Rabu, 11 Juli 2018

[UPDATE] Proses IVF – Frozen Embryo Transfer (FET)


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah, akhirnya kesampean posting soal FET sebelum lahiran, hihihi. Maklum, kadang emak masih suka galau mengingat perjuangan masa setahun kemarin. MasyaAllah luar biasa banget buat saya, apalagi saya ini lebay dan cengeng banget. Yuk ah, Bismillahhirrahmannirrahim…

Yang akan saya posting ini masih soal proses FET aja ya. Karena saya menjalani dua kali FET sampai akhirnya positif hamil, maka yang akan saya ceritakan adalah FET yang kedua saja. Sedangkan cerita soal kegagalan saya dan mengapa saya gagal di FET pertama InsyaAllah akan saya ceritakan kemudian di post terpisah. Tapi sebenarnya prosesnya sama kok, hanya saja, terjadi perubahan besar, perubahan kebiasaan, apalagi soal bed rest pasca FET yang memang bener-bener harus dipatuhi, nggak ada tawar-menawar.

Jadi apa sih sebenarnya FET itu?
FET (Frozen Embryo Transfer) atau Tindakan Transfer Embryo adalah tahapan akhir dalam program IVF (In Vitro Fertilisation) dimana embryo yang selama ini dipantau perkembangannya di laboratorium akan dikembalikan lagi ke dalam rahim si calon ibu. Jika dilakukan langsung tanpa pembekuan (freezing) terlebih dahulu maka disebut dengan ET (Embryo Transfer), tapi jika dilakukan pembekuan (freezing) terlebih dahulu karena berbagai hal (misal, hormon tidak sesuai, menjalani Operasi Laparoskopi dulu, memerlukan waktu observasi lebih lanjut, dll) maka disebut dengan FET (Frozen Embryo Transfer). Seperti yang saya lalui, karena hormon saya kebetulan sedang tidak sesuai pasca tindakan OPU, libur Lebaran tahun 2017 dan tindakan Operasi Laparoskopi yang dijadwalkan pada saya, maka dokter Nando menyarankan untuk membekukan semua embryo yang kami miliki.

Setelah menjalani Operasi Laparoskopi saya dijadwalkan untuk datang kontrol ke dokter Nando di haid hari ke-10. Kenapa harus di haid ke-10? Penentuan ini berdasarkan pemantauan terhadap jadwal haid saya selama setahun terakhir. Kebetulan saya selalu mencatat kapan dan berapa lama saya haid selama bertahun-tahun sehingga saya bisa mengontrol kalau-kalau saya terlambat ataupun terlalu cepat kedatangan haid. Ternyata kebiasaan saya ini sangat membantu dokter Nando untuk menentukan tanggal-tanggal mana masa subur saya ataupun proses apapun yang mungkin berlangsung di dalam tubuh saya. Alhamdulillah. Nah, kalau soal ini, tentu TIDAK AKAN SAMA dengan pasien manapun ya,  karena masing-masing pasien pasti memiliki siklus haid yang berbeda-beda, panjang siklus haid dalam sebulan, lama haid, dll PASTI BERBEDA. Jadi, setiap dokter tentu punya perhitungannya masing-masing untuk setiap pasien. TIDAK MUNGKIN SAMA DENGAN SAYA.

Apa saja persiapan untuk tindakan FET?
Persiapan umum tentu adalah apa yang sudah disampaikan suster di awal join program, tentang apa saja yang harus dihindari, apa saja yang dianjurkan untuk dikonsumsi, olah raga teratur, dll yang sudah sering saya bahas di post-post saya sebelumnya. Silakan cek disini.

Tapi, sebelum tindakan FET, saya dianjurkan untuk melakukan cek gigi terlebih dahulu oleh dokter Nando. Cek gigi ini nggak boleh di skip ya, kalau bisa harus sudah beres semua sebelum tindakan FET dijadwalkan. Mengapa harus cek gigi? Apa aja yang harus di cek? Semua. Jadi misalnya ada yang perlu ditambal, maka ditambal, jika ada yang perlu di cabut maka dicabut dan scaling juga tentunya. Fungsinya? Kita berusaha untuk menghindari keluhan sakit gigi pada saat positif hamil. Karena sakit gigi dapat memicu timbulnya kontraksi yang sangat kita hindari di awal kehamilan. Karena kontraksi di awal kehamilan tanpa sebab yang jelas tentu nggak boleh ya. Dikhawatirkan terjadi apa-apa dengan kehamilan kita. Begitu…

Cek gigi dimana? Bebas. Kalau saya sih di RSU Bunda, depan RSIA Bunda Menteng. Harapannya, dokter Nando kenal dengan dokter yang merawat gigi saya sehingga mudah untuk melakukan kroscek jikalau ada apa-apa dengan kehamilan saya. Naudzubillahimundzalik, kita berharap nggak ada apa-apa yaaa.

Selain itu, saya juga diresepkan vitamin yang harus segera dikonsumsi untuk persiapan nutrisi ibu hamil dan si calon Adek bayi, yaitu Prohelic dan Folic Acid yang dikonsumsi sehari sekali secara terpisah, maksudnya dikonsumsi berjeda waktunya, nggak bersamaan.

Sebelum FET dijadwalkan, kita akan melalui berkali-kali USG transvaginal dengan dokter Nando (dokter yang merawat) dan cek darah untuk menetukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan FET. USG transvaginal dan cek darahnya bisa hampir setiap hari sampai tanggal FET ditentukan. Kenapa banyak banget dan lama sekali? Jadi begini, kalau menurut pemahaman saya dan suami saya, kalau kita berhubungan seksual biasa yang berujung dengan kehamilan, segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’alaa, SEMUANYA. Ya kondisi rahimnya, ya hormonnya, ya saluran tubanya, darahnya, pokoknya SEMUANYA, sehingga terjadinya kehamilan memang segala sesuatunya harus sesuai. Nah, karena ini proses fertilisasi buatan, program kehamilan berbantu, yang segala sesuatunya dibantu dengan obat-obatan dan pantauan tim dokter, maka tim dokter harus mencari tahu kapan waktu yang benar-benar pas sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing pasien untuk menanamkan embryo ke dalam rahim si calon ibu, yang dapat mempertinggi prosentase keberhasilan program kehamilan. Di proses ini pula kami semakin menyadari betapa besar kuasa Allah subhanahu wa ta’alaa yang mengatur segala sesuatu di muka bumi ini. Termasuk urusan program kehamilan saya yang saya dan suami kadang merasa lelah, lelah dan stress, lelah menunggu dokter, lelah cek darah dan USG berkali-kali, lelah menunggu cek darah dan semuanya yang hasilnya belum pasti, bisa bagus bisa tidak. Sementara jika kita tahu seberapa rumitnya Allah subhanahu wa ta’alaa mengatur kehamilan seseorang, rasanya kami ingin menangis, menangis terharu betapa rumitnya urusan itu. Subhanallah.

Bagaimana step by step-nya?
Ketika jadwal FET sudah ditentukan, maka suster koordinator akan menghubungi via wa, menginfokan apa saja yang harus kita lakukan di Hari-H FET. Pada Hari-H FET pasien diminta untuk datang 1 jam sebelumnya, membawa buku kontrol yang harus diserahkan di bagian admission di lantai 2 (admission tindakan) dan menunggu untuk menemui pihak embriolog yang bertugas memantai embryo-embryo kita. Apa yang dibicarakan? Perkembangan embryo kita pasca freezing (proses pembekuan). Jadi 2-3 jam sebelumnya, embryo yang dibekukan akan dicairkan dan dipantau perkembangannya, apakah bisa langsung tumbuh dan berkembang secara normal sehingga siap untuk melalui proses tindakan FET atau malah rusak dan tidak bisa digunakan.

Alhamdulillah kami memiliki embryo yang baik, walaupun hanya berada di grade Good, tapi embryo-embryo kami bisa bertahan, survive melalui freezing dan pasca freezing. Alhamdulillah.

