Selasa, 15 Mei 2018

Proses IVF – Tahap Awal dan Suntikan Stimulus



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah, akhirnya… Mulai sekarang kita akan ngomongin soal proses ya. InsyaAllah akan saya bahas satu per satu per prosesnya, sesuai dengan pengetahuan saya dan dari apa yang saya alami sendiri. Mohon maaf juga kalau jedanya lumayan panjang, karena sibuk beberes mau pindahan dan saya ikut kelas Childbirth Education-nya AMANI Birth tiap weekend selama bulan April bareng suami saya. InsyaAllah akan saya post juga tentang AMANI Birth. Jadi yaaa gitu deh, sudah mood swing bumil naik turun, ditambah kesibukan ini itu jadi berat banget rasanya mau buka laptop. Padahal ada beberapa orang yang sudah nanyain via comment dan dm di ig saya sejak saya posting foto bareng dr. Nando dan suster Diana.

Yes, mulai saya bayar hutang sharing dan posting saya satu per satu yaa…

Yuk! Bismillahhirrahmannirrahim…

Bulan April 2017, setahun yang lalu, kami yang nggak tahu apa-apa nekat datang ke the BIC – Klinik Fertilitas Morula IVF Jakarta. Langsung daftar ke bagian admission untuk bertemu dengan dr. Aryando Pradana, SpOG, walaupun saat itu kami masih sedikit ragu apakah kami jadi akan join program IVF atau tidak.

Di bagian admission, saya dan suami diminta untuk menyerahkan KTP, Surat Nikah dan hasil screening awal, yang nantinya akan di-copy-kan oleh suster yang bertugas sebagai syarat pendaftaran awal. Alhamdulillah-nya semua berkas syarat pendaftaran itu sudah kami persiapkan dari rumah sebelumnya, berdasarkan informasi yang kami peroleh via website, kecuali untuk screening awal ya, screening awal akan di instruksikan oleh dr. Nando, tapi kalau sudah pernah melakukan beberapa tes sebelumnya, boleh dibawa dan ditunjukkan ke beliau. Salah satu yang membuat kami sedikit lega adalah bahwa mereka serius membantu kami dan karena joining program ini nggak sembarangan, harus jelas siapa pasien, suaminya, keluarganya, yang dibuktikan dari dokumen-dokumen tanda pengenal dan pernikahan secara hukum dan agama.

Selanjutnya, pasangan suami istri akan dipanggil oleh suster untuk dilakukan wawancara singkat. Apa aja yang ditanyakan? Standar aja sih kalau menurut saya. Yang pertama perihal data pribadi, untuk calon ibu: siklus menstruasi, keputihan, nyeri perut, riwayat sakit dan operasi, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin, alergi obat, pap smear, riwayat HSG, IVF dan IUI sebelumnya. Sedangkan untuk suami: sperma analysis dan hasilnya, riwayat sakit dan operasi, penyakit genital, infeksi genital, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin dan alergi obat.

Pertama kali kami datang ke klinik, kami belum join program ya, karena kami masih lumayan galau, tapi kami sudah sempat bertemu dan konsultasi dengan dr. Nando, menceritakan segala keluhan kami dan usaha apa saja yang sudah pernah kami lakukan. Dr. Nando lumayan amazed ya sama kami berdasarkan berbagai usaha yang sudah kami tempuh untuk memperoleh buah hati, karena saya sudah pernah menjalani HSG, sementara suami saya sudah pernah beberapa kali menjalani sperma analysis dan terdeteksi menderita varikokel, walaupun belum sempat menjalani operasi. Yang saya suka dan kami merasa cocok dengan dr. Nando adalah beliau tidak menghakimi, mendengarkan dengan tangan terbuka tentang segala keluhan kami dan membiarkan kami memilih. Bener, bukan dr. Nando yang menyarankan kami untuk menjalani program IVF atau IUI, tapi kami sendiri yang memilih. Beliau cukup memberikan informasi-informasi apa saja yang perlu kami tahu sebelum menjalani salah satu program. Kenapa? Kami sadar diri saja bahwa kami tidak sesehat dan sesempurna pasutri kebanyakan diluar sana yang bisa dengan mudahnya hamil setelah menikah. (Sudah pernah saya bahas juga soal ini di postingan saya sebelumnya disini. Yuuk baca dulu kalau kepo J).

Kami baru join program sebulan kemudian. Trus ngapain aja sebulan itu? Nggak banyak sih yang bisa kami lakukan. Cuma lebih banyak googling kalau suami saya, saya nggak dibolehin googling macem-macem, takut saya setres duluan, hehehe. Kami banyak quality time, banyak diskusi, banyak sholat berjamaah, banyak sholat sunnah, banyak dzikir, banyak berdoa, saling support, menguatkan dan memantapkan diri bahwa kami memang ingin serius program.

Konsultasi pertama dilakukan di haid hari ke-2 atau hari ke-3 ya, di hari itu kita akan konsultasi langsung dengan dokter yang menangani kita, USG transvaginal dan cek darah. Sejak join program, USG akan selalu dilakukan lewat bawah, via vaginal sampai hamil di usia 10 weeks. Untuk yang belum tahu nih, saya akan coba jelaskan tentang USG transvaginal.

USG transvaginal

Apa itu USG transvaginal?
USG transvaginal adalah USG yang dilakukan via vaginal, jadi alat USG-nya dimasukkan ke lubang vagina kita oleh dokter atau suster yang bertugas. Untuk pengertian secara medis, atau definisi resminya, silakan googling sendiri aja yaa… Beberapa dokter pria ada yang meminta bantuan suster untuk memasukkan alat USG ke vagina pasiennya, tapi kalau dr. Nando, beliau sendiri yang akan melakukan USG. Jadi kita diminta melepas seluruh pakaian bawah kita termasuk celana dalam, kemudian duduk dengan posisi kaki berasa di atas penyangga, suster akan menyelimuti bagian perut sampai kaki kita dengan kain, dan USG akan dimasukkan ke lubang vagina kita. Jangan berpikiran negatif duluan ke dr. Nando ya, cuma berapa detik aja beliau akan ‘ngintip’ buat memasukkan USG ke lubang vagina kita, selebihnya beliau akan fokus ke monitor USG.

Apa bedanya dengan USG biasa?
USG biasa nama medisnya adalah USG abdomen. Fungsi dilakukannya USG transvaginal itu adalah untuk melihat kondisi rahim kita lebih jelas, USG abdomen hanya bisa menangkap gambar rahim dari atas, sementara USG transvaginal bisa menangkap gambar rahim kita dari bawah beserta telur dan indung telurnya dan lebih jelas jika dibandngkan dengan USG abdomen. Jadi diujung alat USG tersebut ada semacam kameranya yang bisa mengobservasi rahim kita secara keseluruhan.

