Selasa, 15 Mei 2018

Proses IVF – Tahap Awal dan Suntikan Stimulus



Bismillahhirrahmannirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Alhamdulillah, akhirnya… Mulai sekarang kita akan ngomongin soal proses ya. InsyaAllah akan saya bahas satu per satu per prosesnya, sesuai dengan pengetahuan saya dan dari apa yang saya alami sendiri. Mohon maaf juga kalau jedanya lumayan panjang, karena sibuk beberes mau pindahan dan saya ikut kelas Childbirth Education-nya AMANI Birth tiap weekend selama bulan April bareng suami saya. InsyaAllah akan saya post juga tentang AMANI Birth. Jadi yaaa gitu deh, sudah mood swing bumil naik turun, ditambah kesibukan ini itu jadi berat banget rasanya mau buka laptop. Padahal ada beberapa orang yang sudah nanyain via comment dan dm di ig saya sejak saya posting foto bareng dr. Nando dan suster Diana.

Yes, mulai saya bayar hutang sharing dan posting saya satu per satu yaa…

Yuk! Bismillahhirrahmannirrahim…

Bulan April 2017, setahun yang lalu, kami yang nggak tahu apa-apa nekat datang ke the BIC – Klinik Fertilitas Morula IVF Jakarta. Langsung daftar ke bagian admission untuk bertemu dengan dr. Aryando Pradana, SpOG, walaupun saat itu kami masih sedikit ragu apakah kami jadi akan join program IVF atau tidak.

Di bagian admission, saya dan suami diminta untuk menyerahkan KTP, Surat Nikah dan hasil screening awal, yang nantinya akan di-copy-kan oleh suster yang bertugas sebagai syarat pendaftaran awal. Alhamdulillah-nya semua berkas syarat pendaftaran itu sudah kami persiapkan dari rumah sebelumnya, berdasarkan informasi yang kami peroleh via website, kecuali untuk screening awal ya, screening awal akan di instruksikan oleh dr. Nando, tapi kalau sudah pernah melakukan beberapa tes sebelumnya, boleh dibawa dan ditunjukkan ke beliau. Salah satu yang membuat kami sedikit lega adalah bahwa mereka serius membantu kami dan karena joining program ini nggak sembarangan, harus jelas siapa pasien, suaminya, keluarganya, yang dibuktikan dari dokumen-dokumen tanda pengenal dan pernikahan secara hukum dan agama.

Selanjutnya, pasangan suami istri akan dipanggil oleh suster untuk dilakukan wawancara singkat. Apa aja yang ditanyakan? Standar aja sih kalau menurut saya. Yang pertama perihal data pribadi, untuk calon ibu: siklus menstruasi, keputihan, nyeri perut, riwayat sakit dan operasi, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin, alergi obat, pap smear, riwayat HSG, IVF dan IUI sebelumnya. Sedangkan untuk suami: sperma analysis dan hasilnya, riwayat sakit dan operasi, penyakit genital, infeksi genital, kebiasaan merokok dan alkohol, obat-obatan rutin dan alergi obat.

Pertama kali kami datang ke klinik, kami belum join program ya, karena kami masih lumayan galau, tapi kami sudah sempat bertemu dan konsultasi dengan dr. Nando, menceritakan segala keluhan kami dan usaha apa saja yang sudah pernah kami lakukan. Dr. Nando lumayan amazed ya sama kami berdasarkan berbagai usaha yang sudah kami tempuh untuk memperoleh buah hati, karena saya sudah pernah menjalani HSG, sementara suami saya sudah pernah beberapa kali menjalani sperma analysis dan terdeteksi menderita varikokel, walaupun belum sempat menjalani operasi. Yang saya suka dan kami merasa cocok dengan dr. Nando adalah beliau tidak menghakimi, mendengarkan dengan tangan terbuka tentang segala keluhan kami dan membiarkan kami memilih. Bener, bukan dr. Nando yang menyarankan kami untuk menjalani program IVF atau IUI, tapi kami sendiri yang memilih. Beliau cukup memberikan informasi-informasi apa saja yang perlu kami tahu sebelum menjalani salah satu program. Kenapa? Kami sadar diri saja bahwa kami tidak sesehat dan sesempurna pasutri kebanyakan diluar sana yang bisa dengan mudahnya hamil setelah menikah. (Sudah pernah saya bahas juga soal ini di postingan saya sebelumnya disini. Yuuk baca dulu kalau kepo J).

