Bismillahhirrahmannirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh...
Alhamdulillah, akhirnya kesampean posting soal FET sebelum lahiran,
hihihi. Maklum, kadang emak masih suka galau mengingat perjuangan masa setahun
kemarin. MasyaAllah luar biasa banget buat saya, apalagi saya ini lebay dan
cengeng banget. Yuk ah, Bismillahhirrahmannirrahim…
Yang akan saya posting
ini masih soal proses FET aja ya. Karena saya menjalani dua kali FET sampai
akhirnya positif hamil, maka yang akan saya ceritakan adalah FET yang kedua
saja. Sedangkan cerita soal kegagalan saya dan mengapa saya gagal di FET
pertama InsyaAllah akan saya ceritakan kemudian di post terpisah. Tapi sebenarnya prosesnya sama kok, hanya saja,
terjadi perubahan besar, perubahan kebiasaan, apalagi soal bed rest pasca FET yang memang bener-bener harus dipatuhi, nggak
ada tawar-menawar.
Jadi apa sih
sebenarnya FET itu?
FET (Frozen
Embryo Transfer) atau Tindakan Transfer Embryo
adalah tahapan akhir dalam program IVF (In
Vitro Fertilisation) dimana embryo
yang selama ini dipantau perkembangannya di laboratorium akan dikembalikan lagi
ke dalam rahim si calon ibu. Jika dilakukan langsung tanpa pembekuan (freezing) terlebih dahulu maka disebut
dengan ET (Embryo Transfer), tapi
jika dilakukan pembekuan (freezing)
terlebih dahulu karena berbagai hal (misal, hormon tidak sesuai, menjalani
Operasi Laparoskopi dulu, memerlukan waktu observasi lebih lanjut, dll) maka
disebut dengan FET (Frozen Embryo
Transfer). Seperti yang saya lalui, karena hormon saya kebetulan sedang
tidak sesuai pasca tindakan OPU, libur Lebaran tahun 2017 dan tindakan Operasi
Laparoskopi yang dijadwalkan pada saya, maka dokter Nando menyarankan untuk
membekukan semua embryo yang kami
miliki.
Setelah menjalani Operasi Laparoskopi saya
dijadwalkan untuk datang kontrol ke dokter Nando di haid hari ke-10. Kenapa
harus di haid ke-10? Penentuan ini berdasarkan pemantauan terhadap jadwal haid
saya selama setahun terakhir. Kebetulan saya selalu mencatat kapan dan berapa
lama saya haid selama bertahun-tahun sehingga saya bisa mengontrol kalau-kalau
saya terlambat ataupun terlalu cepat kedatangan haid. Ternyata kebiasaan saya
ini sangat membantu dokter Nando untuk menentukan tanggal-tanggal mana masa
subur saya ataupun proses apapun yang mungkin berlangsung di dalam tubuh saya.
Alhamdulillah. Nah, kalau soal ini, tentu TIDAK AKAN SAMA dengan pasien manapun
ya, karena masing-masing pasien pasti
memiliki siklus haid yang berbeda-beda, panjang siklus haid dalam sebulan, lama
haid, dll PASTI BERBEDA. Jadi, setiap dokter tentu punya perhitungannya
masing-masing untuk setiap pasien. TIDAK MUNGKIN SAMA DENGAN SAYA.
Apa saja
persiapan untuk tindakan FET?
Persiapan umum tentu adalah apa yang sudah
disampaikan suster di awal join
program, tentang apa saja yang harus dihindari, apa saja yang dianjurkan untuk
dikonsumsi, olah raga teratur, dll yang sudah sering saya bahas di post-post saya sebelumnya. Silakan cek
disini.
