Tampilkan postingan dengan label Eat Out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eat Out. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Persahabatan Baik dengan Tong Tji Tea House





Tong Tji Tea House - Citraland Mall Semarang

Assalamualaikum...

Huwaaa... Long time no see yaaa... Berasa kangen banget sama blogging. Maafkeun saya, sepulang nemenin suami seminggu di Jakarta, perubahan cuacanya yang ekstrim dan berbagai distraction lain yang klise jadi bikin gak enak body dan hilang selera sama blogging, cuma lirik-lirik bw tanpa sempat meninggalkan jejak pula. Sedih.

Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah semangat lagi, yuk ah...

Kuliner dan travelling adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan ya. Rasanya nggak lengkap aja kalau sudah berkunjung kesana-kemari tanpa nyobain yang unik-unik. Lagian kan jarang juga tuh nemu resto yang cabangnya atau franchise-nya ada di seluruh kota di Indonesia. Hehehe. Jadi mau nggak mau pasti nyobain makanan disana-sini sesuai recommend orang lain.

Siang itu, saya masih berada di seputaran Kota Semarang. Masih di bulan Nopember 2015 (telat banget kan yaa postingnya?) dimana matahari siang Kota Semarang sedang terik-teriknya, hujan masih jarang-jarang. Saat adik saya sedang seneng-senengnya sama teh. Entah apa yang membuat adik saya nge-fans banget sama teh. Seingat saya ketika kami masih serumah, dia tidak sebegitu nge-fans-nya sama teh. “Pokoke teh, Mbak! Teh!” tegasnya siang itu kepada saya. “Okelah, seterah apa maumu, Nduk! Tak turuti”, jawab saya pasrah di tengah teriknya Kota Semarang.

Saya pun digiring ke salah satu mall yang lumayan terkenal di kota itu, memasuki sebuah resto kecil yang padat pengunjung. Tong Tji Tea House. Rupanya, Tong Tji Tea House sedang naik daun, terutama bagi pengunjung yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Alasan utamanya adalah hanya satu, yaitu terjangkau bagi kantong pelajar dan mahasiswa, semacam adik saya. Selain itu, terdapat promo free up size ice tea jika ditengah makan kita kehabisan minuman karena kehausan, ini juga yang dicari adik saya, klayapan di Kota Semarang saat cuaca panas memang sedikit membuat kami dehidrasi. Ini juga salah satu keuntungan yang diperoleh oleh pengunjung sehingga betah berlama-lama di resto ini.

Belum ‘ngeh’? okelah, kenalan dulu yuuk sekilas sama perusahaannya

Perusahaan teh Tong Tji didirikan di Indonesia pada tahun 1938 oleh Tan See Giam dengan nama Perusahaan Teh Wangi Dua Burung yang mengambil lokasi di daerah Tegal, Jawa Tengah.  Perusahaan ini menghasilkan barang konsumsi berupa teh. Pertama kali di launching perusahaan teh ini menggunakan merek “Tong Tji” dengan desain menggunakan huruf Cina, serta logo yang digunakan adalah dua ekor burung yang saling berhadapan.

Pemilihan nama” Tong Tji” atau yang lebih dikenal dalam bahasa aslinya yaitu “Tung Tje” artinya adalah sahabat sejati. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan lama di daerah Tegal bahwa teh merupakan sarana di dalam persahabatan. Maksudnya adalah bahwa teh disajikan sebagai teman ngobrol yang menyenangkan bersama dengan keluarga, teman, rekan kerja, dll. Pemilihan logo yang berupa gambar dua ekor burung dimaksudkan untuk menunjukkan ketulusan persahabatan yang baik dan erat. A Great Philosophie!

My sist and her Jasmine Tea
Lemon Tea

Pada tahun 1998, perusahaan teh Tong Tji memproduksi Premium Jasmine Tea yang diproduksi dengan daun teh kualitas terbaik diproses dengan bunga melati asli yang menjadi produk best seller sejak saat itu. Pada tahun 2003, perusahaan teh Tong Tji mulai melebarkan sayapnya dengan mengembangkan minuman “Ready to Drink” dengan nama “Tong Tji Iced Tea” yang dimulai di Tegal dan Purwokerto, Indonesia. Tong Tji Iced Tea ini tentu sudah banyak kita kenal karena banyak sekali gerainya di Indonesia. Pada tahun 2008, perusahaan teh Tong Tji mulai merambah ke dunia “Food and Beverages Bussiness” atau yang lebih dikenal dengan dunia kuliner dengan membuka Tea Bar Sadewa di Food Court Matahari Semarang. Melanjutkan kesuksesan dari Tong Tji Tea Bar, perusahaan teh Tong Tji mulai membuka konsep resto baru di tahun 2009 dengan menu dan masakan yang lebih beragam dengan nama Tong Tji Tea House.

Begitu kira-kira kilasannya

Tong Tji Tea House masih terbilang baru dalam dunia kuliner. Terbukti dari jumlah gerai Tea House-nya yang masih sedikit dan hanya ada di kota-kota besar tertentu di Indonesia. Saya sendiri baru tahu teh Tong Tji memiliki gerai Tea House ya gara-gara adik saya, di Kota Semarang pula (Ya Iyalah bo, di Kota Pekanbaru kayaknya belum ada, hehehe).

Tong Tji Tea House yang terdapat di Mall Citraland Semarang berbentuk mini cafe dengan interior yang didominasi warna hijau daun dan warna kayu kecoklatan sehingga terlihat asri dan sejuk dari luar. Interior dinding Tea House dilengkapi dengan hiasan dinding berupa miniatur beberapa alat musik dan mainan yang terbuat dari kayu. Menimbulkan kesan tradisional yang unik.

Setelah menempati salah satu pasangan seat yang kosong, kami langsung disambut ramah oleh pramusaji yang membawa buku menu dan mempersilakan kami memilih terlebih dahulu. Karena saya termasuk dalam salah satu penggemar Nasi Goreng, maka saya pun memesan Nasi Goreng Sosis, sementara adik saya memesan Nasi Goreng Special dengan alasan lapar sudah jadi sopir saya seharian, hehehe. Untuk minumannya, sudah pasti Jasmine Tea untuk adik saya dan Lemon Tea untuk saya. 

Rasanya? Enak dong! Sesuai dengan recommend dari adik saya dan ekspektasi saya. Langsung mengisi ruang kosong dalam perut saya dan memunculkan sinyal kenyang. Jasmine Tea dan Lemon Tea-nya pun terasa segar membasahi dinding kerongkongan saya yang kering akibat terik matahari kota Semarang. Awal memesan Lemon Tea, saya agak sanksi, bagaimana dengan rasanya, apakah begini dan begitu, tidak sesuai harapan, saya was-was. Tapi saya berhasil diyakinkan oleh adik saya kalau makanan dan minuman disini enak-enak karena dia sering makan disini bersama dengan teman-temannya setelah lelah nge-mall atau memutari Kota Semarang. Dan ternyata terbukti benar! Yay!

Nasi Goreng Special
Nasi Goreng Sosis

Selang waktu pemesanan dan penyajian pun tidak terlalu lama. Jadi pengunjung tidak akan terlalu lama menunggu meski sedang kelaparan tingkat akut. Next time mission, saya perlu mencoba dan membandingkan Tong Tji Tea Bar dan Tong Tji Tea House. Penasaran dengan persamaan dan perbedaan tentang menunya.  

Saya dan adik saya puas banget nyobain makan di Tong Tji Tea House.Makanan dan minumannya enak, sesuai dengan harapan dengan harga yang bersahabat, terutama untuk kantong pelajar dan mahasiswa. Restonya pun nyaman dan pelayanannya ramah. Jadi jangan heran kalau susah untuk dapat tempat duduk saat jam makan datang. Big thanks untuk Tong Tji Tea House and team.

Penasaran? Cuuzz cobain, mampir di salah satu gerainya yang terdekat dengan lokasimu ya!

Saya sih, harus pulang ke Pulau Jawa dulu sepertinya, hehehe.



Tong Tji Tea House
Mall Citraland Semarang
Jl. Simpang Lima No. 1 Semarang
(024) 8413608



Salam,


Lisa.

Jumat, 22 Januari 2016

Sate khas Senayan



Assalamualaikum...