Apa aja yang terlihat dengan USG transvaginal?
Karena tujuannya adalah untuk mengikuti program IVF maka yang harus diperiksa pertama kali adalah rahim, tentang ada tidaknya gangguan di rahim kita, misalnya mioma dan kista yang mungkin saja mengganggu terjadinya kehamilan atau memberikan sedikit ruang untuk calon bayi kita tumbuh dan berkembang. Hal kedua yang diperiksa adalah jumlah telur (ovum) yang nantinya akan diambil secara keseluruhan, dari indung telur kanan dan indung telur kiri. Semakin banyak telur yang kita miliki, insyaAllah semakin bagus, artinya banyak telur yang akan dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Walaupun TIDAK ADA JAMINAN PASTI bahwa telur yang sudah dikawinkan tersebut akan berkembang dengan baik menjadi embryo, bakal calon janin kita. Hanya saja, banyaknya jumlah telur membuat kita memiliki banyak cadangan, membuat kita rest assure.

Seperti apa bentuk alat USG transvaginal?
USG transvaginal berbentuk seperti tongkat dengan ujung bulat, kayak ujung ulegan gitu, hehehe. Bulatannya kecil kok, mungkin sekitar 2-3 cm diameter bulatannya.

Sakitkah USG transvaginal?
Enggak sakit sama sekali kalau saya, hanya saja untuk pertama kalinya, memang rasanya akan sedikit tidak nyaman. Yang perlu diperhatikan adalah kita harus rileks, tidak tegang dan posisi duduk kita harus benar, InsyaAllah tidak akan sakit. Sebelum memasukkan USG transvaginal ke lubang vagina kita, USG tersebut akan dilapisi oleh semacam lapisan, mirip (maaf) kondom sih ya kalau menurut saya, kemudian di ujungnya diberi gel pelumas, jadi nggak usah khawatir sakit dan ataupun tidak steril.

Itu tadi sedikit tentang USG transvaginal ya, semoga menjawab pertanyaan dan sedikit mengurangi kekhawatiran seputar USG transvaginal. Balik lagi ke konsultasi awal ya, jadi USG transvaginalnya pun dilakukan di hari ke-2 atau hari ke-3 haid. Jadi jorok dong? Haid kan lagi banyak-banyaknya, nanti darah haid kemana-mana? Memang begitulah prosedurnya, maka dari itu suster yang bertugas membantu dokter akan meminta kita menaikkan pakaian kita agar tidak terkena noda darah haid. Kursi duduk periksa pun selalu dilapisi dengan tisu yang selalu untuk setiap pasien. Dokter Nando pun selalu memakai sarung tangan baru untuk memeriksa setiap pasiennya dan beliau pun tanpa rasa jijik meletakkan tangan kirinya untuk mengambil darah haid kita yang (mungkin) ikut terbawa keluar saat alat USG transvaginal ditarik keluar. Malu? Nggak perlu malu, semua pasien mengalami itu. Buang jauh-jauh malunya, saya selalu menganggap saya ini ‘sakit’, perlu konsultasi, perlu berobat dan tim medis perlu mengetahui segala kondisi kesehatan saya, luar dan dalam. Tapi jika memang tidak nyaman dengan dokter pria, boleh ganti dengan dokter wanita. Di klinik BIC – Morula IVF Jakarta ada beberapa dokter wanita seperti dr. Anggia Melanie Lubis, SpOG, dr. Caroline Hutomo, SpOG dan dr. Merry Amelya PS, SpOG.

Setelah kita join program, sudah konsultasi, USG dan cek darah, dokter akan memutuskan jenis obat-obatan apa yang akan kita gunakan untuk menstimulasi telur. Sebelum tindakan OPU (Ovum Pick Up/ Operasi Petik Telur), telur (ovum) kita perlu dimatangkan semua dengan obat-obatan stimulus. Jika pada saat haid normal atau biasa, kita hanya melepaskan satu telur saja untuk dibuahi, dengan program IVF kita perlu mematangkan semua cadangan telur-telur kita untuk dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Haruskah sebanyak itu? Iya. Semakin banyak yang dikawinkan tentu akan semakin bagus, karena kita tidak akan tahu pasti perkawinan telur dan sperma yang mana yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi embryo, calon janin kita. Oleh sebab itu, perlu banget memiliki jumlah telur yang banyak.

Disaat kita mulai join program, suster yang bertugas pun akan menjelaskan makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi. Untuk makanan yang harus dihindari antara lain:
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung soda dan kafein seperti teh, kopi, cokelat dan minuman bersoda lainnya.
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari kacang-kacangan dan olahannya, misalnya susu kedelai, tahu, tempe, kecap, dll.
  • Tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.

Sedangkan makanan dan minuman yang dianjurkan adalah:
  • Susu peptisol 1x sehari, dosis boleh ditambah menjadi 2x sehari jika terjadi keluhan, bisa dikonsultasikan dengan suster koordinator.
  • Makan putih telur minimal 6 butir per hari.
  • Minum air 2-3 liter per hari.
  • Mengkonsumsi makanan tinggi protein dan vitamin C.

Itu adalah makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi selama kita mengikuti program. Sampai kapan makanan dan minuman tersebut harus dikonsumsi atau dihindari? Sebagian hanya sampai OPU (Ovum Pick Up) dan sebagian yang lain sampai kehamilan kita dinyatakan safe oleh dokter, boleh konfirmasi ke suster koordinator sebelumnya untuk memastikan. Kalau saya, ada tambahan minum jus 3 diva (wortel, apel dan tomat), buah atau jus alpukat, sekali sehari setiap hari. Kita juga diwajibkan untuk menjaga kesehatan kita, diusahakan untuk tidak sakit seringan apapun. Jika ternyata sampai sakit, harus konfirmasi ke suster koordinator atau dokter yang merawat tentang obat-obatan apa saja yang boleh dikonsumsi dan berapa dosisnya. Selain itu, kita diwajibkan untuk berolahraga secara teratur 2-3 kali seminggu minimal selama 30 menit. Untuk apa? Untuk menjaga agar fisik kita tetap fit tentunya. Jika fisik kita fit, InsyaAllah harapannya hormon kita akan stabil dan bagus. Diwajibkan juga untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, tidak boleh sampai demam. Caranya? Dengan minum air 2-3 liter per hari. Jika dirasa suhu tubuh agak naik, langsung perbanyak minum air putih. Untuk masalah berhubungan dengan pasangan, masih diperbolehkan sampai H-2 tindakan OPU. Tapiii, versi saya nih ya, kami udah nggak mikirin soal berhubungan. Kenapa? Karena ada efek samping yang timbul akibat suntikan-suntikan stimulus, jadi calon ibu harus banyak-banyak istirahat, menjaga kesehatan agar tetap fit, pokoknya jangan sampai sakit aja.