Tapi, sebelum tindakan FET, saya dianjurkan untuk melakukan
cek gigi terlebih dahulu oleh dokter Nando. Cek gigi ini nggak boleh di skip ya, kalau bisa harus sudah beres
semua sebelum tindakan FET dijadwalkan. Mengapa harus cek gigi? Apa aja yang
harus di cek? Semua. Jadi misalnya ada yang perlu ditambal, maka ditambal, jika
ada yang perlu di cabut maka dicabut dan scaling
juga tentunya. Fungsinya? Kita berusaha untuk menghindari keluhan sakit gigi
pada saat positif hamil. Karena sakit gigi dapat memicu timbulnya kontraksi
yang sangat kita hindari di awal kehamilan. Karena kontraksi di awal kehamilan
tanpa sebab yang jelas tentu nggak boleh ya. Dikhawatirkan terjadi apa-apa
dengan kehamilan kita. Begitu…
Cek gigi dimana? Bebas. Kalau saya sih di RSU Bunda,
depan RSIA Bunda Menteng. Harapannya, dokter Nando kenal dengan dokter yang
merawat gigi saya sehingga mudah untuk melakukan kroscek jikalau ada apa-apa
dengan kehamilan saya. Naudzubillahimundzalik, kita berharap nggak ada apa-apa
yaaa.
Selain itu, saya juga diresepkan vitamin yang harus
segera dikonsumsi untuk persiapan nutrisi ibu hamil dan si calon Adek bayi,
yaitu Prohelic dan Folic Acid yang dikonsumsi sehari sekali secara terpisah,
maksudnya dikonsumsi berjeda waktunya, nggak bersamaan.
Sebelum FET dijadwalkan, kita akan melalui
berkali-kali USG transvaginal dengan dokter Nando (dokter yang merawat) dan cek
darah untuk menetukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan FET. USG
transvaginal dan cek darahnya bisa hampir setiap hari sampai tanggal FET
ditentukan. Kenapa banyak banget dan lama sekali? Jadi begini, kalau menurut
pemahaman saya dan suami saya, kalau kita berhubungan seksual biasa yang
berujung dengan kehamilan, segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah subhanahu
wa ta’alaa, SEMUANYA. Ya kondisi rahimnya, ya hormonnya, ya saluran tubanya,
darahnya, pokoknya SEMUANYA, sehingga terjadinya kehamilan memang segala
sesuatunya harus sesuai. Nah, karena ini proses fertilisasi buatan, program
kehamilan berbantu, yang segala sesuatunya dibantu dengan obat-obatan dan
pantauan tim dokter, maka tim dokter harus mencari tahu kapan waktu yang
benar-benar pas sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing pasien untuk
menanamkan embryo ke dalam rahim si
calon ibu, yang dapat mempertinggi prosentase keberhasilan program kehamilan.
Di proses ini pula kami semakin menyadari betapa besar kuasa Allah subhanahu wa
ta’alaa yang mengatur segala sesuatu di muka bumi ini. Termasuk urusan program
kehamilan saya yang saya dan suami kadang merasa lelah, lelah dan stress, lelah
menunggu dokter, lelah cek darah dan USG berkali-kali, lelah menunggu cek darah
dan semuanya yang hasilnya belum pasti, bisa bagus bisa tidak. Sementara jika
kita tahu seberapa rumitnya Allah subhanahu wa ta’alaa mengatur kehamilan
seseorang, rasanya kami ingin menangis, menangis terharu betapa rumitnya urusan
itu. Subhanallah.
Bagaimana step by step-nya?
Ketika jadwal FET sudah ditentukan, maka suster
koordinator akan menghubungi via wa, menginfokan apa saja yang harus kita
lakukan di Hari-H FET. Pada Hari-H FET pasien diminta untuk datang 1 jam
sebelumnya, membawa buku kontrol yang harus diserahkan di bagian admission di lantai 2 (admission tindakan) dan menunggu untuk
menemui pihak embriolog yang bertugas memantai embryo-embryo kita. Apa yang dibicarakan? Perkembangan embryo kita pasca freezing (proses pembekuan). Jadi 2-3 jam sebelumnya, embryo yang dibekukan akan dicairkan dan
dipantau perkembangannya, apakah bisa langsung tumbuh dan berkembang secara
normal sehingga siap untuk melalui proses tindakan FET atau malah rusak dan
tidak bisa digunakan.
Alhamdulillah kami memiliki embryo yang baik, walaupun hanya berada di grade Good, tapi embryo-embryo
kami bisa bertahan, survive melalui freezing dan pasca freezing. Alhamdulillah.
Proses tindakan FET berlangsung secara sadar ya,
tanpa anestesi, sehingga pasien boleh sarapan terlebih dahulu. Dan boleh ber-make-up tipis-tipis tapi tetap tidak
diijinkan memakai parfum. Mengapa? Mungkin nih ya, mungkin, karena ruang
tindakan berada di samping lab embryology yang mengharuskan orang-orang yang
keluar masuk ataupun dekat dengan ruangan tersebut bersih dan steril. Jadi saya
tetap berdandan ala kadarnya dan tanpa parfum.
Pasien juga perlu membawa air di botol minum untuk
diminum sebelum tindakan FET berlangsung. Karena kondisi kandung kemih harus
penuh dan tindakan FET dilakukan dengan menahan pipis agar rahim bisa terlihat
saat proses transfer embryo. Bawa
minumnya seberapa? 1 liter aja cukup sih kalau menurut saya, justru kebanyakan
atau bawa saja botol 600 ml dua buah. Dan biasanya begitu datang kita akan
langsung diminta minum air untuk memenuhkan kandung kemih. Tapi kalau menurut
saya sih, minumnya harusnya saat kita sudah masuk ke ruang tindakan, karena
menunggu dokter yang bertugas membantu kita FET biasanya lama banget, sementara
kita sudah kebelet pipis duluan. Jika kita perlu menunggu lama dokter yang
bertugas, sementara kita sudah tidak tahan untuk menahan pipis, maka boleh
minta bantuan suster untuk mengurangi jumlah pipis melalui kateter. Mengapa
tidak diijinkan dibuang secara manual atau dipipisin di toilet aja?
Dikhawatirkan kita tidak bisa mengatur pipis dan malah mengosongkan kandung
kemih jika dibiarkan untuk pipis di toilet. Sehingga perlu waktu lagi untuk
membuat kandung kemih menjadi penuh. Jadi dikurangi via kateter akan memberikan
efek sedikit lega tanpa mengosongkan kandung kemih kita. Begitu…
Tindakan FET dibantu
oleh dokter siapa?
Di FET pertama, saya dibantu dengan dokter Nando (dr.
Aryando Pradana, SpOG). Dokter Nando sangat cepat dan terampil ya, jadi saya
merasa cepet aja prosesnya selain memang keseluruhan proses hanya sekitar 10
menitan.
Di FET kedua, saya dibantu dengan dokter Irham (dr.
Irham Suhaemi, SpOG). Berbeda dengan dokter Nando, proses FET saya dengan
dokter Nando berlangsung cepat, sementara proses FET kedua saya berlangsung
sangat lama. Lama kenapa? Dokter Irham ternyata kalem banget orangnya. Entah
apa yang beliau lakukan terhadap vagina saya selain proses FET utamanya, saya
merasa beliau membersihkan vagina saya pasca FET, sehingga proses berlangsung
agak lama. Tapi justru, ternyata rejeki saya datang melalui perantara tangan
beliau. Alhamdulillah.
Saya kurang tahu dan kurang paham ya pembagian
tindakan ini kenapa bisa berganti dokter ke dokter Irham. Bukan berdasarkan request kami lho, bukan, sama sekali
bukan. Mungkin memang begitu prosedur di klinik, untuk saling membantu, atau
memang pada gilirannya. Tapi jangan khawatir, laporan akhir tetap diserahkan ke
dokter Nando atau dokter yang merawat kita dari awal, dan konfirmasi apapun
tetap bisa dilakukan dengan suster koordinator yang ditunjuk.
Prosesnya
gimana? Kita sebagai pasien diapaan aja?
Setelah semua siap, dokter yang bertugas melakukan
tindakan FET sudah datang, kita akan diminta untuk tiduran di meja tindakan
dengan posisi kaki disangga, mirip saat kita mau melalui tindakan OPU atau
tindakan Operasi Laparoskopi. Kemudian satu suster akan melakukan USG abdomen
untuk memperlihatkan rahim kita, satu suster lagi akan membantu dokter yang
bertugas.
Di proses ini, abdomen kita akan ditekan-tekan dengan
alat USG untuk memperlihatkan kondisi rahim kita sehinga kita dan dokter yang
bertugas bisa memantau proses transfer embryo melalui monitor.
Saya nggak tahu sih kita diapain aja, nggak kelihatan
juga. Hehehe. Cuma kalau dirasain, kita akan dipasangin suatu alat yang dipakai
untuk membuka vagina kita dan kemudian dipasang kateter yang dimasukkan sampai
ke rahim, kemudian cairan yang berisi embryo
kita akan disuntikkan melalui kateter tersebut sampai ke dalam rahim. Proses
ini hanya berlangsung sekitar 10-15 menit saja.
Pasca tindakan transfer embryo, kita tidak diperbolehkan langsung berdiri ya, tapi menunggu
digledek ke ruang pemulihan, walaupun cuma digituin aja. Diminta istirahat
sebentar sambil menunggu suster mengambilkan vitamin dan obat apa saja sebagai
terapi pasca FET.
Dan untuk pipisnya menunggu setelah kita dipindahkan
ke ruang pemulihan dengan menggunakan pispot. Mengapa tidak boleh pipis di
toilet atau tidak boleh langsung berdiri? Saya pernah baca di salah satu blog,
lupa di blog siapa, si pasien menolak untuk pipis dengan pispot dan ngotot
ingin pipis di toilet, mau nggak mau berdiri dan berjalan dong ya untuk menuju
toilet. Tapi ternyata ketika si pasien berdiri, dia langsung pingsan dan
kemudian harus menginap di RS selama dua hari. Saya lupa sih penyebab utamanya
apa dan apa alasan kita nggak boleh langsung bangun pasca FET. Cuma dari kisah
nyata yang saya baca di blog sih, saya nggak ingin mengalami hal yang sama
dengan pasien tersebut. Dan mungkin memang tujuannya kalau menurut saya adalah
untuk menyamankan si embryo yang
sudah dimasukkan ke rahim kita, sehingga kita wajib untuk sangat berhati-hati.
Ibaratnya nih, kita sedang menggendong embryo
kita, jadi kita wajib menyamankan dia untuk terus berada di rahim kita, untuk
ikut kita, agar dia menemukan spot untuk melakukan penempelan ke rahim kita,
InsyaAllah.
Berapakah
jumlah embryo yang dimasukkan ke
rahim saya melalui tindakan FET?
Di FET pertama, kami mencoba dengan dua embryo dengan grade Good, dengan
harapan mendapatkan bayi kembar jika Allah subhanahu wa ta’alaa mengijinkan,
atau setidaknya satu yang dapat bertahan di rahim saya. Tapi ternyata Allah
subhanahu wa ta’alaa berkehendak lain. Mungkin Allah subhanahu wa ta’alaa
menilai kami terlalu maruk dan sombong dengan menginginkan dua bayi sekaligus,
mungkin juga Allah subhanahu wa ta’alaa menilai kami belum mampu merawat dua
bayi sekaligus atau tubuh saya yang mungkin belum mampu untuk menggendong dua
sekaligus, atau entah apa, kami tidak tahu, yang pasti kami belum berhasil di
FET kami yang pertama.
Di FET yang kedua, kami ikhlaskan mencoba dengan satu
embryo kualitas Good, sambil terus berharap dan berdoa, embryo kami dapat menempel di rahim saya. Benar, kami berusaha
untuk ikhlas dan tawakkal, jika ini tidak berhasil maka mungkin kami perlu
menata hati kami kembali sambil menabung kembali, karena jujur, keuangan kami
sangat mepet. Jika Allah subhanahu wa ta’alaa menghendaki kami memiliki dua
bayi sekaligus, maka biarlah embryo
kami membelah menjadi dua menjadikannya bayi kembar identik. Tapi jika memang
Allah subhanahu wa ta’alaa menghendaki satu, maka izinkanlah kami merawat satu
bayi kami. Itu doa yang kami panjatkan di FET kedua, kami ikhlaskan dan
pasrahkan semuanya pada kehendak dan takdir Allah subhanahu wa ta’alaa. Karena
kami sedang dalam proses meminta dengan segala ikhtiar yang kami mampu, satu saja
belum tentu diberi bagaimana kami bisa dengan sombongnya langsung meminta dua
sekaligus? Astaghfirullah hal adzim.
Berapakah
maksimal embryo yang boleh ditransfer
ke tubuh pasien?
Untuk pasien dengan usia di bawah 35 tahun diijinkan
ditransfer maksimal sebanyak dua embryo.
Mentransfer dua embryo ini pun harus
dengan izin dokter yang merawat ya, nggak bisa sembarangan. Mungkin dikaitkan
juga dengan kondisi kesehatan pasien. Dan pasien pun harus paham segala
resikonya jika menginginkan ditransfer dua embryo,
misalnya kemungkinan embryo membelah
menjadi tiga, empat, dst. Seperti kita tahu bahwa kehamilan kembar dengan dua bayi
saja memiliki resiko yang besar, apalagi lebih dari dua, dalam perjalanannya,
mulai dari kehamilan sampai kelahiran perlu pantauan yang lebih intensif. Dan
biasanya embriolog yang mengawasi embryo-embryo
kita pun ikut menyarankan untuk mentransfer satu saja, karena satu embryo masih bisa membelah menjadi dua
atau lebih. Allahualam.
Sebesar apa
sih embryo yang ditransfer?
Jangan membayangkan embryo, calon janin, calon anak
kita nanti sebesar bayi tapi dengan ukuran yang sangat kecil. Bukan ya, bukan,
sama sekali bukan. Embryo yang akan
ditransfer ke tubuh calon ibu masih berupa SEL, hasil perkawinan antara sperma
dan ovum, yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sampai hari ke-3 ataupun hari
ke-5. Jadi, masih sangat kecil, ukurannya mikroskopik banget. Kalau sudah
melalui proses FET (Frozen Embryo Transfer),
kita akan melihat embryo ini masih
berupa cairan yang dimasukkan dalam tabung injeksi, yang diinjeksikan ke rahim
kita melalui kateter. Jadi, belum ada tuh ukuran berapa millimeter ataupun
centimeter. Ukuran yang bisa menyatakan satuannya adalah berapa kali
pembelahan, menjadi berapa sel, yang dijelaskan oleh embriolog sebelum proses
FET (Frozen Embryo Transfer) dilakukan.
Sakitkah
tindakan FET?
Buat saya NGGAK SAKIT SAMA SEKALI ya. Cuma, di perut
saya yang ditekan-tekan oleh suster dengan USG abdomen untuk memperlihatkan
rahim, yang agak bikin nggak tahan, karena kita harus menahan pipis. Sudah
nahan pipisnya bikin sakit eh ditekan-tekan pula. Tapiii… tetep haris ditahan
ya, mau bagaimana lagi, memang begitu prosesnya, lagian prosesnya hanya
berlangsung sekitar 10 menit, tidak lebih. Setelahnya boleh dipipisin.
Dimanakah pak suami saat kita melakukan tindakan FET?
Untuk tindakan FET, suami boleh
masuk ke ruang tindakan untuk menemani kita ya, Alhamdulillah. Jadi ada teman
ngobrol saat menunggu waktu tindakan, ada yang men-support untuk menahan pipis, dan ada yang men-support kita menjalani FET J
Apa saja terapi vitamin dan obat yang diberikan pasca tindakan FET?
