain aja beberapa tahun ke depan. Saya lebih ke jalani aja duluuu... Just go with the flow 😅

2010
•Masih kuliah tapi udah masuk tahun terakhir.
•Pertama kali ketemu camer di wisuda mas pacar, aahheeyy, sekarang jadi mertua beneran, Alhamdulillah 😆🙈


Wisuda Mas Pacar
2011
•Sibuk-sibuknya Tugas Akhir, ‘digembleng’ salah satu dosen penguji, memorable banget ternyata Pak ðŸ˜Ģ How do you do pak 🙋ðŸŧ‍♀️
*gakbranimentionorangnya ðŸ˜Ģ
•Eh si mas pacar udah ngajak nikah mele gara-gara dikomporin bosnya dikantor, padahal dia juga baru setahunan kerja, takut eike kabur bawa cintamu pak @cordiatno? ðŸĪŠ
•Di tahun ini Wisuda dooong akhirnyaaa ðŸ‘ĐðŸŧ‍🎓

Foto pamer buku Tugas Akhir 😎
2012
Got my 1st job di kota kelahiran.
•Dapat pak bos yang klop n santuy, gimana kabar pak @arie_ardie dan tim karaoke pak vin traktor @m.zaenuri99 ðŸĪĢðŸĪĢ
•Ketemu ibukmay @maya_irva yg gagah cem Mb Ais wkkwkwkw ðŸĪĢðŸĪĢ💊ðŸŧ💊ðŸŧ

Kurang 1 personil 
2013
Married juga akhirnya sama mas pacar di usia 24 tahun.
•Melanjutkan perjuangan LDR sejak 2010 ke LDM 😊
°Pernah ikutan merantau ke Makassar walaupun cuma seminggu, sebelum akhirnya dimutasi lagi ke ibukota.


2014
Resign dari pekerjaan pertama & terakhir saya 🙈
•Diboyong ke Duri, Riau, No more LDM, yeay 💕
Been busy switching habit from 8 tO 5 workers to stay at home wife’s.



2015
•Ketemu sama mamacim @mirna_saga yang nularin hobi masak-masak sampai sekarang, dulu saya nggak suka masak ðŸ‘ĐðŸŧ‍ðŸģ 
•Ketemu mamayung @ayu.kemalaputri & Mb Lope, sesama istri perantauan 😅
•Nggak nyangka bisa jalan-jalan keliling Sumbar, bahkan sampe nyebrang ke negara tetangga, semua gara-gara ngekor suami #masyaAllahtabarakallah 

Malacca
2016
•Pindah ke ibukota, nggak sengaja ikutan WS #smartphonephotography nya Mb @ariana_arriana trus keterusan suka pota-poto #foodphotography sampai sekarang, walaupun skill-nya tetep segitu-gitu aje 😌
•Ketemu Mb @griyo_fepi yang ternyata pasien DokNan juga, sempit sekali Ibukota 😅 hai Mb Fep, gimana kabar? 🙋ðŸŧ‍♀️


pertama Kali ketemu mb Fepi
2017
•Nekat Start IVF dengan budget yang pas-pasan setelah bertahun-tahun nyoba berbagai program kehamilan.
•Setelah 2xFET yang penuh perjuangan, drama dan air mata, 1 Des dinyatakan positif hamil singleton ðŸĪ°ðŸŧ

Kontrol terakhir ke Dr. Nando
2018
•Akhirnya ngerasain hamil yang menyenangkan, minim keluhan dan melahirkan si Adek tanggal 4 Agustus, our long awaited gift ðŸĪąðŸŧ


Moment Aqiqah si Adek
2019
Struggling dengan kondisi pencernaan si Adek, sampai akhirnya berkenalan dengan Naturopathy, gara-gara selalu ngepoin account Mb Vega @veganugrohos Thank you Mb Ve 🙏ðŸŧ😘
Eager tO learn more and more about healthy life style 💊ðŸŧ
°Ngubek-ubek Cilegon, tiap weekend PP Jakarta-Cilegon, semua demi ngintilin suami.
°Pernah nekat tinggal dikosan Jakarta juga selama beberapa bulan karena takut berduaan doang sama si Adek di kontrakan Cilegon.
°Survei rumah tiap weekend, Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, semua diubek-ubek, tapi lelahnya pun akhirnya terbayar, insyaAllah bermukim di Bekasi, Alhamdulillah.



