Selasa, 16 Februari 2016

Pitch Perfect from Evoca



Assalamualaikum...

Sudah pernah nonton konser paduan suara belum? Saya masih merasa happy dan excited banget nonton hasil rekaman video saya di iphone meskipun saya nonton live-nya udah berbulan-bulan yang lalu (Nah kan, ini Latepost banget, maafkan saya yang sok sibuk ini).

Jadi ceritanya pas saya jalan-jalan ke Semarang, saya diajak Adik saya nonton konser paduan suara mahasiswa kampusnya, Paduan Suara Universitas Diponegoro Semarang. Fyi, Adik saya penggemar musik-musik klasik dan semacam paduan suara. Adik saya juga pengen nonton konsernya temennya yang merupakan anggota dari PSM Undip Semarang. Nah saya, yang nggak pernah nonton konser paduan suara, jelas mau-mau aja diajakin, apalagi kalau gratis, ya kan? Eh, nggak ding, yang bayarin Adik saya sih. Hehehe. Cuzz berangkat...

Konser paduan suara yang dipersembahkan oleh Diponegoro University Choir ini bertajuk “EVOCA” Post Competition Concert: 3rd Karangturi Choir Games 2015. Nah, PSM Undip mencoba untuk menggelar sebuah konser pasca kompetisi 3rd Karangturi Choir Games 2015 yang diadakan tanggal 5 – 7 Nopember 2015 di Semarang. Konser “EVOCA” yang bertemakan evolusi ini bertujuan untuk memperkenalkan lagu baru beserta karakter yang juga baru untuk PSM Undip, dimana sebelumnya PSM Undip lebih menggemari lagu-lagu yang bertemakan folklore (lagu daerah/ lagu rakyat). Melalui “EVOCA” PSM Undip ingin mengubah image mereka dengan memperkenalkan lagu-lagu yang bertemakan sakra maupun lagu-lagu kontemporer yang memiliki karakter berbeda dengan lagu bertemakan folklore. Harapannya, melalui konser ini, PSM Undip dapat mengembangkan prestasinya bukan hanya pada genre folklore namun juga berkembang pada genre yang lain.

PSM Undip telah mengantongi berbagai macam prestasi paduan suara baik di dalam maupun di luar negeri. Jadi pantaslah diacungi dua jempol dari saya untuk PSM Undip atas sepak terjangnya di kacah paduan suara nasional maupun internasional. Saya pun jadi bertanya-tanya pada diri saya sendiri, kemana aja? Adaa, hanya saja budget saya saat kuliah dulu nggak “nyampe” buat beli tiket konser PSM kampus saya, bukan karena terlalu mahal, tapi saya lebih memilih untuk menggunakannya di jalur lain, hehehe.

Tiket konser “EVOCA” terbagi dalam beberapa kelas. Kelas paling bagus view-nya untuk nonton konser disebut dengan kelas Platinum dengan harga tiket sebesar Rp 125.000,00. Kelas kedua disebut dengan Gold yaitu seharga Rp 100.000,00 dan kelas terakhir adalah Silver dengan harga Rp. 75.000,00. Harga tiket tersebut disesuaikan dengan denah tempat duduk masing-masing kelas tiket yang ditunjukkan oleh si pemandu dan ditandai juga dengan sebuah papan penanda. Kalau mau yang dekat dengan panggung ya beli yang Platinum, tapi yang Gold pun oke, karena yang Gold dan Platinum jaraknya tidak terlalu jauh, hanya saja penempatan Gold agak ke tengah. Sementara untuk kelas Silver, denah tempat duduk terletak di bagian samping dan belakang, sangat jauh dari panggung. Saya rasa worth it ya, harga tiket dengan konser yang menyenangkan ini. Saya pun langsung pengen nonton film Pitch Perfect dan mendadak nge-fans sama Pentatonix (An American a cappella group) gara-gara “EVOCA”. Hehehe.

