Tampilkan postingan dengan label IVF Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IVF Journey. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2020

Review Skin Care untuk Program Hamil

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai-hai... ini tulisan lanjutan dari postingan saya sebelumnya ya, masih soal Skin Care untuk Program Hamil. Iyaa masih ngomongin skin care kitaaahh. Kali aja penasaran saya pake apa aja pas berhasil hamil, daripada ditanyain duluan, saya akan bikin jawabannya duluan, hehehe... saya akan review produknya satu-satu. Sekalian latihan nge-review lagi, udah lama banget nggak bikin postingan review hehehe.

Yuuk...
Bismillahirrahmanirrahim...


Ini serangkaian produk yang saya pakai saat berhasil hamil IVF yaaa... Namanya paket No 1, udah lengkap banget dari ujung kepala ke ujung kaki. Kalau mau samaan bisa, silakan hubungi account ig @bumil_store. Tapi ini udah lama banget yaaa, tahun 2017, bisa jadi isi paketnya udah beda macemnya. Tapi intinya sama, sama-sama cari yang aman untuk janin kita, sama-sama bebas bahan kimia berbahaya, insyaAllah.

Daaan disclaimer dulu nih, saya nggak ada kerjasama dengan si pemilik account ig/ seller tersebut ya, saya nggak dibayar, jadi ini review murni dari saya sebagai customer, pengalaman saya, karena memang saya pakai pada saat itu, hingga kurleb setahun kedepan.

Yuuk mulai...

Shampoo: Kukui Oil by OgX
Untuk shampoo-nya saya dipilihkan Kukui Oil. Perlu digarisbawahi disini, ‘dipilihkan’. Yes, dipilihkan oleh seller. Jadi si seller ini akan sedikit tanya-tanya ke kita soal jenis rambutnya yang kayak gimana saat kita chat mau order. Dan ini ngebantu banget buat customer yang buta arah soal organik macam saya saat itu. Karena jujur nih, saya biasa pake shampoo anti dendruff merk tertentu favorit saya yang dimana-mana ada. Ternyata setelah saya cek ada bahan kimia yang berbahaya buat bumil dan busui, jadi mau nggak mau harus banting setir, putar haluan, cari yang organik. Titik.

Kesan pertama gimana? Dari serangkaian Paket 1, produk shampoo-nya ini yang paling smells friendly buat saya. Bukan berarti lainnya baunya nggak enak ya, bukan. Mungkin saya terbiasa dengan bau harum dari campuran bahan-bahan kimia, pewangi ataupun parfum ya, jadi pertama kali nyium bau bahan-bahan organik agak syok sedikit hidungnya. Kenapa saya bilang smells friendly? Ya karena setelahnya kan Alhamdulillah saya positif, namanya hamil muda kan sensitif banget dengan bau-bauan. Nah bau Kukui Oil ini lumayan nyegerin. Busa shampoo-nya juga banyak, ada kesan keset dan bersih pasca keramas. Kalau terbiasa pakai conditioner kayak saya, agak sulit beradaptasi, karena conditioner melembapkan dan melembutkan rambut setelah keramas, ada smooth effect yang ditimbulkan, nah ini nggak ada, keset doang, gituuu...

Saya juga terbiasa dengan shampoo yang ada menthol-nya, yang bermanfaat meredakan kulit kepala saya yang kadang gatal, selain suka sama sensasi dingin segernya pas diguyur air. Nah ini nggak ada mentholnya, jadi yaaa udah gitu aja. Perihal adaptasi doang sih intinya.

Pernah juga tanya sama si seller kalau saya Pengen yang ada sensasi dinginnya, trus disarankan nyoba ganti varian Teatree Mint shampoo, karena kadang pakai shampoo Kukui Oil bikin kulit kepala saya gatal, tapi eh ternyata saya kurang suka sama varian Teatree Mint. Ada sih sensasi dingin-dinginnya sedikit, tapi nggak sekuat sensasi dingin dari Menthol di shampoo idola saya, hehe. Jadi bukan itu yang saya inginkan. Then, balik lagi pakai Kukui Oil.