Setahu saya, ada dua macam obat stimulus, Pergoveris dan Gonal. Bedanya apa? Saya kurang tahu dan kurang paham juga. Sesuai dengan kondisi saya, saya mendapatkan paket obat-obatan:

Pergoveris 300 IU                             8 hari
Cetrotide                                           4 hari
Ovidrel 250 mg                                 1 hari

Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel adalah paket obat stimulus yang saya dapatkan. Harganya? Sekitar 16 jutaan, paket obat stimulus standar. Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel merupakan obat-obatan stimulus yang berbentuk injeksi. Kalau saya, datang ke klinik setiap hari sesuai jadwalnya untuk dibantu suntik oleh suster yang bertugas. Gratis. Tidak dipungut biaya apapun. Jadi paket obat-obatan saya dititipkan di apotek klinik. Tapi, kalau rumahnya jauh dan ingin suntik sendiri dirumah atau mungkin ada orang yang bisa membantu suntik, misal suami atau keluarga lain, bisa suntik dirumah. Cara dan instruksinya akan diajari oleh suster.

Di empat hari pertama, saya mendapatkan suntikan Pergoveris. Pergoveris adalah jenis suntikan yang berguna untuk membesarkan telur (ovum). Jadi telur-telur kita dibesarkan, dimatangkan sampai ukuran tertentu. Sebesar apa? Minimal 18 mm per telur. Selama program sebelum kita berhasil hamil, kita akan dipandu oleh satu orang suster koordinator. Suster koordinator ini ibaratnya adalah asistennya dokter. Kalau saya dengan dr. Nando, maka suster koordinatornya adalah suster Vita. Satu dokter dibantu oleh satu suster koordinator. Melalui suster ini juga kita akan mendapatkan instruksi-instruksi dari dr. Nando. Selama suntik-suntik stimulus, kita akan diinstruksikan untuk melakukan beberapa kali cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau respon tubuh dan telur terhadap obat-obatan stimulus.

Di hari ke-5 suntikan akan ditambah dengan suntikan Cetrotide, jadi dalam sehari akan dilakukan dua kali suntikan. Suntikan Cetrotide berfungsi untuk menahan agar telur (ovum) tidak pecah duluan selama di trigger dengan obat stimulus Pergoveris. Suntikan ini diberikan selama empat hari sampai hari ke-8. Di hari ke-8 kita akan diminta untuk melakukan cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau kembali perkembangan telur yang di trigger dengan obat-obatan stimulus. Jika dirasa sudah cukup, sudah sesuai antara darah dan USG maka siap untuk dilakukan suntikan Ovidrel (pemecah). Kalau saya, ditambah satu lagi suntikan Pergoveris dan suntikan Cetrotide. Tambahan suntikan ini tidak termasuk dengan paket obat ya, paket obat standar hanya yang saya sebutkan sebelumnya. Jika ada pasien yang mungkin memberikan respon yang berbeda terhadap obat-obatan stimulus, suntikan obat-obatan mungkin bisa berkurang atau bertambah tergantung respon tubuh tiap pasien. Jadi kita membeli lagi kekurangan obat stimulus berdasarkan instruksi dari dr. Nando.

Suntikan Ovidrel (pemecah) diberikan atas instruksi dari dr. Nando berdasarkan hasil darah dan USG terakhir. Suntikan Ovidrel ini berfungsi untuk memecah telur, maksud memecah disini saya agak kurang paham ya, tapi sepertinya hanya memisahkan saja, bukan memecah dalam arti sebenarnya, hanya memisahkan agar tidak bergerombol-gerombol (mungkin). Suntikan Ovidrel ini agak spesial dari suntikan stimulus yang lain ya. Suntikan Ovidrel diberikan tepat 36 jam sebelum tindakan OPU. Jadi, waktu suntiknya harus benar-benar on time karena akan berhubungan langsung dengan tindakan OPU yang akan dilakukan selanjutnya.

Suntikan-suntikan stimulus diberikan di perut dengan jarak dua jari dari pusar, jadi bukan di pantat ya. Untuk pasien dengan berat badan lebih dari 70 kg, tindakan suntik akan dilakukan di paha. Untuk tepatnya di paha bagian mana, saya kurang tahu juga ya. Jika suntikan mulai dilakukan dua kali, suntikan tetap di lakukan dengan cara yang sama, tapi  jangan khawatir, suntikan tidak dilakukan ditempat yang sama. Tetap dua jari di bawah pusar tapi bisa sebelahan, tergantung suster yang bertugas, yang mana menurut suster posisi yang bagus.

Alhamdulillah… InsyaAllah begitu, rangkaian proses tahap awal sampai suntikan stimulus. Sebenarnya masih ada beberapa lagi tentang suntikan stimulus, tapi karena sudah panjang banget, takut bosen dan capek baca, jadi akan saya lanjutkan di next post ya.

Again, saya ingatkan lagi, bahwa postingan-postingan ini saya buat murni sebagai pengingat untuk kami agar kami selalu bersyukur atas apapun yang takdir Allah subhanahu wa ta’alaa tetapkan untuk kami, sekaligus untuk sharing kepada sesama survivor yang mungkin sedang atau akan menjalani program. Postingan ini didasarkan pada pengalaman pribadi kami dan informasi apa saja yang kami ketahui. Jika ada missed di satu atau dua tempat, mungkin prosedur/ SOP-nya sudah mengalami perubahan atau perkembangan. Jadi harap dimaklumi yaa…

Buat teman-teman yang ingin bertanya, komentar atau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar ya, InsyaAllah akan saya jawab sesuai dengan kemampuan dan sepengetahuan saya. Atau jika mungkin follow sosmed saya, boleh komen di sosmed saya, tapi tetep jawaban lengkapnya akan saya posting di blog, bukan di sosmed ya. Terima kasih...





Salam,




Lisa.

Sabtu, 14 April 2018

Frequently Ask Question - Tentang IVF


Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Waaahh… sudah lama banget ternyata saya nggak update blog, mohon maaf dan harap maklum yaaa… Padahal di posting sebelumnya ada janji buat cerita soal perjuangan IVF kami. Tapi qadarullah, mood swing bumil naik turun, ditambah sakit sepele yang berkepanjangan membuat saya harus istirahat total dan fokus untuk penyembuhan, demi kesehatan bersama. InsyaAllah akan saya posting juga saya sakit apa, apa dan bagaimana cara untuk merawat diri selama sakit saat hamil.