Proses tindakan FET berlangsung secara sadar ya, tanpa anestesi, sehingga pasien boleh sarapan terlebih dahulu. Dan boleh ber-make-up tipis-tipis tapi tetap tidak diijinkan memakai parfum. Mengapa? Mungkin nih ya, mungkin, karena ruang tindakan berada di samping lab embryology yang mengharuskan orang-orang yang keluar masuk ataupun dekat dengan ruangan tersebut bersih dan steril. Jadi saya tetap berdandan ala kadarnya dan tanpa parfum.

Pasien juga perlu membawa air di botol minum untuk diminum sebelum tindakan FET berlangsung. Karena kondisi kandung kemih harus penuh dan tindakan FET dilakukan dengan menahan pipis agar rahim bisa terlihat saat proses transfer embryo. Bawa minumnya seberapa? 1 liter aja cukup sih kalau menurut saya, justru kebanyakan atau bawa saja botol 600 ml dua buah. Dan biasanya begitu datang kita akan langsung diminta minum air untuk memenuhkan kandung kemih. Tapi kalau menurut saya sih, minumnya harusnya saat kita sudah masuk ke ruang tindakan, karena menunggu dokter yang bertugas membantu kita FET biasanya lama banget, sementara kita sudah kebelet pipis duluan. Jika kita perlu menunggu lama dokter yang bertugas, sementara kita sudah tidak tahan untuk menahan pipis, maka boleh minta bantuan suster untuk mengurangi jumlah pipis melalui kateter. Mengapa tidak diijinkan dibuang secara manual atau dipipisin di toilet aja? Dikhawatirkan kita tidak bisa mengatur pipis dan malah mengosongkan kandung kemih jika dibiarkan untuk pipis di toilet. Sehingga perlu waktu lagi untuk membuat kandung kemih menjadi penuh. Jadi dikurangi via kateter akan memberikan efek sedikit lega tanpa mengosongkan kandung kemih kita. Begitu…

Tindakan FET dibantu oleh dokter siapa?
Di FET pertama, saya dibantu dengan dokter Nando (dr. Aryando Pradana, SpOG). Dokter Nando sangat cepat dan terampil ya, jadi saya merasa cepet aja prosesnya selain memang keseluruhan proses hanya sekitar 10 menitan.

Di FET kedua, saya dibantu dengan dokter Irham (dr. Irham Suhaemi, SpOG). Berbeda dengan dokter Nando, proses FET saya dengan dokter Nando berlangsung cepat, sementara proses FET kedua saya berlangsung sangat lama. Lama kenapa? Dokter Irham ternyata kalem banget orangnya. Entah apa yang beliau lakukan terhadap vagina saya selain proses FET utamanya, saya merasa beliau membersihkan vagina saya pasca FET, sehingga proses berlangsung agak lama. Tapi justru, ternyata rejeki saya datang melalui perantara tangan beliau. Alhamdulillah.

Saya kurang tahu dan kurang paham ya pembagian tindakan ini kenapa bisa berganti dokter ke dokter Irham. Bukan berdasarkan request kami lho, bukan, sama sekali bukan. Mungkin memang begitu prosedur di klinik, untuk saling membantu, atau memang pada gilirannya. Tapi jangan khawatir, laporan akhir tetap diserahkan ke dokter Nando atau dokter yang merawat kita dari awal, dan konfirmasi apapun tetap bisa dilakukan dengan suster koordinator yang ditunjuk.

Prosesnya gimana? Kita sebagai pasien diapaan aja?
Setelah semua siap, dokter yang bertugas melakukan tindakan FET sudah datang, kita akan diminta untuk tiduran di meja tindakan dengan posisi kaki disangga, mirip saat kita mau melalui tindakan OPU atau tindakan Operasi Laparoskopi. Kemudian satu suster akan melakukan USG abdomen untuk memperlihatkan rahim kita, satu suster lagi akan membantu dokter yang bertugas.

Di proses ini, abdomen kita akan ditekan-tekan dengan alat USG untuk memperlihatkan kondisi rahim kita sehinga kita dan dokter yang bertugas bisa memantau proses transfer embryo melalui monitor.

Saya nggak tahu sih kita diapain aja, nggak kelihatan juga. Hehehe. Cuma kalau dirasain, kita akan dipasangin suatu alat yang dipakai untuk membuka vagina kita dan kemudian dipasang kateter yang dimasukkan sampai ke rahim, kemudian cairan yang berisi embryo kita akan disuntikkan melalui kateter tersebut sampai ke dalam rahim. Proses ini hanya berlangsung sekitar 10-15 menit saja.

Pasca tindakan transfer embryo, kita tidak diperbolehkan langsung berdiri ya, tapi menunggu digledek ke ruang pemulihan, walaupun cuma digituin aja. Diminta istirahat sebentar sambil menunggu suster mengambilkan vitamin dan obat apa saja sebagai terapi pasca FET.

Dan untuk pipisnya menunggu setelah kita dipindahkan ke ruang pemulihan dengan menggunakan pispot. Mengapa tidak boleh pipis di toilet atau tidak boleh langsung berdiri? Saya pernah baca di salah satu blog, lupa di blog siapa, si pasien menolak untuk pipis dengan pispot dan ngotot ingin pipis di toilet, mau nggak mau berdiri dan berjalan dong ya untuk menuju toilet. Tapi ternyata ketika si pasien berdiri, dia langsung pingsan dan kemudian harus menginap di RS selama dua hari. Saya lupa sih penyebab utamanya apa dan apa alasan kita nggak boleh langsung bangun pasca FET. Cuma dari kisah nyata yang saya baca di blog sih, saya nggak ingin mengalami hal yang sama dengan pasien tersebut. Dan mungkin memang tujuannya kalau menurut saya adalah untuk menyamankan si embryo yang sudah dimasukkan ke rahim kita, sehingga kita wajib untuk sangat berhati-hati. Ibaratnya nih, kita sedang menggendong embryo kita, jadi kita wajib menyamankan dia untuk terus berada di rahim kita, untuk ikut kita, agar dia menemukan spot untuk melakukan penempelan ke rahim kita, InsyaAllah.

Berapakah jumlah embryo yang dimasukkan ke rahim saya melalui tindakan FET?
Di FET pertama, kami mencoba dengan dua embryo dengan grade Good, dengan harapan mendapatkan bayi kembar jika Allah subhanahu wa ta’alaa mengijinkan, atau setidaknya satu yang dapat bertahan di rahim saya. Tapi ternyata Allah subhanahu wa ta’alaa berkehendak lain. Mungkin Allah subhanahu wa ta’alaa menilai kami terlalu maruk dan sombong dengan menginginkan dua bayi sekaligus, mungkin juga Allah subhanahu wa ta’alaa menilai kami belum mampu merawat dua bayi sekaligus atau tubuh saya yang mungkin belum mampu untuk menggendong dua sekaligus, atau entah apa, kami tidak tahu, yang pasti kami belum berhasil di FET kami yang pertama.

Di FET yang kedua, kami ikhlaskan mencoba dengan satu embryo kualitas Good, sambil terus berharap dan berdoa, embryo kami dapat menempel di rahim saya. Benar, kami berusaha untuk ikhlas dan tawakkal, jika ini tidak berhasil maka mungkin kami perlu menata hati kami kembali sambil menabung kembali, karena jujur, keuangan kami sangat mepet. Jika Allah subhanahu wa ta’alaa menghendaki kami memiliki dua bayi sekaligus, maka biarlah embryo kami membelah menjadi dua menjadikannya bayi kembar identik. Tapi jika memang Allah subhanahu wa ta’alaa menghendaki satu, maka izinkanlah kami merawat satu bayi kami. Itu doa yang kami panjatkan di FET kedua, kami ikhlaskan dan pasrahkan semuanya pada kehendak dan takdir Allah subhanahu wa ta’alaa. Karena kami sedang dalam proses meminta dengan segala ikhtiar yang kami mampu, satu saja belum tentu diberi bagaimana kami bisa dengan sombongnya langsung meminta dua sekaligus? Astaghfirullah hal adzim.