Kami baru join program sebulan kemudian. Trus ngapain aja sebulan itu? Nggak banyak sih yang bisa kami lakukan. Cuma lebih banyak googling kalau suami saya, saya nggak dibolehin googling macem-macem, takut saya setres duluan, hehehe. Kami banyak quality time, banyak diskusi, banyak sholat berjamaah, banyak sholat sunnah, banyak dzikir, banyak berdoa, saling support, menguatkan dan memantapkan diri bahwa kami memang ingin serius program.

Konsultasi pertama dilakukan di haid hari ke-2 atau hari ke-3 ya, di hari itu kita akan konsultasi langsung dengan dokter yang menangani kita, USG transvaginal dan cek darah. Sejak join program, USG akan selalu dilakukan lewat bawah, via vaginal sampai hamil di usia 10 weeks. Untuk yang belum tahu nih, saya akan coba jelaskan tentang USG transvaginal.

USG transvaginal

Apa itu USG transvaginal?
USG transvaginal adalah USG yang dilakukan via vaginal, jadi alat USG-nya dimasukkan ke lubang vagina kita oleh dokter atau suster yang bertugas. Untuk pengertian secara medis, atau definisi resminya, silakan googling sendiri aja yaa… Beberapa dokter pria ada yang meminta bantuan suster untuk memasukkan alat USG ke vagina pasiennya, tapi kalau dr. Nando, beliau sendiri yang akan melakukan USG. Jadi kita diminta melepas seluruh pakaian bawah kita termasuk celana dalam, kemudian duduk dengan posisi kaki berasa di atas penyangga, suster akan menyelimuti bagian perut sampai kaki kita dengan kain, dan USG akan dimasukkan ke lubang vagina kita. Jangan berpikiran negatif duluan ke dr. Nando ya, cuma berapa detik aja beliau akan ‘ngintip’ buat memasukkan USG ke lubang vagina kita, selebihnya beliau akan fokus ke monitor USG.

Apa bedanya dengan USG biasa?
USG biasa nama medisnya adalah USG abdomen. Fungsi dilakukannya USG transvaginal itu adalah untuk melihat kondisi rahim kita lebih jelas, USG abdomen hanya bisa menangkap gambar rahim dari atas, sementara USG transvaginal bisa menangkap gambar rahim kita dari bawah beserta telur dan indung telurnya dan lebih jelas jika dibandngkan dengan USG abdomen. Jadi diujung alat USG tersebut ada semacam kameranya yang bisa mengobservasi rahim kita secara keseluruhan.

Apa aja yang terlihat dengan USG transvaginal?
Karena tujuannya adalah untuk mengikuti program IVF maka yang harus diperiksa pertama kali adalah rahim, tentang ada tidaknya gangguan di rahim kita, misalnya mioma dan kista yang mungkin saja mengganggu terjadinya kehamilan atau memberikan sedikit ruang untuk calon bayi kita tumbuh dan berkembang. Hal kedua yang diperiksa adalah jumlah telur (ovum) yang nantinya akan diambil secara keseluruhan, dari indung telur kanan dan indung telur kiri. Semakin banyak telur yang kita miliki, insyaAllah semakin bagus, artinya banyak telur yang akan dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Walaupun TIDAK ADA JAMINAN PASTI bahwa telur yang sudah dikawinkan tersebut akan berkembang dengan baik menjadi embryo, bakal calon janin kita. Hanya saja, banyaknya jumlah telur membuat kita memiliki banyak cadangan, membuat kita rest assure.

