Minggu, 22 Desember 2019

Skin Care untuk Program Hamil

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Heyhooo... akhirnya ada waktu buat nulis soal skin care jugaaa... astagfirullah maafkan saya yang sok sibuk ini 🙈 udah beberapa kali juga di request, tapi kesibukan domestik mengalihkan segalanya. 

Soal skin care emang nggak bisa main tulis aja kalau saya, karena ada beberapa hal yang ternyata baru saya ketahui juga saat hamil dan setelah melahirkan, bahkan sekarang. Saya emang buta banget soal per-skin care-an, tahunya pake produk jadi aja dari dokter kulit. Karena dari SD saya udah jerawatan parah. Jadi dari SD saya udah terkontaminasi produk kimia pabrikan yang dijual di pasaran, dari dokter kulit atau dari klinik kecantikan. Jadi... mau nulis soal skin care kok nggak PD sayanya, hehehe, jadinya memang materinya mesti dikumpulin dulu. Biar tulisan saya nggak menyesatkan temen-temen semua 😅🙏🏻

Oke yuuukkk...
Bismillahhirrahmannirrahim...

Untuk program hamil IVF kebanyakan dokter kandungan menyarankan untuk menghindari sementara pemakaian bahan-bahan kimia, meskipun hanya untuk pemakaian luar. Prosedur tersebut disampaikan oleh dokter kandungannya langsung ataupun melalui suster bagian administrasi, yang menjelaskan dari A ke Z, apa aja yang boleh dan nggak boleh, termasuk paparan bahan-bahan kimia selama mengikuti program hamil IVF. Tapi ada juga dokter kandungan yang woles aja, nggak pake pantangan aneh-aneh karena mungkin dinilai efeknya kurang nampol bagi janin. 

Nah, untuk dokter saya sendiri nih, dokter Nando, orangnya slow aja, santai, asal laporan dulu sebelumnya, entah ke beliau langsung ataupun via suster koordinator. Sehingga bisa gercep penanganan kalau misalnya ada apa-apa, seremeh-temeh apapun itu.

Karena dokter Nando selow ajaaa, nggak terlalu mikirin pasiennya pakai skin care apaan, asal laporan dulu semuanya. Karena beliau lebih concern ke asupan gizi janin agar janin berkembang dengan baik, akhirnya soal skin care saya cari-cari sendiri apapun yang bisa menunjang keberhasilan program IVF saya, berdasar review dan arahan dari mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. 

Saya dapet info skin care dari mana?
Banyak banget. Dari blog dan dari account instagram mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. Misalnya dari blognya Mb Andra Alodita, dari blog Mb Fika, dari account ig Mb Vega, dll, banyak. Tapi mostly dari account ig Mb Vega sih. Panutan program IVF saya yang sudah sering saya sebut-sebut sejak postingan-postingan saya sebelumnya soal IVF.

Jadi pakai skin care apa? Yang gimana?
Skin care yang natural, organik, bahan kandungannya ramah buat tubuh ibu dan calon bayi, biasanya No Paraben, No Alcohol, No SLS.

Yuuuk, kita bahas sedikit soal Paraben dan SLS.

PARABEN
Apasih Paraben?
Paraben adalah bahan pengawet sintetis, yang digunakan untuk menjaga agar makanan, obat, kosmetik, serta produk personal care seperti deodorant atau shampo jauh dari bakteri dan jamur, sehingga lebih awet. 

Sedangkan tanpa paraben, mungkin cleanser, lotion, foundation atau maskara kita sudah dipenuhi bakteri dan jamur dalam jangka waktu singkat. Kemampuan mengawetkan yang efektif dan biaya yang murah, membuat paraben digunakan di mana-mana.

Bagaimana cara mengetahui kandungan paraben dalam sebuah produk? 
Mudah banget, kita tinggal baca dan cari kandungan yang memiliki akhiran –paraben. Biasanya yang sering digunakan adalah Methylparaben, Ethylparaben, Propylparaben, Butylparaben, Isopropylparaben, Isobutylparaben, dll.

Mengapa Paraben dianggap berbahaya?
Kalau dilihat dari fungsinya ya, sebenarnya paraben memiliki manfaat besar untuk menjaga kualitas sebuah produk agar tidak mudah terkontaminasi jamur dan bakteri. Tapi berdasarkan dari beberapa literatur yang saya baca, penggunaan paraben sering dikaitkan dengan meningkatkan risiko kanker payudara. Nah lhoo... nah lhoo... kan serem yak...

Nah, Paraben dianggap berbahaya karena kandungannya memiliki sifat menyerupai estrogen saat masuk dalam tubuh manusia. Sedangkan apabila tubuh kita mengandung estrogen berlebih, kita dapat mengalami kerusakan fungsi hormon dan memicu meningkatnya risiko penyakit kanker payudara maupun gangguan reproduksi lainnya. Nah, kita nih dalam proses program bayi tabung (IVF) dijaga banget hormonnya biar bagus terus sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin bisa seoptimal mungkin. Nah jika hormon yang kita jaga banget untuk keberlangsungan kehidupan janin kita terganggu sedikiiit aja karena paraben yang terkandung dalam skin care yang kita pakai, maka saya lebih milih nggak pakai skin care-skin care-an sementara atau seterusnya, walaupun paraben dalam jumlah kecil atau masih dalam batas normal, masih diperbolehkan dan tergolong aman untuk digunakan. Tapiii... petuah sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan ya ngeri juga kalau dalam hal negatif. Ya kaaan...

SLS
Apasih SLS?
SLS atau Sodium Lauryl Sulfate adalah bahan kimia yang digunakan pada produk-produk kecantikan seperti shampo, sabun badan, sabun wajah, pasta gigi hingga deterjen, yang berfungsi untuk mengoptimalkan proses pembersihan.

Produk shampo, sabun badan dan sabun cuci muka kadang-kadang juga mengandung dua bahan lain yang sejenis dengan SLS yaitu SLES/Sodium Laureth Sulfate dan ASL Ammonium Laurel Sulfate. Tapi yang biasanya digunakan untuk produk hygiene adalah SLS.

Ciri-ciri produk pembersih yang mengandung SLS adalah busa berlebih yang dihasilkan saat digunakan. Tapiii justru karena busa ini, pembersihan jadi lebih optimal karena kulit kita jadi bersih dari debu dan minyak. Tapiii... tapi juga nih, karena SLS mampu membersihkan minyak secara menyeluruh, maka penggunaan sabun cuci wajah yang mengandung SLS kurang direkomendasikan karena bisa membuat kulit kering. Kebayang kan, kalau misalnya kita punya jenis kulit sensitif atau punya jenis kulit kering trus kita pakai sabun cuci wajah dengan kandungan SLS yang tinggi? Semakin sering kita pakai sabun wajah, shampo atau sabun badan dengan kandungan SLS, kulit kita bisa jadi iritasi, gatal dan kemerahan. Ngeri.

Itu tadi bahasan singkat soal Paraben dan SLS, yuuukk sekarang balik lagi soal skin care organik 😊



Jadi saya pakai produk skin care organik apa saat ikut program IVF?
Macem-macem untuk mereknya. Karena saya nggak tahu ya soal skin care organik saat itu, belum sempet riset lebih dalam soal skin care organik sebelumnya, udah keburu dikejar deadline program IVF. Jadi langsung potong kompas beli sepaket. Yaaa anggap saja saat itu saya ikut-ikutan, lebay dan terpengaruh iklan, hehehe.

Beli dimana skin care organik?
Nah ini, karena saya nggak paham saat itu, cuma ikut-ikutan aja. Saya beli sepaket sesuai maunya saya di account ig @bumil_store disitu jual sepaket ataupun satuan, sesuai kebutuhan kita. Jadi ngiklan kan... haha. 
Untuk pertama kalinya saya beli sepaket. Selanjutnya ya tergantung sehabisnya produk. 

Mahal nggak skin care organik?
Yes, agak pricey emang. Tapi biasanya kemasannya gedhe-gedhe banget, jadi kalau misal dihitung-hitung nih, sebanding  kok dengan biaya skin care dokter langganan kita ataupun bahkan skin care supermarket. Karena berdasarkan pengalaman saya, habisnya itu lama banget. Bisa 2-3 bulanan. Bukan karena saya pakenya cimit-cimit atau diirit-irit ya, enggak, tapi emang begitu. Banyak. Berasa nggak habis-habis. Nggak kayak skin care dokter yang cepet habisnya, kemasan jar-nya kecil-kecil, belum waktunya kontrol udah habis duluan 🙊😅

But the truth is, saya juga baru tahunya belakangan ini, alasan skin care organik mahal adalah karena si formulator harus mengambil sertifikasi atau lisensi organik kalau ingin meng-klaim produk yang dihasilkannya organik, dibuat dari bahan-bahan organik dan pengolahan produknya tidak boleh menggunakan bahan kimia berbahaya. Dan sertifikasi atau lisensi ini harus diperpanjang dalam jangka waktu tertentu, karenanya produk organik nggak mungkin MURAH. Begitu... jadi jelas kan ya? Why it has tO be pricey?

Sebagai tambahan, lembaga sertifikasi organik itu buanyak banget juga ternyata, di negara-negara lain maksudnya. Karena untuk di Indonesia sendiri sertifikasi organik untuk produk olahan itu belum ada, apalagi skin care. Jadi formulator produk skin care lokal Indonesia kemungkinan mengambil sertifikasi organik di negara lain, sesuai dengan keperluan dan tujuan si formulator untuk bisa mengklaim produknya organik. Untuk lebih jelasnya, silakan meluncur aja ke account ig @organicbeauty.id. Disitu banyak dibahas soal skin care organik beserta review-nya.  Account @organicbeauty.id sepertinya memang mengkhususkan diri membahas soal skin care organik. Jadi jujugkan saya juga kalau mau nanya-nanya soal skin care organik, karena saya memang sedang berusaha beralih ke organik demi alasan kesehatan. Soon, akan saya bahas juga kenapa. Ditunggu yaaa... 😊

Sejak kapan saya ganti skin care organik?
Saya nih itungannya telat banget, telat tahunya, telat riset dan telat cari infonya, maka saya ganti skin care beberapa hari sebelum FET kedua saya. Jadi udah telat banget. Saya sampe pressure si seller-nya buat cepetan proses dan kirim pasca saya transfer, karena ngejar deadline sebelum jadwal FET2. Parah banget kan? Hihihi. Akhirnya bisa jadi cerita disini, hehehe 🙈

Fokus saya saat itu, saya harus ‘very clean’ dari paparan produk-produk kimia berbahaya, termasuk skin care, walaupun telat. Karena trauma kegagalan FET1 saya, yang membuat saya ‘terlalu berhati-hati’ soal apapun. Begituuu...

Sebelumnya, saya tetep pakai skin care saya yang dari dokter kulit langganan saya atau klinik kecantikan langganan saya. Jadi saya mulai ganti skin care organik itu H-1 atau H-2 FET2 saya. Mepet banget kaaan... hahaha 🙈🤣

Haruskah ganti skin care organik hanya untuk program IVF?
Kalau saya, absolutely YES. Kalau nggak bisa atau berat untuk ganti skin care seterusnya, setidaknya sampai melahirkan.  

Prinsip saya, kalau itu bisa meningkatkan keberhasilan program IVF saya walaupun cuma 1% atau bahkan kurang dari itu, saya akan coba, saya akan lakukan. Lebih baik menyesal karena berbuat sesuatu daripada menyesal tidak melakukan apapun, dalam hal ini mempersiapkan segalanya.

Ngefek nggak ganti skin care organik dengan keberhasilan IVF?
Kalau berdasarkan beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, hubungannya terjadi secara nggak langsung. Masalah berhasil atau enggak kan bukan urusan kita, setidaknya kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin, apapun itu, usahakan.

Jadi, dari beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, daya serap tubuh lewat kulit meningkat sampai 5x lipat pada saat hamil dan menyusui. Jadi ngeri aja gitu kalau kehamilan yang kita tunggu-tunggu, kita jaga hormonnya, asupannya, kestabilannya, biar janin kita, anak kita tumbuh dan berkembang dengan sehat, eh kecolongan lewat kulit, sesederhana skin care sehari-hari. Yang mana kita, eh saya ding, sebagai kaum hawa, kayaknya susah banget lepas dari produk skin care karena dari sononya juga kita kan kepengen selalu tampil cantik, atau setidaknya ‘bersih’ lah. Jadi kalau kemana-mana setidaknya nggak malu-maluin yang ngajak. Saya orangnya nggak pedean soalnya 🙈😅

Bagaimana dengan skin care pasca melahirkan?
Seharusnya sih tetep lanjut pakai skin care organik ya, karena masih aktif menyusui. Tapi saya enggak, hehehe. Alasan utama sih karena berat diongkos yaaa, jujur, lebih pricey kan, sesuai yang saya jelaskan sebelumnya. Tapi ini jangan ditiru lhoo, baiknya diteruskan.

Setelah beberapa bulan kembali ke skin care supermarket ala saya, sekitar dua atau tiga bulanan ini saya mulai ‘menata’ kembali life style saya, berprogres ke Healthy life style sedikit demi sedikit, pelan-pelan, termasuk soal skin care demi sehat paripurna 😎

Jadi saya udah mulai nyoba-nyoba, riset sana-sini, baca sana-sini, tanya sana-sini. Soon, akan saya bahas juga soal ini, sesuai janji saya. Ditunggu yaaa...

Sekian dulu bahasan soal skin care untuk program hamil IVF. Seperti biasa, jika ada yang kurang-kurang, akan saya update kemudian, sesuai dengan pertanyaan dan diskusi dengan teman-teman semua. Jadiii... yuk komen, kita belajar, discuss n bahas sama-sama 😊🙏🏻



Salam,



Lisa.