Berapakah maksimal embryo yang boleh ditransfer ke tubuh pasien?
Untuk pasien dengan usia di bawah 35 tahun diijinkan ditransfer maksimal sebanyak dua embryo. Mentransfer dua embryo ini pun harus dengan izin dokter yang merawat ya, nggak bisa sembarangan. Mungkin dikaitkan juga dengan kondisi kesehatan pasien. Dan pasien pun harus paham segala resikonya jika menginginkan ditransfer dua embryo, misalnya kemungkinan embryo membelah menjadi tiga, empat, dst. Seperti kita tahu bahwa kehamilan kembar dengan dua bayi saja memiliki resiko yang besar, apalagi lebih dari dua, dalam perjalanannya, mulai dari kehamilan sampai kelahiran perlu pantauan yang lebih intensif. Dan biasanya embriolog yang mengawasi embryo-embryo kita pun ikut menyarankan untuk mentransfer satu saja, karena satu embryo masih bisa membelah menjadi dua atau lebih. Allahualam.

Sebesar apa sih embryo yang ditransfer?
Jangan membayangkan embryo, calon janin, calon anak kita nanti sebesar bayi tapi dengan ukuran yang sangat kecil. Bukan ya, bukan, sama sekali bukan. Embryo yang akan ditransfer ke tubuh calon ibu masih berupa SEL, hasil perkawinan antara sperma dan ovum, yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sampai hari ke-3 ataupun hari ke-5. Jadi, masih sangat kecil, ukurannya mikroskopik banget. Kalau sudah melalui proses FET (Frozen Embryo Transfer), kita akan melihat embryo ini masih berupa cairan yang dimasukkan dalam tabung injeksi, yang diinjeksikan ke rahim kita melalui kateter. Jadi, belum ada tuh ukuran berapa millimeter ataupun centimeter. Ukuran yang bisa menyatakan satuannya adalah berapa kali pembelahan, menjadi berapa sel, yang dijelaskan oleh embriolog sebelum proses FET (Frozen Embryo Transfer) dilakukan.

Sakitkah tindakan FET?
Buat saya NGGAK SAKIT SAMA SEKALI ya. Cuma, di perut saya yang ditekan-tekan oleh suster dengan USG abdomen untuk memperlihatkan rahim, yang agak bikin nggak tahan, karena kita harus menahan pipis. Sudah nahan pipisnya bikin sakit eh ditekan-tekan pula. Tapiii… tetep haris ditahan ya, mau bagaimana lagi, memang begitu prosesnya, lagian prosesnya hanya berlangsung sekitar 10 menit, tidak lebih. Setelahnya boleh dipipisin.

Dimanakah pak suami saat kita melakukan tindakan FET?
Untuk tindakan FET, suami boleh masuk ke ruang tindakan untuk menemani kita ya, Alhamdulillah. Jadi ada teman ngobrol saat menunggu waktu tindakan, ada yang men-support untuk menahan pipis, dan ada yang men-support kita menjalani FET J

Apa saja terapi vitamin dan obat yang diberikan pasca tindakan FET?
Untuk terapi obat dan vitamin bisa berbeda tiap pasiennya ya. Di FET pertama, saya di terapi Lovenox 2x seminggu, tapi di FET kedua, atas permintaan suami saya dan hasil diskusi dengan dokter Nando, pemberian terapi Lovenox ditingkatkan menjadi setiap hari. Kenapa? Karena pengalaman kegagalan kami di FET pertama. Walaupun tim dokter tidak tahu pasti apa penyebab kegagalan seorang pasien di program IVF, hanya bisa mengira-ngira, membuat suami saya berpikir mungkin aliran nutrisi ke embryo kami kurang lancar sehingga suami saya request untuk meningkatkan terapi Lovenox. Dan dokter Nando menyetujuinya walaupun nggak ada jaminan peningkatan terapi Lovenox akan meningkatkan keberhasilan kami. Tapi kami dan dokter Nando sepakat ingin mencoba. Selain itu, alasan lainnya adalah saya mengalami peningkatan berat badan yang cukup signifikan di rentang waktu FET pertama dan kedua. Jadi fix, saya dapat suntikan Lovenox setiap hari.

Terapi obat selanjutnya yang mungkin berbeda adalah Medrol. Medrol adalah semacam obat antibiotic, anti alergi, sepengetahuan saya. Karena saya memiliki sinus yang menjadikan saya sering bersin-bersin di pagi hari atau saat terkena udara dingin. Dikhawatirkan tingginya intensitas bersin saya membuat embryo saya terhentak-hentak di rahim. Jadi saya di terapi dengan Medrol. Efeknya? Lumayan mengurangi bersin saya setiap pagi. Sampai kapan saya diterapi Medrol? Sampai usia kandungan saya dinyatakan aman oleh dokter Nando, kalau tidak salah di usia 10 minggu. Ketika Medrol dihentikan saya sempat merasa khawatir ya, karena bersin-bersinnya saya yang terlalu parah. Jadi apa pengganti alami untuk Medrol? Minum banyak air putih hangat, sebanyak-banyaknya, terutama ketika bangun pagi untuk Sholat Subuh, ketika biasanya bersin-bersin saya muncul.

Untuk terapi obat oral, cara konsumsinya harus terpisah atau berjarak, tidak boleh diminum sekaligus. Dan terapi obat Ascardia tidak diijinkan bersamaan dengan terapi suntikan Lovenox.

Ini terapi obat-obatan yang diberikan pada saya pasca tindakan FET. Saya ingatkan sekali lagi ya, terapi obat-obatan ini sangat mungkin berbeda dengan pasien lain, karena kondisi tubuh yang berbeda, keluhan yang berbeda, dll. Obat-obatan ini pun saya peroleh dari resep dokter Nando, tidak bisa dibeli bebas diluar klinik, kecuali mendapatkan persetujuan dokter yang merawat.

Lovenox 0.6        1x1         dua jari di bawah pusat                 setiap hari
Utrogestan 200 2x1         pagi dan siang via vagina
Crinone 8%         1x1         malam via vagina
Ascardia               1x1         oral
Prohelic                1x1         oral
Medrol                 1x1         oral
Folic Acid             1x1         oral
Hydroxyprogesterone 500           2xseminggu (Senin dan Kamis)
Ovidrel ½ SC       2x1 tgl 20.11.2017 dan 22.11.2017

Kapan kita diijinkan pulang?
Kita diijinkan pulang setelah menerima paket terapi obat dan vitamin pasca FET serta penjelasan dari suster tentang cara minum dan pemakaian obat. Suster akan menjelaskan cara pemakaian obat-obatan kepada kita dan menawarkan bantuan jika tidak ada yang membantu kita. Sebelum pulang, kita akan menerima suntikan Ovidrel di perut yang berfungsi memecah telur-telur kita, karena sudah dilakukan proses FET sehingga suntikan Ovidrel mungkin berguna juga untuk mencegah haid kita datang. Dan suntikan Hydroxyprogesterone di pantat yang berfungsi sebagai penguat rahim.

Suntikan Ovidrel yang dilakukan di perut sama dengan suntikan yang kita terima saat melakukan suntikan stimulus ya. Suntikan paling aduhai diantara suntikan stimulus yang lain, hehehe. Sedangkan suntikan Hydroxyprogesterone adalah suntikan yang lebih aduhai rasanya dibanding dengan suntikan Ovidrel karena jarum dan cc obat lebih besar sehingga lebih aduhai rasanya, hehehe. Benar ternyata, sesuai dengan yang diceritakan oleh pasien-pasien lain yang lebih dulu melalui tahap FET J

Soal terapi suntik lanjutan, kita boleh melakukan suntik sendiri untuk suntikan yang dilakukan di area perut seperti Lovenox dan Ovidrel. Suntik sendiri maksudnya jika ada suami atau saudara yang bisa membantu malakukan suntik maka akan diajari oleh suster. Sementara untuk suntik yang di pantat, kita tetap harus meminta bantuan suster karena area pantat banyak memiliki syaraf-syaraf penting sehingga tidak boleh sembarangan.