Tiket dan booklet panduan konser EVOCA
Yuk, balik lagi dengan “EVOCA”. Konser paduan suara “EVOCA” terbagi menjadi empat sesi dengan masing-masing satu lagu untuk opening dan closing. Pada sesi pertama, penonton akan disuguhi dengan lagu-lagu yang bertema folklore yaitu Cublak-Cublak Suweng, Minoi-Minoi, Anging Mamiri dan Tak Tong Tong. Saya pribadi lebih menyukai lagu-lagu paduan suara dari genre ini, karena seru dan menarik. Anggota paduan suara akan bernyanyi disertai dengan sedikit koreografi seperti perpindahan posisi berdiri ke duduk, tarian, tepuk tangan dan hentakan kaki. Sehingga suasana konser menjadi lebih hidup. Hal ini sesuai dengan tema folklore yang merupakan perwujudan dari lagu daerah atau lagu rakyat yang kebanyakan memiliki nada ceria dan riang gembira.

Sesi kedua, ketiga dan keempat, penonton mulai diperkenalkan dengan genre baru yang menjadi tujuan evolusi dari PSM Undip yaitu lagu-lagu yang bertemakan sakra maupun lagu-lagu kontemporer yang lebih halus dan merdu layaknya paduan suara pada umumnya, tidak banyak bahkan tidak ada koreografinya. Tapi tetap tidak kalah menarik dengan lagu-lagu yang bertemakan folklore. Saya pun masih tetap bisa menikmatinya, meskipun saya tidak paham apa artinya karena lagu yang dibawakan ada yang menggunakan Bahasa Jepang dan bahasa lain entah Jerman atau Perancis. Saya pun terhanyut dalam lagu yang mereka bawakan. It was worth to be there that day!

Setelah saya ingat-ingat, ternyata saya hanya memiliki dua kali kesempatan untuk nonton konser paduan suara. Konser paduan suara pertama yang saya tonton adalah berupa hiburan sekilas saat wisuda calon ibu mertua saya (sekarang sih sudah jadi mertua saya, hehe) yaitu PSM Universitas Airlangga Surabaya. Kali kedua saya nonton konser paduan suara ya “EVOCA” ini, milik PSM Undip Semarang.

Jadi, apa kabar dengan paduan suara kampus saya, PSM ITS Surabaya? Jawabannya adalah pasti baik-baik saja, hehehe. Iya, saya belum pernah nonton PSM ITS saat mengadakan konser, hanya sesekali melihat saat mereka latihan. Saya pun sebenarnya telah mendaftar menjadi anggota PSM ITS bersama dengan teman saya, dan Alhamdulillah diterima. Sayangnya, kami tidak pernah datang latihan lantaran terbebani dengan tugas kuliah yang tiada habisnya. Jadi GATOT dah! Hahaha.

Tapi ya, saya salut dengan semua anggota PSM dikampus manapun mereka tergabung, karena dengan tekad yang bulat mereka rela meluangkan waktu istirahat diantara padat dan banyaknya tugas kuliah untuk mengejar passion dan mimpi mereka. Mereka rela mengambil jadwal latihan sore bahkan malam hari untuk mencari waktu yang tepat yang tidak mengganggu jadwal kuliah maupun jadwal tugas, kewajiban dan tanggung jawab lain untuk berkumpul dalam satu team lengkap. Satu hal yang sulit saya lakukan saat kuliah, tekat saya kurang bulat untuk mengejar passion dan impian saya menjadi salah satu anggota PSM kampus saya.

Anyway, it was a great concert and it was worth to be there that day. Hope I can watch it again next time, maybe from other university.

So, pernahkan teman-teman yang lain nonton konser paduan suara? Paduan suara apa? Umum atau milik kampus tertentu? Share dong...

Diponegoro University Choir


EVOCA
Post Competition Concert: 3rd Karangturi Choir Games 2015
Diponegoro University Choir
Conducted by Jefry Franklin Bode
Gedung Prof. Soedarto, SH, Tembalang
Friday, 13 November 2015
18.00 – 21.00 WIB



Salam,



Lisa.

Kamis, 11 Februari 2016

Persahabatan Baik dengan Tong Tji Tea House





Tong Tji Tea House - Citraland Mall Semarang

Assalamualaikum...

Huwaaa... Long time no see yaaa... Berasa kangen banget sama blogging. Maafkeun saya, sepulang nemenin suami seminggu di Jakarta, perubahan cuacanya yang ekstrim dan berbagai distraction lain yang klise jadi bikin gak enak body dan hilang selera sama blogging, cuma lirik-lirik bw tanpa sempat meninggalkan jejak pula. Sedih.

Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah semangat lagi, yuk ah...