Jadi sekarang mau posting apa? Saya mau posting F.A.Q dulu aja yaaa… Frequently Ask Question yang mungkin banget ditanyakan soal Program IVF yang kami jalani. Soalnya kalau dibikin post terpisah bingung juga mau dikasih judul apa. Jadi disatuin aja disini, hehehe. Tapi, ini jawaban berdasarkan pengalaman dan sepengetahuan kami ya, kalau kami nggak tahu ya jangan marah dan sedih, bisa tanya langsung ke provider-nya, hehehe. Here we go…

Image source


F.A.Q Our IVF Journey

Program IVF dimana?
Sejujurnya, di awal rencana kami untuk melakukan program IVF, kami sama sekali buta arah. Kemana dulu, RS mana yang recommended untuk program IVF. Yang kami tahu hanya definisi program secara garis besar dan apa masalah fertilitas yang sedang kami hadapi saat itu. Sebagai catatan juga, kami bukan penduduk ibukota, kami (saya dan suami) ini orang desa yang numpang hidup di ibukota karena pekerjaan suami. Oleh sebab itu kami nggak tahu RS mana yang recommended, sama sekali blank, apalagi di ibukota, sekelas DKI Jakarta yang memiliki banyaaak banget rumah sakit besar, didukung pula dengan dokter yang ahli dibidangnya dan teknologi medis yang paling mutakhir tentunya. Nggak mungkin juga jika kami harus keliling seluruh RS kaaan… kalaupun mau tanya, bingung juga mau tanya ke siapa karena kami malu. Bener, malu, permasalahan fertilitas itu masuk ke ranah pribadi, privat, privacy. Jika kami bertanya, mau nggak mau kami pun harus menjawab dan menceritakan permasalahan kami pada lawan bicara yang kemungkinan besar kepo.

Jadi gimana dong? Bingung pasti. Qadarullah, suami saya dipertemukan dengan teman kuliahnya yang sama-sama belum memiliki buah hati dan sedang mempersiapkan untuk mengikuti program bayi tabung di klinik Morula Bandung. Disitu kami coba searching via search engine, ketemulah informasi tentang bayi tabung/ IVF, sederetan cerita tentang IVF, proses dan pilihan dokter yang ada.

Kami nggak langsung join program ya, karena keterbatasan budget seperti yang sudah kami ceritaan disini, kami harus menunggu kurang lebih satu tahun untuk kemudian memberanikan diri untuk datang ke the BIC – Klinik Fertilitas Morula IVF Jakarta.

Mengapa program di Morula?
Alasan pertama sudah tentu sama dengan jawaban pertanyaan sebelumnya ya, tahunya itu, ketemunya itu, temen suami program disitu juga, jadi kami iseng ngikutin, nyoba disitu juga. Pas kebetulan juga suami sedang ditugaskan di Jakarta, jadi sekalian, mumpung tinggal di Jakarta.

Sebenarnya, setahun yang lalu, ketika saya dan suami masih tinggal di Duri, Riau, saya pernah diajak oleh temannya teman saya untuk program di salah satu RS di Malacca, Malaysia. Menurut informasi dari teman saya, biaya program hamil di RS tersebut tergolong murah jika dibandingkan dengan RS di Jakarta, Pekanbaru dan Medan. Tapi ternyata suami saya tidak setuju dengan alasan transportasi dan akomodasi yang mungkin tidak murah, belum lagi soal makanan. Walaupun masih satu rumpun, urusan halal-haram makanan di tempat asing tentu memberatkan juga. Pas ternyata pekerjaan suami saya sulit untuk ditinggalkan sehari dua hari, sulit untuk ijin kepada atasan karena load pekerjaannya yang sedang tinggi. Begitulah, takdir dan rejeki, Allah subhanahu wa ta’alaa mengizinkan, mengatur dan mempermudah urusan kami untuk program hamil ketika kami tinggal di Jakarta. Alhamdulillah.

Dokternya siapa?
Dilema kedua adalah soal dokter. Saya agak sensitif ya kalau soal dokter, karena pengalaman dapat dokter yang nggak enak. Nggak enaknya gimana? Bukan karena dokternya yang kurag pinter atau gimana-gimana sih, saya yakin semua dokter itu pinter, mungkin saya aja yang kelewat baperan hehehe. Sebagai pasutri yang sudah kebanyakan searching ini itu, kami menganggap kami sudah ‘sok tahu soal permasalahan fertilitas’ ditambah lamanya masa tunggu yang telah kami jalani, jadi wajar dong ya kami perlu dokter yang welcome, mau mendengarkan, teliti, telaten dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya info apa saja yang perlu kami tahu tanpa meyinggung atau menyakiti perasaan kami.

Awalnya saya maunya dokter wanita, sesuai dengan syariat Islam yang jika dimungkinkan mendapatkan dokter wanita maka disunahkan untuk berobat ke dokter wanita. Begitu bunyinya kalau nggak salah ya. Tapi, mendapatkan dokter wanita dengan kriteria seperti yang saya sebutkan diatas tentu nggak mudah juga, nggak bakalan tahu kalau belum ketemu langsung kaaann…

Karena kebanyakan browsing dan searching (lagi-lagi), akhirnya saya nemu beberapa postingan dari beberapa pasien soal dr. Aryando Pradana, SpOG yang sesuai banget dengan kriteria dokter yang saya mau. Langsung lapor suami dan pindah haluan, fix, ke dr. Aryando Pradana, SpOG.

Dokter Nando sebelah kanan ya :)

Range Biaya?
Soal biaya ini pun paliiiing sering ditanyakan oleh pasien yang akan memulai suatu program. Padahal nih ya, namanya sakit, keluhan, berbeda-beda tiap pasutri. Beda pasutri beda permasalahan, beda kondisi tubuh, beda penanganan, begitu kok ya masih ngotot tanya biaya, hehehe. Kadang kalau dipikir ya aneh ya. Tapi sebagai pasien, sebagai pasutri, tetep kepo kan ya, biayanya kira-kira berapa, sebagai budget utama, dan spare biaya pun harus berapa yang harus disediakan untuk join program.

Menurut pengalaman dan permasalahan kami, dimulai dari suntik stimulus sampai saya berhasil hamil, kami sudah menghabiskan biaya kurang lebih 150 juta. Biaya itu mencakup biaya join program, paket obat standar, 1x OPU, 2x FET, tidak termasuk biaya operasi laparoskopi, cek darah dan konsul dokter. Dari pengalaman pasien lain, jika 1x FET kemudian berhasil hamil, biaya yang mereka keluarkan kurang lebih 100 juta. Biaya kami lebih mahal karena saya menjalani 2x FET, karena FET pertama kami belum berhasil. Next time akan saya ceritakan juga soal ini ya…

Pokoknya kalau soal biaya spare saja 2-3x harga promo yang ada di flyer atau banner Morula. Dan jangan khawatir, biaya itu tidak langsung di bayarkan dimuka. Pembayaran bertahap sesuai dengan proses yang sudah dijalani.