Berkunjung ke Ibukota selalu menyisakan kenangan tersendiri bagi pengunjung, termasuk saya yang tinggal jauh berkilo-kilo meter dari Ibukota Indonesia, Jakarta. Terlalu banyak hal yang orang keluhkan tentang kota ini, tentang macetnya yang semakin menjadi-jadi hingga membuat jengah jika menghadapinya setiap hari, tentang lalu-lintasnya, padatnya hunian serta harganya yang semakin melambung. Tapi, banyak juga yang bisa diceritakan dari Jakarta. Buktinya, banyak sekali iklan televisi yang menggunakan latar belakang kemacetan Jakarta. See? Apa yang orang keluhkan bisa menjadi ‘ladang’ bagi orang lain.

Di lain sisi, Ibukota merupakan lokasi pertama berkembangnya sesuatu. Segala sesuatu berkembang secara cepat, modern dan bervariasi. Jakarta memiliki segalanya, termasuk didalamnya adalah makanan. Makanan apapun hampir bisa kita dapatkan di Jakarta, sekali pun bukan berasal dari daerah asalnya langsung. Mau makan apa? Semua ada. Begitu banyak pilihan, begitu banyak variasi, menu dan resto. Mulai dari yang super simple tradisional hingga yang sudah ‘dimodiv’, semua ada. Pengunjung semacam saya pasti bingung kalau ditanya, mau makan apa dan dimana. Ini hanya soal makan, tapi saya terlalu bingung. Terlalu banyak pilihan. Apalagi kalau semua yang dilihat dipengeni. Hehehe.

Terlalu bingung, akhirnya suami saya mengajak saya makan sate. Jauh –jauh ke Jakarta hanya untuk makan sate? Iya. Mungkin. Hehehe. Karena resto ini mengingatkan suami saya kepada mantan MP-nya yang sudah meninggal dunia. Jadilah, saya mengikuti keinginan suami saya untuk bernostalgia.

Sate adalah makanan yang terbuat dari potongan daging kecil-kecil yang ditusuk sedemikian rupa dengan tusukan lidi tulang daun kelapa atau bambu kemudian dipanggang menggunakan bara arang kayu. Daging yang digunakan untuk membuat sate diantaranya adalah daging ayam, sapi, kambing, kelinci, dll. Bumbu sate pun bervariasi tergantung dari daerah asal pengusungnya. Kebanyakan sate diberi nama sesuai dengan daerah asalnya, misalnya Sate Madura, Sate Padang, Sate Ponorogo, dll. Tidak jarang juga sate disebut sesuai dengan daging penyusunnya, misalnya Sate Ayam, Sate Kambing, Sate Kelinci, dll.

Sate Kambing
Sate Kambing Buntel

Di Jakarta terdapat salah satu resto kelas atas yang menawarkan berbagai menu tradisional sate yang dikemas dengan selera dan teknologi modern namun tidak meninggalkan kesan unik budaya Indonesia. Adalah Sate Khas Senayan yang berdiri sejak tahun 1974, tetap bersemangat mempromosikan masakan tradisional Indonesia. Berbagai jenis olahan Sate Ayam dan Sate Kambing bisa kita temui disini. Tapi kalau kita tidak menginginkan mencicipi menu andalan sate di resto ini, kita masih bisa memilih makanan tradisional lain, misalnya Nasi Uduk, Nasi Kuning, Soto Betawi, Soto Ayam, Rujak Cingur, dll, yang termasuk dalam masakan tradisional khas Indonesia tentunya.

Di pintu masuk, kita akan dipandu dengan salah satu staf yang akan mempersilakan kita memilih spot meja makan sesuai dengan keinginan kita. Interior resto ini mengetengahkan tradisional modern yang menyatu dalam satu tatanan yang apik. Saya suka. Tidak terlalu modern dan tidak terlalu tradisional. Gambar dan siluet dari beberapa tokoh wayang dan gunungan dalam Pewayangan menambah kesan image tradisional yang ingin dibangun dari resto ini. Gaya interior klasik dengan perabotan dan ukiran kayu menambah efek tradisional yang ada di resto ini.

Interior Sate Khas Senayan
Menu tradisional yang kami pesan saat itu adalah Sate Kambing dan Sate Kambing Buntel. Daging dari Sate Kambing-nya sangat lembut, jadi kita tidak perlu ‘latihan mengunyah’ dulu. Hehehe. Beberapa sate kambing yang saya makan sebelumnya memiliki daging yang keras dan alot atau liat, menyisakan guratan daging di sela-sela gigi. Memerlukan usaha yang cukup ‘kekeuh’ untuk mengeluarkan sisa guratan daging dalam gigi kita. Hehehe. Entah karena kesalahan memanggang atau bagaimana, saya kurang tahu.

Menu kedua yang saya coba adalah Sate Buntel. Ini merupakan pertama kalinya saya makan Sate Buntel. Sate Buntel terbuat dari cincangan daging sapi atau kambing (terutama bagian perut atau iga) kemudian dibungkus selaput membran daging dan dililitkan membungkus tusukan bambu. Ukuran sate ini cukup besar ya, kalau menurut saya sih, mirip dengan sosis. Iya nggak sih? Atau saya yang kelewat katrok? Hehehe.

Untuk sayurnya, kami memesan Sayur Asem, sebagai pelengkap yang kami pikir cocok sebagai pendamping menikmati sate. Ada yang unik dari peyajian Sayur Asem disini. Sayur Asem disajikan dalam satu nampan tersendiri dengan beberapa pelengkap, yaitu kerupuk udang yang berbentuk stick, bakwan jagung, kacang tanah goreng dan sambal terasi. Diantara nampan dan mangkok Sayur Asem, terdapat selembar artikel tentang Sate Khas Senayan, sayangnya saya lupa untuk membaca apa isi artikel itu. Unik ya? Baru pertama kalinya saya menemukan penyajian Sayur Asem yang unik seperti itu. Rasanya? Jelas asem-lah, hehehe, cocok untuk lidah kami dan teman menikmati menu sate yang kami pesan.

Sayur Asem ala Sate Khas Senayan

Yang tidak boleh ketinggalan adalah Es Cendol Durian. Cendol berwarna hijau yang memenuhi gelas ditutup dengan vla durian yang wangi. Menggoda benget untuk cepet-cepet dilahap demi melepas dahaga di tenggorokan. Segar dan nikmat.

Es Cendol Durian
Jus Strawberry

Karena Es Cendol Durian sangat mengenyangkan banget, saya pun memesan jus strawberry untuk menyegarkan tenggorokan. Saya selalu memperhatikan minuman jus ditempat makan manapun. Ada tempat makan atau resto yang menyajikan jus yang cukup cair, terlalu banyak air dan sedikit buah. Disini jus strawberry-nya enak banget dan kental, jadi berasa makan strawberry halus, hehehhe.

Untuk Sate Kambing dan sate Kambing Buntel disajikan dengan bumbu kecap, irisan bawang merah dan sambal. Pada Sate Kambing kebanyakan memang hanya memakan bumbu kecap, baik terpisah dengan sambalnya maupun sudah dalam bentuk sambal kecap. Saya cukup menikmati rasa Sate Kambing di resto ini. Tapi, saya pribadi lebih prefer ke sate yang menggunakan bumbu kacang, seperti Sate Madura. Bagi saya, menikmati sate menjadi lebih nikmat saat bumbu kacang disiramkan di atas nasi panas daripada hanya bumbu kecap biasa. Campuran dari bumbu kacang yang lembut dengan kecap manis selalu sukses membuat diet saya gagal, karena sayang banget untuk menyisakan bumbu kacangnya. Iya kan?

Beberapa jenis sate yang sudah pernah saya makan diantaranya adalah Sate Madura, Sate Padang, Sate Ponorogo, Sate Kerang, Sate Buntel, Sate Ayam, Sate Kambing, Sate Usus dan Sate Kelinci. Setiap sate memiliki rasa uniknya masing-masing, dan semua itu tergantung dari selera. Bagaimana denganmu? Tertarik nyobain sate andalan di resto Sate Khas Senayan? Atau punya sate andalan sendiri? Share dong… (saya sudah tenggelam dalam dunia sate ini!!! )





Sate Khas Senayan
Kemang Square
Jl. Kemang Raya No. 3A Kemang,
Jakarta Selatan
021 71794717






Salam,




Lisa.