Seperti apa bentuk alat USG transvaginal?
USG transvaginal berbentuk seperti tongkat dengan ujung bulat, kayak ujung ulegan gitu, hehehe. Bulatannya kecil kok, mungkin sekitar 2-3 cm diameter bulatannya.

Sakitkah USG transvaginal?
Enggak sakit sama sekali kalau saya, hanya saja untuk pertama kalinya, memang rasanya akan sedikit tidak nyaman. Yang perlu diperhatikan adalah kita harus rileks, tidak tegang dan posisi duduk kita harus benar, InsyaAllah tidak akan sakit. Sebelum memasukkan USG transvaginal ke lubang vagina kita, USG tersebut akan dilapisi oleh semacam lapisan, mirip (maaf) kondom sih ya kalau menurut saya, kemudian di ujungnya diberi gel pelumas, jadi nggak usah khawatir sakit dan ataupun tidak steril.

Itu tadi sedikit tentang USG transvaginal ya, semoga menjawab pertanyaan dan sedikit mengurangi kekhawatiran seputar USG transvaginal. Balik lagi ke konsultasi awal ya, jadi USG transvaginalnya pun dilakukan di hari ke-2 atau hari ke-3 haid. Jadi jorok dong? Haid kan lagi banyak-banyaknya, nanti darah haid kemana-mana? Memang begitulah prosedurnya, maka dari itu suster yang bertugas membantu dokter akan meminta kita menaikkan pakaian kita agar tidak terkena noda darah haid. Kursi duduk periksa pun selalu dilapisi dengan tisu yang selalu untuk setiap pasien. Dokter Nando pun selalu memakai sarung tangan baru untuk memeriksa setiap pasiennya dan beliau pun tanpa rasa jijik meletakkan tangan kirinya untuk mengambil darah haid kita yang (mungkin) ikut terbawa keluar saat alat USG transvaginal ditarik keluar. Malu? Nggak perlu malu, semua pasien mengalami itu. Buang jauh-jauh malunya, saya selalu menganggap saya ini ‘sakit’, perlu konsultasi, perlu berobat dan tim medis perlu mengetahui segala kondisi kesehatan saya, luar dan dalam. Tapi jika memang tidak nyaman dengan dokter pria, boleh ganti dengan dokter wanita. Di klinik BIC – Morula IVF Jakarta ada beberapa dokter wanita seperti dr. Anggia Melanie Lubis, SpOG, dr. Caroline Hutomo, SpOG dan dr. Merry Amelya PS, SpOG.

Setelah kita join program, sudah konsultasi, USG dan cek darah, dokter akan memutuskan jenis obat-obatan apa yang akan kita gunakan untuk menstimulasi telur. Sebelum tindakan OPU (Ovum Pick Up/ Operasi Petik Telur), telur (ovum) kita perlu dimatangkan semua dengan obat-obatan stimulus. Jika pada saat haid normal atau biasa, kita hanya melepaskan satu telur saja untuk dibuahi, dengan program IVF kita perlu mematangkan semua cadangan telur-telur kita untuk dikawinkan dengan sperma pasangan kita. Haruskah sebanyak itu? Iya. Semakin banyak yang dikawinkan tentu akan semakin bagus, karena kita tidak akan tahu pasti perkawinan telur dan sperma yang mana yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi embryo, calon janin kita. Oleh sebab itu, perlu banget memiliki jumlah telur yang banyak.

Disaat kita mulai join program, suster yang bertugas pun akan menjelaskan makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi. Untuk makanan yang harus dihindari antara lain:
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung soda dan kafein seperti teh, kopi, cokelat dan minuman bersoda lainnya.
  • Tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari kacang-kacangan dan olahannya, misalnya susu kedelai, tahu, tempe, kecap, dll.
  • Tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok.

Sedangkan makanan dan minuman yang dianjurkan adalah:
  • Susu peptisol 1x sehari, dosis boleh ditambah menjadi 2x sehari jika terjadi keluhan, bisa dikonsultasikan dengan suster koordinator.
  • Makan putih telur minimal 6 butir per hari.
  • Minum air 2-3 liter per hari.
  • Mengkonsumsi makanan tinggi protein dan vitamin C.