Untuk kemasannya lumayan besar ya, jadi kalau dihitung-hitung dan dibandingkan dengan shampoo yang biasa saya pakai, itu sama, sebanding. Jadi jatuhnya nggak mahal. Dan lama habisnya, padahal saya keramas dua hari sekali.

Body Wash: Organic Care - Creamy Berry
Kesan pertama untuk body wash-nya, kemasannya gedheee banget, berasa nggak habis-habis, hehehe. Dan agak ngerepotin juga pas dibawa-bawa travelling. Karena saya dua kali staycation ala Baby moon keluar kota saat hamil, dan saya terpaksa mindahin ke kemasan lebih kecil, kalau misal nggak sempat ya dibawa aja segedhe itu walaupun pak suami udah pasti ngomel.

Varian ini wanginya enak banget ya, favorit deh. Busa juga lumayan banyak walaupun organik. Tapi saya pakai shower puff ya, jadi kelihatan banget busanya melimpah saat dikruwes-kruwes di shower puff. Walaupun busanya melimpah tapi ini agak licin ya, makanya perlu shower puff. Jadi maksud saya mungkin karena organik, liquid-nya lembut di kulit, melembabkan, nggak membuat kulit kering, nggak banyak mengandung bahan yang membuat kulit kering, berasa bedanya kalau dibandingkan dengan mandi pakai sabun mandi biasa yang berasa keset sehabis mandi.

Bentuknya liquid atau cair dengan tingkat kekentalan sama dengan sabun cair pada umumnya. Jadi tinggal di-manage aja pemakaiannya, mau irit apa pelit.

Saya lupa ya pernah nyoba varian apa aja untuk body wash-nya. Tapi kayaknya sih cuma nyoba Creamy Berry dan Vanilla Ylang-Ylang. Enak mana? Enak semua sih, cuma beda baunya aja, satu merk kan.

Pasta Gigi: Pasta Gigi Herbal (HPAI)
Saya biasa pakai pasta gigi Sensodyne dengan varian merah, yang original, yang nggak ada rasa-rasa gimana-gimananya pasca dipakai. Saya pakai pasta gigi ini sejak tahun 2013an atas saran dokter gigi saya. Yes, saya agak bermasalah dengan gigi sejak saya kecil. Long story short, ganti pasta gigi jadi pakai pasta gigi herbal HPAI nggak ada masalah berarti buat saya. Cuma, saya jadi berasa kalau pasta gigi Sensodyne Merah ada rasa-rasa Mint nya sedikit, karena pasta gigi herbal HPAI LEBIH PLAIN pasca dipakai sikat gigi. Saya sering balik lagi pakai Sensodyne Merah kalau ternyata kehabisan pasta gigi herbal HPAI, saat itu. Pas balik lagi ini, saya merasanya gitu. Emang so far, nggak ada masalah kalau biasanya pakai pasta gigi yang cenderung plain kayak yang biasa saya pakai, Sensodyne Merah. Tapi kalau biasanya pakai pasta gigi yang dingin, ada sensasi menthol, segar dan semacamnya, jelas aneh banget saat pakai pasta gigi herbal HPAI. Malah mungkin nggak berasa udah sikat gigi. Karena pasta gigi HPAI kayaknya less atau non-detergent, jadi busanya sedikit banget. Mau pakai agak banyakan pun tetep sedikit aja jadinya. Dan satu lagi kekurangannya, disemutin. Entah kenapa semutnya doyan banget ngerubutin kepala pasta giginya, sikat gigi saya pun juga. Padahal sebelum pakai pasta gigi herbal HPAI, sikat gigi saya nggak pernah disemutin. Sudah dicuci berkali-kali pun semut-semut bakalan balik lagi-balik lagi. Entah kenapa. Tapi kalau dirasa-rasain sih, memang ada rasa sedikit manis. Mungkin manis herbalnya ini yang menarik buat semut, sehingga doyan banget ngerubutin. Beda kalau pasta giginya banyak bahan kimia, mungkin semut nggak akan mau.