Banyak juga ternyata, 10 tahun yang luar biasa buat saya, penuh berkah, mengajarkan saya banyak hal, membentuk saya yang sekarang. Rencana Allah SWT memang yang terbaik. Saya nggak pernah menyangka bisa keliling Sumbar, kalau saya nggak resign, kalau saya nggak ngekor suami, dst, dst. Nggak pernah menyangka juga bahwa rejeki kami hadir melalui #IVF , dengan segala ups and downs kami dalam mengerjakan ujian-ujian Allah SWT untuk kebaikan saya dan keluarga saya. Proudly said we’re really blessed #masyaallahtabarakallah 🙏ðŸŧ

Semoga kita semua dianugerahi usia untuk menjalani dekade-dekade selanjutnya dengan bahagia. Aamiin... 🙏ðŸŧ



Salam,


Lisa.

Minggu, 22 Desember 2019

Skin Care untuk Program Hamil

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Heyhooo... akhirnya ada waktu buat nulis soal skin care jugaaa... astagfirullah maafkan saya yang sok sibuk ini 🙈 udah beberapa kali juga di request, tapi kesibukan domestik mengalihkan segalanya. 

Soal skin care emang nggak bisa main tulis aja kalau saya, karena ada beberapa hal yang ternyata baru saya ketahui juga saat hamil dan setelah melahirkan, bahkan sekarang. Saya emang buta banget soal per-skin care-an, tahunya pake produk jadi aja dari dokter kulit. Karena dari SD saya udah jerawatan parah. Jadi dari SD saya udah terkontaminasi produk kimia pabrikan yang dijual di pasaran, dari dokter kulit atau dari klinik kecantikan. Jadi... mau nulis soal skin care kok nggak PD sayanya, hehehe, jadinya memang materinya mesti dikumpulin dulu. Biar tulisan saya nggak menyesatkan temen-temen semua 😅🙏ðŸŧ

Oke yuuukkk...
Bismillahhirrahmannirrahim...

Untuk program hamil IVF kebanyakan dokter kandungan menyarankan untuk menghindari sementara pemakaian bahan-bahan kimia, meskipun hanya untuk pemakaian luar. Prosedur tersebut disampaikan oleh dokter kandungannya langsung ataupun melalui suster bagian administrasi, yang menjelaskan dari A ke Z, apa aja yang boleh dan nggak boleh, termasuk paparan bahan-bahan kimia selama mengikuti program hamil IVF. Tapi ada juga dokter kandungan yang woles aja, nggak pake pantangan aneh-aneh karena mungkin dinilai efeknya kurang nampol bagi janin. 

Nah, untuk dokter saya sendiri nih, dokter Nando, orangnya slow aja, santai, asal laporan dulu sebelumnya, entah ke beliau langsung ataupun via suster koordinator. Sehingga bisa gercep penanganan kalau misalnya ada apa-apa, seremeh-temeh apapun itu.

Karena dokter Nando selow ajaaa, nggak terlalu mikirin pasiennya pakai skin care apaan, asal laporan dulu semuanya. Karena beliau lebih concern ke asupan gizi janin agar janin berkembang dengan baik, akhirnya soal skin care saya cari-cari sendiri apapun yang bisa menunjang keberhasilan program IVF saya, berdasar review dan arahan dari mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. 

Saya dapet info skin care dari mana?
Banyak banget. Dari blog dan dari account instagram mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. Misalnya dari blognya Mb Andra Alodita, dari blog Mb Fika, dari account ig Mb Vega, dll, banyak. Tapi mostly dari account ig Mb Vega sih. Panutan program IVF saya yang sudah sering saya sebut-sebut sejak postingan-postingan saya sebelumnya soal IVF.

Jadi pakai skin care apa? Yang gimana?
Skin care yang natural, organik, bahan kandungannya ramah buat tubuh ibu dan calon bayi, biasanya No Paraben, No Alcohol, No SLS.

Yuuuk, kita bahas sedikit soal Paraben dan SLS.

PARABEN
Apasih Paraben?
Paraben adalah bahan pengawet sintetis, yang digunakan untuk menjaga agar makanan, obat, kosmetik, serta produk personal care seperti deodorant atau shampo jauh dari bakteri dan jamur, sehingga lebih awet. 

Sedangkan tanpa paraben, mungkin cleanser, lotion, foundation atau maskara kita sudah dipenuhi bakteri dan jamur dalam jangka waktu singkat. Kemampuan mengawetkan yang efektif dan biaya yang murah, membuat paraben digunakan di mana-mana.

Bagaimana cara mengetahui kandungan paraben dalam sebuah produk? 
Mudah banget, kita tinggal baca dan cari kandungan yang memiliki akhiran –paraben. Biasanya yang sering digunakan adalah Methylparaben, Ethylparaben, Propylparaben, Butylparaben, Isopropylparaben, Isobutylparaben, dll.

Mengapa Paraben dianggap berbahaya?
Kalau dilihat dari fungsinya ya, sebenarnya paraben memiliki manfaat besar untuk menjaga kualitas sebuah produk agar tidak mudah terkontaminasi jamur dan bakteri. Tapi berdasarkan dari beberapa literatur yang saya baca, penggunaan paraben sering dikaitkan dengan meningkatkan risiko kanker payudara. Nah lhoo... nah lhoo... kan serem yak...

Nah, Paraben dianggap berbahaya karena kandungannya memiliki sifat menyerupai estrogen saat masuk dalam tubuh manusia. Sedangkan apabila tubuh kita mengandung estrogen berlebih, kita dapat mengalami kerusakan fungsi hormon dan memicu meningkatnya risiko penyakit kanker payudara maupun gangguan reproduksi lainnya. Nah, kita nih dalam proses program bayi tabung (IVF) dijaga banget hormonnya biar bagus terus sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin bisa seoptimal mungkin. Nah jika hormon yang kita jaga banget untuk keberlangsungan kehidupan janin kita terganggu sedikiiit aja karena paraben yang terkandung dalam skin care yang kita pakai, maka saya lebih milih nggak pakai skin care-skin care-an sementara atau seterusnya, walaupun paraben dalam jumlah kecil atau masih dalam batas normal, masih diperbolehkan dan tergolong aman untuk digunakan. Tapiii... petuah sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan ya ngeri juga kalau dalam hal negatif. Ya kaaan...

SLS
Apasih SLS?
SLS atau Sodium Lauryl Sulfate adalah bahan kimia yang digunakan pada produk-produk kecantikan seperti shampo, sabun badan, sabun wajah, pasta gigi hingga deterjen, yang berfungsi untuk mengoptimalkan proses pembersihan.

Produk shampo, sabun badan dan sabun cuci muka kadang-kadang juga mengandung dua bahan lain yang sejenis dengan SLS yaitu SLES/Sodium Laureth Sulfate dan ASL Ammonium Laurel Sulfate. Tapi yang biasanya digunakan untuk produk hygiene adalah SLS.