Kuliner dan travelling adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan ya. Rasanya nggak lengkap aja kalau sudah berkunjung kesana-kemari tanpa nyobain yang unik-unik. Lagian kan jarang juga tuh nemu resto yang cabangnya atau franchise-nya ada di seluruh kota di Indonesia. Hehehe. Jadi mau nggak mau pasti nyobain makanan disana-sini sesuai recommend orang lain.

Siang itu, saya masih berada di seputaran Kota Semarang. Masih di bulan Nopember 2015 (telat banget kan yaa postingnya?) dimana matahari siang Kota Semarang sedang terik-teriknya, hujan masih jarang-jarang. Saat adik saya sedang seneng-senengnya sama teh. Entah apa yang membuat adik saya nge-fans banget sama teh. Seingat saya ketika kami masih serumah, dia tidak sebegitu nge-fans-nya sama teh. “Pokoke teh, Mbak! Teh!” tegasnya siang itu kepada saya. “Okelah, seterah apa maumu, Nduk! Tak turuti”, jawab saya pasrah di tengah teriknya Kota Semarang.

Saya pun digiring ke salah satu mall yang lumayan terkenal di kota itu, memasuki sebuah resto kecil yang padat pengunjung. Tong Tji Tea House. Rupanya, Tong Tji Tea House sedang naik daun, terutama bagi pengunjung yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Alasan utamanya adalah hanya satu, yaitu terjangkau bagi kantong pelajar dan mahasiswa, semacam adik saya. Selain itu, terdapat promo free up size ice tea jika ditengah makan kita kehabisan minuman karena kehausan, ini juga yang dicari adik saya, klayapan di Kota Semarang saat cuaca panas memang sedikit membuat kami dehidrasi. Ini juga salah satu keuntungan yang diperoleh oleh pengunjung sehingga betah berlama-lama di resto ini.

Belum ‘ngeh’? okelah, kenalan dulu yuuk sekilas sama perusahaannya

Perusahaan teh Tong Tji didirikan di Indonesia pada tahun 1938 oleh Tan See Giam dengan nama Perusahaan Teh Wangi Dua Burung yang mengambil lokasi di daerah Tegal, Jawa Tengah.  Perusahaan ini menghasilkan barang konsumsi berupa teh. Pertama kali di launching perusahaan teh ini menggunakan merek “Tong Tji” dengan desain menggunakan huruf Cina, serta logo yang digunakan adalah dua ekor burung yang saling berhadapan.

Pemilihan nama” Tong Tji” atau yang lebih dikenal dalam bahasa aslinya yaitu “Tung Tje” artinya adalah sahabat sejati. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan lama di daerah Tegal bahwa teh merupakan sarana di dalam persahabatan. Maksudnya adalah bahwa teh disajikan sebagai teman ngobrol yang menyenangkan bersama dengan keluarga, teman, rekan kerja, dll. Pemilihan logo yang berupa gambar dua ekor burung dimaksudkan untuk menunjukkan ketulusan persahabatan yang baik dan erat. A Great Philosophie!

My sist and her Jasmine Tea
Lemon Tea

Pada tahun 1998, perusahaan teh Tong Tji memproduksi Premium Jasmine Tea yang diproduksi dengan daun teh kualitas terbaik diproses dengan bunga melati asli yang menjadi produk best seller sejak saat itu. Pada tahun 2003, perusahaan teh Tong Tji mulai melebarkan sayapnya dengan mengembangkan minuman “Ready to Drink” dengan nama “Tong Tji Iced Tea” yang dimulai di Tegal dan Purwokerto, Indonesia. Tong Tji Iced Tea ini tentu sudah banyak kita kenal karena banyak sekali gerainya di Indonesia. Pada tahun 2008, perusahaan teh Tong Tji mulai merambah ke dunia “Food and Beverages Bussiness” atau yang lebih dikenal dengan dunia kuliner dengan membuka Tea Bar Sadewa di Food Court Matahari Semarang. Melanjutkan kesuksesan dari Tong Tji Tea Bar, perusahaan teh Tong Tji mulai membuka konsep resto baru di tahun 2009 dengan menu dan masakan yang lebih beragam dengan nama Tong Tji Tea House.

Begitu kira-kira kilasannya

Tong Tji Tea House masih terbilang baru dalam dunia kuliner. Terbukti dari jumlah gerai Tea House-nya yang masih sedikit dan hanya ada di kota-kota besar tertentu di Indonesia. Saya sendiri baru tahu teh Tong Tji memiliki gerai Tea House ya gara-gara adik saya, di Kota Semarang pula (Ya Iyalah bo, di Kota Pekanbaru kayaknya belum ada, hehehe).

Tong Tji Tea House yang terdapat di Mall Citraland Semarang berbentuk mini cafe dengan interior yang didominasi warna hijau daun dan warna kayu kecoklatan sehingga terlihat asri dan sejuk dari luar. Interior dinding Tea House dilengkapi dengan hiasan dinding berupa miniatur beberapa alat musik dan mainan yang terbuat dari kayu. Menimbulkan kesan tradisional yang unik.

Setelah menempati salah satu pasangan seat yang kosong, kami langsung disambut ramah oleh pramusaji yang membawa buku menu dan mempersilakan kami memilih terlebih dahulu. Karena saya termasuk dalam salah satu penggemar Nasi Goreng, maka saya pun memesan Nasi Goreng Sosis, sementara adik saya memesan Nasi Goreng Special dengan alasan lapar sudah jadi sopir saya seharian, hehehe. Untuk minumannya, sudah pasti Jasmine Tea untuk adik saya dan Lemon Tea untuk saya. 

Rasanya? Enak dong! Sesuai dengan recommend dari adik saya dan ekspektasi saya. Langsung mengisi ruang kosong dalam perut saya dan memunculkan sinyal kenyang. Jasmine Tea dan Lemon Tea-nya pun terasa segar membasahi dinding kerongkongan saya yang kering akibat terik matahari kota Semarang. Awal memesan Lemon Tea, saya agak sanksi, bagaimana dengan rasanya, apakah begini dan begitu, tidak sesuai harapan, saya was-was. Tapi saya berhasil diyakinkan oleh adik saya kalau makanan dan minuman disini enak-enak karena dia sering makan disini bersama dengan teman-temannya setelah lelah nge-mall atau memutari Kota Semarang. Dan ternyata terbukti benar! Yay!

Nasi Goreng Special
Nasi Goreng Sosis

Selang waktu pemesanan dan penyajian pun tidak terlalu lama. Jadi pengunjung tidak akan terlalu lama menunggu meski sedang kelaparan tingkat akut. Next time mission, saya perlu mencoba dan membandingkan Tong Tji Tea Bar dan Tong Tji Tea House. Penasaran dengan persamaan dan perbedaan tentang menunya.  

Saya dan adik saya puas banget nyobain makan di Tong Tji Tea House.Makanan dan minumannya enak, sesuai dengan harapan dengan harga yang bersahabat, terutama untuk kantong pelajar dan mahasiswa. Restonya pun nyaman dan pelayanannya ramah. Jadi jangan heran kalau susah untuk dapat tempat duduk saat jam makan datang. Big thanks untuk Tong Tji Tea House and team.

Penasaran? Cuuzz cobain, mampir di salah satu gerainya yang terdekat dengan lokasimu ya!

Saya sih, harus pulang ke Pulau Jawa dulu sepertinya, hehehe.



Tong Tji Tea House
Mall Citraland Semarang
Jl. Simpang Lima No. 1 Semarang
(024) 8413608



Salam,


Lisa.

Jumat, 22 Januari 2016

Sate khas Senayan



Assalamualaikum...

Berkunjung ke Ibukota selalu menyisakan kenangan tersendiri bagi pengunjung, termasuk saya yang tinggal jauh berkilo-kilo meter dari Ibukota Indonesia, Jakarta. Terlalu banyak hal yang orang keluhkan tentang kota ini, tentang macetnya yang semakin menjadi-jadi hingga membuat jengah jika menghadapinya setiap hari, tentang lalu-lintasnya, padatnya hunian serta harganya yang semakin melambung. Tapi, banyak juga yang bisa diceritakan dari Jakarta. Buktinya, banyak sekali iklan televisi yang menggunakan latar belakang kemacetan Jakarta. See? Apa yang orang keluhkan bisa menjadi ‘ladang’ bagi orang lain.

Di lain sisi, Ibukota merupakan lokasi pertama berkembangnya sesuatu. Segala sesuatu berkembang secara cepat, modern dan bervariasi. Jakarta memiliki segalanya, termasuk didalamnya adalah makanan. Makanan apapun hampir bisa kita dapatkan di Jakarta, sekali pun bukan berasal dari daerah asalnya langsung. Mau makan apa? Semua ada. Begitu banyak pilihan, begitu banyak variasi, menu dan resto. Mulai dari yang super simple tradisional hingga yang sudah ‘dimodiv’, semua ada. Pengunjung semacam saya pasti bingung kalau ditanya, mau makan apa dan dimana. Ini hanya soal makan, tapi saya terlalu bingung. Terlalu banyak pilihan. Apalagi kalau semua yang dilihat dipengeni. Hehehe.

Terlalu bingung, akhirnya suami saya mengajak saya makan sate. Jauh –jauh ke Jakarta hanya untuk makan sate? Iya. Mungkin. Hehehe. Karena resto ini mengingatkan suami saya kepada mantan MP-nya yang sudah meninggal dunia. Jadilah, saya mengikuti keinginan suami saya untuk bernostalgia.

Sate adalah makanan yang terbuat dari potongan daging kecil-kecil yang ditusuk sedemikian rupa dengan tusukan lidi tulang daun kelapa atau bambu kemudian dipanggang menggunakan bara arang kayu. Daging yang digunakan untuk membuat sate diantaranya adalah daging ayam, sapi, kambing, kelinci, dll. Bumbu sate pun bervariasi tergantung dari daerah asal pengusungnya. Kebanyakan sate diberi nama sesuai dengan daerah asalnya, misalnya Sate Madura, Sate Padang, Sate Ponorogo, dll. Tidak jarang juga sate disebut sesuai dengan daging penyusunnya, misalnya Sate Ayam, Sate Kambing, Sate Kelinci, dll.

Sate Kambing
Sate Kambing Buntel

Di Jakarta terdapat salah satu resto kelas atas yang menawarkan berbagai menu tradisional sate yang dikemas dengan selera dan teknologi modern namun tidak meninggalkan kesan unik budaya Indonesia. Adalah Sate Khas Senayan yang berdiri sejak tahun 1974, tetap bersemangat mempromosikan masakan tradisional Indonesia. Berbagai jenis olahan Sate Ayam dan Sate Kambing bisa kita temui disini. Tapi kalau kita tidak menginginkan mencicipi menu andalan sate di resto ini, kita masih bisa memilih makanan tradisional lain, misalnya Nasi Uduk, Nasi Kuning, Soto Betawi, Soto Ayam, Rujak Cingur, dll, yang termasuk dalam masakan tradisional khas Indonesia tentunya.

Di pintu masuk, kita akan dipandu dengan salah satu staf yang akan mempersilakan kita memilih spot meja makan sesuai dengan keinginan kita. Interior resto ini mengetengahkan tradisional modern yang menyatu dalam satu tatanan yang apik. Saya suka. Tidak terlalu modern dan tidak terlalu tradisional. Gambar dan siluet dari beberapa tokoh wayang dan gunungan dalam Pewayangan menambah kesan image tradisional yang ingin dibangun dari resto ini. Gaya interior klasik dengan perabotan dan ukiran kayu menambah efek tradisional yang ada di resto ini.

Interior Sate Khas Senayan
Menu tradisional yang kami pesan saat itu adalah Sate Kambing dan Sate Kambing Buntel. Daging dari Sate Kambing-nya sangat lembut, jadi kita tidak perlu ‘latihan mengunyah’ dulu. Hehehe. Beberapa sate kambing yang saya makan sebelumnya memiliki daging yang keras dan alot atau liat, menyisakan guratan daging di sela-sela gigi. Memerlukan usaha yang cukup ‘kekeuh’ untuk mengeluarkan sisa guratan daging dalam gigi kita. Hehehe. Entah karena kesalahan memanggang atau bagaimana, saya kurang tahu.

Menu kedua yang saya coba adalah Sate Buntel. Ini merupakan pertama kalinya saya makan Sate Buntel. Sate Buntel terbuat dari cincangan daging sapi atau kambing (terutama bagian perut atau iga) kemudian dibungkus selaput membran daging dan dililitkan membungkus tusukan bambu. Ukuran sate ini cukup besar ya, kalau menurut saya sih, mirip dengan sosis. Iya nggak sih? Atau saya yang kelewat katrok? Hehehe.

Untuk sayurnya, kami memesan Sayur Asem, sebagai pelengkap yang kami pikir cocok sebagai pendamping menikmati sate. Ada yang unik dari peyajian Sayur Asem disini. Sayur Asem disajikan dalam satu nampan tersendiri dengan beberapa pelengkap, yaitu kerupuk udang yang berbentuk stick, bakwan jagung, kacang tanah goreng dan sambal terasi. Diantara nampan dan mangkok Sayur Asem, terdapat selembar artikel tentang Sate Khas Senayan, sayangnya saya lupa untuk membaca apa isi artikel itu. Unik ya? Baru pertama kalinya saya menemukan penyajian Sayur Asem yang unik seperti itu. Rasanya? Jelas asem-lah, hehehe, cocok untuk lidah kami dan teman menikmati menu sate yang kami pesan.

Sayur Asem ala Sate Khas Senayan

Yang tidak boleh ketinggalan adalah Es Cendol Durian. Cendol berwarna hijau yang memenuhi gelas ditutup dengan vla durian yang wangi. Menggoda benget untuk cepet-cepet dilahap demi melepas dahaga di tenggorokan. Segar dan nikmat.

Es Cendol Durian
Jus Strawberry

Karena Es Cendol Durian sangat mengenyangkan banget, saya pun memesan jus strawberry untuk menyegarkan tenggorokan. Saya selalu memperhatikan minuman jus ditempat makan manapun. Ada tempat makan atau resto yang menyajikan jus yang cukup cair, terlalu banyak air dan sedikit buah. Disini jus strawberry-nya enak banget dan kental, jadi berasa makan strawberry halus, hehehhe.

Untuk Sate Kambing dan sate Kambing Buntel disajikan dengan bumbu kecap, irisan bawang merah dan sambal. Pada Sate Kambing kebanyakan memang hanya memakan bumbu kecap, baik terpisah dengan sambalnya maupun sudah dalam bentuk sambal kecap. Saya cukup menikmati rasa Sate Kambing di resto ini. Tapi, saya pribadi lebih prefer ke sate yang menggunakan bumbu kacang, seperti Sate Madura. Bagi saya, menikmati sate menjadi lebih nikmat saat bumbu kacang disiramkan di atas nasi panas daripada hanya bumbu kecap biasa. Campuran dari bumbu kacang yang lembut dengan kecap manis selalu sukses membuat diet saya gagal, karena sayang banget untuk menyisakan bumbu kacangnya. Iya kan?

Beberapa jenis sate yang sudah pernah saya makan diantaranya adalah Sate Madura, Sate Padang, Sate Ponorogo, Sate Kerang, Sate Buntel, Sate Ayam, Sate Kambing, Sate Usus dan Sate Kelinci. Setiap sate memiliki rasa uniknya masing-masing, dan semua itu tergantung dari selera. Bagaimana denganmu? Tertarik nyobain sate andalan di resto Sate Khas Senayan? Atau punya sate andalan sendiri? Share dong… (saya sudah tenggelam dalam dunia sate ini!!! )





Sate Khas Senayan
Kemang Square
Jl. Kemang Raya No. 3A Kemang,
Jakarta Selatan
021 71794717






Salam,




Lisa.

Jumat, 15 Januari 2016

A Happy Unhappy Moments of 2015




Assalamualaikum...

2015. Kalau diingat – ingat lagi satu tahun kebelakang, merupakan tahun yang luar biasa untuk hidup saya. Entah karena saya yang terlewat baper dan geer atau gimana, tapi saya merasa saya melalui banyak sekali ujian dan mulai berani mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Keputusan-keputusan besar itu sukses membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang ini. Eccieeh... Hehehe

Jadi, apa aja sih ujian hidup yang saya alami?

Puas LDR dan LDM
Saya menyebut LDR (Long Distance Relationship) dan LDM (Long Distance Married) adalah sebuah Lifestyle. Mengapa? Karena, banyak sekali pasutri yang menjalani hubungan itu di masa sekarang ini, bukan hanya saya dan suami saya. Alasannya ya jelas bervariasi tergantung dari yang menjalani. Mulai dari alasan finansial, alasan sayang dengan pendidikan tinggi yang sudah dienyam, alasan kesejahteraan keluarga, dan sebagainya. Segala sesuatu memerlukan sebuah proses. Kami (saya dan suami saya) telah melalui proses itu beberapa tahun lamanya. Kami pun merasa cukup. Cukup bagi saya. Cukup juga bagi suami saya. Sudah sewajarnya saya mengabdikan hidup saya untuk keluarga yang sedang kami bangun bersama. Keputusan itu mendorong saya untuk lebih berani mengambil keputusan besar lainnya, yaitu resign.