IVF bisa pakai asuransi?
Nah, saya kurang tahu ya kalau soal ini, asuransi apa yang dapat menjamin pasien IVF. Tapi di bagian admission selalu ditanyakan oleh suster yang bertugas, apakah pembayaran pribadi atau memakai asuransi. Tapi kalau dipikir-pikir sih ya, mungkin nggak ada asuransi yang mau meng-cover pasien IVF, karena tingginya biaya IVF dan ketidakpastian keberhasilan program dalam satu kali program, KECUALI jika sudah hamil. Kalau sudah hamil kan masuk tagihannya ke kontrol kehamilan. Kalau kontrol kehamilan InsyaAllah ada asuransi yang bersedia meng-cover. Untuk asuransinya apa, saya kurang tahu juga ya. Kami memakai biaya pribadi untuk program IVF yang kami jalani, tetapi ketika saya sudah berhasil hamil, saya memakai fasilitas asuransi yang diberikan oleh kantor suami, jadi lumayan banget, bisa sedikit berhemat, walaupun tidak semua di-cover. Alhamdulillah.

Nah, bagaimana dengan BPJS? Kayaknya malah nggak mungkin di-cover ya. Coba dipikir deh, berapa sih premi bulanan BPJS per pasien? Kira-kira, apa iya negara kita punya dana sebanyak itu untuk membiayai pasien IVF? Wong dari curhatan para dokter ketika program BPJS dimulai, dana BPJS aja nggak cukup untuk membeli obat-obatan tertentu yang memang dibutuhkan pasien, apalagi untuk membiayai pasien IVF, dengan biaya obat, proses dan tindakan yang sama sekali tidak murah.

Pilih gender?
Kami nggak milih gender. Saya bisa hamil saja sudah sangat bersyukur sekali, apapun gender yang Allah subhanahu wa ta’alaa kehendaki. Berhasil hamil saja sudah merupakan suatu anugerah dan keajaiban bagi kami, kami tidak berani dan tidak berniat meminta lebih. Walaupun disunahkan untuk mendefinisikan dengan jelas doa kita, apa yang kita mau, seperti apa yang kita mau kepada Dzat Yang Maha Kaya, Allah subhanahu wa ta’alaa. Tapi cukup bagi kami untuk saya berhasil melalui setiap prosesnya dengan lancar tanpa hambatan berarti, berhasil hamil, sehat, lengkap, sempurna, sehat jasmani dan rohani, tanpa kekurangan suatu apapun, apapun gender-nya. Kami ikhlaskan dan pasrahkan semuanya kepada Allah subhanahu wa ta’alaa.

Untuk teknologi pilih gender, mungkin ada ya tapi saya kurang tahu soal itu. Yang saya tahu ada teknologi untuk melakukan pengecekan kromosom, dimana kromosom calon janin kita di cek secara keseluruhan apakah bagus atau tidak. Bagus dan tidaknya darimana? Mungkin dilihat dari kemungkinan ketidaksempurnaan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Nah, bonusnya, kita bisa tahu lebiiih cepat kemungkinan gender yang dibawa oleh kromosom yang diteliti. Biaya cek kromosom kurang lebih 48 juta, berdasarkan info dari suster yang menangani saya. Untuk cek kromosomnya kapan, sebelum atau setelah proses FET, saya kurang tahu juga.

Berapa lama proses IVF?
Ini nih yang bikin bingung. Kalau proses keseluruhan jelas sangat bervariasi ya, tergantung pasutri dan kondisi kesehatan pasutrinya juga. Tapi saya akan coba jawab waktu per proses aja ya… Untuk pembahasan lengkap per proses akan saya tulis di postingan selanjutnya.

  • Konsul dan USG pertama setelah join program dimulai di hari kedua atau hari ketiga haid.
  • Suntik stimulus (pembesaran, penahan dan pemecah) telur dimulai dari haid hari kedua atau hari ketiga selama 8-10 hari berturut-turut di waktu yang telah ditentukan, lama waktu bervariasi tiap pasien tergantung dari respon telur terhadap obat-obatan stimulus.
  • Proses OPU (Ovum Pick Up/ Petik Telur) dilakukan 36 jam dari suntikan pemecah (ovidrel). Lama waktu proses OPU 20-30 menit ditambah 1-1.5 jam istirahat. Proses OPU dilakukan dengan kondisi bius total.
  • Waktu kapan tepatnya dilakukan proses ET (Embryo Transfer)/ FET (Frozen Embryo Transfer) bervariasi, tergantung kondisi rahim, hormon dan panjang siklus haid calon ibu. Jika semua kondisi terpenuhi, ET/ FET akan diinfokan oleh dokter, lama waktunya tindakan ET/ FET 10-20 menit dengan 30 menit waktu untuk minum, kandung kemih harus dalam kondisi penuh dengan menahan pipis agar rahim dapat terlihat.
  • Waktu tunggu hasil kurang lebih 2 minggu, sesuai dengan embryo yang ditransfer, apakah embryo hari ke-3 atau embryo hari ke-5.

Begitu ya gambaran waktunya, kurang lebih seperti itu, rentang waktu per proses sangat bervariasi tergantung dari permasalahan dan kondisi kesehatan masing-masing pasutri.

Sakitkah proses IVF?
Untuk proses OPU dan ET/FET bagi saya nggak sakit sama sekali, cuma memang secara teknis ada rambu-rambu dari dokter dan suster yang wajib dan perlu dipatuhi. Untuk proses OPU-nya sendiri kita dalam kondisi dibius total, tidak sadar, 1-2 jam kemudian baru dibangunkan suster untuk melakukan cek kondisi tubuh kita, jadi memang nggak terasa sakit sama sekali. Begitu juga dengan proses ET/FET, nggak sakit, hanya saja kondisi kandung kemih kita harus penuh dan perlu menahan pipis selama proses ET/FET selama beberapa menit, setelah proses selesai baru boleh pipis sambil berbaring dengan menggunakan pispot.

Adakah prosesnya yang menyakitkan? Kalau bagi saya sih ada. Dan menurut cerita dari suster dan pasien-pasien lain, suntikan-suntikan stimulus sebelum proses OPU cukup menyakitkan. Buat saya, suntikan stimulus memberikan efek pegel di perut (kemeng atau njarem kalau dalam Bahasa Jawa) selama 30-60 menitan. Jadi saya selalu mengusap-usap bekas suntikan tersebut sambil senyam-senyum nahan sakit selama 30-60 menit, hehehe. InsyaAllah cuma sebentar aja kok. Setelah itu sudah nggak terasa sakit lagi. Suntikan pengencer darah dan penguat rahim juga nggak kalah pegel rasanya, hehehe. Sebenarnya, suntikan pengencer darah (Lovenox) nggak akan terasa sakit jika masih berada di awal kehamilan, tapi rasa sakit atau pegelnya itu semakin bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan. Jadi senut-senut sedep gitulaaah, hehehe. Suntikan yang nggak kalah heboh adalah suntikan penguat rahim yang diberikan ketika pasien sudah positif hamil, jarum dan lokasi injeksi bikin sakitnya agak lebih lama dibanding suntikan lain, efek sampingnya, pegelnya bisa terasa sampai H+2 injeksi, lama yaaa…

Jadi begitu yaaa… rangkuman jawaban dari beberapa pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh pasien sebelum memulai program IVF. InsyaAllah next post akan saya posting terpisah per prosesnya berdasarkan pengalaman saya.

Buat teman-teman yang ingin bertanya, komentar atau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar ya, InsyaAllah akan saya jawab sesuai dengan kemampuan dan sepengetahuan saya. Terima kasih.




Salam,



Lisa.

Sabtu, 17 Februari 2018

Persiapan Sebelum Mengikuti Program IVF



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sudah baca postingan saya sebelumnya? Yang soal Apa dan Mengapa kami Memilih IVF? Belum? Soook, boleh mampir dulu biar nyambung sama keseluruhan perjalanan kisah kami. Tapi kalau enggak ya nggak apa-apa juga siih... Siapa tahu kepo, hehehe.

Postingan saya tentang IVF tujuannya murni buat sharing dan dokumentasi. Sharing kepada sesama #ivfsurvivor agar tidak merasa sendirian, bahwa kami pernah berada di posisi itu, meskipun masing-masing pasutri memiliki masalah kesuburan yang berbeda-beda, kami pun merasakan berbagai drama perjalanan panjang menjemput buah hati kami. Dokumentasi adalah sebagai pengingat untuk kami, bahwa kami pernah berada di titik itu, menjalani ujian-ujian yang serupa dengan #ivfsurvivor yang lain, sebagai pengingat agar kami selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur serta bertawakkal atas segala ujian-ujian Allah subhanahu wa ta’alaa yang ditujukan untuk kebaikan kami semata. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillahirrabbil’alamin. Segala Puji bagi Allah subhanahu wa ta’alaa.

Saya maunya posting sejak awal ikut program IVF, sayangnya belum dapat ijin dari Pak Suami, takut saya tambah stres mikirin posting blog atau malah curhat sedih di blog. Begitu positif pun, belum dibolehin pegang laptop juga, takut saya kecapekan, kelamaan duduk, radiasi, dsb, dsb, akhirnya ya manut aja. Baru beberapa minggu kemarin akhirnya dibolehin pegang laptop, Alhamdulillah, tapi baru nulis sebentar aja ternyata sudah pegel di pinggang, maunya lanjut besokannya, Qadarullah, bumil lemes dan mual bergantian selama beberapa hari, jadilah ketunda lumayan lama. Doakan sehat ya, biar cepet bisa sharing dan cerita macem-macem lagi di blog.

Kali ini saya akan sedikit cerita soal apa saja persiapan kami menghadapi program IVF. Pakai persiapan segala? Iya. Perlu persiapan yang matang ya, nggak asal ikut aja, ini masalah yang super sensitif dan serius. Mengingat melibatkan nyawa pasutri, nyawa yang Insya Allah akan hadir dalam rahim dan tentu saja dari segi banyaknya biaya yang harus dikeluarkan.

Keuangan
Keuangan adalah hal utama yang kami persiapkan. Budget dan spare uang HARUS CUKUP. Mengingat biaya Program IVF yang luar biasa mahal bagi kami. Kami bukan orang kaya, saya sudah lama resign dan suami saya hanya karyawan kantoran biasa. Jadi, darimana sumber keuangan kami berasal? Alhamdulillah saya suka menabung, kesukaan saya dengan menabung saya ajarkan kepada suami saya sejak kami masih pacaran, jadi kami menabung selama bertahun-tahun sejak kami pacaran, saya masih bekerja, hingga hari ini, kami selalu menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung. Ketika kami memutuskan untuk mengikuti Program IVF, budget kami pun belum cukup, kami harus menabung dulu selama kurang lebih satu tahun untuk mencapai target budget yang kami inginkan. Benar, lama dan harus sabar. Tabungan itu pun pernah mengalami surut beberapa kali untuk keperluan-keperluan mendesak sehingga keinginan kami untuk mengikuti Program IVF terpaksa kami tunda pula beberapa kali sampai terkumpul budget yang kami targetkan.

Jadi, persiapkan kecukupan keuangan yang dikhususkan untuk mengikuti Program IVF. Berapa? Untuk jumlah pastinya tiap pasutri pasti berbeda karena permasalahan masing-masing pasutri pun nggak mungkin ada yang sama persis. Tapi saya akan share juga nanti di next post ya...

Fisik
Persiapan fisik adalah hal kedua yang harus menjadi prioritas. Apanya yang mesti dipersiapkan? Berusaha untuk selalu sehat, tanpa sakit seringan apapun, terutama untuk calon ibu. Makan-makanan sehat dan olahraga teratur agar badan tetap fit. Yang penting juga adalah menjaga badan agar berada dalam batas normal index BMI. Tidak terlalu gendut dan tidak terlalu kurus. Tetapi jangan memaksakan untuk mencapai index normal BMI jikalau badan kita mungkin tidak berada di range tersebut. Kenapa? Perubahan berat badan secara mendadak dapat mempengaruhi siklus haid. Dokter perlu mengetahui siklus haid kita secara menyeluruh. Dokter juga nanti yang akan menyarankan kita untuk memperbanyak makan-makanan tertentu atau mengurangi beberapa jenis dan jumlah makanan tertentu, semata-mata dilakukan untuk menunjang keberhasilan program yang sedang kita jalani. Agak berat memang, bagi saya, tapi jika itu bisa mendekatkan diri kita untuk sejengkal saja lebih dekat untuk mencapai cita-cita hamil, kenapa tidak? Toh, tujuan utama kita adalah untuk bisa hamil, ya kaaan...