Face wash: Unscented Soapless Facial Cleanser by Sensatia Botanica
Buat yang terbiasa pakai facial wash yang ada di pasaran, minimarket, yah pokoknya yang dimana-mana ada lah, kayak saya, siap-siap adaptasi pakai facial wash ini. Karena facial wash ini soapless, minim banget busanya. Kalau wajah lagi kotor banget, berminyak banget, pasca pakai make up agak tebelan, saya biasa ulang 2-3 kali untuk mendapatkan bersih maksimal versi saya, atau kalau nggak, tuang agak banyakan ditangan. Karena ya soapless itu tadi, nggak banyak menghasilkan busa kayak facial wash diiklan-iklan TV yang nuang seukuran pearl size aja udah cukup buat membersihkan seluruh muka. Dan karena ini unscented, alias nggak ada aroma-aroma wangi parfum, hati-hati juga. Bukan apa-apa sih, cuma buat yang usia kandungannya masih muda, alias hamil muda, hati-hati sama mualnya. Saya selalu mual dan berasa pengen muntah tiap kali cuci muka ketika masih di trimester awal. Ini berlangsung cukup lama dan lumayan menyiksa banget. Pengennya cuci muka doang tapi malah mual gara-gara aroma sabunnya, jadi punya dilema yang nggak penting, hehehe.


Facial scrub: Coconut and Vanilla Facial Scrub by Sensatia Botanica
Ini adalah jenis facial wash kedua yang saya pakai. Saya pakai ini ganti-gantian sama facial wash Sensatia yang saya jelaskan sebelumnya. Yang ini juga produknya Sensatia Botanica, cuma ini ada scrub-nya, gunanya buat ngangkat sel-sel kulit mati. Ini nggak ada di paketan yang saya sebutkan di awal post ini ya. Tapi saya merasa perlu pakai facial scrub ini, jadi saya beli terpisah dari paket. Saya pakai facial scrub ini karena efek soapless-nya Sensatia face wash yang saya pakai, yang menurut saya kurang bisa membersihkan minyak dan sebum yang ada di muka saya. Maka dari itu, saya perlu facial scrub, inipun pakainya cukup seminggu 2x aja sesuai petunjuk kemasan, karena mengandung scrub, jadi memang nggak boleh tiap hari, takut kering di muka. Dan perlu hati-hati juga saat cuci muka pakai facial scrub ini, jangan dipakai pas lagi jerawatan parah ya, takut tambah meradang jerawatnya. Atau kalaupun terpaksa banget, perlu pakai facial scrub, jangan terlalu keras membasuhnya, karena scrub-nya lumayan berasa tajam di muka. 

Saya paling suka sama after effect-nya. Berasa lembut dan bersih banget muka saya pasca pakai facial scrub ini. Jadi ini recommended banget.

Facial scrub ini juga lebih smells friendly daripada facial wash-nya Sensatia yang saya ceritakan sebelumnya. Terutama yang hamilnya masih ada mual-mualnya. As you know, mual-mual bisa sangat mengganggu banget buat beberapa orang. Dan saya termasuk ke dalam kelompok ini, mengalami dilema nggak penting soal skin care yang bikin mual 😅 

Facial scrub ini juga lebih irit. Seukuran pearl size aja udah bisa buat membersihkan seluruh muka. Jadi lebih hematlah untuk ukuran skin care organik.

Moisturizer: Unscented Sensitive Facial C-Serum by Sensatia Botanica
Moisturizer ini menurut saya biasa aja efeknya di kulit muka dan leher saya. Nggak memberikan efek yang gimana-gimana, tapi mungkin karena saya belum belajar banyak soal kesehatan holistik kali yah, jadi makannya masih sembarangan banget. Jadi ya nggak heran juga kalau misalnya muka saya jadi lokasi strategis jerawat buat ‘meeting’ alias ngumpul semua. 

Bentuk moisturizer-nya liquid, cenderung cair dengan botol pump, gampang banget memakainya. Dan cuma butuh seukuran pearl size aja buat melembabkan seluruh muka dan leher, hemat. Berasa agak sedikit licin di muka jadi perlu waktu untuk meresap ke kulit dan ringan banget, kayak lagi nggak pakai moisturizer lah, kalau dibandingkan dengan moisturizer yang ada di pasaran ya, yang ini lebih ringan. Setelah kering, saya biasa pakai bedak tabur, nah bedak saya nempel sih, tapi cuma sebentar aja. Selebihnya udah ilang aja 😅 Jadi kalau menurut saya, dia nggak bisa mengikat bedak tabur saya buat nempel lebih lama. Jadi kadang udah bedakan tapi malah kelihatan kayak orang belum mandi, hahaha. Tapi untuk baunya, lumayan smells friendly, jadi nggak bikin mual insyaAllah.

Fyi, saya pakai moisturizer ini lumayan lama Lhoh. Mulai sebelum FET2 sampai si Adek usia setahunan lebih, sekitar dua tahunan kan jadinya. Nggak ngefek tapi masih terus pakai? Mmm... gimana ya? 😅 Udah kepalang beli, pricey pula, jadi ya dihabisin dulu sebelum akhirnya ganti dan Alhamdulillah lebih cocok. Sekarang saya pakai produknya Amore. Next time saya review ya 😊

Hand n Body Lotion: Nourishing Body Lotion by Petal Fresh var Olive Oil n Shea
Produk-produk organik yang saya beli ini enaknya kemasannya gedhe-gedhe. Apalagi hand n body lotion-nya ini, gedhe banget. Nggak ada kemasan kecil. Jadi kekurangan kalau misal mau dibawa travelling. Tapi jadi kelebihan kalau kita ngomongin soal harga. Asli awet, nggak habis-habis. Apalagi kalau pakainya jarang-jarang kayak saya. Karena saya lumayan males pakai hand n body lotion saat hamil kalau lagi nggak kemana-mana, jadi tambah awet n nggak habis-habis kan tuh 😅

Bentuk lotion-nya lebih cair kalau dibandingkan dengan hand n body lotion yang biasa saya pakai. Agak licin tapi cepet meresap juga dikulit jadi enak. Dan baunya nggak begitu menyengat. Saya sengaja menghindari bau-bau yang menyengat saat hamil demi menghindari mual yang berlebihan. Jadi saya pilih varian Olive Oil n Shea yang katanya bisa menutrisi kulit ibu hamil yang cenderung kering. Saya nggak sempet nyoba varian lain ya, karena ya itu dia, nggak habis-habis karena kemasannya gedhe banget, jadi saya nggak ada kepikiran re-purchase juga karena cukup membebani kalau mau dibawa-bawa travelling, apalagi bentuk kemasannya pump.

Deodorant: chamomile n Green tea pomegranate By Crystal Essence
Soal skin care organik itu paling susah pas bagian deodorant kalau menurut saya. Kalau biasa pakai deodorant yang ada di pasaran, tentu rasanya beda banget pas pakai deodorant organik. Kenapa? Deodorant organik nggak bisa menghilangkan bau odor tubuh saya. Untuk brand Crystal Essence ya. Deodorant yang ada di pasaran itu mengandung alumunium kalau nggak salah (correct me if I’m wrong), yang bisa menghambat produksi keringat berlebih di bagian ketiak, sehingga nggak akan bau odor seharian jika bercampur dengan bakteri karena kita nggak akan mengeluarkan keringat. Nah ternyata, dari ilmu yang saya pelajari akhir-akhir ini keringat itu harus dikeluarkan dari tubuh sebagai bagian dari proses detox tubuh. 

Ternyata penting banget untuk tidak menghambat keringat keluar dari ketek karena disitulah pusat kelenjar limfe terbesar yang artinya itu juga tempat pengeluaran toxin terbesar dan terpenting di tubuh kita jadi jangan malah dihambat.

Nah, salah satu produk yang paling highly toxic di kehidupan sehari-hari adalah deodorant apalagi yg anti-perspirant. Ini yang biasa saya pakai juga. Merk ‘R’ yang sudah jadi andalan banget. Tapi setelah belajar ini-itu, soal kesehatan dari sudut pandang holistik, jadi galau, gimana dong? Ketek bau, pengen berhenti, tapi butuh. Dilema antara mau berhenti masukin toxin ke badan tapi butuh. Saya tipikal yang malu banget kalau sampai bau, berasa nggak bersihan aja jadi orang. Cewek apalagi kan, lebih sensian.

Solusinya?

Akhirnya setelah belajar lebih lanjut, dari mentor kesehatan holistik saya, solusinya adalah detox ketek! Jadi silakan dievaluasi masing-masing dari asupannya setiap hari. Kalau bau ketek kita asem ya emang berarti tubuh kita sedang dalam kondisi acidic karena banyak makan-makanan yang acidic atau lagi stress atau apapun yang membuat pH tubuh kita jadi rendah dan asam. Dengan tahu lewat keringat, kita jadi bisa bertindak. Misalnya mengurangi makanan acidic, perbanyak makanan yang sifatnya alkaline/ basa. Kalau dari stress kita bisa bertindak dengan stress release, atau diselesaikan masalahnya dengan baik, atau apapunlah yang penting stress-nya keluar dan nggak berhenti lagi di badan. 

Kalau kata mentor saya, nggak perlu takut bau ketek setelah lepas deodorant pabrikan (sebutan baru untuk deodorant yang ada di pasaran), karena berdasarkan pengalaman mentor saya, malah yang bikin bau sengit ketek itu ya residu-residu bahan kimia dan logam-logam dari si deodorant pabrikan itu sendiri, terutama aluminiumnya. Makanya bahkan beberapa deodorant residunya banyak banget sampai berbekas di baju bagian ketek, yang biasanya warnanya kuning keras dan bau. Bayangkan, di baju aja jadinya efeknya begitu, gimana kalau di badan. Nggak heran ya, penggunaan deodorant pabrikan ini sangat erat berhubungan dengan penyakit-penyakit  seperti breast/lymphatic cancer. Serem!

Setelah nggak pakai deodorant pabrikan lagi insyaAllah ketek nggak bakalan bau sengit yang tajam lagi. Tapi kalau bau asem mungkin banget yang asalnya dari kondisi badan yang saya jelaskan sebelumnya. Dan malah berguna banget sebagai peringatan dini dan bahan introspeksi atas apa aja yang kita konsumsi selama ini.

Jadi gimana caranya detox ketek?

Gampang, tinggal pake lemon/ jeruk nipis setiap 3 jam sekali, lalu pas sebelum mandi gosok pakai garam epsom dan kepit sebentar, baru kemudian mandi. Lakukan setiap hari kurang lebih 3-7 harian, bisa lebih, tergantung individu dan tingkat keparahannya, si bau ketek insyaAllah nggak muncul lagi.

Nah, sekarang untuk deodorant organik, pertama kali saya pakai merk Crystal Essence dengan varian chamomile n Green tea. Then, karena saat itu saya pikir varian chamomile n Green tea nggak bisa menahan bau odor ketek saya, saat itu saya belum banyak belajar soal kesehatan holistik, maka saya sempat curhat ke seller-nya soal ini dan disarankan untuk ganti varian pomegranate. But, sama aja. Memang sih, varian pomegranate kayaknya lebih setrong jika dibandingkan dengan varian yang sebelumnya saya pakai. Cuma, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya belum banyak belajar soal kesehatan holistik seperti sekarang, maka mungkin makanan yang saya konsumsi ya makanan yang nggak jelas, ditambah hamil IVF yang sudah tentu banyak mengkonsumsi obat-obatan, dll yang tentu membuat kondisi tubuh saya nggak oke secara holistik sehingga deodorant merk itu nggak banyak membantu menghalau bau odor ketek saya, walaupun sudah ganti varian. Jadi karena saat itu nggak tahu apa-apa yaudahlah pasrah aja dengan harapan cepet lahiran cepet ganti deodorant yang biasa. Hehehe.

Pengennya dilanjutin yaaa... karena seru. Tapi udah panjang banget ini, next saya akan tulis ulang soal detok ketek ini biar lebih jelas. Dan nambah satu postingan lagi soal skincare yang saya pakai sekarang. Oke... oke...
See you...


Salam,


Lisa. 

Minggu, 22 Desember 2019

Skin Care untuk Program Hamil

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Heyhooo... akhirnya ada waktu buat nulis soal skin care jugaaa... astagfirullah maafkan saya yang sok sibuk ini 🙈 udah beberapa kali juga di request, tapi kesibukan domestik mengalihkan segalanya. 

Soal skin care emang nggak bisa main tulis aja kalau saya, karena ada beberapa hal yang ternyata baru saya ketahui juga saat hamil dan setelah melahirkan, bahkan sekarang. Saya emang buta banget soal per-skin care-an, tahunya pake produk jadi aja dari dokter kulit. Karena dari SD saya udah jerawatan parah. Jadi dari SD saya udah terkontaminasi produk kimia pabrikan yang dijual di pasaran, dari dokter kulit atau dari klinik kecantikan. Jadi... mau nulis soal skin care kok nggak PD sayanya, hehehe, jadinya memang materinya mesti dikumpulin dulu. Biar tulisan saya nggak menyesatkan temen-temen semua 😅🙏🏻

Oke yuuukkk...
Bismillahhirrahmannirrahim...

Untuk program hamil IVF kebanyakan dokter kandungan menyarankan untuk menghindari sementara pemakaian bahan-bahan kimia, meskipun hanya untuk pemakaian luar. Prosedur tersebut disampaikan oleh dokter kandungannya langsung ataupun melalui suster bagian administrasi, yang menjelaskan dari A ke Z, apa aja yang boleh dan nggak boleh, termasuk paparan bahan-bahan kimia selama mengikuti program hamil IVF. Tapi ada juga dokter kandungan yang woles aja, nggak pake pantangan aneh-aneh karena mungkin dinilai efeknya kurang nampol bagi janin. 

Nah, untuk dokter saya sendiri nih, dokter Nando, orangnya slow aja, santai, asal laporan dulu sebelumnya, entah ke beliau langsung ataupun via suster koordinator. Sehingga bisa gercep penanganan kalau misalnya ada apa-apa, seremeh-temeh apapun itu.

Karena dokter Nando selow ajaaa, nggak terlalu mikirin pasiennya pakai skin care apaan, asal laporan dulu semuanya. Karena beliau lebih concern ke asupan gizi janin agar janin berkembang dengan baik, akhirnya soal skin care saya cari-cari sendiri apapun yang bisa menunjang keberhasilan program IVF saya, berdasar review dan arahan dari mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. 

Saya dapet info skin care dari mana?
Banyak banget. Dari blog dan dari account instagram mbak-mbak yang sudah lebih dulu berhasil. Misalnya dari blognya Mb Andra Alodita, dari blog Mb Fika, dari account ig Mb Vega, dll, banyak. Tapi mostly dari account ig Mb Vega sih. Panutan program IVF saya yang sudah sering saya sebut-sebut sejak postingan-postingan saya sebelumnya soal IVF.

Jadi pakai skin care apa? Yang gimana?
Skin care yang natural, organik, bahan kandungannya ramah buat tubuh ibu dan calon bayi, biasanya No Paraben, No Alcohol, No SLS.

Yuuuk, kita bahas sedikit soal Paraben dan SLS.

PARABEN
Apasih Paraben?
Paraben adalah bahan pengawet sintetis, yang digunakan untuk menjaga agar makanan, obat, kosmetik, serta produk personal care seperti deodorant atau shampo jauh dari bakteri dan jamur, sehingga lebih awet. 

Sedangkan tanpa paraben, mungkin cleanser, lotion, foundation atau maskara kita sudah dipenuhi bakteri dan jamur dalam jangka waktu singkat. Kemampuan mengawetkan yang efektif dan biaya yang murah, membuat paraben digunakan di mana-mana.

Bagaimana cara mengetahui kandungan paraben dalam sebuah produk? 
Mudah banget, kita tinggal baca dan cari kandungan yang memiliki akhiran –paraben. Biasanya yang sering digunakan adalah Methylparaben, Ethylparaben, Propylparaben, Butylparaben, Isopropylparaben, Isobutylparaben, dll.

Mengapa Paraben dianggap berbahaya?
Kalau dilihat dari fungsinya ya, sebenarnya paraben memiliki manfaat besar untuk menjaga kualitas sebuah produk agar tidak mudah terkontaminasi jamur dan bakteri. Tapi berdasarkan dari beberapa literatur yang saya baca, penggunaan paraben sering dikaitkan dengan meningkatkan risiko kanker payudara. Nah lhoo... nah lhoo... kan serem yak...

Nah, Paraben dianggap berbahaya karena kandungannya memiliki sifat menyerupai estrogen saat masuk dalam tubuh manusia. Sedangkan apabila tubuh kita mengandung estrogen berlebih, kita dapat mengalami kerusakan fungsi hormon dan memicu meningkatnya risiko penyakit kanker payudara maupun gangguan reproduksi lainnya. Nah, kita nih dalam proses program bayi tabung (IVF) dijaga banget hormonnya biar bagus terus sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin bisa seoptimal mungkin. Nah jika hormon yang kita jaga banget untuk keberlangsungan kehidupan janin kita terganggu sedikiiit aja karena paraben yang terkandung dalam skin care yang kita pakai, maka saya lebih milih nggak pakai skin care-skin care-an sementara atau seterusnya, walaupun paraben dalam jumlah kecil atau masih dalam batas normal, masih diperbolehkan dan tergolong aman untuk digunakan. Tapiii... petuah sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan ya ngeri juga kalau dalam hal negatif. Ya kaaan...

SLS
Apasih SLS?
SLS atau Sodium Lauryl Sulfate adalah bahan kimia yang digunakan pada produk-produk kecantikan seperti shampo, sabun badan, sabun wajah, pasta gigi hingga deterjen, yang berfungsi untuk mengoptimalkan proses pembersihan.

Produk shampo, sabun badan dan sabun cuci muka kadang-kadang juga mengandung dua bahan lain yang sejenis dengan SLS yaitu SLES/Sodium Laureth Sulfate dan ASL Ammonium Laurel Sulfate. Tapi yang biasanya digunakan untuk produk hygiene adalah SLS.

Ciri-ciri produk pembersih yang mengandung SLS adalah busa berlebih yang dihasilkan saat digunakan. Tapiii justru karena busa ini, pembersihan jadi lebih optimal karena kulit kita jadi bersih dari debu dan minyak. Tapiii... tapi juga nih, karena SLS mampu membersihkan minyak secara menyeluruh, maka penggunaan sabun cuci wajah yang mengandung SLS kurang direkomendasikan karena bisa membuat kulit kering. Kebayang kan, kalau misalnya kita punya jenis kulit sensitif atau punya jenis kulit kering trus kita pakai sabun cuci wajah dengan kandungan SLS yang tinggi? Semakin sering kita pakai sabun wajah, shampo atau sabun badan dengan kandungan SLS, kulit kita bisa jadi iritasi, gatal dan kemerahan. Ngeri.

Itu tadi bahasan singkat soal Paraben dan SLS, yuuukk sekarang balik lagi soal skin care organik 😊



Jadi saya pakai produk skin care organik apa saat ikut program IVF?
Macem-macem untuk mereknya. Karena saya nggak tahu ya soal skin care organik saat itu, belum sempet riset lebih dalam soal skin care organik sebelumnya, udah keburu dikejar deadline program IVF. Jadi langsung potong kompas beli sepaket. Yaaa anggap saja saat itu saya ikut-ikutan, lebay dan terpengaruh iklan, hehehe.

Beli dimana skin care organik?
Nah ini, karena saya nggak paham saat itu, cuma ikut-ikutan aja. Saya beli sepaket sesuai maunya saya di account ig @bumil_store disitu jual sepaket ataupun satuan, sesuai kebutuhan kita. Jadi ngiklan kan... haha. 
Untuk pertama kalinya saya beli sepaket. Selanjutnya ya tergantung sehabisnya produk. 

Mahal nggak skin care organik?
Yes, agak pricey emang. Tapi biasanya kemasannya gedhe-gedhe banget, jadi kalau misal dihitung-hitung nih, sebanding  kok dengan biaya skin care dokter langganan kita ataupun bahkan skin care supermarket. Karena berdasarkan pengalaman saya, habisnya itu lama banget. Bisa 2-3 bulanan. Bukan karena saya pakenya cimit-cimit atau diirit-irit ya, enggak, tapi emang begitu. Banyak. Berasa nggak habis-habis. Nggak kayak skin care dokter yang cepet habisnya, kemasan jar-nya kecil-kecil, belum waktunya kontrol udah habis duluan 🙊😅

But the truth is, saya juga baru tahunya belakangan ini, alasan skin care organik mahal adalah karena si formulator harus mengambil sertifikasi atau lisensi organik kalau ingin meng-klaim produk yang dihasilkannya organik, dibuat dari bahan-bahan organik dan pengolahan produknya tidak boleh menggunakan bahan kimia berbahaya. Dan sertifikasi atau lisensi ini harus diperpanjang dalam jangka waktu tertentu, karenanya produk organik nggak mungkin MURAH. Begitu... jadi jelas kan ya? Why it has tO be pricey?