Resign
Bagi sebagian orang mungkin resign itu adalah hal mudah. Semudah pindahan kantor, cukup membawa diri beserta cv dan menunggu panggilan. Bagi saya, keputusan resign merupakan keputusan yang cukup menguras otak. Berbagai macam pilihan dan konsekuensinya saya diskusikan dengan suami saya. Apa yang harus, apa yang tidak harus, apa positifnya, apa negatifnya. Semuanya kami bahas. Dan itu tidak hanya memakan waktu satu atau dua bulan. Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir. Berada diantara keinginan dan kewajiban itu tidak mudah, apalagi menyeimbangkannya.



Welcome, A New Married Life!
Tujuan dari keluarnya saya dari pekerjaan kantoran yang saya miliki adalah untuk mengabdikan diri saya full hanya untuk keluarga saya. Akhirnya mendorong saya untuk mengambil langkah selanjutnya. Saya harus siap berpindah-pindah rumah untuk mewujudkan keinginan kami. Welcome, a new married life. Memang ya, kehidupan rumah tangga baru bisa kita rasakan kalau kita sudah berada di bawah satu atap yang sama. Saya pun akhirnya paham fungsi dari ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Hehehe. Begitulah, saya mulai belajar macam-macam, semacam-macamnya pekerjaan rumah tangga. Segalanya berubah.
 
Bahasa Minang
Setahun lebih saya ikutan ‘nebeng’ suami disini, Kota Duri, Riau. Dan saya belum bisa Bahasa Minang sama sekali! Hahaha. Lidah dan otak Jawa saya berasa kelu mengartikan apa yang orang katakan kalau menggunakan Bahasa Minang. Boro-boro ngejawab dan ikutan ngobrol, paham apa yang diomongin aja enggak. Hahaha. Selain itu, kebanyakan dari teman-teman suami dan para istrinya adalah Orang Jawa, jadi we nggak berkembang itu pergaulannya! Orang temen-temennya juga Orang Jawa semua! Hehehe.

Memulai Blogging
Lepas dari pekerjaan kantor yang menguras otak selama lebih dari delapan jam sehari, membuat saya mencari –cari kegiatan positif lain untuk mencegah timbulnya rasa bosan karena tinggal seharian dirumah. Akhirnya saya pun mempelajari berbagai hal, termasuk diantaranya adalah blogging. Tergabung dalam beberapa komunitas cukup mengobati kerinduan saya akan ‘dunia luar’. Ecieeeh... Biar tetep eksis meskipun sehari-hari hanya duduk manis di depan lepi gitu.

Travelling
Salah satu keuntungan yang bisa saya peroleh dari ‘nebeng’ suami adalah travelling. Menjadi istri seorang kontraktor, memberikan saya kesempatan travelling yang begitu luasnya yang tidak pernah saya banyangkan sebelumnya. Saya tidak pernah bermimpi saya bisa Menjelajahi Sumatera Barat yang notabene berada di Pulau Sumatera, berjarak ribuan km dari rumah orang tua saya. Lha wong yang di Pulau Jawa seperti Air Terjun Sri Gethuk aja baru dikunjungi Agustus 2015 kemarin. Benar-benar Alhamdulillah.

Chavery Beach Hotel - Bungus, Padang

Jadi, apakah saya sempat menyesal dengan semua keputusan-keputusan yang sudah saya ambil? Saya rasa saya tidak akan pernahmenyesal, karena segala sesuatu akan berproses dengan sendirinya. Hanya saja, kadang-kadang masih sering sedih dan kangen dengan mereka, teman-teman seperjuangan saya yang masih berjuang di kantor cabang masing-masing, terutama perempuan-perempuan hebat diluar sana yang berhasil menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarganya. Keep a balance life sist!





Salam,



Lisa.

  
Nb: Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge: “The Best Moment of 2015”. Yuk ikutan tantangan  indonesian-hijabblogger.com ini, ada hadiah menarik bagi yang terpilih lho, jangan sampai ketinggalan ya, hari ini terakhir nih, maksimal tgl 15 Januari 2016 ya