Mental
Kesiapan mental merupakan masalah yang paling sensitif menurut saya. Sulit sekali untuk menghindari stres, apalagi kalau tipe pemikir seperti saya, apa-apa dipikirin, apa-apa dikhawatirkan, takut begini, takut begitu. Perlu kerjasama dengan pasangan kalau soal ini. Saya sering mensugesti diri saya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang belum pasti, berusaha mencari kegiatan positif apapun untuk mengalihkan pikiran saya jikalau saya mulai mengkhawatirkan sesuatu. Saya pun sering diingatkan oleh suami saya, bahwa saya perlu tenang, ikhlas, pasrah dan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’alaa atas hasil apapun yang akan kami peroleh di masa depan.

Yang nggak kalah penting adalah support dari orang-orang terdekat. Jadi, pilihlah orang-orang yang benar-benar bisa men-support kita dalam menjalani program. Ini dapat membantu sekali untuk mengurangi bahkan menghilangkan sedikit kekhawatiran dan stres yang mungkin. Karena tidak semua orang bisa berempati tanpa mencaci. Tidak semua orang dalam keluarga kami tahu kami menjalani program IVF. Mengapa? Kami ini berasal dari desa, banyak anggota keluarga kami yang masih awam sekali dengan kecanggihan teknologi program IVF. Jadi, siapa yang kami beritahu? Hanya keluarga inti saja. Kami berusaha mengurangi stres yang timbul akibat anggapan-anggapan salah tentang kami dan program yang kami ikuti. Kami mengikuti program IVF karena kami menyadari bahwa kami ‘tidak sempurna’, bahwa kami ‘tidak sesehat’ yang terlihat dari luar, bukan karena kami mau sok kaya, sok pamer ataupun mau gaya-gayaan, tidak, sama sekali tidak. Yes, bisik-bisik keluarga jauh lebih menyakitkan daripada bisik-bisik tetangga, hehehe.

Yap, cuma tiga hal itu yang super penting menurut saya, detail-nya nanti akan saya share bertahap yaa...

Silakan komentar, bertanya atau bahkan sharing pengalamannya di kolom komentar. Insya Allah saya pun akan share semua, sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman saya ya... Tapi bertahap yaaa, bumil ini masih sering lemes n’ mual, mohon doanya juga biar sehat terus sampai lahiran...




Salam,


Lisa.

Kamis, 15 Februari 2018

Apa dan Mengapa Kami Memilih IVF




Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Masya Allah... lamaaa banget nggak blogging. Kangeeen banget banget sebenarnya, tapi apa daya, ada sesuatu yang sedang saya dan suami prioritaskan saat ini, jadi blogging, memasak, baking dan kegiatan rumah tangga lainnya sementara dinomorsekiankan. So, sharing resep cooking and baking-nya saya tunda dulu ya, karena memang lagi nggak aktif di dapur untuk sementara waktu, karena nggak masak, otomatis juga nggak ada yang di foto dan di share di blog, begitu juga dengan feed di Instagram. Tapi tenang, ada beberapa hasil baking dan cooking saya yang Insya Allah belum sempat di post, akan saya post bertahap. Hehehe.

Jadi sekarang mau posting apa? Sesuatu yang menjadi top priority saya dan suami selama setahun terakhir ini. Here we go...

The beginning of our story...
Sebagai pasangan suami istri yang sudah lama menikah, kehadiran buah hati tentu sangat dinanti-nantikan dalam keluarga, termasuk kami. Benar, kami belum dikaruniai seorang anak pun. Benar, saya pun belum pernah hamil sebelumnya. Alhamdulillah. Tetap Alhamdulillah, karena keadaan itu memberikan kesempatan pada kami untuk lebih bisa saling menguatkan dan bersyukur, kami bisa jalan-jalan kemanapun berdua, pacaran halal. Kami bisa jalan-jalan ke Sumatera Barat, Bukittinggi, Janjang Koto Gadang, yang nggak pernah kami bayangkan sebelumnya, kami bisa menikmati itu. Alhamdulillah. Nggak kebayang kalau seandainya saya hamil ketika kami masih berada di perantauan.

Apakah kami menundanya? Tidak. Then why? Mungkin memang belum rejeki kami dan tentu saja takdir. Kami mengira perjalanan rejeki anak untuk kami mulus-mulus saja, sama dengan pasutri kebanyakan yang langsung dikaruniai buah hati tidak lama setelah menikah. Ternyata, ujian kami jauh lebih lama, lebih berat dan penuh drama, menurut kami. Kami perlu menunggu 4.5 tahun untuk bisa menggendong bayi pertama kami. Insya Allah launching bulan Agustus 2018, mohon doanya yaaa...

Tahun pertama kami menikah, saya masih bekerja, bahkan, kami tidak pernah tinggal seatap lebih dari 6 hari selama satu tahun. Masing-masing dari kami masih bekerja, pekerjaan kami mengharuskan kami terpisah propinsi bahkan pulau. Ini kemungkinan pertama yang kami simpulkan sebagai penyebab belum hadirnya buah hati kami. Mungkin, kami terlalu sering memfokuskan diri pada urusan pekerjaan kami masing-masing, mungkin kami selalu melewatkan masa subur kami setiap kali berhubungan, mungkin juga kami terlalu lelah, mungkin, mungkin, dan kemungkinan lainnya yang kami anggap wajar saja di tahun-tahun awal pernikahan kami.

Sampai akhirnya kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter. Inipun tidak berjalan mulus. Nggak mudah memang menemukan dokter yang mau mendengarkan, menolong dan nggak cuma mengandalkan obat. Alhamdulillah. Saat itu kami dipertemukan dengan dokter wanita yang cukup terkenal di Madiun, Jawa Timur, kota kelahiran kami, dr. Susanti Mintarsih, SpOG. Menurut mertua saya, dokter Santi, panggilannya, mungkin ‘mau menolong’, nggak cuma acuh sambil memberi resep. Alhamdulillah, benar saja, ketika kami konsultasi, beliau sangat terbuka dengan kami sehingga kami sangat nyaman konsultasi dengan beliau. Insya Allah lahiran nanti rencana mau ke dr. Santi lagi. Mohon doanya ya teman-teman...

Our Problem is...
Dengan dokter Santi, saya menjalani USG abdomen dimasa subur dan masa haid, USG transvaginal dan dirujuk untuk HSG ke dr. Niken. Sementara suami saya harus menjalani tes sperma di lab untuk melihat kualitas spermanya. Dari berbagai tes organ kesuburan itu akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa saya memiliki mioma berukuran 2.4 cm dan saluran tuba falopii saya yang kiri menyempit, tetapi tidak buntu. Sementara suami saya menderita Teratozoospermia. Teratospermiaor teratozoospermia is a condition characterized by the presence of sperm with abnormal morphology that affects fertility in males. Dokter Santi tidak melakukan perawatan lebih lanjut untuk kami. Menurut kesimpulan beliau, status kesuburan kami berada di tengah-tengah, tidak bisa dikatakan subur banget ataupun tidak subur sama sekali, karena permasalahan kami dianggap hanya sebagian-sebagian saja, masih ringan. Hanya saja, suami saya diminta untuk konsultasi ke dokter spesialis Andrologi untuk mengetahui dan menjalani perawatan lebih lanjut. Nah, bagaimana dengan Mioma saya? Dokter Santi tidak menyarankan untuk mengoperasi atau mengambil mioma saya, karena dianggap tidak berbahaya, apalagi saya belum pernah hamil. Memaksakan operasi malah akan merubah kondisi alami rahim. Begitu pula dengan kondisi tuba falopii saya yang menyempit. Tidak perlu dilakukan tindakan khusus, karena dianggap masih bisa berfungsi dengan baik. Alhamdulillah.

Tahun berganti, saya memutuskan untuk resign dan mengekor kemanapun suami saya ditugaskan. Kami pun semakin merindukan kehadiran buah hati di keluarga kecil kami. Sambil terus berusaha dan berdoa semampu kami, kami pun sempat mencoba beberapa perawatan alternatif dan tentu saja mencari dokter spesialis Andrologi untuk suami saya, yang tidak bisa ditemui di kota kecil seperti Madiun, harus ke kota besar dan rumah sakit besar setidaknya.

Alternatif apa yang saya lakukan? Saya pernah pijat rahim atau perut yang katanya bisa membenarkan posisi rahim saya, yang kata si ibu tukang pijat mungkin jadi penyebab utama kami belum dikaruniai buah hati. Sakit? Banget. Seingat saya, saya hampir tidak bisa beraktivitas normal selama lebih dari seminggu. Seharusnya pemijatan dilakukan tiga sampai empat kali pijat setelah haid, tapi saya tidak mampu menahan sakitnya. Hanya sekali saja dan kemudian kapok. Hehehe. Selain itu, untuk menunjang pengobatan, saya diharuskan minum sari akar pohon jeruk nipis yang direbus dengan sedikit air. Masya Allah pahitnya minta ampuuun... dan nggak mampu minum karena pahit banget, padahal nyarinya susah banget.

Our Last Hope...
Pindah ke Jakarta, kami mulai merencanakan untuk mengikuti program lagi. Harapan kami, dengan kepindahan tugas suami saya, ada kemudahan akses untuk ke rumah sakit. Akses yang kami maksud adalah tentu karena kami percaya Jakarta memiliki banyak rumah sakit besar, dokter-dokter yang jauh lebih hebat dan teknologi medis paling mutakhir dibanding rumash sakit serupa di daerah, secara Jakarta adalah pusat pemerintahan Indonesia dan segala sesuatunya dimulai dari sini.
Kali ini kami berencana untuk mengikuti program bayi tabung (IVF).

Q & A
Apa itu IVF?
IVF (In Vitro Fertilitation) atau Bayi Tabung adalah suatu proses pembuahan sel telur oleh sperma di luar tubuh si wanita: in vitro (di dalam gelas kaca). Proses ini melibatkan proses ovulasi seorang wanita, mengambil suatu ovum atau sel-sel telur dari ovarium (indung telur) wanita dan membiarkan sperma membuahi sel-sel tersebut di dalam sebuah medium cair di laboratorium. Sel telur yang telah dibuahi (zigot) dikultur selama 2-6 hari di dalam sebuah medium pertumbuhan kemudian dipindahkan ke rahim wanita dengan tujuan menciptakan keberhasilan kehamilan. Secara definisi begitu ya. Kalau secara gampangnya, menurut sepemahaman saya, sperma pria dan sel telur wanita diambil dari dalam tubuh kemudian di pertemukan (dikawinkan) di luar tubuh yaitu melalui media tertentu di laboratorium, di biarkan berkembang sampai hari ke-3 atau ke-5 kemudian baru dimasukkan kembali ke dalam rahim wanita. 

Image Source

Mengapa kami memilih IVF?
Selain karena permasalahan kesuburan kami, tentu saja karena IVF menjadi harapan kami satu-satunya setelah berbagai usaha medis dan non-medis yang telah kami lalui tidak membuahkan hasil. Menurut kami, IVF adalah usaha fisik kami yang paling tinggi, paling maksimal untuk merayu Allah subhanahu wa ta’ala agar mengkaruniakan buah hati untuk kami, mengingat biayanya yang sangat mahal bagi kami.

Mengapa kami tidak mencoba IUI atau inseminasi dulu yang dari segi biaya tentu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya IVF?
Menurut sepengetahuan kami, kami merasa teknologi IUI atau Inseminasi tidak jauh berbeda dengan berhubungan pasutri secara normal. Karena IUI hanya mendekatkan sperma untuk membuahi ovum (sel telur) dengan sendirinya. Sementara, gangguan sperma yang dimiliki suami saya bukan karena pergerakannya ataupun kekuatan jarak ejakulasinya yang bermasalah. Jadi kami mantap memilih IVF sebagai jalan ikhtiar kami untuk menjemput buah hati kami. Dalam hal kesempatan hamil, kami menganggap IVF memiliki kesempatan lebih tinggi, karena pemindahan kembali ke dalam rahim wanita sudah dalam bentuk zigot atau hasil perkawinan sperma dan sel telur (ovum).

Waaahh, tahu-tahu sudah sebegitu panjang yaaa, nafas duluuu. Padahal masih permulaan banget, baru sharing soal what n’ why, permasalahan kesuburan dan alasan kami memilih jalan ini. Banyaak banget cara untuk hamil selain hamil normal. Mungkin pasangan A bisa hamil dengan cara pertama, pasangan B bisa hamil dengan cara kedua, pasangan C bisa hamil dengan cara ketiga, mana saja oke, mana saja boleh dicoba. Yang tidak boleh disamakan adalah HASILNYA, mungkin pasangan B sudah mencoba cara pertama, tapi rejekinya, takdir Allah swt menghendaki di cara kedua. Jangan salahkan yang memberi saran untuk mencoba cara untuk hamil, karena mereka hanya mencoba membantu. Yang paling tahu apa permasalahannya adalah pasutri sendiri, apa saja yang sudah dialami dan ikhtiar apa saja yang sudah dilalui, hanya pasutri sendiri yang tahu dan paham. Jadi jangan pernah menyalahkan dan menyamakan. Semua ada waktu dan jalannya masing-masing. yang penting tetap semangat dan jangan menyerah.

Image source

Next, saya akan sharing soal persiapan kami menjalani IVF, see u to the next post...



Salam,

Lisa.