Ciri-ciri produk pembersih yang mengandung SLS adalah busa berlebih yang dihasilkan saat digunakan. Tapiii justru karena busa ini, pembersihan jadi lebih optimal karena kulit kita jadi bersih dari debu dan minyak. Tapiii... tapi juga nih, karena SLS mampu membersihkan minyak secara menyeluruh, maka penggunaan sabun cuci wajah yang mengandung SLS kurang direkomendasikan karena bisa membuat kulit kering. Kebayang kan, kalau misalnya kita punya jenis kulit sensitif atau punya jenis kulit kering trus kita pakai sabun cuci wajah dengan kandungan SLS yang tinggi? Semakin sering kita pakai sabun wajah, shampo atau sabun badan dengan kandungan SLS, kulit kita bisa jadi iritasi, gatal dan kemerahan. Ngeri.

Itu tadi bahasan singkat soal Paraben dan SLS, yuuukk sekarang balik lagi soal skin care organik 😊



Jadi saya pakai produk skin care organik apa saat ikut program IVF?
Macem-macem untuk mereknya. Karena saya nggak tahu ya soal skin care organik saat itu, belum sempet riset lebih dalam soal skin care organik sebelumnya, udah keburu dikejar deadline program IVF. Jadi langsung potong kompas beli sepaket. Yaaa anggap saja saat itu saya ikut-ikutan, lebay dan terpengaruh iklan, hehehe.

Beli dimana skin care organik?
Nah ini, karena saya nggak paham saat itu, cuma ikut-ikutan aja. Saya beli sepaket sesuai maunya saya di account ig @bumil_store disitu jual sepaket ataupun satuan, sesuai kebutuhan kita. Jadi ngiklan kan... haha. 
Untuk pertama kalinya saya beli sepaket. Selanjutnya ya tergantung sehabisnya produk. 

Mahal nggak skin care organik?
Yes, agak pricey emang. Tapi biasanya kemasannya gedhe-gedhe banget, jadi kalau misal dihitung-hitung nih, sebanding  kok dengan biaya skin care dokter langganan kita ataupun bahkan skin care supermarket. Karena berdasarkan pengalaman saya, habisnya itu lama banget. Bisa 2-3 bulanan. Bukan karena saya pakenya cimit-cimit atau diirit-irit ya, enggak, tapi emang begitu. Banyak. Berasa nggak habis-habis. Nggak kayak skin care dokter yang cepet habisnya, kemasan jar-nya kecil-kecil, belum waktunya kontrol udah habis duluan 🙊😅

But the truth is, saya juga baru tahunya belakangan ini, alasan skin care organik mahal adalah karena si formulator harus mengambil sertifikasi atau lisensi organik kalau ingin meng-klaim produk yang dihasilkannya organik, dibuat dari bahan-bahan organik dan pengolahan produknya tidak boleh menggunakan bahan kimia berbahaya. Dan sertifikasi atau lisensi ini harus diperpanjang dalam jangka waktu tertentu, karenanya produk organik nggak mungkin MURAH. Begitu... jadi jelas kan ya? Why it has tO be pricey?

Sebagai tambahan, lembaga sertifikasi organik itu buanyak banget juga ternyata, di negara-negara lain maksudnya. Karena untuk di Indonesia sendiri sertifikasi organik untuk produk olahan itu belum ada, apalagi skin care. Jadi formulator produk skin care lokal Indonesia kemungkinan mengambil sertifikasi organik di negara lain, sesuai dengan keperluan dan tujuan si formulator untuk bisa mengklaim produknya organik. Untuk lebih jelasnya, silakan meluncur aja ke account ig @organicbeauty.id. Disitu banyak dibahas soal skin care organik beserta review-nya.  Account @organicbeauty.id sepertinya memang mengkhususkan diri membahas soal skin care organik. Jadi jujugkan saya juga kalau mau nanya-nanya soal skin care organik, karena saya memang sedang berusaha beralih ke organik demi alasan kesehatan. Soon, akan saya bahas juga kenapa. Ditunggu yaaa... 😊

Sejak kapan saya ganti skin care organik?
Saya nih itungannya telat banget, telat tahunya, telat riset dan telat cari infonya, maka saya ganti skin care beberapa hari sebelum FET kedua saya. Jadi udah telat banget. Saya sampe pressure si seller-nya buat cepetan proses dan kirim pasca saya transfer, karena ngejar deadline sebelum jadwal FET2. Parah banget kan? Hihihi. Akhirnya bisa jadi cerita disini, hehehe 🙈

Fokus saya saat itu, saya harus ‘very clean’ dari paparan produk-produk kimia berbahaya, termasuk skin care, walaupun telat. Karena trauma kegagalan FET1 saya, yang membuat saya ‘terlalu berhati-hati’ soal apapun. Begituuu...

Sebelumnya, saya tetep pakai skin care saya yang dari dokter kulit langganan saya atau klinik kecantikan langganan saya. Jadi saya mulai ganti skin care organik itu H-1 atau H-2 FET2 saya. Mepet banget kaaan... hahaha 🙈ðŸĪĢ

Haruskah ganti skin care organik hanya untuk program IVF?
Kalau saya, absolutely YES. Kalau nggak bisa atau berat untuk ganti skin care seterusnya, setidaknya sampai melahirkan.  

Prinsip saya, kalau itu bisa meningkatkan keberhasilan program IVF saya walaupun cuma 1% atau bahkan kurang dari itu, saya akan coba, saya akan lakukan. Lebih baik menyesal karena berbuat sesuatu daripada menyesal tidak melakukan apapun, dalam hal ini mempersiapkan segalanya.

Ngefek nggak ganti skin care organik dengan keberhasilan IVF?
Kalau berdasarkan beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, hubungannya terjadi secara nggak langsung. Masalah berhasil atau enggak kan bukan urusan kita, setidaknya kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin, apapun itu, usahakan.

Jadi, dari beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, daya serap tubuh lewat kulit meningkat sampai 5x lipat pada saat hamil dan menyusui. Jadi ngeri aja gitu kalau kehamilan yang kita tunggu-tunggu, kita jaga hormonnya, asupannya, kestabilannya, biar janin kita, anak kita tumbuh dan berkembang dengan sehat, eh kecolongan lewat kulit, sesederhana skin care sehari-hari. Yang mana kita, eh saya ding, sebagai kaum hawa, kayaknya susah banget lepas dari produk skin care karena dari sononya juga kita kan kepengen selalu tampil cantik, atau setidaknya ‘bersih’ lah. Jadi kalau kemana-mana setidaknya nggak malu-maluin yang ngajak. Saya orangnya nggak pedean soalnya 🙈😅

Bagaimana dengan skin care pasca melahirkan?
Seharusnya sih tetep lanjut pakai skin care organik ya, karena masih aktif menyusui. Tapi saya enggak, hehehe. Alasan utama sih karena berat diongkos yaaa, jujur, lebih pricey kan, sesuai yang saya jelaskan sebelumnya. Tapi ini jangan ditiru lhoo, baiknya diteruskan.

Setelah beberapa bulan kembali ke skin care supermarket ala saya, sekitar dua atau tiga bulanan ini saya mulai ‘menata’ kembali life style saya, berprogres ke Healthy life style sedikit demi sedikit, pelan-pelan, termasuk soal skin care demi sehat paripurna 😎

Jadi saya udah mulai nyoba-nyoba, riset sana-sini, baca sana-sini, tanya sana-sini. Soon, akan saya bahas juga soal ini, sesuai janji saya. Ditunggu yaaa...

Sekian dulu bahasan soal skin care untuk program hamil IVF. Seperti biasa, jika ada yang kurang-kurang, akan saya update kemudian, sesuai dengan pertanyaan dan diskusi dengan teman-teman semua. Jadiii... yuk komen, kita belajar, discuss n bahas sama-sama 😊🙏ðŸŧ



Salam,



Lisa.