Itu adalah makanan dan minuman yang wajib dihindari dan di anjurkan untuk dikonsumsi selama kita mengikuti program. Sampai kapan makanan dan minuman tersebut harus dikonsumsi atau dihindari? Sebagian hanya sampai OPU (Ovum Pick Up) dan sebagian yang lain sampai kehamilan kita dinyatakan safe oleh dokter, boleh konfirmasi ke suster koordinator sebelumnya untuk memastikan. Kalau saya, ada tambahan minum jus 3 diva (wortel, apel dan tomat), buah atau jus alpukat, sekali sehari setiap hari. Kita juga diwajibkan untuk menjaga kesehatan kita, diusahakan untuk tidak sakit seringan apapun. Jika ternyata sampai sakit, harus konfirmasi ke suster koordinator atau dokter yang merawat tentang obat-obatan apa saja yang boleh dikonsumsi dan berapa dosisnya. Selain itu, kita diwajibkan untuk berolahraga secara teratur 2-3 kali seminggu minimal selama 30 menit. Untuk apa? Untuk menjaga agar fisik kita tetap fit tentunya. Jika fisik kita fit, InsyaAllah harapannya hormon kita akan stabil dan bagus. Diwajibkan juga untuk menjaga suhu tubuh tetap normal, tidak boleh sampai demam. Caranya? Dengan minum air 2-3 liter per hari. Jika dirasa suhu tubuh agak naik, langsung perbanyak minum air putih. Untuk masalah berhubungan dengan pasangan, masih diperbolehkan sampai H-2 tindakan OPU. Tapiii, versi saya nih ya, kami udah nggak mikirin soal berhubungan. Kenapa? Karena ada efek samping yang timbul akibat suntikan-suntikan stimulus, jadi calon ibu harus banyak-banyak istirahat, menjaga kesehatan agar tetap fit, pokoknya jangan sampai sakit aja.

Setahu saya, ada dua macam obat stimulus, Pergoveris dan Gonal. Bedanya apa? Saya kurang tahu dan kurang paham juga. Sesuai dengan kondisi saya, saya mendapatkan paket obat-obatan:

Pergoveris 300 IU                             8 hari
Cetrotide                                           4 hari
Ovidrel 250 mg                                 1 hari

Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel adalah paket obat stimulus yang saya dapatkan. Harganya? Sekitar 16 jutaan, paket obat stimulus standar. Pergoveris, Cetrotide dan Ovidrel merupakan obat-obatan stimulus yang berbentuk injeksi. Kalau saya, datang ke klinik setiap hari sesuai jadwalnya untuk dibantu suntik oleh suster yang bertugas. Gratis. Tidak dipungut biaya apapun. Jadi paket obat-obatan saya dititipkan di apotek klinik. Tapi, kalau rumahnya jauh dan ingin suntik sendiri dirumah atau mungkin ada orang yang bisa membantu suntik, misal suami atau keluarga lain, bisa suntik dirumah. Cara dan instruksinya akan diajari oleh suster.

Di empat hari pertama, saya mendapatkan suntikan Pergoveris. Pergoveris adalah jenis suntikan yang berguna untuk membesarkan telur (ovum). Jadi telur-telur kita dibesarkan, dimatangkan sampai ukuran tertentu. Sebesar apa? Minimal 18 mm per telur. Selama program sebelum kita berhasil hamil, kita akan dipandu oleh satu orang suster koordinator. Suster koordinator ini ibaratnya adalah asistennya dokter. Kalau saya dengan dr. Nando, maka suster koordinatornya adalah suster Vita. Satu dokter dibantu oleh satu suster koordinator. Melalui suster ini juga kita akan mendapatkan instruksi-instruksi dari dr. Nando. Selama suntik-suntik stimulus, kita akan diinstruksikan untuk melakukan beberapa kali cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau respon tubuh dan telur terhadap obat-obatan stimulus.