Untuk terapi obat dan vitamin bisa
berbeda tiap pasiennya ya. Di FET pertama, saya di terapi Lovenox 2x seminggu,
tapi di FET kedua, atas permintaan suami saya dan hasil diskusi dengan dokter
Nando, pemberian terapi Lovenox ditingkatkan menjadi setiap hari. Kenapa?
Karena pengalaman kegagalan kami di FET pertama. Walaupun tim dokter tidak tahu
pasti apa penyebab kegagalan seorang pasien di program IVF, hanya bisa
mengira-ngira, membuat suami saya berpikir mungkin aliran nutrisi ke embryo kami kurang lancar sehingga suami
saya request untuk meningkatkan
terapi Lovenox. Dan dokter Nando menyetujuinya walaupun nggak ada jaminan peningkatan
terapi Lovenox akan meningkatkan keberhasilan kami. Tapi kami dan dokter Nando
sepakat ingin mencoba. Selain itu, alasan lainnya adalah saya mengalami
peningkatan berat badan yang cukup signifikan di rentang waktu FET pertama dan
kedua. Jadi fix, saya dapat suntikan
Lovenox setiap hari.
Terapi obat selanjutnya yang
mungkin berbeda adalah Medrol. Medrol adalah semacam obat antibiotic, anti
alergi, sepengetahuan saya. Karena saya memiliki sinus yang menjadikan saya
sering bersin-bersin di pagi hari atau saat terkena udara dingin. Dikhawatirkan
tingginya intensitas bersin saya membuat embryo
saya terhentak-hentak di rahim. Jadi saya di terapi dengan Medrol. Efeknya?
Lumayan mengurangi bersin saya setiap pagi. Sampai kapan saya diterapi Medrol?
Sampai usia kandungan saya dinyatakan aman oleh dokter Nando, kalau tidak salah
di usia 10 minggu. Ketika Medrol dihentikan saya sempat merasa khawatir ya,
karena bersin-bersinnya saya yang terlalu parah. Jadi apa pengganti alami untuk
Medrol? Minum banyak air putih hangat, sebanyak-banyaknya, terutama ketika
bangun pagi untuk Sholat Subuh, ketika biasanya bersin-bersin saya muncul.
Untuk terapi obat oral, cara
konsumsinya harus terpisah atau berjarak, tidak boleh diminum sekaligus. Dan
terapi obat Ascardia tidak diijinkan bersamaan dengan terapi suntikan Lovenox.
Ini terapi obat-obatan yang
diberikan pada saya pasca tindakan FET. Saya ingatkan sekali lagi ya, terapi
obat-obatan ini sangat mungkin berbeda dengan pasien lain, karena kondisi tubuh
yang berbeda, keluhan yang berbeda, dll. Obat-obatan ini pun saya peroleh dari
resep dokter Nando, tidak bisa dibeli bebas diluar klinik, kecuali mendapatkan
persetujuan dokter yang merawat.
Lovenox 0.6 1x1 dua jari di
bawah pusat setiap hari
Utrogestan 200 2x1 pagi
dan siang via vagina
Crinone 8% 1x1 malam via
vagina
Ascardia 1x1 oral
Prohelic 1x1 oral
Medrol 1x1 oral
Folic Acid 1x1 oral
Hydroxyprogesterone 500 2xseminggu (Senin dan Kamis)
Ovidrel ½ SC 2x1 tgl 20.11.2017 dan 22.11.2017
Kapan kita diijinkan pulang?
Kita diijinkan pulang setelah
menerima paket terapi obat dan vitamin pasca FET serta penjelasan dari suster
tentang cara minum dan pemakaian obat. Suster akan menjelaskan cara pemakaian
obat-obatan kepada kita dan menawarkan bantuan jika tidak ada yang membantu
kita. Sebelum pulang, kita akan menerima suntikan Ovidrel di perut yang
berfungsi memecah telur-telur kita, karena sudah dilakukan proses FET sehingga
suntikan Ovidrel mungkin berguna juga untuk mencegah haid kita datang. Dan
suntikan Hydroxyprogesterone di
pantat yang berfungsi sebagai penguat rahim.
Suntikan Ovidrel yang dilakukan di
perut sama dengan suntikan yang kita terima saat melakukan suntikan stimulus ya.
Suntikan paling aduhai diantara suntikan stimulus yang lain, hehehe. Sedangkan
suntikan Hydroxyprogesterone adalah
suntikan yang lebih aduhai rasanya dibanding dengan suntikan Ovidrel karena
jarum dan cc obat lebih besar sehingga lebih aduhai rasanya, hehehe. Benar ternyata,
sesuai dengan yang diceritakan oleh pasien-pasien lain yang lebih dulu melalui
tahap FET J
Soal terapi suntik lanjutan, kita
boleh melakukan suntik sendiri untuk suntikan yang dilakukan di area perut
seperti Lovenox dan Ovidrel. Suntik sendiri maksudnya jika ada suami atau
saudara yang bisa membantu malakukan suntik maka akan diajari oleh suster. Sementara
untuk suntik yang di pantat, kita tetap harus meminta bantuan suster karena
area pantat banyak memiliki syaraf-syaraf penting sehingga tidak boleh
sembarangan.
Kalau memang suami ada dan
bersedia menyuntikkan, kegiatan ini bisa meningkatkan bonding dan quality time
dengan suami lhoo, sama seperti artis Tya Ariestya yang dibantu suntik oleh
suaminya. Kalau saya, karena suami saya kerja dan keluarga tidak ada yang
berani melakukan suntik kepada saya, maka saya meminta bantuan suster untuk
datang ke rumah saya. Memanggil suster untuk melakukan suntik dirumah disebut
dengan Home Visit yang dikenai biaya
Rp 210.000/ kedatangan. Kita bisa meminta suster siapa saja, terserah kita
siapa susternya. Kalau saya pasca FET pertama saya dibantu dengan suster
Fatimah, sedangkan pasca FET kedua saya dibantu dengan suster Diana.
Kita boleh pulang setelah menerima
suntikan Ovidrel dan suntikan Hydroxyprogesterone
ya, tapi kalau misal masih ingin beristirahat, diperbolehkan kok. Karena suntikan
Ovidrel dan suntikan Hydroxyprogesterone
rasa pegelnya lumayan berasa yaa, hehehe. Kalau saya menunggu sebentar sampai
rasa pegelnya agak mereda.
Kapan hasil tindakan FET bisa diketahui?
Hasil tindakan FET bisa diketahui berdasarkan embryo hari keberapa yang dimiliki
pasien. Karena embryo yang kami
miliki adalah embryo hari ke-5 (blastocyst) maka kami diminta untuk
melakukan tes darah BHCG di hari ke-11 pasca FET, di tanggal 1 Desember 2017.
Jika embryo yang dimiliki adalah embryo hari ke-3 (Morula) maka tes darah BHCG lebih lama 2-3 hari, atau di hari
ke-14 pasca tindakan FET.
Apa itu tes darah B-HCG? Tes darah BHCG adalah tes
darah yang digunakan untuk menguji kadar hormon HCG (human chorionic gonadotropin) yang
terdapat dalam darah wanita yang positif hamil. Tes ini dilakukan lewat
pemeriksaan laboratorium dimana tes darah hCG sudah bisa menyatakan
positif hamil hanya dalam waktu 3-4 hari setelah embryo menempel di dinding
rahim karena yang memproduksi hormon tersebut adalah placenta.
Alhamdulillah… begitu ya kira-kira
proses FET, tahap akhir dari program IVF. Semoga nggak ada yang ketinggalan
atau kelupaan, semoga informasinya lengkap, tidak terpotong dan membantu
teman-teman, para calon orang tua yang akan atau sedang menjalani program.
Kalau ada yang tidak sengaja missed,
akan saya update kemudian. Sampai
jumpa di next post…
Salam,
Lisa.