Kalau memang suami ada dan bersedia menyuntikkan, kegiatan ini bisa meningkatkan bonding dan quality time dengan suami lhoo, sama seperti artis Tya Ariestya yang dibantu suntik oleh suaminya. Kalau saya, karena suami saya kerja dan keluarga tidak ada yang berani melakukan suntik kepada saya, maka saya meminta bantuan suster untuk datang ke rumah saya. Memanggil suster untuk melakukan suntik dirumah disebut dengan Home Visit yang dikenai biaya Rp 210.000/ kedatangan. Kita bisa meminta suster siapa saja, terserah kita siapa susternya. Kalau saya pasca FET pertama saya dibantu dengan suster Fatimah, sedangkan pasca FET kedua saya dibantu dengan suster Diana.

Kita boleh pulang setelah menerima suntikan Ovidrel dan suntikan Hydroxyprogesterone ya, tapi kalau misal masih ingin beristirahat, diperbolehkan kok. Karena suntikan Ovidrel dan suntikan Hydroxyprogesterone rasa pegelnya lumayan berasa yaa, hehehe. Kalau saya menunggu sebentar sampai rasa pegelnya agak mereda.

Kapan hasil tindakan FET bisa diketahui?
Hasil tindakan FET bisa diketahui berdasarkan embryo hari keberapa yang dimiliki pasien. Karena embryo yang kami miliki adalah embryo hari ke-5 (blastocyst) maka kami diminta untuk melakukan tes darah BHCG di hari ke-11 pasca FET, di tanggal 1 Desember 2017. Jika embryo yang dimiliki adalah embryo hari ke-3 (Morula) maka tes darah BHCG lebih lama 2-3 hari, atau di hari ke-14 pasca tindakan FET.

Apa itu tes darah B-HCG? Tes darah BHCG adalah tes darah yang digunakan untuk menguji kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang terdapat dalam darah wanita yang positif hamil. Tes ini dilakukan lewat pemeriksaan laboratorium dimana tes darah hCG sudah bisa menyatakan positif hamil hanya dalam waktu 3-4 hari setelah embryo menempel di dinding rahim karena yang memproduksi hormon tersebut adalah placenta.

Alhamdulillah… begitu ya kira-kira proses FET, tahap akhir dari program IVF. Semoga nggak ada yang ketinggalan atau kelupaan, semoga informasinya lengkap, tidak terpotong dan membantu teman-teman, para calon orang tua yang akan atau sedang menjalani program. Kalau ada yang tidak sengaja missed, akan saya update kemudian. Sampai jumpa di next post…


Salam,


Lisa.

Sabtu, 07 Juli 2018

[UPDATE] Pengalaman Operasi Laparoskopi



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Maunya langsung post soal FET (Frozen Embryo Transfer) aja, tapi biar post-nya urut sesuai dengan apa yang saya alami dan jalani, akhirnya yang di post duluan adalah soal Laparoskopi. Bismillahhirrahmannirrahim… Yuk…

Tiga sampai empat tahun lalu, saya bergidik ketika salah seorang sahabat saya curhat kalau dia sedang dalam masa pemulihan pasca menjalani Operasi Laparoskopi. Membaca ataupun mendengar kata operasi diucapkan, saya ngeri sendiri. Bener. Ngeri. Takut. Dan sekaligus berdoa agar saya tidak akan pernah menjalani operasi, operasi apapun itu. But here we come, kita tidak pernah tahu takdir apa yang akan terjadi pada kita, apa yang sedang menanti kita di depan sana. Setahun yang lalu, sayapun menjalani operasi itu juga, Operasi Laparoskopi, operasi yang tidak pernah saya bayangkan dalam hidup saya akan saya alami dalam proses kami mengejar cita-cita kami, impian kami. Ketika kabar kehamilan saya publikasikan ke medsos saya, atas ijin pak suami juga tentunya, sahabat saya yang curhat bertahun lalu, langsung menghubungi saya, bahwa dia ikut terharu dan menangis. Begitulah, perjuangan kami menjadi orang tua tidak pernah semudah pasangan lain diluar sana. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’alaa selalu menguatkan orang-orang seperti kami. Alhamdulillah…

Di awal saya melakukan screening awal dengan dokter Nando, saya sudah mengatakan pada beliau kalau saya memiliki mioma dan penyempitan saluran tuba falopii di sebelah kanan, yang mungkin menjadi salah satu penyebab saya belum pernah hamil sama sekali sejak menikah. Operasi Laparoskopi disarankan oleh dokter Nando dengan tujuan memberikan banyak ruang kepada bayi kami untuk tumbuh berdasarkan program yang kami ikuti, IVF.

Tadinya saya ragu banget ya, takut sih lebih tepatnya, kalau bisa sih nggak usah gitu ya, hehehe. Karena seumur hidup saya, Alhamdulillah saya tidak pernah mengalami sakit yang mengharuskan saya untuk menginap di rumah sakit, diinfus, apalagi operasi, wong disuntik saja saya takut. Jadi membayangkannya aja sudah membuat saya lemas. Pengennya kabur aja, tapi udah kepalang nyebur, mau nggak mau mesti ‘basah’ seluruhnya. MasyaAllah.

Sebelum saya tindakan OPU, saya pun sempat bertanya lagi kepada beliau, haruskah saya menjalani operasi Laparoskopi ini? Beliau pun menjawab ‘iya’ dengan tegas. Makin dijelaskanlah sama beliau bahwa tujuan operasi Laparoskopi untuk saya adalah pertama memberikan ruang yang cukup untuk bayi saya nanti, kedua tentu menyembuhkan saya dari penyakit dan gangguan kesuburan tersebut dan ketiga adalah sekalian membenarkan saluran tuba falopii saya yang menurut pemeriksaan sebelumnya (HSG) terlihat menyempit. Makin lemas lah saya. Dan tahu-tahu jadwal operasi Laparoskopi saya sudah dijadwalkan oleh dokter Nando dan suami saya. Saya masih lemas dan nge-blank, lhah suami saya sudah iya-iya dan oke-oke saja disebelah saya. What? Rasanya pengen mukulin suami saya deh, yang mau operasi saya, saya masih takut, saya masih perlu menata hati, nah dia udah main iya-iyaan dan oke-okean sama dokter Nando. Sampai rumah pun saya sudah mau nangis, protes sama suami saya. Tapi kemudian saya diingatkan oleh pertanyaan yang saya sendiri sudah tahu pasti jawabannya. ‘Bagaimana jika ini adalah jalan satu-satunya untuk saya jadi lebih sehat?’ ‘Bagaimana jika ini adalah jalan yang sudah Allah subhanahu wa ta’alaa atur dan tuliskan sebagai jalan kami untuk memiliki keturunan?’ Makin mewek lah saya dijawab begitu, karena jalan yang akan saya lalui MasyaAllah begitu luar biasa buat saya, dan begitu juga untuk suami saya. I know that for sure. Berat juga baginya untuk menjalani ini dengan saya, memiliki istri yang belum bisa hamil normal dan harus melalui segala prosedur program yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. MasyaAllah. Tapi balik lagi, bahwa mungkin benar, inilah jalan yang Allah subhanahu wa ta’alaa sudah atur dan tuliskan sebagai ujian untuk kehidupan rumah tangga kami. Kami bisa apa? Bersabar dan mengikhlaskan segalanya sesuai dengan jalan Allah subhanahu wa ta’alaa. Semoga segala tetesan air mata keikhlasan dan tetesan keringat ikhtiar kami menjadi tabungan kami di akhirat kelak.

Jadi, saya dijadwalkan menjalani operasi Laparoskopi hari Kamis, 6 Juli 2017 jam 14.00 WIB di RSIA Bunda Jakarta. Baru setahun yang lalu ya, jadi masih inget aja saya, gimana dag-dig-dug-nya saya menunggu hari itu.

Apa sih sebenarnya Operasi Laparoskopi itu?
Kalau menurut sepengetahuan saya nih ya, gampangnya, Operasi Laparoskopi adalah suatu teknik operasi melihat ke dalam perut tanpa melakukan pembedahan besar. Jadi operasi dilakukan dengan menggunakan peralatan medis serba kecil, termasuk diantaranya adalah penggunaan kamera mikro yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien saat operasi untuk melihat kondisi di dalam perut. Jadi bekas luka yang timbulpun lebih minim dan recovery diyakini lebih cepat karena bekas luka yang kecil tersebut. Kalau menurut definisi resmi silakan googling sendiri disini ya.

Sedangkan yang saya alami, di perut saya terdapat empat titik dengan masing-masing titik selebar kurang lebih 1 cm, diantaranya adalah di pusat/ pusar, di perut bawah kanan dan kiri dan terakhir di atas kelamin. Melalui empat titik ini, tim dokter yang melakukan Operasi Laparoskopi untuk saya, mengambil kista, mioma dan endometriosis yang diyakini menghambat kehamilan saya secara normal dan mungkin mengganggu program kehamilan yang akan saya jalani selanjutnya di Morula IVF Jakarta.

Dimana saya melakukan Operasi Laparoskopi?
Saya melakukan Operasi Laparoskopi di RSIA Bunda Menteng, Jakarta Pusat sesuai dengan rujukan dari dokter yang merawat saya untuk program kehamilan yang saya ikuti.

Samakah Operasi Laparoskopi yang saya jalani di RSIA Bunda dengan RS lain?
Untuk soal ini saya kurang tahu ya, tergantung dari peralatan dan teknologi medis yang RS miliki mungkin. Beruntungnya saya bisa melakukan Operasi Laparoskopi di RSIA Bunda Menteng, Jakarta Pusat yang memiliki teknologi dan peralatan medis yang cukup modern, ditangani oleh dokter-dokter yang ahli dibidangnya menggunakan peralatan medis tersebut jika dibandingkan dengan RS lain. Karena saya pernah dengar di RS lain, masih ada yang RS yang melakukan operasi pengambilan kista, mioma dan endometriosis dengan cara pembedahan besar. Jadi, balik lagi, tergantung RS-nya, memiliki teknologinya dan dokter yang ahli menggunakan peralatan medis tersebut atau tidak.

Untuk pasien program di Morula IVF Jakarta (Inseminasi ataupun IVF), bisakah melakukan Operasi Laparoskopi di RS lain selain RSIA Bunda Jakarta?
BISA, Tapi TIDAK DISARANKAN. Sebenarnya dokter Nando pun membebaskan kami untuk memilih mau operasi dimana karena kita tahu bahwa biaya Operasi Laparoskopi di RSIA Bunda Jakarta memang sangat mahal jika dibandingkan dengan RS lain. Tapi berdasarkan informasi yang kami peroleh (dari dokter Nando dan suster Diana), mereka tidak menyarankan operasi di RS lain dengan dokter lain. Karena berdasarkan pengalaman pasien lain sebelum-sebelumnya yang melakukan Operasi Laparoskopi di RS lain dengan dokter lain, dokter yang mengoperasi kebanyakan tidak memperhatikan bahwa kami ini pasien program IVF yang karenanya paramedis perlu untuk sangat berhati-hati dalam menangani kami. Dokter yang mengoperasi harus berhati-hati untuk mempertahankan kondisi rahim kami. Sementara yang kebanyakan terjadi adalah tim dokter yang mengoperasi di RS lain kurang memperhatikan itu, walaupun sudah diinfokan saat konsultasi sebelumnya, tapi pada prakteknya kebanyakan tidak sesuai.

Bagaimana jika sudah terlanjur? Efeknya bagaimana? Kalau sudah terlanjur ya mau bagaimana lagi, wong sudah terjadi. Efeknya pada kita yang pasien program, saya juga kurang paham sih sebenarnya, kita cuma berusaha untuk meminimalisir resiko dan memaksimalkan kemungkinan keberhasilan program yang kita jalani. Begitu intinya. Kita mungkin tidak pernah tahu bagaimana hasilnya nanti, tapi kita bisa berusaha menghindari yang terburuk jika kita mempersiapkan segalanya dengan baik.

Bisakah menggunakan asuransi untuk tindakan Operasi Laparoskopi di RSIA Bunda Jakarta?
BISA. Saya sendiri menggunakan fasilitas asuransi dari kantor suami. Alhamdulillah ter-cover seluruhnya. Untuk asuransi apa saja yang diterima saya kurang tahu ya. Mungkin bisa dikonsultasikan dengan Ibu Santi bagian Asuransi RSIA Bunda Jakarta.

Bagaimana dengan BPJS Kesehatan? Apakah meng-cover tindakan Operasi Laparoskopi di RSIA Bunda Jakarta?
Nah untuk BPJS Kesehatan saya kurang tahu ya sudah bekerjasama dengan RSIA Bunda atau belum. Saat saya melalui tindakan operasi Laparoskopi, setahu saya belum ada fasilitas BPJS di RSIA Bunda, nggak tahu kalau sekarang.

Siapakah yang melakukan tindakan Operasi Laparoskopi saya?
Yang melakukan tindakan Operasi Laparoskopi untuk saya tentu adalah dokter Nando (dr. Aryando Pradana, SpOG) beserta tim dokter dari RSIA Bunda. Inilah keuntungan dari mengikuti program kehamilan di Morula IVF Jakarta, dokter yang merawat kita untuk program bisa sekaligus melakukan operasi yang diperlukan untuk kita, bukan dialihkan ke dokter lain, sehingga kesehatan dari peralatan reproduksi kita yang nantinya akan diikutkan dalam program kehamilan bisa terpantau dengan baik.

Mengapa tidak melakukan Operasi Laparoskopi dulu sebelum mengikuti program kehamilan atau sebelum dilakukan tindakan OPU?
Sebaiknya sih kalau menurut saya kita ikut program kehamilan terlebih dahulu, kemudian dokter akan memutuskan tindakan-tindakan apa saja yang dapat mendukung keberhasilan program yang kita ikuti, salah satunya adalah tindakan Operasi Laparoskopi, apakah diperlukan atau tidak. Nah untuk alasan mengapa tidak Operasi Laparoskopi dulu sebelum OPU adalah karena tindakan Operasi Laparoskopi dapat mempengaruhi kondisi alami rahim dan peralatan reproduksi di sekitar rahim kita (yang kita usahakan pertahankan kondisi alaminya untuk pertumbuhan bayi kita nantinya). Dikhawatirkan Operasi Laparoskopi dapat mempengaruhi produksi sel telur yang nantinya akan kita gunakan untuk program kehamilan melalui IVF. Menurut info yang saya peroleh, tindakan Operasi Laparoskopi sebelum tindakan OPU dapat mengurangi jumlah produksi telur si calon ibu. Nah, kita nggak mau kan kehilangan telur-telur terbaik kita sebelum memulai program? Itulah alasan utamanya, apapun yang tim dokter sarankan semata-mata adalah demi meningkatkan keberhasilan dari program kehamilan yang kita ikuti. Walaupun keputusan akhir tetap berada pada Sang Pemilik Kehidupan, Allah subhanahu wa ta’alaa.

Apa saja persiapan untuk tindakan Operasi Laparoskopi?
Saya nggak ada persiapan khusus ya, tetep menghindari makanan dan minuman yang tidak dianjurkan sejak mengikuti program, mengkonsumsi makanan dan minuman yang dianjurkan, olah raga teratur dan menjaga badan untuk tetap fit tanpa boleh sakit seringan apapun. Sejak mengikuti program kehamilan saya tetap stop teh, kopi, soda, DCC, cokelat sampai berhasil hamil di usia kandungan 12w, atau sudah dinyatakan save oleh dokter, bisa konfirmasi juga soal pantangan ke suster koordinator.

Untuk pantangan sebelum Operasi Laparoskopi, saya agak-agak lupa ya, hehehe, karena ngasih tahunya H-1 by phone, jadi saya nggak ada catatan sama sekali. Seingat saya sih, nggak boleh makan makanan karbohidrat, daging, sayur, makanan yang mengandung serat, karena kita diwajibkan untuk berpuasa sebelumnya. Sebagai catatan, puasanya harus bagus karena posisi bagian tubuh bawah (perut, yang akan melalui proses operasi) akan lebih tinggi daripada bagian tubuh atas, jika puasanya tidak bagus, tidak mematuhi pantangan sebelum operasi misalnya, dikhawatirkan akan muntah sebagai akibat dari posisi operasi ini.

Yang jadi pertanyaan, makan ini itu nggak boleh, trus makan apa dong? Hehehe. Itu juga yang saya keluhkan. Memang jadi luapaaar luar biasa. Kalau saya, seingat saya, saya hanya makan bubur sumsum aja selama seharian itu, dibuatkan bubur sumsum sama ibu saya. Bubur sumsum dan air putih. Memang lapar banget ya jadinya, tapi mau gimana lagi, lapar itu akan teratasi kalau kita sudah ke RSIA dan mendapatkan infuse glukosa, nggak akan ada lagi keluhan lapar, hehehe.

Bagaimana step by step prosesnya?
Sebelum datang di hari-H operasi, kita diwajibkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anestesi yang ada di RSIA Bunda. Konsultasi maksimal di H-2 tindakan operasi. Disitu kita akan dijelaskan secara rinci persiapan apa saja yang perlu dilakukan untuk menghadapi operasi dan bagaimana prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan pada tubuh kita. Ketemu dokter anestesi ini juga agak-agak bikin deg-deg-an kalau saya. Namanya juga nggak pernah operasi jadi segalanya terasa sangat baru dan menegangkan untuk saya.

Jadwal operasi saya sempat mau dimajukan oleh pihak RSIA Bunda karena berbagai hal, tapi berhubung saat itu masih libur Lebaran, saya masih di Caruban, belum konsultasi ke dokter anestesi juga, jadi Alhamdulillah jadwal operasi saya tetap di Hari Kamis, 6 Juli 2017. Yes, benar, jadwal operasi saya berada di minggu pertama masuk pasca libur Lebaran. Jadi semua orang mikirin berkumpul bersama keluarga untuk berlebaran, saya malah dag-dig-dug tegang mikirin operasi, hehehe.

Saya dijadwalkan konsultasi dengan dr. Riviq , Sp. An di Hari Selasa, 4 Juli 2017, tapi ternyata dr. Riviq tidak praktek (mungkin masih cuti Lebaran kali ya, hehe) digantikan oleh dr. Dian Citra Resmi, Sp. An. Dijelaskan apa saja oleh dokter anestesi? Beliau menjelaskan segala prosedur operasi, bahwa operasi akan dilakukan dengan bius total selama kurang lebih 3-4 jam. Posisi pasien saat operasi akan ditidurkan telentang dengan meninggikan bagian tubuh bawah (perut, yang akan dioperasi) lebih tinggi daripada bagian tubuh atas (kepala). Setelah dibius, pasien akan dipasangi alat bantu pernapasan yang berupa selang melalui mulut. Karenanya kualitas puasa harus bagus untuk menghindari muntah saat dan pasca operasi yang diakibatkan oleh posisi bagian tubuh bawah lebih tinggi daripada kepala sehingga bagian tubuh bawah akan bergeser ke atas menuju kepala. Puasa dilakukan 8 jam sebelumnya, tetapi H-1 akan dikonfirmasi kembali oleh suster bagian kamar operasi tentang bagaimana tata cara puasa yang dianjurkan dan apa saja yang boleh dikonsumsi sebelumnya. Semata-mata adalah untuk menghindari muntah dan hal-hal yang tidak diinginkan selama dan pasca operasi.

Di hari-H operasi, pasien diharapkan untuk datang ke RSIA Bunda dan melakukan pendaftaran operasi dan rawat inap di bagian admission operasi. Saya datang pagi, sekitar jam 7 atau jam 8 pagi, karena jadwal operasi siang, maksimal masuk ruang rawat inap adalah pagi di hari-H. Setelah prosedur pendaftaran selesai, saya diantar ke ruang rawat inap dan kemudian menunggu suster yang bertugas untuk melakukan pengecekan kondisi awal. Apa aja yang di cek? Banyak, suster akan membawakan daftar wawancara singkat tentang riwayat kesehatan pasien dan keluhan apa saja yang pernah dialami pasien, menginformasikan kepada dokter Nando kemudian kembali menemui pasien dan memberikan tindakan awal apa saja sesuai instruksi dari dokter Nando.

Karena saya memiliki riwayat sakit maag, saya diminta untuk minum obat maag yang sudah disediakan suster, memasukkan obat lewat belakang (maaf dubur), karena saya sempat mengeluhkan nyeri di perut bawah dan melakukan skin test, karena saya pernah mengalami alergi obat antibiotik tapi lupa nama dan jenisnya sehingga suster perlu melakukan skin test. Apa itu skin test? Skin Test adalah tes alergi obat yang dilakukan di bawah kulit. Jadi suster akan menginjeksikan obat tertentu di bawah kulit kita. Skin test di tubuh saya dilakukan di lengan kanan. Rasanya gimana? Sakit banget yaaa, pedih, perih, panas dan nyeri jadi satu, di bawah kulit ini, bukan di daging. Jadi begitu jarum masuk, jarum akan dibelokkan ke kanan ke kiri, di ongkek sana, ongkek sini, entah apa tujuannya. Sakit banget pokoknya. Setelah itu lokasi skin test akan ditandai, dibuletin dengan menggunakan pulpen.

Setelah itu, saya diminta untuk menunggu suster lain yang bertugas untuk melakukan cukur rambut kemaluan. Fungsinya apa? Untuk menghindari lengket terkena darah. Memang sih, bekas lukanya akan kecil, hanya sebesar kurang lebih 1 cm, tapi memang begitulan prosedurnya, kita kan nggak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Selain itu, lokasi operasi salah satunya adalah berada di atas kemaluan, oleh sebab itu rambut kemaluan perlu dicukur. Cukurnya pakai apa? Pakai alat cukur elektrik dengan mata pisau yang baru milik rumah sakit. Bagi yang belum pernah mencukur rambut kemaluan seperti saya, rasanya geli banget ya… Asli geli, saya sampai ketawa-ketawa dan suster sampai berhenti beberapa kali karena saya kegelian banget.

Selanjutnya berganti pakaian pasien dan menunggu suster lain yang bertugas untuk memasang infus dan kemudian saya diantar suster ke ruang operasi dengan menggunakan kursi roda. Saya pikir nih ya diantarnya pakai kursi roda itu sampai ke ruang operasi, ternyata sampai di balik pintu ruang operasi aja. Hahaha, ngarep eksklusif. Terus lanjutannya gimana? Ya diantar, tapi jalan kaki, diminta naik ke meja operasi sendiri. Disitu saya berasa tegang banget. Bayangin ya, di siaran TV, film ataupun drama yang biasa saya tonton, biasanya di gledek sampai ke meja operasi, entah itu dibius duluan atau sebelum dibius. Ini jalan kaki, diminta tiduran sendiri di meja operasi, berasa banget mau diadili. Lebay :D

Saya diminta menyamankan diri di meja operasi. Menyamankan gimana maksudnya? Menyamankan letak kaki yang ternyata ditekuk. Jadi pertama kali kita duduk di meja operasi dengan paha yang ditopang seperti duduk dan kemudian rebahan di meja operasi. Aduh bingung gimana menjelaskannya, semoga paham maksud saya ya. Buat kaki senyaman mungkin, bilang ke susternya jika perlu ditinggikan atau direndahkan posisi topangan kakinya. Karena operasi akan memakan waktu lama, jika pasien tidak menyamankan diri dan kaki, dikhawatirkan nanti saat bangun pasca operasi, kaki akan pegel-pegel. Begitu kata suster yang bertugas membantu proses operasi saya. Setelah menyamankan diri di meja operasi, dokter anestesi datang menyapa saya dan langsung mengajak mulai sambil menginjeksikan 3 ampul suntikan yang berisi obat bius. Tiga sampai empat jam kemudian saya bangun dan sudah berada di ruang pemulihan dengan badan tertutup selimut penghangat yang dihubungkan dengan kaki saya, selang infus di tangan kanan dan kiri, terpasang kateter di saluran kencing saya dan selang oksigen di hidung saya. Apa fungsi selimut penghangat itu? Jadi ketika saya terbangun pertama kali, saya merasa sangat kedinginan dan menggigil. Beruntung badan saya tertutup selimut penghangat tersebut selama beberapa waktu sehingga saya tidak begitu merasa kedinginan.

Ketika saya terbangun pertama kali di ruang pemulihan, yang pertama kali saya lakukan adalah melihat kanan kiri mencari suster, menanyakan jam berapa saat itu, jam berapa proses operasi saya selesai dan mencari suami saya. Kalau saya tidak salah ingat, saya mulai disuntik bius sekitar jam 1 lebih, kemudian berdasarkan info dari suster, operasi saya selesai di jam 16.30 WIB dan saya terbangun di jam 18.30 WIB. Setelah menunggu beberapa saat, selimut penghangat dilepaskan dari badan saya, dan saya akan dipindahkan ke kamar. Tapi sebelumnya saya akan diantar ke ruangan lain sambil menunggu giliran diantar ke kamar rawat inap.

Infus yang melekat di tangan saya pasca Operasi Laparoskopi

Di ruangan lain tersebut, saya langsung refleks menangis ketika melihat kedua orang tua saya. Iya, saya cengeng. Entah mengapa perasaan saya saat itu sangat sedih, saya merasa sangat bersalah kepada orang tua saya. Sedih karena memiliki anak seperti saya yang rasanya merepotkan sekali, meminta orang tua saya ikut menunggui dan merawat saya lagi setelah sedewasa ini, karena sakit dan program hamil yang akan saya jalani. Tapi, orang tua mana yang rela membiarkan anaknya sendirian di saat sulit seperti yang kami alami? Tidak ada. Kalaupun saya tidak jujur, mungkin saya malah berdosa karena mengesampingkan orang tua saya. Bahwa orang tua saya pun ingin mendampingi kami melalui saat-saat sulit, mendampingi dan men-support kami menghadapi ujian untuk kehidupan rumah tangga kami.

Kurang lebih jam 21.00 WIB saya diantar ke kamar rawat inap. Oh iya, sejak bangun pertama kali, saya merasa ingin muntah tapi ternyata sulit dan tidak bisa keluar. Apa yang dimuntahkan? Padahal kan puasa sebelumnya? Jadi yang dimuntahkan adalah sisa obat bius dan alat bantu pernafasan yang berupa selang yang dimasukkan ke dalam mulut saya pasca dibius total. Kok saya tahu, kan dibius total? Ya ituuu, kan sebelumnya diminta untuk konsultasi dengan dokter spesialis anestesi, disitu kita dijelaskan semua tentang prosedur operasi dan tindakan apa saja yang dikenakan terhadap tubuh pasien.

Cara membuang sisa-sisa obat yang ikut masuk ke tenggorokan saya ternyata perlu dirangsang terlebih dahulu untuk mengeluarkan sisa bius tersebut. Jadi saya dibuatkan bubur sumsum oleh suster di jam 23.00, dan benar saja, setelah beberapa suap, dan beberapa menit kemudian keluarlah cairan bening beserta bubur sumsum yang saya makan sebelumnya. Seketika itu saya merasa lega. Kemudian saya diminta istirahat dan diijinkan makan setelah saya bisa kentut, untuk membuang gas-gas sisa operasi melalui belakang, tanda pencernaan saya siap bekerja dengan normal kembali. Alhamdulillah saya bisa kentut pertama kali di jam 03.00 WIB dini hari.

Proses makan pertama kali buat saya agak drama ya, hehehe. Karena ternyata seluruh organ pencernaan saya menyempit sebagai akibat lamanya waktu puasa sebelum operasi dan naiknya organ pencernaan saya pasca operasi. Jadi, sensasi menelan makanan pertama kali itu begitu menyakitkan untuk saya sehingga makanan yang masuk hanya sedikit. Tapi, rasa sakit itu InsyaAllah akan berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya, tidak perlu perawatan khusus apapun, hanya dipakai makan dan minum saja semampunya.

Oh iya, kita perlu belajar duduk, berdiri dan berjalan ya, setelah berbagai prosedur operasi dll tersebut kita tidak menggunakan tubuh dan kaki kita dengan maksimal. Karena untuk pipis pun masih menggunakan kateter sehingga perlu belajar duduk, berdiri dan berjalan. Rasanya gimana? Agak berat kalau menurut saya, karena pasca operasi kita hanya tiduran saja. Jikalau ada rasa pusing dan kliyengan sedikit itu wajar. Dan jika pusing terasa sangat mengganggu, langsung istirahat dan rebahan kembali, jangan memaksakan diri.

Selain itu, saya mengalami sedikit pendarahan juga ya. Mirip darah haid, keluar dari vagina, hanya saja ini yang keluar adalah darah segar. Sakitkah? Tidak sama sekali. Darah ini keluar sebagai akibat dari sisa-sisa Operasi Laparoskopi yang saya jalani dan ini sangat wajar terjadi. Sampai berapa lama? Kurang lebih semingguan ya, nggak sampai seminggu malah, cuma sebentar saja, jadi usahakan untuk membawa spare pembalut wanita saat menjalani rawat inap untuk berjaga-jaga.

Selanjutnya saya dirawat selama dua hari di RSIA Bunda dan diijinkan pulang di hari Sabtu, 8 Juli 2017 pasca cek terakhir oleh dokter Nando. Tapi malam hari sebelum pulang kondisi HB saya sempat drop jauh dari sebelum operasi sehingga saya harus menerima transfusi HB 2 ampul. Kembali lagi untuk cek jahitan ke dokter Nando di klinik BIC – Morula IVF Jakarta seminggu kemudian, dan pesan suster, jahitan nggak boleh kena air sama sekali ya, jadi harus hati-hati mandinya.

Penyakit yang diambil dari dalam tubuh saya, ini sebenarnya tabungnya besar ya, cuma difotonya agak jauh jadi terlihat kecil, yang motret suami saya ketika dikasihtahu suster dan dokter Nando, difoto untuk ditunjukkan ke saya dan orang tua saya

Adakah keluhan atau efek samping pasca Operasi Laparoskopi?
Kalau saya nggak punya keluhan berarti ya, bahkan bisa dikatakan TIDAK ADA. Alhamdulillah saya pulih dengan cepat. Hanya saja, saya mendapatkan PR makan dari dokter Nando. Punya dokter yang nggak pro obat sama sekali itu bisa jadi keuntungan dan kelemahan. Keuntungannya kita nggak melulu dicekoki dengan berbagai macam obat-obatan. Tapi, kelemahannya adalah terkadang beliau memberi kita PR makan. Yes, asupan makanan dianggap sebagai obat alami untuk tubuh. Jadi apa PR saya? Makan ati (ati sapi, ati ayam) selama sebulan penuh sebagai pengganti obat yang diharapkan bisa mengembalikan kondisi normal HB saya. Jadi ketika saya pulang, saya sama sekali tidak dibawain obat apapun, hanya pereda nyeri yang dikonsumsi oral dan via belakang (dubur). PR makan buat saya jauh lebih berat jika dibandingkan dengan PR minum obat, karena yang kita lawan adalah diri kita sendiri, melawan ego dan rasa bosan. Tapi, jika itu adalah yang terbaik untuk kesehatan kita, kita bisa apa. Dijalani saja dengan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’alaa.

Berapa lama waktu penyembuhan Operasi Laparoscopi?
Saya melalui Operasi Laparoskopi tanggal 6 Juli 2017, kemudian saya menjalani FET pertama saya di tanggal 27 Agustus 2017, jadi langsung ya, langsung di siklus berikutnya. Alhamdulillah penyembuhan saya pasca Operasi Laparoskopi terhitung cepat kalau menurut saya, karena saya sudah bisa menjalani FET di siklus berikutnya. Saya pernah membaca di salah satu post ig bahwa jika ingin menjalani program kehamilan pasca menjalani Operasi Laparoskopi ya setahun pasca operasi adalah waktu emas untuk memaksimalkan, karena jika sudah diatas satu tahun dikhawatirkan mioma, kista dan endometriosis tumbuh kembali, mengganggu atau bahkan menghambat program kehamilan yang diikuti.

Bagaimana proses penyembuhan saya pasca Operasi Laparoskopi?
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya kalau saya nggak dibawain obat sama sekali oleh dokter Nando. Obat yang saya bawa adalah hanya obat pereda nyeri yang diminum oral dan dimasukkan lewat belakang (maaf, dubur). Obat pereda nyeri diresepkan kurang lebih untuk 3-5 hari berikutnya. Saya hanya minum obat pereda nyeri yang oral saja, sementara yang lewat belakang tidak saya gunakan. Kenapa? Saya merasa tidak nyaman dengan obat itu, karena lokasinya disitu, hehehe. Walaupun harus berdebat dulu sih sama ibu dan ibu mertua saya soal itu, khawatir saya nggak sembuh-sembuh, atau makin lama sembuhnya, mungkin ini juga salah satu faktor kenapa saya mengeluhkan nyeri di perut bawah setelah naik motor sendiri.

Selain PR makan dari dokter Nando, saya juga mengkonsumsi Ikan Gabus atau Ikan Kutuk (kalau dalam Bahasa Jawa) yang katanya bagus untuk penyembuhan pasca operasi. Diapakan ikannya? Seharusnya di kukus untuk mempertahankan lendirnya yang dipercaya berkhasiat. Tapi kalau saya takut amisnya, takut nggak ketelan, jadi digoreng tepung saja. Jadi selama sebulan itu lauk yang saya makan hanya ati ampela ayam dan hati sapi sebagai PR dari dokter Nando dan Ikan Gabus Goreng, dimasak ganti-gantian. Saya nggak masak sendiri ya, saya dirawat oleh ibu saya dan ibu mertua saya yang bergantian menunggui saya pasca Operasi Laparoskopi sampai tindakan FET pertama.

Nah, untuk perawatan luka, saya dijadwalkan kontrol luka jahitan seminggu setelah saya boleh pulang di tanggal 15 Juli 2017. Selama dirumah, suster di RSIA berpesan untuk jangan sampai luka jahitan bekas operasi saya terkena air sampai kontrol berikutnya dengan dokter Nando. Jadi saya mandinya gimana? Ini yang lucu. Perut saya di wrap dengan plastic wrap kemudian bagian atasnya ditali karet mengelilingi perut agar tidak kemasukan air sama sekali. Antara usaha sama lebay ya, hahaha. Yaaa, semua kami lakukan sesuai pesan suster, karena serumah sama-sama nggak pernah operasi, jadi kami berusaha menjaga dari segala kemungkinan. Dikhawatirkan jika terkena air sebelum waktunya akan berakibat kenapa-kenapa. Jadi saya pasrah aja mandinya sampai dibantuin, oleh suami saya, ibu ataupun ibu mertua saya, yang merawat saya saat itu. Menurut saya, lebih baik saya merepotkan orang lain sampai saya dinyatakan sembuh total daripada saya ngotot ngerjain sendiri yang berujung luka saya kenapa-kenapa, nggak sembuh-sembuh, karena semakin lama sembuhnya semakin lama juga saya akan merepotkan orang lain.


Sekitar dua minggu pasca Operasi Laparoskopi, ketika oraang tua saya dan mertua saya sudah pulang, sudah nggak ada lagi yang masakin, saya pengen dong bisa beraktivitas normal kembali, masak sendiri dan mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Mulailah saya naik motor sendiri untuk belanja ke pasar, naik turun tangga juga untuk suatu keperluan tertentu. Ternyata, pulang dari pasar, saya mengalami nyeri di perut bawah sebelah kanan. Panik dong saya. Seketika itu juga saya langsung istirahat, rebahan di kamar, nggak jadi masak, nggak jadi beraktivitas. Ternyata tubuh saya belum mampu, yang saya pikir saya sudah sembuh, sudah hampir satu bulan, tapi ternyata belum. Pelajaran apa yang didapat? Jangan melakukan kegiatan seperti naik turun tangga, angkat berat dan terlalu banyak berjalan. Kita mungkin merasa sehat tapi belum tentu dengan tubuh kita. Sejak saat itu hingga sekarang, saya tidak pernah naik motor sendiri, selalu diantar oleh suami saya. Ditambah lagi pasca FET, saya sudah tidak pernah lagi naik motor, suami saya selalu menggunakan mobil jika saya ikut pergi, walaupun jaraknya dekat. Kenapa? Kami meminimalisir guncangan yang akan saya terima, terutama guncangan di perut saya yang mungkin bisa berakibat pada kehamilan saya. Mungkin kami dianggap lebay, tapi itulah cara kami menjaga kehamilan saya. Manja dong saya? kemana-mana dianter, ngapa-ngapain dibantuin? Mungkin. Tapi saya, suami, keluarga saya tidak keberatan sama sekali jika itu memang untuk kesehatan saya, kesehatan kehamilan saya. Kangen kemana-mana sendiri? Kangen beraktivitas sendiri? Itu pasti. Tapi demi kesehatan kehamilan saya, demi si Adek, saya rela dipingint berbulan-bulan dirumah J

Panjang yaaa… hehehe. Begitulah pegalaman saya. Semoga tidak ada informasi yang terpotong, ketinggalan atau saya kelupaan. InsyaAllah lengkap, kalau ada yang tidak sengaja missed, akan saya update kemudian. Sampai jumpa di next post soal FET yaaa


Salam,


Lisa.


Kamis, 05 Juli 2018

Selamat Lebaran...


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Setelah riweuh silaturahim sana-sini plus ditambah bumil tua yang kadang masih mood swing, jadilah baru sempet diposting sekarang. Sebenarnya niatnya udah ada, eh lhah kok males banget mau mindahin foto, hehehe…

Eh iya, maaf-maafan dulu yaa… Terlambat nggak apa-apa kan ya, daripada enggak sama sekali.

Taqaballahu minna wa minkum, Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin ya...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Semoga kita semua dapat kembali fitrah dan diizinkan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya, Amiiinn...




Kayaknya udah jadi tradisi banget ya jaman now ini kalau Lebaran atau Idul Fitri selalu majang foto kebersamaan bareng keluarga. Sejak hari pertama Lebaran malah, di sosmed sudah bertebaran banyak banget foto-foto bareng keluarga. Yang kesehariannya nggak pernah majang foto keluarga lengkap jadi ikutan majang foto keluarga lengkap. Kayak saya ini, ikutan kebawa arus juga, hehehe. Mumpung ngumpul ya, nggak ada salahnya mengabadikan kebersamaan bersama keluarga, nggak tiap hari juga bisa kayak gini.

Ini niihh… moment langka yang jarang banget terjadi di keluarga saya, kebetulan semuanya ngumpul dari segala penjuru di rumah orang tua saya sebagai yang tertua. Jadi weh riweuhnya luar biasa, tapi riweuh kayak gini nggak setiap hari ada, dan InsyaAllah dikangenin.




Kalau ini rempongnya Lebaran Ketupat di rumah Pak Lik saya, adiknya bapak. Bener, Lima hari pasca hari-H Idul Fitri ada tradisi makan ketupat bareng yang biasa disebut sebagai Lebaran Ketupat. Sebenarnya tradisi ini diperuntukkan bagi mereka-mereka yang melanjutkan ibadahnya ke Ibadah Puasa Syawal, sehingga ini adalah lebarannya bagi mereka yang menjalankan Ibadah Puasa SYawal. Tapi karena kadang udah terlanjur melekat, nggak Puasa Syawal pun tetep ikutan bikin ketupat dan makan bareng, ngumpul-ngumpul sekeluarga.

Ini pose begini atas request keponakan niihh, pose ala-ala chibi-chibi. Ya diikutin aja, daripada marah. Eh setelah foto dianya masih marah gara-gara ibu saya nggak ngikutin gaya chibi-chibi. Hehehe.




Lebaran Idul Fitri di keluarga suami saya kali ini nggak foto barengan kayak tahun-tahun sebelumnya. Karena lagi capek semua pas orang-orangnya lengkap ngumpul. Dan kata kakak ipar nanti aja kalau si Adek sudah lahir, sekalian katanya. InsyaAllah tahun depan sudah bertambah anggota keluarga. Ada si Adek yang akan menemani hari-hari kami sebagai orang tua baru. Alhamdulillah...







Salam,


Lisa