Di hari ke-5 suntikan akan ditambah dengan suntikan Cetrotide, jadi dalam sehari akan dilakukan dua kali suntikan. Suntikan Cetrotide berfungsi untuk menahan agar telur (ovum) tidak pecah duluan selama di trigger dengan obat stimulus Pergoveris. Suntikan ini diberikan selama empat hari sampai hari ke-8. Di hari ke-8 kita akan diminta untuk melakukan cek darah, USG dan konsultasi dengan dr. Nando untuk memantau kembali perkembangan telur yang di trigger dengan obat-obatan stimulus. Jika dirasa sudah cukup, sudah sesuai antara darah dan USG maka siap untuk dilakukan suntikan Ovidrel (pemecah). Kalau saya, ditambah satu lagi suntikan Pergoveris dan suntikan Cetrotide. Tambahan suntikan ini tidak termasuk dengan paket obat ya, paket obat standar hanya yang saya sebutkan sebelumnya. Jika ada pasien yang mungkin memberikan respon yang berbeda terhadap obat-obatan stimulus, suntikan obat-obatan mungkin bisa berkurang atau bertambah tergantung respon tubuh tiap pasien. Jadi kita membeli lagi kekurangan obat stimulus berdasarkan instruksi dari dr. Nando.

Suntikan Ovidrel (pemecah) diberikan atas instruksi dari dr. Nando berdasarkan hasil darah dan USG terakhir. Suntikan Ovidrel ini berfungsi untuk memecah telur, maksud memecah disini saya agak kurang paham ya, tapi sepertinya hanya memisahkan saja, bukan memecah dalam arti sebenarnya, hanya memisahkan agar tidak bergerombol-gerombol (mungkin). Suntikan Ovidrel ini agak spesial dari suntikan stimulus yang lain ya. Suntikan Ovidrel diberikan tepat 36 jam sebelum tindakan OPU. Jadi, waktu suntiknya harus benar-benar on time karena akan berhubungan langsung dengan tindakan OPU yang akan dilakukan selanjutnya.

Suntikan-suntikan stimulus diberikan di perut dengan jarak dua jari dari pusar, jadi bukan di pantat ya. Untuk pasien dengan berat badan lebih dari 70 kg, tindakan suntik akan dilakukan di paha. Untuk tepatnya di paha bagian mana, saya kurang tahu juga ya. Jika suntikan mulai dilakukan dua kali, suntikan tetap di lakukan dengan cara yang sama, tapi  jangan khawatir, suntikan tidak dilakukan ditempat yang sama. Tetap dua jari di bawah pusar tapi bisa sebelahan, tergantung suster yang bertugas, yang mana menurut suster posisi yang bagus.

Alhamdulillah… InsyaAllah begitu, rangkaian proses tahap awal sampai suntikan stimulus. Sebenarnya masih ada beberapa lagi tentang suntikan stimulus, tapi karena sudah panjang banget, takut bosen dan capek baca, jadi akan saya lanjutkan di next post ya.

Again, saya ingatkan lagi, bahwa postingan-postingan ini saya buat murni sebagai pengingat untuk kami agar kami selalu bersyukur atas apapun yang takdir Allah subhanahu wa ta’alaa tetapkan untuk kami, sekaligus untuk sharing kepada sesama survivor yang mungkin sedang atau akan menjalani program. Postingan ini didasarkan pada pengalaman pribadi kami dan informasi apa saja yang kami ketahui. Jika ada missed di satu atau dua tempat, mungkin prosedur/ SOP-nya sudah mengalami perubahan atau perkembangan. Jadi harap dimaklumi yaa…

Buat teman-teman yang ingin bertanya, komentar atau memberikan tanggapan, silakan tulis di kolom komentar ya, InsyaAllah akan saya jawab sesuai dengan kemampuan dan sepengetahuan saya. Atau jika mungkin follow sosmed saya, boleh komen di sosmed saya, tapi tetep jawaban lengkapnya akan saya posting di blog, bukan di sosmed ya. Terima kasih...





Salam,




Lisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar