Jumat, 29 Maret 2019

Sakit Saat Hamil


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Jadi... sejak postingan yang kemarin, soal Tips Menyuapi Bayi di Awal MPASI, saya mencoba menulis via HP, biasanya saya lebih nyaman pakai laptop kalau yang berhubungan dengan blog. Tapi karena pertimbangan ini-itu yang mungkin menghambat produktivitas saya sebagai blogger kalau harus buka laptop duluan sementara anak udah mulai aktif, nggak bisa ditinggal-tinggal lama, akhirnya terpaksa coba nulis pakai HP. 

Alhamdulillah jadi juga postingan yang kemarin itu, ada plus minusnya posting pakai HP, salah satu minusnya adalah soal edit paragraf yang jadi PR banget kalau pakai HP, jadi gemes-gemes sendiri karena nggak rapi-rapi, nggak jadi-jadi editing-nya, dibelain sampai malem-malem buat ngedit, Subhanallah 😂

Jadi mohon maaf kalau penampakan nggak memadai atau bikin nggak enak baca, soon akan diperbaiki, sesempatnya, semoga si ayah bisa dititipin anak dulu sembari emaknya ngedit blog barang sebentar via laptop 🙏🏻

Sesuai janji saya, saya akan bahas lagi printilan-printilan yang mungkin berguna buat mbak-mbak sekalian yang sedang program hamil via IVF. Sekali lagi ini Just osharing, sesuai dengan apa yang saya alami, jadi silakan hubungi dokter dan suster yang merawat jika mbak-mbak mengalami hal yang sama, serupa atau mirip dengan saya, karena saya bukan dokter, saya juga pasien, dan agar mbak-mbak dapat penanganan secepatnya kalau ada sesuatu yang dirasa tidak beres, sehingga tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dan kehamilan berjalan lancar-lancar saja, sehat wal’afiat ibu dan janinnya, Aamiin... Aamiin... ya Rabbal ‘alamiin... 🙏🏻

Soal sakit saat hamil, selama saya tinggal di Jakarta, Alhamdulillah saya jarang banget sakit. Mungkin karena saya rajin olahraga untuk mendukung program kehamilan yang saya ikuti, jadi kondisi badan saya fit banget sejak pertama kali join program. Jadi, olahraga itu penting banget ya buat menjaga kesehatan tubuh, apalagi untuk yang berencana ikut program, apapun itu, bisa IUI ataupun IVF, minimal seminggu sekali kalau saya, asal banyak mengeluarkan keringat aja.

QadarAllah saya dikasih ujian sakit justru saat hamil 18 minggu. Padahal sudah dijaga banget-banget segala-galanya, tapi mau bagaimana lagi, Allah menguji keteguhan kami dalam menjaga insyaAllah calon buah hati kami sejak saat masih dalam kandungan. Bingung, sedih, takut kenapa-kenapa, itu pasti, apalagi hamilnya hamil program IVF, kehamilan pertama buat saya, udah uring-uringan, udah hampir setres, tapi tetep harus kalem biar hormon stabil, MasyaAllah tantangan banget. 

Jadi, apa yang saya lakukan saat mengetahui saya mau sakit?
Pertama jelas LAPOR DULU KE DOKTER NANDO, dokter SpOG yang membantu program kehamilan IVF saya, yang sekaligus jadi dokter yang merawat saya. SOP Klinik Morula Jakarta jika sudah dinyatakan positif hamil, konsultasinya sudah langsung dengan dokter yang merawat ya, bukan lagi dengan suster koordinator. Jadi lebih enak, karena bisa berhubungan dengan dokternya langsung via wa, dan Alhamdulillah dokter Nando termasuk yang fast response, ya kalau ada telat-telatnya nggak mungkin sampai 30 menit, mohon dimaklumi, beliau juga manusia biasa dan pasiennya nggak cuma kita aja.

Jadi setelah lapor ke dokter yang merawat, biasanya ada instruksi langsung, apa yang harus dilakukan saat ini juga dan apa yang perlu diantisipasi jika sakit berlanjut.

Sebelum program, saya pun sudah menyampaikan ke dokter Nando kalau saya memiliki alergi dingin yang membuat saya sering bersin-bersin ketika terkena dingin, entah dinginnya cuaca atau dinginnya makanan atau minuman. Maka dari itu sejak awal program, pasca FET, saya diresepkan Medrol untuk menekan alergi saya. Alhamdulillah sangat terbantu dengan diresepkannya Medrol untuk saya, walaupun nggak bisa hilang sama sekali ya, tapi setidaknya bersin-bersin saya berkurang banyak. Walaupun segala daya upaya pencegahan sudah kami lakukan, tapiii, namanya virus yaaa... dan mungkin kondisi tubuh saya juga lagi kurang fit, jadi cepet ketularnya. 

Saya sakit apa saat hamil?
Sebenarnya sakitnya sakit biasa aja sih, sakit batuk pilek biasa, Common Cold bahasa kerennya. Cuman, karena saya lagi hamil, dan hamilnya adalah hamil program IVF, kehamilan pertama pula buat saya, kehamilan yang kami (saya dan suami saya) tunggu-tunggu, jadi kami khawatir banget. Terutama takut bayi kami kenapa-kenapa, bayi yang sudah lama kami nanti-nantikan kehadirannya diantara kami. Takut bayi kami terhentak-hentak saat saya bersin atau batuk saking ekstrimnya. Malah takut keguguran juga, untuk skenario paling buruk dalam bayangan kami, Naudzubillahiminzalik. Karena sepengetahuan kami, pas USG 4D dengan dr. Aditya Kusuma, SpOG, saya diminta batuk dengan sengaja untuk melihat respon bayi sambil di USG. Jadilah kami paham betul bagaimana keadaan bayi kami saat saya batuk atau bersin, si bayi jadi terantuk-antuk atau manggut-manggut kepalanya diikuti dengan gerakan anggotan tubuh lainnya seperti tangan dan kaki, intinya ya bayinya gerak-geraklah, ada respon sebagai akibat dari bersin atau batuk yang dilakukan ibunya. Jadi, bisa dibayangkan ya, kalau kita batuk atau bersin berkali-kali, bayi kita bakalan kayak diguncang-guncang secara sengaja dan terus menerus, kasihan, dan khawatir kalau sampai kenapa-kenapa.

Jadi..., sebisa mungkin bersin dan batuknya harus ditahan-tahan, kalau saran suster Diana, sambil megangin perut biar nggak kehentak-hentak walaupun dipegangin perutnya nggak mungkin mengurangi hentakan di rahim juga sih. Cuma kita tetep usaha aja. Kalau versi saya, saya tambahin, ketika saya batuk atau bersin, saya pegangi perut saya, saya elus setelahnya sambil minta maaf kalau kondisi saya lagi nggak fit, kalau mungkin nggak akan menyamankan dia di dalam rahim karena batuk dan bersin, saya lakukan afirmasi berulang-ulang untuk menenangkan bayi saya. Intinya adalah melakukan komunikasi dengan bayi saya, agar dia mau mengerti keadaan saya dan insyaAllah ‘masih’ mau ikut saya, ibunya, sambil berdoa semoga Allah SWT menguatkan kami berdua untuk melalui ujian sakit ini.

Alhamdulillah sakitnya cuma batuk pilek biasa, nggak pakai demam, karena saya berusaha menjaga suhu tubuh saya untuk tetap normal dengan minum banyak air putih hangat. (Sudah pernah saya bahas juga di postingan saya yang sebelum-sebelumnya ya, silakan cek aja, saya lupa di post mana, hehe).

Apa saran dari dr. Nando?
Ketika masih bersin-bersin aja, saya disarankan untuk minum rhinos atau ryvel tablet yang bisa dibeli di apotek biasa, nggak perlu di apotek klinik BIC, dengan dosis sehari sekali sebelum tidur. Karena saya sudah tidak mengkonsumsi Medrol. Saya sudah tidak diresepkan Medrol sejak kandungan saya dinyatakan ‘save’ oleh dokter Nando, kalau nggak salah di usia 10 minggu atau 12 mingguan. Jadi sejak kandungan saya dinyatakan ‘save’ oleh dokter Nando, saya hanya mengkonsumsi vitamin aja untuk obat-obatannya, selain makanan bergizi dan berbagai makanan minuman yang sudah sering saya bahas di postingan-postingan saya sebelumnya. 

Tapi saya nggak minum obat yang disarankan oleh Dokter Nando sih. Saya beli, disiapkan oleh suami saya, tapi kami sepakat saya nggak minum obat itu selama saya masih bisa menahan. Saya banyak-banyak minum air putih hangat aja. Soalnya setelah Googling sana-sini, kami jadi tahu macem-macem, sok tahu mungkin ya, terus dapat masukan juga dari Adek yang Ahli gizi tentang obat itu, kami jadi takut sendiri, akhirnya diputuskan untuk nggak minum obat tersebut. Beli cuma buat jaga-jaga aja.

Kurang lebih dua bulan kemudian saya kena flu. Udah bukan lagi bersin-bersin doang, tapi flu beneran, meler. Disarankan untuk banyak-banyak minum air putih hangat saja.

Ketika flu sudah mendingan, tenggorokan jadi sakit dan kemudian muncul batuk. Common Cold. Tanpa adanya demam. Jadi cuma batuk pilek biasa. Saya coba redakan batuknya dengan larutan jeruk nipis + kecap + garam, yang alami, pikir saya. Batuknya mendingan, banyak berkurang tapi kemudian tenggorokan jadi sakit banget dan muncul dahak yang menyebabkan muntah, tapi Alhamdulillah yang dimuntahkan hanya dahaknya aja, makanan yang saya konsumsi tidak ikut keluar. Tapi perut saya berasa agak tegang akibat seringnya batuk disertai dahak, berasa gatel banget ditenggorokan. Sebagai catatan, area perut nggak boleh kenceng atau tegang, karena kenceng atau tegang itu bisa jadi indikasi kontraksi dimana sangat kita hindari di awal-awal kehamilan, TM1 dan TM2. Beda kasus kalau kontraksi terjadi di akhir TM3 yang mungkin merupakan tanda akan melahirkan. Karena takut makin parah dan nggak terkontrol akhirnya Dokter Nando menyarankan untuk minum OBH Nelco dua kali sehari, dengan sendok takarnya, atau sesuai petunjuk pada kemasan. Jadi OBH nelco ini adalah obat batuk yang aman untuk ibu hamil. Aman disini bukan berarti boleh diminum terus saat nggak tahan sama batuknya tapi tetep ada aturannya, dua kali sehari atau maksimal tiga kali sehari kalau memang perlu. Jika tidak ada perubahan, nggak berkurang, disarankan untuk ke dr. Erik Rohmando Purba, SpPD (spesialis penyakit dalam) di RSU Bunda. Respon saya? Syok dong ya di wa begitu sama dokter Nando. Sakit batuk pilek (Common Cold) biasa aja masa mesti ke dokter spesialis penyakit dalam? Jawabannya adalah IYA, HARUS. Karena ini kondisinya sedang HAMIL, HAMIL PROGRAM IVF pula, jadi nggak bisa sembarangan, segala sesuatu yang ‘masuk’ sangat besar kemungkinannya akan mempengaruhi janin kita. Jadi nggak bisa ke dokter umum. Harus ke dokter yang ditunjuk (dr. Erik)? Kalau menurut saya sih IYA, untuk mempermudah kroscek tentang kondisi pasien yang berhubungan dengan kehamilan. Jadi sebegitu care dan telitinya dokter Nando dalam menangani pasien-pasiennya, membuat kami semakin yakin pada pilihan kami di awal, join program dengan dokter Nando.

Apa hasilnya setelah periksa ke dr. Erik Rohmando Purba, SpPD?
Memang benar Common Cold biasa, tapi karena kondisinya sedang hamil, maka yang dirawat langsung dua pasien sekaligus, ibu dan bayinya, makanya perlu ke dokter spesialis penyakit dalam. 

Common Cold disebabkan oleh virus sehingga bisa sembuh dengan sendirinya, at least 2 weeks, lama. Jadi walaupun lama waktu penyembuhannya tetap tidak diperlukan atau diresepkan antibiotik, karena antibiotik digunakan bila pasien terinfeksi sakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus, sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh dokter Nando dan yang saya pelajari dari bukunya dokter Apin. Selain itu, ibu hamil nggak diperbolehkan minum antibiotik ya, jadi ditahan aja, yang sabar.

