Tampilkan postingan dengan label Fashion Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fashion Journal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2015

Earth Tone in My Skirt



Sebagai pecinta fashion, earth tone sudah tentu jadi warna yang must-have-item yang harus ada di lemari temen-temen, termasuk saya. Kalau sedang mati gaya nih, atau lagi males buat mix and match-in baju, warna netral dalam earth tone bisa jadi penyelamat banget. Karena kita tinggal pasangkan warna netral dengan atasan warna apa saja, bisa dengan warna senada ataupun dengan warna yang lebih eye-catching.

Karena saya sedang tidak ingin banyak main warna, maka saya pasangkan earth tone skirt saya dengan peplum top warna krem terang yang lebih mengarah ke warna kuning. Untuk mempermanis tampilan, saya tambahkan belt kecil dengan warna cokelat dan jilbab krem warna senada dengan motif garis-garis. Voila, jadilah tampilan sweet casual yang bisa untuk jalan-jalan, nonton atau kuliah sekalipun. 



Peplum top and skirt by arlisa clothing | unbranded cashmere pashmina



Salam,
Lisa.

Kamis, 10 Desember 2015

Lavender mix Tosca for Graduation Day



Assalamualaikum...

Kenapa judulnya begitu? Tenang-tenang. Saya paham kok. Bukan saya yang diwisuda, tapi adek saya. Saya jelas inget umurlah. Wisudanya sudah x-tahun yang lalu. Hehehe.

Tanggal 28 Oktober 2015 kemarin, adek saya yang nomor satu, diwisuda di kampusnya, Universitas Diponegoro Semarang dan resmi menyandang gelar S. Gz dibelakang namanya. Alhamdulillah. Tepat waktu. Nah, suami saya pengen pulang ke Madiun, sekalian kabur sebentar dari sesaknya asap yang melanda Duri. Akhirnya mas suami ambil cuti pas di minggu adek saya wisuda, sekalian pengen jalan-jalan dulu ke Semarang. 

Wisuda identik dengan foto keluarga dimana foto saat wisuda dengan keluarga dianggap dapat mengabadikan moment bahagian keluarga bahwa salah satu anggota keluarga telah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Untuk wisudawan membuat foto wisuda adalah hal paling gampang segampang mengambil foto biasa (kecuali toganya yang harus nyewa ya).  Sedangkan foto wisuda untuk wisudawati harus dilakukan saat itu juga, mengingat make-up dan hijab-do yang tidak mungkin di ulang kedua kalinya. 

Karena tema baju yang dipakai adek saya adalah berwarna tosca, maka saya pun mencari-cari sesuatu di lemari saya yang berwarna tosca. Tapi ternyata saya tidak memiliki baju yang berwarna biru mengarah ke tosca Karena harus matching-in juga dengan kemeja yang akan dipakai suami, akhirnya saya memilih basic dress berwarna lavender yang saya dobel dengan bolero berwarna keunguan. Dimana warna toscanya? Warna tosca saya ambil dari hijabnya yaitu dasar berwarna ungu dengan motif yang berwarna tosca kombinasi sedikit warna gold kemerahan yang cocok dengan payet yang ada di lengan bolero saya. Fixed.


Premium Scarf by UWAIS HIJAB | Basic Dress by arlisa clothing (ig: @arlisa_id) | Bolero private collection

Apakah saya tidak merasa panas di tengah teriknya Semarang? Jelas tidak. Karena bahan basic dress yang saya pakai sangat nyaman sehingga nggak terasa panas walaupun pemakaiannya saya dobel dengan bolero. Saya paling suka dengan dress-nya, karena flowing-nya lebar banget dan jatuhnya bagus saat saya pakai.

Hijabnya juga nggak kalah oke, wide size scarf dengan ukuran 120 x 130 cm pas banget untuk membuat kreasi hijab menutup dada dan punggung. Ornamen di hijabnya yang ‘blink-blink’ membantu banget ‘mengangkat’ derajat basic dress saya yang tadinya biasa-biasa aja jadi semi formal-party dress.




Salam,


Lisa.

Rabu, 09 Desember 2015

Graduation Outfit from Time to Time



Assalamualaikum...

Lagi booming wisudaan nih, jadi pengen wisuda lagi, eehh... hehehehe. Iya sih kadang-kadang, jadi baper teringat masa lalu saat-saat wisuda dulu. Jadi ketahuan udah lama wisudanya, haha. Oke STOP. Back to the post! Momentum wisuda tenyata membawa dampak yang cukup besar lhoh di dunia fashion. Nggak percaya? Yuuk dikupas bareng-bareng

Momentum wisuda adalah event yang membahagiakan, baik dari mahasiswanya sendiri yang diwisuda maupun dari keluarga. Oleh sebab itu, wisuda sering dijadikan sebagai ajang ngumpul-ngumpul keluarga (dan ajang mengenalkan pasangan, eh). Hehehe. Wisuda yang merupakan occassion semi-formal ini mengharuskan wisudawan dan wisudawati berpakaian sesuai dengan acara yang digelar. Untuk wisudawati, biasanya memakai kebaya dan untuk wisudawan biasanya memakai kemeja yang dilengkapi dengan jas dan dasi.

Sifat dari occassion-nya yang semi-formal ini, membuat wisudawati bebas menentukan outfit yang akan dipakai, asal masih dalam koridor semi-formal. Outfit wisuda ini pun ternyata mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Bertahun-tahun lalu, saat ibu saya wisuda, outfit yang dikenakannya adalah (masih) menggunakan atasan kebaya kutubaru ngepas badan yang mulai ngetrend lagi akhir-akhir ini dengan bawahan berupa Jarit/ Jarik. Jarit/ Jarik (dalam Bahasa Jawa) adalah kain batik yang dililit secara horizontal ke tubuh bagian bawah mulai dari pinggang kemudian disisakan sedikit di depan lutut dan dilipat rapi kecil –kecil yang disebut dengan wiru. Ikatan itu kemudian dikuatkan dengan stagen yang digunakan melingkar di pinggang agar tidak lepas. Pakaian ini dilengkapi juga dengan selendang kecil sebagai pemanis yang di selempangkan di bahu kanan atau kiri atau bisa secara menyilang di depan dada.

Orang Tua saya sebelum mereka menikah, ketika wisuda Ibu saya | Oktober 1986

Untuk tatanan rambut adalah menggunakan konde dengan ukuran sedang atau besar dengan hiasan yang sederhana. Saat itu wanita berjilbab masih sangat jarang, termasuk ibu saya. Saya pikir fashion hijab pun belum ada dan belum bervariasi seperti sekarang ini sehingga konde adalah satu-satunya pilihan untuk tampil resmi atau formal.

Outfit wisuda saat jamannya ibu saya ini masih dilengkapi dengan sandal selop (mirip dengan alas kaki pengantin Adat Jawa, tapi biasanya berbeda motif atau lebih sederhana) atau sandal teplek dengan heels yang pendek. Outfit wisuda ini masih dipermanis lagi dengan clutch bag atau sling bag yang warnanya diserasikan dengan kebaya yang dipakai. Outfit ini merupakan penyederhanaan dari Pakaian Pengantin Adat Jawa dimana outfit ini merupakan outfit standar yang digunakan untuk acara-acara resmi seperti wisuda, tunangan, ijab qobul, pendamping pengantin, penerima tamu, arisan, upacara kenegaraan, peresmian, dll.

Berasa riweuh banget ya, kalau kita membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang. Tapi memang begitulah adanya. Coba tanya ibu atau nenek masing-masing, mungkin mengalami masa-masa itu. Atau, coba buka kembali album foto orang tua saat masih muda, maka bisa dipastikan kalau pakaian standar resminya adalah seperti itu, kebaya kutubaru dan Jarit/ Jarik.

Semakin berkembangnya dunia fashion, outfit graduation pun mengalami banyak perkembangan. Kebaya model kutubaru yang di jaman ibu saya ngetrend abiz sudah mulai ditinggalkan, diganti dengan kebaya moderen sebagai akibat dari akulturasi fashion luar negeri yang variasinya bermacam-macam dan dapat disesuaikan dengan keinginan. Perubahan mode kebaya dibarengi juga dengan menjamurnya penjahit kebaya yang mahir dan kreatif memainkan pola dan jenis-jenis kain menjadi kebaya modern yang sesuai pada masanya.

My Graduation Outfit | September 2011

Kebaya modern dibentuk dari kain tile/ tulle dan kain brokat yang dibentuk dan diatur sesuai dengan pola tertentu sesuai dengan keinginan. Kesan mewah dapat ditimbulkan dari penambahan payet di bagian-bagian tertentu pada kebaya atau pada keseluruhan kebaya. Badan dapat dibentuk lebih ramping dengan menggunakan dalaman torso yang terbuat dari kain satin halus dengan warna yang senada dengan kebaya. Untuk wanita berhijab, dapat menggunakan manset sebelum memakai torso sebagai dalaman kebaya. Untuk bawahannya, simpel menjadi alasan utama untuk merubah kain Jarit/ Jarik menjadi skirt dengan potongan tertentu. Bahkan, kebanyakan orang sudah mulai meninggalkan kain Jarit/ Jarik dan menggantinya dengan kain bermotif batik yang warnanya dapat disesuaikan dengan kebaya modern yang sudah pasti harganya jauh lebih miring dari pada kain Jarit/ Jarik yang merupakan batik asli. Tapi, perubahan mode kebaya tersebut tidak mengurangi kesan resmi dari suatu acara.

Alasan simpel, lagi-lagi digunakan sebagai dasar untuk merevisi kebaya sebagai outfit graduation. Kebaya yang tadinya dibuat two pieces berupa atasan kebaya dan bawahan, direvisi menjadi kebaya yang dijahit menyatu dengan bawahannya menjadi one piece berupa dress. Komponen penyusun dress masih sama dengan kebaya modern pada umumnya, hanya saja bentuknya dimodifikasi menjadi sebuah dress lengan panjang yang simpel dan manis untuk dikenakan pada occasion semi-formal.


My Sist Asri Subarjati in her Graduation Outfit | 28 Oktober 2015

So, apa pilihan kebayamu untuk occassion semi-formal? Share donk




Salam,


Lisa.

Kamis, 03 Desember 2015

White Dots in My Baby Tosca Dress



Assalamualaikum...

Terik cuaca di Semarang yang masih jarang hujan membuat saya pengennya pakai baju yang menyerap keringat, agar nggak kepanasan dan tetap merasa nyaman dipakai untuk dipakai jalan-jalan keliling kota Semarang. Banyak tempat menarik di Semarang yang harus saya kunjungi dengan berbagai rute yang harus dilewati dan tentunya kuliner khas Semarang yang patut dicoba. Mumpung lagi liburan disini.

Pilihan saya jatuh kepada dress yang berwarna baby tosca dengan motif polkadot putih dari koleksi finalovehijab (ig @finalovehijab). Potongan dress-nya yang simple dan feminim membuat saya langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Bahan kainnya yang terbuat dari kain katun sangat halus dan nyaman banget dipakai. Di bagian pinggangnya dipermanis dengan tali yang bisa dibentuk simpul pita sesuka hati.


Untuk padanan hijabnya, saya sih nggak terlalu berani memainkan banyak warna ya, jadi sukanya main aman aja. Nggak tahan kalau jadi sorotan orang gegara pake baju nggak match atau tabrak warna, hahaha.  

Jadi hijabnya pun saya pakai warna senada yaitu putih. Karena motif dress-nya udah rame, biar nggak terkesan tabrak motif or tabrak warna aja.

Biar nggak gampang capek karena daftar panjang jalan-jalan dengan rute yang relatif jauh, andalan saya adalah selalu dengan flat shoes. Always! Nyaman banget buat jalan-jalan jauh dan lama. Nggak bikin kaki pegel pastinya. Hehehe. Biar tampilan nggak monoton karena dari atas sudah match semua, teman-teman bisa memasangkan dengan sepatu dan tas yang bernuansa netral, cokelat misalnya.

Tapiii kalau misalnya teman-teman pengen terlihat lebih formal, flat shoes-nya bisa diganti dengan high heels ya. Lisa pernah pakai dress yang sama ke aqiqahan anak temennya suami, Lisa ganti flat shoes Lisa dengan sepatu high heels warna broken white. Jadilah tampilan feminin yang semi-formal

viscose shawl by hl (ig @heaven_lights) | Dotty Dress by FLH (ig @finalovehijab) | bag Neo Amberiaux by Signature Sophie Paris | Flat Shoes bu Collete


 Location : Lawang Sewu, Semarang
Taken by hubby with Asus Zenphone 2



Salam,


Lisa.

Sabtu, 10 Oktober 2015

#HijabNyamandiHati: My Hijab Yesterday, Now and Then



Assalamualaikum...

Gara-gara mupeng ikutan GA-nya mb Ruli Retno dari postingan mb Syahdian Novianti, jadilah saya agak-agak baper, alias bawa perasaan, teringat kenangan – kenangan masa lalu, di tahun-tahun pertama saya menggunakan hijab.

Alhamdulillah, seingat saya, saya mulai menggunakan hijab di pertengahan tahun 2005. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA kelas 2 (yah, ketahuan dong umurnya, haha). Saat saya mengutarakan keinginan saya untuk memakai hijab, orang tua saya sangat senang dan mendukung keputusan saya. Walaupun awalnya tidak langsung disetujui. Mereka meminta saya memikirkannya berulang-ulang karena beratnya amanah dan kewajiban yang akan saya jaga nantinya. Setelah fix, langsung saja saya di ajak ke toko kain untuk membeli bahan seragam, kemudian lanjut ke penjahit. Ceritanya mau ganti seragam menjadi seragam panjang. Kebetulan saat itu adalah liburan semester. Memasuki semester kedua kelas 2 SMA, seragam saya telah baru, lengan panjang dan rok panjang. Alhamdulillah.

Sebelum saya mengutarakan keinginan saya kepada kedua orang tua saya, saya sempat dirundung galau yang luar biasa, tentang bagaimana dengan tanggapan dari orang tua saya, tentang seragam saya nantinya, tentang bagaimana tanggapan keluarga saya nanti, teman-teman saya, dan segalanya. Itu terjadi selama berhari-hari, berminggu –minggu dan mungkin sampai hitungan bulan. Maklum, wanita berhijab saat itu masih sangat jarang, apalagi yang sekolah menggunakan hijab, mengingat saya bersekolah di sekolah umum yang terdiri dari berbagai macam agama dan ras. Jadi wajar menurut saya kalau kegalauan itu ada. Bukan memikirkan bagaimana akan mematuhi perintah Allah swt, malah mengkhawatirkan pendapat manusia yang merupakan ciptaan Allah, Astagfirullah...

Kegalauan saya tidak berhenti sampai disitu, saya mulai bertanya kepada yang lebih dulu memakai hijab dan pendapatnya. Bahasa kerennya, saya mulai melakukan penelitian (sok ilmiah, hehe), saya mewawancarai sejumlah teman tentang pendapat dan alasan berhijab, kemudian saya banyak membeli buku yang membahas tentang kewajiban berhijab. Tapi, semakin saya mempelajari, saya semakin takut untuk mengambil keputusan, apakah saya bisa, apakah saya mampu, apakah saya sanggup untuk istiqomah. Semakin saya berusaha mencari jawaban, semakin saya galau tidak menentu. Disaat saya sudah jenuh dan suntuk, berada diantara iya dan tidak, akhirnya, saya nekat! Oke. Ini sekali tapi untuk selamanya. Apapun itu tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk tetap istiqomah. Maka saya pun berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan mempertahankan apa yang akan menjadi identitas saya. Muslimah. Bissmilahhirrohmannirrohim.

Mungkin banyak yang bertanya, mengapa hanya mengambil keputusan antara iya dan tidak saja harus melalui proses yang begitu panjang dan sulit? Alasannya adalah karena keputusan ini saya berlakukan pertama pertama kali dan untuk selamanya. Yang artinya saya harus mempertahankan untuk tetap memakai hijab apapun kondisi saya. Yang berarti juga saya tidak akan melakukan proses ‘pakai-lepas-pakai’ yang dikhawatirkan oleh orang tua saya. Itulah yang membuat saya ragu, bahwa saya meragukan diri saya sendiri untuk menghindari godaan yang akan datang kepada saya di masa depan. Alhamdulillah, saya berhasil mempertahankannya hingga sekarang, Alhamdulillah wa syukurillah. 

Itu tadi soal yang serius. Nah sekarang bagian dari cerita di sekolah. Pertama kali saya memakai hijab di sekolah, banyak teman-teman saya mengucapkan selamat kepada saya, memeluk saya (yang perempuan ya). Awalnya saya bingung. Asli bingung. Saya nggak sedang ulang tahun, saya nggak sedang memenangkan sesuatu, undian, hadiah atau apa. Saya cuma ngangguk-angguk, senyum-senyum dan mengucapkan terima kasih tanpa tahu artinya. Kemudian saya bertanya kepada sahabat saya perihal itu, ternyata alasannya adalah mengucapkan selamat karena teman-teman saya menganggap saya telah mendapat hidayah untuk menutup aurat. Baru ngeh dan a-o-a-o aja ketika dijelaskan. Iya sih, itu adalah keputusan besar menurut saya, saya cuma tidak pernah membayangkan responnya akan seheboh itu. Hehehe. Dan itu berlangsung beberapa hari. Kebanyakan yang mengucapkan selamat kepada saya adalah teman-teman saya yang lebih dulu memakai hijab.

Banyak teman-teman yang sedang belajar berhijab sering bertanya kepada yang telah memakai hijab dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pakaian atau hijab. Misalnya, “Panas nggak sih pakai hijab?” atau “Ribet nggak sih kalau mau sholat?” dan sebagainya. Sebagai pemula saat itu, saya pun merasakannya. Asli panas, sangat panas, hingga saya berkeringat terus dan merasa kegerahan. Solusinya? Saya membawa kipas kemana-mana, sering bertukar tempat duduk dengan teman yang mendapat tempat duduk di bawah kipas angin, hehehe. Tapi saya tidak menyerah, saya menganggap itu adalah bagian dari proses adaptasi. Alasannya simple, saya belum terbiasa. Itu aja. Pertanyaan selanjutnya, “Ribet nggak sih kalau mau sholat atau ganti pakaian?” Jawabannya sudah tentu ribet. Namanya juga pemula, pakai hijab pun pasti sudah sangat memakan waktu. Tapi, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, hanya masalah kebiasaan saja. Karena saya belum terbiasa. Nanti lama-lama juga terbiasa, tidak lagi merasakan panas, tidak lagi berlama-lama di depan cermin hanya untuk memakai hijab.

Karena saya telah lama memakai hijab, akibatnya saya menjadi saksi atas perubahan dunia fashion hijab yang mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu empat atau lima tahun terakhir ini. Saya pun mengalami banyak perubahan dalam gaya berpakaian dan berhijab sesuai perubahan dunia fashion hijab. Ketika saya mulai berhijab, dunia fashion hijab belum berkembang seperti dewasa ini. Hijab yang saya miliki pun adalah hijab seragam yang berbahan katun dan beberapa hijab milik ibu saya yang diwariskan kepada saya. Dalam hal berpakaian pun masih sama, hanya memadu-padankan atasan dan bawahan serba panjang, tidak sevariatif sekarang ini. Saya pun melewati fase-fase memiliki berbagai jenis hijab. Saya pun memiliki hijab paris berbagai warna yang ngehiiittz banget kala itu. Sekarang, saya mulai jarang memakai hijab paris karena terlalu kecil dan terlalu tipis menurut saya. Sekarang pun , saya mulai memperbaiki cara berpakaian dan berhijab saya.


Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd:11).


Begitu pula dengan saya, saya pun ingin ‘dilirik’ oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga saya mulai memperbaiki cara berhijab saya sedikit demi sedikit. Saya mulai melebarkan hijab saya hingga melebihi dada dan punggung serta mulai memakai rok dan gamis. Alhamdulillah, saya lebih merasa nyaman. Walaupun saya belum bisa meninggalkan celana panjang sepenuhnya, karena seringnya memakai motor untuk mobilitas harian saya. Dengan perubahan cara berpakaian saya sekarang, saya semakin merasa aman dan nyaman. Bahwasannya tujuan dari berpakaian muslimah adalah melindungi kita sebagai wanita.


“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)


Tapi sebenarnya inti dari itu semua, selain harus longgar dan tidak menampakkan lekuk tubuh sebagai syarat utama, syarat kedua adalah NYAMAN. Itu saja. Nyaman itu sudah mencakup secara keseluruhan yang membuat kita gampang untuk beraktifitas. Jadi, Hijab Nyaman di Hati versi saya adalah SYAR’I dan NYAMAN untuk beraktivitas.


Fiza Dress Dark Teal by Kivitz | Pattern Scarf by Kivitz

Tulisan ini diikutseratakan dalam "My First Giveaway HIJAB YANG NYAMAN DIHATI"



Salam,

Lisa.