Rabu, 06 Januari 2016

Happy Bee Restaurant - Happy Place To Bee Happy



Assalamualaikum...

Happy Bee Restaurant - Java Mall Semarang
Selamat Tahun Baru 2016 yaa...

Long time no see... Kangen banget saya sama blogging, berasa lamaaa banget nggak punya waktu me time khusus buat blogging. Kemana aja? Adaa, saya cuma tidak memiliki gadget yang pas buat blogging dimana-mana sesuka saya (Ah, Alesaan!?). Hehehe.

Oke, saatnya saya membagikan cerita hasil “klayapan” saya tiga bulan ini. Hehehe. Iya, saya sempat “klayapan” ke Semarang, Malacca, Malaysia, Singapura dan Bukittinggi. Jadi aktivitas rumah tangga dan bongkar-muat koper menjadi prioritas saya diatas blogging yang memang agak sulit saya lakukan, walaupun saya memiliki smartphone yang lumayan menurut saya. Jadi aktivitas blogging saya hanya sebatas blogwalking aja kesana-kamari.

Pertengahan Nopember 2015, saya sempat jalan-jalan ke Kota Semarang ditemani oleh adik saya yang kuliah disana, jadi saya ikutan nebeng di kos adek saya (Lumayan kan ya bisa ngirit biaya hotel, hehe). Jadi saya kemana aja? Salah satunya adalah nyobain makan siang di Happy Bee Restaurant atas recommend dari adik saya.

Happy Bee Restaurant di Kota Semarang terletak di dalam Java Mall Semarang di lantai 2. Kesan pertama saat melihatnya, tatanan resto begitu apik dan bersih. Dinding resto dibalut dengan wallpaper unik bergambar beberapa menu yang tersedia dan tentunya bertuliskan Happy Be Restaurant dengan icon-nya yang berupa lebah imut. Resto yang berukuran kecil ini terdiri dari 2 buah meja besar tinggi dengan masing-masing terdiri dari 6 kursi sehingga cocok untuk acara ngumpul-ngumpul makan siang bersama dengan keluarga, teman atau rekan kerja. Agak masuk ke dalam resto, terdapat tiga meja ukuran kecil dengan sepasang kursi untuk pengunjung yang datang berdua. Bagi pengunjung yang pengen santai duduk di sofa empuk, terdapat dua meja dengan sepasang sofa pada masing-masing kiri dan kanannya.

Prawn Katsu Rice

Happy Bee Restaurant sendiri masih terbilang pemain baru di dunia kuliner ya, terbukti dari keberadaan cabangnya yang hanya ada di Kota Yogya, Solo dan Semarang. Happy Bee adalah salah satu resto yang mengusung makanan Asia sebagai signature dish-nya, beberapa menu yang sempat saya coba adalah Prawn Katsu Rice, Chicken Lemon Rice, Rainbow Chicken Soup dan Nestea Lemon (Pesennya yang hemat-hemat ini, karena adek saya maunya “berhemat”, hahaha).

Chicken Lemon Rice


Rasanya? Enak dong, apalagi kalau makannya pas lagi laper banget. Kalau saya sih, oke-oke aja, tapi kalau disuruh memilih sih, saya lebih suka yang Prawn Katsu Rice yang dipesan adek saya. Saya kurang suka dengan rasa Lemon yang ada di Chicken Lemon Rice. Mungkin saya aja yang kelewat katrok, sehingga lidah saya nggak cocok. Atau mungkin saya perlu memesan yang lebih lengkap, bukan menu “hemat”. Hehehe. Mungkin next time, semoga ada kesempatan kesana lagi.


Untuk harganya lumayan terjangkau ya untuk resto sekelas yang berada di dalam mall. Pantas saja adek saya seneng banget karena harganya sangat bersahabat untuk anak kos yang terkenal “hemat” semacam adek saya. Hehehehe. Tapi, jangan salah, tidak semuanya berharga murah meriah. Untuk bento tertentu dengan menu lengkap harganya bersaing dengan penjaja makanan di resto serupa.


Tertarik nyobain?

Yuuk, ke Happy Bee Restaurant...



Happy Bee Restaurant
Happy Place to Bee Happy
Java Mall Semarang, 2nd floor kav. 201 B
024-70778335




Salam,


Lisa.