Jadi untuk apa ke dokter spesialis penyakit dalam jika sudah tahu sakitnya akan sembuh dengan sendirinya?
Namanya juga sakit, pasti ada khawatirnya, apalagi kondisi saya sedang hamil, jadi berlipat khawatirnya, khawatir saya yang kenapa-kenapa, apalagi khawatir bayi saya yang kenapa-kenapa. Setidaknya ini hal wajar yang kami lakukan, yang kami usahakan untuk kesehatan kami (saya dan bayi saya), utamanya adalah untuk mempertahankan bayi kami. Kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Setidaknya kami jadi tahu apa yang harus kami lakukan untuk menghindari skenario terburuk. Kami ingin mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi saya dan bayi saya.

Adakah obat-obatan yang diberikan pasca periksa ke Dokter Erik?
Untuk obat-obatannya, seingat saya, semua dalam bentuk vitamin ya, nggak ada antibiotik. 

Medrol 4 mg 5 tablet
Zegavit caplet 7 caplet
Fluimucil 200 mg 15 capsule

Sedangkan OBH Nelco tetap boleh diminum 2x sehari.


OBH Nelco (image source: Google)

Selain itu, kami dibawakan juga resep obat antibiotik yang boleh ditebus nanti kalau selama dua minggu kedepan sakit saya nggak membaik atau jika ragu boleh kontrol lagi dua minggu kedepan jika masih sakit atau ada keluhan lain. 

Kami (saya dan suami saya) berusaha untuk tidak menebus resep antibiotik itu, saking nggak maunya bayi kami kenapa-kenapa. Kami sepakat, jika saya masih kuat, masih bisa menahan, maka kami sangat menghindari menebus resep antibiotik, selama belum dua minggu. Jika sudah dua minggu belum sembuh, baru kontrol lagi untuk mendapatkan penjelasan dan perawatan lanjutan.


Jenis vitamin

Jadi treatment apa yang saya lakukan dirumah?
Karena kami sangat menghindari obat-obatan selain vitamin yang dianjurkan, maka kami melakukan treatment-treatment lain yang kami pikir manjur untuk meredakan batuk dan bersin-bersin saya. 

Saya rajin-rajin minum air putih hangat banyak-banyak. Pasca pegang air misalnya setelah wudhu atau ke belakang, untuk menghindari bersin yang diakibatkan oleh dinginnya air. Selain itu, tiap malam selalu diolesin minyak kayu putih oleh suami saya. Tiap saya terbangun tengah malam karena batuk-batuk, dia langsung lari ngambil air putih hangat lanjut oles-oles punggung, tengkuk dan dada saya dengan minyak kayu putih. Kalau subuh rajin nge-hair dryer-in kaki saya pasca wudhu mau Sholat Subuh. Kaki di hair dryer? Iya, sampai seekstrim itu usaha dia untuk menjaga tubuh saya tetap hangat, sehingga nggak bersin ataupun batuk. Saya ngapain? Sibuk mengatur napas untuk menahan bersin dan batuk biar nggak terlalu mengguncang perut dan rahim. Subhanallah, luar biasa banget usaha kami kalau diingat-ingat. Lebaykah kami? Mungkin iya. Tapi saya pikir ke-lebay-an kami ini wajar, demi buah hati kami. Allah Subhanahu Wa Ta’alaa menguji kesabaran kami lebih dulu saat si Adek masih berada di dalam kandungan.

Nggak lupa saya rajin-rajin memberikan afirmasi positif, ngajak ngomong bayi saya kalau misalnya kondisi dia di dalam agak kurang nyaman karena saya sedang nggak fit, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan itu, lanjut membujuknya agar ‘tetap mau’ ikut kami. Menenangkannya, bahwa saya dan dia akan baik-baik saja, insyaAllah.

Jadi berapa lama akhirnya saya sembuhnya?
Kalau soal ini saya agak-agak lupa yaa, seminggu lebih tapi nggak sampai dua minggu.

Dr. Erik Rohmando Purba, SpPD praktek dimana?
Dr. Erik Rohmando Purba, SpPD praktek di RSU Bunda Menteng, satu komplek dengan RSIA Bunda dan Klinik BIC. Untuk jadwal prakteknya Senin-Sabtu jam 14.00-selesai. Jika ada perubahan jadwal praktek, silakan cek ke web aja yaa...


Jadi, insyaAllah begitu yaa, pengalaman sakit saya saat hamil. Apapun keluhannya, sakitnya, konsultasikan semua dengan suster dan dokter yang merawat agar cepat mendapatkan penanganan dan untuk mendapatkan obat yang tepat dan aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Mau hamilnya normal ataupun program, baiknya jangan sembarangan minum obat, konsultasikan dulu semuanya, apapun itu. Semata-mata adalah demi kesehatan ibu dan bayinya, bukan mau sok keren atau apa.

Sekian dulu, sampai jumpa di next post...



Salam,



Lisa.

Kamis, 21 Maret 2019

Cara Membuat Stories On Feed di Instagram

Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hari ini feed instagram bagus-bagus banget, MasyaAllah... semua gara-gara tema dari @uploadkompakan hari ini, #storiesonfeed

Alhamdulillah berkah untuk #ukteam dan @kompakersumut yang memberi ilmu baru, berkah juga untuk saya yang kadang-kadang ikutan upload sesuai tema. Iya kadang-kadang, biar konten yang saya bangun di instagram saya nggak campur aduk banget, tetep tentang makanan dan resep, maunya. Cuma kadang-kadang aja ada foto keluarga, anak-anak dan lain-lainnya, tapi jarang banget, dengan pengaturan #feed terbingkai atau berjarak seperti yang sudah saya lakukan, biar rapi juga tampilan Gallery-nya. Keluarga di upload juga biar ketahuan si empunya yang punya dan me-manage account instagram itu siapa, sekalian numpang nge-save juga sih. Kadang-kadang juga ada sedikit cerita soal IVF yang saya jalani, sedikit banget tapi, soalnya memang fokus kontennya ke makanan, makanya soal sharing IVF saya bahas disini. Lagian caption instagram nggak cukup buat sharing IVF yang mau saya tulis. Saya orangnya suka nulis panjang-panjang siiihhh 😅😅

Nah kan, jadi ngelantur kemana-mana. Jadi, saya mau share juga tutorialnya di blog ini, bagaimana bikin stories On feed, biar kelihatan cakep fotonya. Beneran cakep, apalagi buat user HP kayak saya, yang semua aktivitas foto yang saya upload semua pakai HP aja. Iya HP saya yang ini, yang mulai saya pakai juga untuk nulis blog, nyuri-nyuri waktu sambil nungguin anak main.

Jadi gimana soal janji nulis lagi soal IVF? Iyaa, masih On progres yaaa... Sabar... sambil ngumpulin materinya juga. Biar nggak sembarangan. Jadi kalau diikuti pun saya nggak ada beban dosa, karena insyaAllah yang di share bermanfaat, Aamiin... 

Jadiii... Seru juga ternyata main-main #storiesonfeed beginian, butuh sedikit konsentrasi untuk ngepas-ngepasin double EXPosure-nya dan agak PR juga soal healing-nya biar rapi, tapiii tetep nggak mengurangi serunya. Buat yang motret-motretnya masih pake HP kayak saya, bisa ketagihan nih, hehehe 😆

Gimana cara bikinnya? Yuuukk...

  • Buka aplikasi editing foto: Snapseed. Install dulu kalau belum punya, ada versi Apple di App Store dan versi android di Play Store, gratis.
  • Ambil/ crop foto sesuai ukuran feed IG, ukuran square/ persegi.

  • Crop lagi dengan ukuran lebih kecil di bagian yang ingin ditonjolkan, dengan perbandingan 2:3, save.



  • Kembali ke step 2/ undo ke foto ukuran feed IG, boleh pakai mode Black n White boleh enggak, save.


  • Buka IG story, add foto 2:3 atau yang ingin ditonjolkan, screenshoot.

  • Kembali ke Snapseed, buka foto hasil Snapseed yang untuk IG (hasil No. 4), klik double EXPosure, masukkan hasil screenshoot No. 5, sesuaikan ukuran hasil screenshoot dengan foto hasil No. 4, bantu dengan atur transparansi, OK.

  • Klik Healing, drag foto untuk memaksimalkan ukuran (memudahkan proses healing), heal emo wajah Emoticon yang terdapat pada hasil screenshoot IG Story, OK.

  • Selesai...

Kira-kira begitu yaaa... mudah kan? InsyaAllah bisaaa... Semoga tutorial singkat dari saya membantu ya... Awas nagih, hihihi.

On frame: Bolu Hongkong Strawberry kala itu. 

Resep menyusul yaaa, sebelas dua belas sama Bolu Hongkong Keju yang sudah pernah saya posting sebelumnya kok, nggak beda jauh.

Udah, segitu aja... selamat mencoba, semoga bermanfaat.


Salam, 



Lisa.

Senin, 25 Februari 2019

Tips Menyuapi Anak di Awal MPASI

Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Karena otak saya lagi nggak pengen diajak mikir yang berat-berat, maka saya posting yang santai aja ya... Next, sesuai janji saya, akan saya bahas lagi sharing-sharing soal IVF, file-file-nya mau dikumpulin dulu, sabar yaaa 😊
Yuuukk...

Alhamdulillah, bayi IVF kami sekarang berusia 6,5 bulan, sudah mulai makan. Sebagai ibu baru yang belum pernah punya anak sebelumnya, segala sesuatu tentang bayi jadi pengalaman baru, pengalaman pertama, termasuk soal menyuapi bayi di awal MPASI. Jadi, sekarang saya akan sharing tentang cara saya menyuapi bayi saya. But, I’m not the expert, saya cuma ingin sharing aja, based On pengalaman pribadi saya dan ilmu-ilmu yang sudah saya dapat dan pelajari soal per-MPASI-an, siapa tahu bermanfaat atau mungkin punya pengalaman mirip bahkan sama kayak saya, boleh sharing di komen yaaa... Here wE go...

Tips Menyuapi di Awal MPASI 
Don’t set higher expectations 
Karena anak baru banget mulai makan, baru mulai icip-icip makanan baru selain ASI, jadi wajar kalau nggak mau dan belum bisa menelan. Anak sedang belajar membagi rasa, ada kemungkinan anak nggak mau kenyamanannya dalam menikmati ASI tergantikan atau terenggut.

Pengalaman saya, saya nggak kasih apapun sebelum masuk usia 6 bulan, karena anaknya pun sepertinya memang belum paham soal makanan, belum siap, walaupun wajahnya sudah mupeng banget tiap lihat orang makan deket dia. Tandanya? Saya sering kasih kuah sayur yg saya makan di bibir anak saya dan dia nggak mau jilat dong, belum paham kalau itu enak dijilat, hehehe 😅

Nah di awal belajar makan, anaknya bingung, biasanya nggak pernah dikasih makanan selain ASI. Responnya? Anaknya nggak mau, teriak-teriak, mau nangis, minta tolong orang sekitar dan belum bisa nelan. Sedih? Banget. Saya set expectation terlalu tinggi, bayangan anak makan lahap selalu ada di otak saya, apalagi saya semangat banget bebikinan, anticipating banget dalam menunggu anak memasuki masa MPASI. Saya hampir stres. Saya lupa bahwa anak saya masih berada dalam tahap BELAJAR MAKAN, BELAJAR MENELAN. Jadi sebenarnya semua yang saya lalui itu wajar. Akhirnya suami saya mengingatkan saya, tentang bagaimana stresnya saya saat anak saya belajar menyusu pada saya, tentang bagaimana saya dan bayi saya sama-sama menangis untuk belajar menyusui dan menyusu, yang sekarang Alhamdulillah sudah pandai banget menyusu, direct breastfeeding. Begitu juga dengan MPASI, semua melalui suatu PROSES BELAJAR, saya dan anak saya. Saya belajar sabar, belajar telaten, anak saya belajar makan. Nggak ada yang instan. Cuma pop mie aja tuh 😂

Jangan memaksa 
Namanya juga masih dalam tahap belajar ya, jadi mungkin aja si anak masih nggak paham buka mulut, alias mangap buat nerima makanan dari sendok. Kita sih pengennya nyuapin cepet ya, anak makan lahap, tapi kalau anaknya aja masih dalam tahap belajar makan, mau mangap aja mesti dikomando, ya mana bisaaa...

Pengalaman saya, saya nih ibuknya, udah aaa... aaa... sampe capek a-a melulu, anaknya malah ketawa-ketawa, dikira ngajak bercanda, kan gemes 😂

Atau saat awal-awal nyuapin, seminggu pertama MPASI, anak saya kayak takut sendok. Begitu ada sendok mendekat anaknya udah teriak-teriak. Sedih saya. Biar nggak berlarut-larut, takut saya stres, takut anak saya juga stres, akhirnya saya pegangi sendok YANG SAMA saat mau makan, agar si anak tidak takut dengan sendok, Alhamdulillah berhasil dengan afirmasi positif berulang-ulang, walaupun dibuang-buang atau jatuh-jatuh melulu si sendok dan ibuknya harus mungutin sendok puluhan kali tiap waktu makan.

Ikutin aja alurnya, jangan paksa anak buka mulut, nggak apa-apa lama, namanya juga belajar, belum terbiasa.

Jangan terlalu terpaku pada aturan
Karena adanya isu stunting pada fase tumbuh kembang anak, yang mungkin salah satunya disebabkan oleh tidak benarnya fase MPASI, maka dokter spesialis anak (DSA) anak saya menyarankan untuk langsung memberikan menu empat bintang, tanpa melalui menu tunggal sebagai perkenalan. Karena menu tunggal dianggap sudah tidak relevan, tidak dapat memenuhi kecukupan gizi yang seharusnya diperoleh oleh bayi pada masa MPASI.

Di hari pertama, saya langsung memasak menu empat bintang dengan porsi 2 sdm takar setiap kali makan dan tekstur semi kental. Respon anak saya? Nggak mau siz... belum bisa menelan, seperti yang sudah saya ceritakan di awal. Anak saya masih dalam tahap belajar makan, belajar menelan, saat itu. Saya hampir stres, saya langsung merasa anak saya nggak suka masakan saya. Saya hampir putus asa. Akhirnya diingatkan lagi oleh suami saya, bahwa anak kami masih belajar. Akhirnya, saya ganti total rencana menu seminggu untuk anak saya. Saya siapkan Plan A, Plan B, dst. Saya siapkan menu simpel seperti Bubur Sop Ayam, sesuai rencana menu. Saya siapkan juga ASIP untuk dimakan dengan buah. Alhamdulillah anaknya mulai bisa menelan dengan menu pertama Puree Pisang dengan ASIP. Bubur Sop Ayamnya? Cuma buat icip-icipan siz... 

Terus... karena anaknya pun masih belajar menelan, belajar makan, nggak perlu kita paksain juga harus habis seporsi tiap sekali makan. Pelan-pelan aja. Memang, saya pun ditarget untuk memberikan makanan utama sebanyak 3x makan dan 2x snack (makanan selingan) dalam satu hari. Realitanya? Tetep usaha dengan 3x makan utama dan 2x snack tapi disesuaikan dengan jadwal dan respon si anak. Misalnya jadwal maksimal makan pagi adalah jam 08.00 WIB, karena anak saya makannya lama, kadang 40-60 menit kemudian baru beres, otomatis jadwal snack pertama di jam 10.00 WIB nggak akan saya berikan, karena jaraknya terlalu dekat dengan makan utama atau nenen ASI sebelumnya. Karena anak saya masih ‘nagih’ ASI pasca makan utama, padahal sudah minum air putih juga setelah makan. Dan jam 10.00 WIB adalah jadwal tidur kedua, anaknya otomatis ngantuk di jam segitu, kenyang makan, habis nenen pula, jadi jadwal snack pertama nggak mungkin saya berikan. Begitu juga dengan snack sore jam 14.30/ 15.00, tergantung bagaimana kualitas tidur siangnya. Yang pasti saya berikan adalah jadwal makan utama sebanyak 3x sehari, sedangkan snack bersifat conditional tergantung kegiatan dan respon si anak dalam sehari.


Menu 4*: Bubur Sop Ayam: 90% saring + 10% tim

Saya pun nggak memaksakan harus habis seporsi makan tiap kali makan. Semaunya anak. Selama si anak happy-happy aja, ‘masih mau’, No drama, No teriak-teriak, nggak masalah mau berapa menit. Nggak harus 30 menit. Apalagi kalau anaknya makannya lama kayak anak saya, diemut dulu. Tapi kalau penuh drama, diselingi teriak-teriak, disitu saya batasi selama 30 menit. Soal porsi pun sama, selama masih mau, lanjut terus sampai habis. Kalau nggak, saya usahakan minimal setengah porsi lah. Karena mungkin anak kurang atau nggak suka dengan menu yang kita sajikan. Oleh sebab itu perlu jurnal makan MPASI untuk menandai menu, respon dan evaluasi poop tiap harinya selama anak belajar makan.

Untuk target porsi makan pun nggak perlu khawatir karena semakin lama anak akan semakin beradaptasi, ya tubuhnya ya kapasitas lambungnya, lama-lama akan habis satu porsi. Anak saya perlu kurang dari satu minggu untuk menghabiskan satu porsi makan, begitu juga saat naik porsi dan naik tekstur, perlu adaptasi terlebih dahulu, kurang lebih satu minggu. Untuk selanjutnya insyaAllah hanya masalah Mood makan dan menu makanan yang kita sajikan.

Untuk pembatasan waktu makan, memang bertujuan untuk menyehatkan kedua belah pihak ya. Biar anak nggak stres karena dipaksa makan, karena yang diinginkan adalah mengenalkan apa dan bagaimana proses makan, bahwa makan adalah suatu kegiatan yang menyenangkan, bukan kegiatan yang membuat anak spaneng. Begitu juga untuk si ibu, biar ibu nggak stres kalau anaknya susah atau nggak mau makan. Bahasa keren dari istilah kedokterannya adalah responsive feeding.

Sedangkan On time jadwal makan berguna untuk membentuk rasa lapar dalam tubuh anak. Harapannya anak akan merasa lapar jika pada saat jamnya makan tapi belum makan.

Masak yg simpel aja sesuai menu keluarga dirumah
Karena tujuan akhirnya adalah membiasakan anak untuk makan masakan rumah, makanan yang disajikan untuk anggota keluarga atau makanan keluarga, maka masak menu yg simpel aja sesuai menu keluarga pada saat itu. Misalkan menu keluarga pada hari ini adalah Sayur Sop Ayam, maka buat juga versi buburnya dengan porsi dan tekstur sesuai usia anak, tanpa tambahan gula, garam dan merica.

Jangan buat yang ribet-ribet atau aneh-aneh, karena tujuannya adalah MEMBIASAKAN ANAK MAKAN MAKANAN KELUARGA. Jadi buat sesuai menu keluarga. Jangan mengada-adakan maksud saya, kreatif dalam hal variasi menu boleh saja asal tidak terlalu sering. Dikhawatirkan anak terbiasa makan masakan yang super-super sehingga tidak selera dengan menu rumahan yang biasa saja saat ortunya bokek, hehehe. Atau bahkan anak jadi tumbuh menjadi anak yang picky eater karena terbiasa dengan menu yg berbeda dengan menu keluarga.

Jangan terlalu idealis
Jadi begini, saya mau cerita dulu, untuk pertama kalinya anak saya kena Common Cold (batuk pilek) di usia 6m7d, saat baru banget bisa menelan, lebih lancar menelan setelah struggle di hari-hari pertama masa MPASI. Penyebabnya adalah ketularan oleh sepupunya sendiri saat kumpul-kumpul keluarga di rumah orang tua saya. Sepupunya yang sakit nggak deket-deket anak saya sih, tapi tante dan omnya, orang tua si sepupu deket-deket anak saya, gendong anak saya, sedangkan Common Cold disebabkan oleh virus. Namanya virus ya cepet banget nyebarnya, saya pun kena, apalagi anak saya yang masih bayi, masih rentan, antibodi baru terbentuk, belum terlalu kuat. Bingung, sedih, takut kenapa-kenapa, itu pasti. Tapi sebagai orang tua kita nggak boleh panik. Walaupun aslinya saya ya panik banget sih 😅

Saya nggak ke dokter ya, karena Common Cold disebabkan oleh virus yang akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, sesuai yang saya pelajari dari bukunya dokter Apin. Lagian, saya pun takut anak saya yang masih bayi tercemar obat-obatan yang tidak perlu. Saya pengennya ikhtiar yang alamiah dulu. Walaupun suami saya sudah heboh nyuruh ke dokter anak, kasihan anak saya dan kasihan saya.

Obatnya hanya sabar dan gendong, kalau versi dokter Apin. Kenapa harus gendong? Karena lubang hidung atau saluran napas akan tersumbat ketika berbaring, otomatis bayi akan terbangun lagi jika dibaringkan di tempat tidur setelah tertidur di gendongan. Solusinya adalah menggendong dengan posisi badan bayi sedikit lebih tegak sehingga bayi bisa bernafas dengan lega dan bisa tidur untuk beristirahat.

Selain itu, anak harus banyak minum agar tidak kekurangan cairan, yang artinya anak harus sering-sering menyusu, lebih sering nenen, sementara anak saya baru mulai MPASI, baru lancar menelan. Jika sering nenen otomatis akan kenyang dan kalau sudah kenyang, MPASI akan sulit dilakukan karena anak sudah kekenyangan duluan. Disini maksud saya soal jangan terlalu idealis. Bahwasanya kita akan sulit mengatur jadwal ASI dan MPASI karena anak harus banyak minum. Apalagi batuk pada bayi menyebabkan muntah yang otomatis bayi akan sering muntah atau gumoh begitu batuk. Kita bisa stres jika terlalu idealis mempertahankan jadwal MPASI. Hanya sementara saat anak sakit, kesampingkan MPASI, beri banyak asupan cairan, bisa ASI, jus, kaldu hangat, apapun yang bentuknya cair, yang penting masuk. Karena sering muntah atau gumoh dikhawatirkan bisa menyebabkan anak kurang cairan. Jika anak sudah sehat, baru kejar lagi jadwal MPASI yang tertinggal.

Saya juga pakaikan Young Living Essential Oil (yleo) juga untuk menyamankan anak saya dalam melalui Common Cold dan mem-boost imunitasnya. (Next, akan saya bahas juga soal ini). Alhamdulillah, Common Cold berlalu dengan nyaman dalam waktu kurang lebih seminggu. Aktivitas MPASI pun berjalan mulai lancar meskipun perlahan.

Jadi, inti dari tips menyuapi anak di awal MPASI ala saya adalah woles aja siz... Nggak udah terlalu spaneng, dinikmati aja, diikuti aja alurnya sesuai dengan jadwal yang sudah terbentuk pada anak. Sesuaikan dengan si anak. Kita memang pasang target, punya target tertentu, tapi terapkan secara perlahan, insyaAllah si anak pun akan mengikuti, karena proses belajar dan adaptasi juga perlu waktu. Kita saja yang orang dewasa perlu waktu dalam mempelajari sesuatu, perlu waktu untuk beradaptasi, jadi kenapa kita tidak bisa memberikan waktu sebanyak-banyaknya untuk anak kita yang masih dalam tahap belajar? 😊

Maka, tugas kita: sediakan waktu, belajar sabar dan belajar telaten. Disitulah tantangannya jadi seorang ibu, ternyata, saya pun baru mengalami. Ada rasa puas dan bangga jika anak bisa melalui suatu proses dengan lancar atas arahan dari kita. Jadi... semangat belajar menjadi orang tua... 💪🏻😘



Salam,




Lisa.

Sabtu, 19 Januari 2019

Kelahiran Bayi IVF Kami



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Wiihh lama nggak blogging, berasa kangen. Sebenarnya sudah direncanakan buat update blog, tapi yah rencana tinggal rencana. Qadarallah, adaaa aja yang harus diprioritaskan selain blogging. Maklum, emak baru, harus banyak belajar dan adaptasi. Jadi weh tahu-tahu udah selama itu, tahu-tahu udah tahun baru aja, hehehe.

Anyway, Selamat Tahun Baru 2019. Semoga segala keinginan dan resolusi saya dan temen-temen semua, pembaca blog saya dapat terkabul, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa ijinkan keinginan kita untuk menjadi nyata, Aamiin… Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamiin…

Jadi sekarang mau cerita soal apa? Tentu saja soal kelahiran si Adek dooong… member baru di keluarga kecil kami. Alhamdulillah. Yuukk…

Kelahiran Puteri Pertama Kami
Alhamdulillahhirabbil’alamiin, telah lahir dengan selamat sehat wal ‘afiat, puteri pertama kami, hasil dari keberhasilan program IVF yang kami ikuti dua tahun lalu. (Yang belum baca atau kepo kenapa kami memilih hamil dengan cara program IVF silakan baca urutannya mulai dari sini ya). MasyaaAllah, kami pun kadang masih nggak percaya, akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’alaa titipkan seorang anak kepada kami. Alhamdulillah.

Allah Subahanhu Wa Ta’alaa pun menjadikannya istimewa, mengijinkannya untuk bertemu kami pertama kalinya di dunia Hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2018 jam 13.46 WIB, selisih sehari dengan tanggal kelahiran kami berdua, otomatis jadi kado terindah dalam hidup kami. Puteri kami lahir dengan cara bedah Caesar atau Sectio Caesarian, dengan berat 3,5 kg dan panjang 52 cm. Besar yaaa, MasyaaAllah, bongsor, sesuai dengan prediksi dr. Aditya Kusuma, SpOG dan dr. Aryando Pradana, SpOG di trimester awal dan trimester kedua kehamilan saya. Dan sekarang Alhamdulillah si Adek sudah masuk usia 5 bulan. Mohon doanya ya teman-teman semua, semoga puteri kami bertumbuh dan berkembang dengan sehat wal ‘afiat. Aamiin…

Bayi IVF Kami :)

Mengapa memutuskan untuk melakukan Bedah Caesar?
Cerita dulu nih ya, jadi di trimester kedua kehamilan saya, saya sempat berkonsultasi dengan dokter Nando perihal cara melahirkan. Karena berbagai riwayat yang pernah saya alami, diantaranya riwayat Operasi Laparoskopi yang belum genap setahun, mata minus saya dan tonjolan yang ada di belakang (maaf dubur), yang mungkin memberatkan saya jikalau saya ingin melahirkan secara Normal. Jadi dokter Nando menyarankan untuk Bedah Caesar saja, cari aman.

Di trimester akhir kehamilan saya, kami (saya dan suami saya) masih mempertahankan option melahirkan secara Normal, mengusahakannya, siapa tahu masih bisa. Saya masih rajin ikut yoga prenatal, jalan-jalan tiap pagi sehabis Subuh, meminta surat keterangan Operasi Laparoskopi dari RSIA Bunda tentang jahitan di dalam rahim saya, bahkan saya mengikuti Kelas Childbirth Education by AMANI (akan saya ceritakan soon yaaa…). Qadarallah, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa berkehendak lain, dokter yang menangani saya untuk melahirkan memutuskan untuk melakukan Bedah Caesar dengan pertimbangan bayi kami adalah bayi hasil program IVF, riwayat infertilitas selama kurang lebih lima tahun, riwayat Operasi Laparoskopi, mata minus dan tonjolan yang ada di belakang (maaf dubur). Yang paling menjadi pertimbangan beliau adalah riwayat Operasi Laparoskopi, yaitu adanya bekas jahitan di rahim saya yang belum tahu pasti tepatnya dimana karena surat keterangan dan video dari RSIA Bunda tidak bisa menunjukkan dengan jelas dan tepat lokasinya, yang bisa menyebabkan pendarahan jika saya memaksa untuk melahirkan secara Normal.

Rujukan Bedah Caesar dari dr. Santi

Bagaimana perasaan saya? Yang pertama jelas takut. Bayangan terbaring di meja operasi dengan dikelilingi berbagai pisau, peralatan medis dan lampu super terang diatas kepala itu masih membekas di ingatan saya, ingatan tentang Operasi Laparoskopi yang saya jalani dua tahun lalu. Bayangan saya seperti itu kurang lebih untuk operasi Bedah Caesar. Apalagi ternyata suami saya tidak diijinkan untuk ikut menemani saya menjalani operasi Bedah Caesar. Ini yang luput dari perhatian kami. Memang, ada banyak pertimbangan dan tentu kebijakan RS juga perihal adanya anggota keluarga yang masuk ke ruang operasi. Saya bahkan sempat menangis beberapa jam sebelum operasi dijadwakan, saking stress dan takutnya saya, sendirian menghadapi proses operasi Bedah Caesar (jangan dicontoh yaa). Saya berkali-kali ke kamar mandi, saking nervous-nya, lapar juga, karena memang tidak boleh mkan beberapa jam sebelumnya, jadi makin nggak karu-karuanlah kondisi emosi saya. Suami saya dengan tenang selalu menemani saya, mengajak saya Sholat Dhuha berjamaah kemudian Sholat Dhuhur berjamaah sebelum akhirnya turun untuk melakukan prosedur medis sebelum operasi (bercukur, pasang infuse, kateter, dll).

Akhirnya saya pun digledek ke ruang operasi dengan tendangan si Adek yang masih heboh di perut (mungkin sudah nggak sabaran pengen ketemu ayah ibunya dan semua anggota keluarga yang lain, atau mungkin takut, sama kayak saya, ibunya, hehehe). Pasca dibius Spinal, saya dibaringkan telentang, di depan wajah saya dipasang gawang yang ditutupi kain hijau sehingga saya tidak dapat melihat bagaimana proses pembedahan berlangsung, kalau bisa mungkin saya yang stress, melihat perut saya diobok-obok, hahaha. Di tangan kiri saya dipasang infuse dan alat deteksi jantung, sementara tangan kanan saya bebas bergerak, jadi saya terus berdzikir sambil menggigil dengan menggunakan tangan kanan saya. Operasi berlangsung dengan diiringi alunan Murrotal, nggak lama setelahnya ada suara teriakan dan tangisan bayi saya yang sangat keras, Alhamdulillah. Seketika itu juga saya ikut menangis. Iya, saya menangis, terharu, bahwa akhirnya Allah Subhanahu Wa Ta’alaa kabulkan keinginan kami, impian kami, MasyaaAllah… Alhamdulillah.

Sakitkan suntikan Spinal atau bius lokal sebelum menjalani Bedah Caesar?
Buat saya yang sudah mengalami asam garam suntikan (cieh!), berbagai suntikan akibat program IVF, suntikan Spinal tidak lebih sakit daripada suntikan penguat rahim yang ada di pantat. Suntikan itu masih memegang peringkat satu buat saya, hehehe. Sensasi saat disuntik dan setelahnya itu membekas banget diingatan saya, sakit banget, pegel atau kemeng, gatel juga, dan itu bertahan satu sampai dua hari pasca disuntik, bahkan bisa lebih. Dan nggak boleh diapa-apain, Cuma boleh diusap-usap aja pelan-pelan, nggak boleh digaruk juga, padahal nih, gateeeelll banget-banget-banget deh.

Bagaimana cara penyuntikan bius lokal untuk Bedah Caesar?
Yang saya alami, setelah saya digledek ke ruang operasi, saya diminta duduk dengan posisi menelungkup. Saya memeluk tangan dokter anestesi yang berada horizontal dibawah leher saya, memegangi tubuh saya juga agar tidak bergerak. Sementara dokter lain, mungkin asistennya, menyuntikkan di antara tulang belakang bagian bawah, beberapa ruas dari tulang paling bawah kalau nggak salah. Pernah mendengar juga kalau tidak bisa duduk, mungkin karena suatu hal, penyuntikan bisa dilakukan dengan cara berbaring miring dengan posisi menelungkup juga sehingga tulang belakang terlihat menonjol yang memudahkan petugas mencari titik yang tepat untuk anestesi.

Bagaimana rasanya pasca anestesi Spinal?
Beberapa menit pasca anestesi Spinal, bagian bawah tubuh saya terasa kebas ya. Setelah itu dokter yang bertugas akan memegangi bagian bawah tubuh saya, ngecek, apakah kaki dan perut saya masih terasa disentuh olehnya, kalau sudah nggak terasa, baru beliau mulai melakukan operasi.
Saya sadar? Sadar doong… saya merasa kalau perut bawah saya di bedah tapi nggak merasa sakit sama sekali. Nggak lama kemudian, dokter yang berada di samping saya memberikan aba-aba, ‘tarik napas panjang… siap-siap ya bu…’ sambil menekan-nekan perut atas saya sebanyak tiga kali, kemudian terdengarlah suara jeritan dan tangisan bayi saya yang keras banget, MasyaaAllah… Alhamdulillah.

Berapa lama waktu operasi Bedah Caesar?
Berdasarkan yang saya alami, saya mulai di gledek di jam 12.30, kemudian bayi saya lahir di jam 13. 46, saya diantar ke ruang pemulihan sekitar jam duaan, hampir 14.30 dan berada di ruang pemulihan sampai kira-kira jam 16.00 atau seharusnya sekitar dua jam kurang lebih. Tetapi saya sudah bisa menggerakkan kaki saya pelan-pelan, indikator lain sebagai penanda bahwa pasien siap kembali ke kamar atau tidak ada komplikasi berarti pasca operasi Bedah Caesar. Sehingga saya boleh diantar ke kamar perawatan saya bersama suami, bayi dan keluarga saya.   

Apakah proses melahirkannya harus melalui Bedah Caesar jika mengikuti program IVF?
Saya rasa TIDAK ya, jadi tergantung kondisi tubuh dan riwayat kesehatan masing-masing pasien, dikonsultasikan saja dengan dokter kandungan masing-masing. Jika memang tidak bisa melahirkan secara Normal, jangan bersedih ataupun menyesal. Karena tujuan kita sebagai pasien dan paramedis itu sama, keselamatan ibu dan bayi. Jangan malah stress kayak saya, plis jangan dicontoh ya. Ibu harus tetap happy dan selalu diusahakan happy agar hormon tetap stabil bagus dan tentu saja agar tidak mempengaruhi kesehatan bayi kita. Jika kita stress dikhawatirkan bisa mempengaruhi bayi kita, jangan sampai bayi kita ikutan stress juga gara-gara kita. Naudzubillahiminzalik. Kita nggak pengen itu.

Kalau menurut dr. Susanti Mintarsih, SpOG atau dokter Santi, dokter yang menolong saya untuk melakukan Bedah Caesar, syarat pasien untuk dapat melahirkan Normal itu ada 3, yaitu Passenger, Passage dan Power.

Passenger adalah penumpang kalau dalam bahasa Indonesia, mengacu pada Bayi yang akan dilahirkan. Bagaimana kondisi kesehatan bayinya, apakah memungkinkan untuk melalui persalinan Normal dan tidak ada satu hal pun yang dapat menghalanginya untuk melalui persalinan Normal. Karena dalam persalinan Normal, tidak hanya si ibu yang berjuang, tetapi bayi kita pun berjuang sekuat tenaganya untuk keluar, melalui jalan lahir yang sempit, yang mungkin saja bisa mengancam jiwanya.

Passage adalah jalan lahir. Bagaimana kondisi jalan lahir yang akan dilalui oleh bayi kita. Amankah? Lancarkah? Adakah indikasi Placenta Previa? Adakah kemungkinan-kemungkinan hambatan lain yang bisa menghambat atau memperlambat proses melahirkan, yang dikhawatirkan bisa menyakiti bayi kita.

Power adalah kekuatan, mengacu pada kekuatan si calon ibu untuk menahan rasa sakit kontraksi melahirkan, kekuatan mengejan untuk mengeluarkan bayinya dan kekuatan untuk menjalani pemulihan pasca proses melahirkan.

Apakah harus melahirkan di RSIA Bunda?
TIDAK. Kalau untuk dokter Nando, dokter yang menangani program IVF saya, beliau membebaskan pasien untuk memilih, bisa melahirkan dimana saja sesuai kemauan pasien, dengan catatan pasien dan bayinya sehat, tidak ada sesuatu hal yang mengharuskan pasien dan bayinya berada dalam pantauan atau perawatan intensif dokter Nando dan team-nya.  Dan kalau bisa dan mungkin, diharapkan mencari dokter kandungan pengganti penolong persalinan yang mengenal dokter Nando, sehingga mudah untuk melakukan cross-check jikalau ada kondisi khusus tentang pasien dan bayinya. Tapi, jika memang tidak ada ya nggak apa-apa juga, Alhamdulillah saya dan bayi saya sehat. Lagian kami (saya dan suami saya) memilih untuk melahirkan di kampung halaman kami, Madiun. Kami kesulitan juga mencari dokter yang mengenal dokter Nando di Madiun, hehehe. Yasudahlah Bismillah.

Yup, saya melahirkan dengan pertolongan dr. Susanti Mintarsih, SpOG, dokter Santi dan team-nya, di RS Islam Siti Aisyah Madiun.

Jadi begitu ya, cerita soal kelahiran bayi IVF saya yang pertama. Ada yang kedua, dst? InsyaAllah…, jika Allah Subhanahu Wa Ta’alaa menghendaki saya untuk hamil melalui IVF lagi, InsyaAllah kami (saya dan suami saya) ikhlas dan tawakkal, jika memang itu takdir yang harus kami jalani. Bismillahhirrahmannirrahim.

Next, saya akan bahas persiapan melahirkan dan apa aja barang yang mesti dibawa berdasarkan rules dari RS Islam Siti Aisyah Madiun. So, Sampai jumpa di next post…



Salam,



Lisa.