Sebagai tambahan, lembaga sertifikasi organik itu buanyak banget juga ternyata, di negara-negara lain maksudnya. Karena untuk di Indonesia sendiri sertifikasi organik untuk produk olahan itu belum ada, apalagi skin care. Jadi formulator produk skin care lokal Indonesia kemungkinan mengambil sertifikasi organik di negara lain, sesuai dengan keperluan dan tujuan si formulator untuk bisa mengklaim produknya organik. Untuk lebih jelasnya, silakan meluncur aja ke account ig @organicbeauty.id. Disitu banyak dibahas soal skin care organik beserta review-nya.  Account @organicbeauty.id sepertinya memang mengkhususkan diri membahas soal skin care organik. Jadi jujugkan saya juga kalau mau nanya-nanya soal skin care organik, karena saya memang sedang berusaha beralih ke organik demi alasan kesehatan. Soon, akan saya bahas juga kenapa. Ditunggu yaaa... 😊

Sejak kapan saya ganti skin care organik?
Saya nih itungannya telat banget, telat tahunya, telat riset dan telat cari infonya, maka saya ganti skin care beberapa hari sebelum FET kedua saya. Jadi udah telat banget. Saya sampe pressure si seller-nya buat cepetan proses dan kirim pasca saya transfer, karena ngejar deadline sebelum jadwal FET2. Parah banget kan? Hihihi. Akhirnya bisa jadi cerita disini, hehehe 🙈

Fokus saya saat itu, saya harus ‘very clean’ dari paparan produk-produk kimia berbahaya, termasuk skin care, walaupun telat. Karena trauma kegagalan FET1 saya, yang membuat saya ‘terlalu berhati-hati’ soal apapun. Begituuu...

Sebelumnya, saya tetep pakai skin care saya yang dari dokter kulit langganan saya atau klinik kecantikan langganan saya. Jadi saya mulai ganti skin care organik itu H-1 atau H-2 FET2 saya. Mepet banget kaaan... hahaha 🙈🤣

Haruskah ganti skin care organik hanya untuk program IVF?
Kalau saya, absolutely YES. Kalau nggak bisa atau berat untuk ganti skin care seterusnya, setidaknya sampai melahirkan.  

Prinsip saya, kalau itu bisa meningkatkan keberhasilan program IVF saya walaupun cuma 1% atau bahkan kurang dari itu, saya akan coba, saya akan lakukan. Lebih baik menyesal karena berbuat sesuatu daripada menyesal tidak melakukan apapun, dalam hal ini mempersiapkan segalanya.

Ngefek nggak ganti skin care organik dengan keberhasilan IVF?
Kalau berdasarkan beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, hubungannya terjadi secara nggak langsung. Masalah berhasil atau enggak kan bukan urusan kita, setidaknya kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin, apapun itu, usahakan.

Jadi, dari beberapa literatur yang saya baca dan pelajari, daya serap tubuh lewat kulit meningkat sampai 5x lipat pada saat hamil dan menyusui. Jadi ngeri aja gitu kalau kehamilan yang kita tunggu-tunggu, kita jaga hormonnya, asupannya, kestabilannya, biar janin kita, anak kita tumbuh dan berkembang dengan sehat, eh kecolongan lewat kulit, sesederhana skin care sehari-hari. Yang mana kita, eh saya ding, sebagai kaum hawa, kayaknya susah banget lepas dari produk skin care karena dari sononya juga kita kan kepengen selalu tampil cantik, atau setidaknya ‘bersih’ lah. Jadi kalau kemana-mana setidaknya nggak malu-maluin yang ngajak. Saya orangnya nggak pedean soalnya 🙈😅

Bagaimana dengan skin care pasca melahirkan?
Seharusnya sih tetep lanjut pakai skin care organik ya, karena masih aktif menyusui. Tapi saya enggak, hehehe. Alasan utama sih karena berat diongkos yaaa, jujur, lebih pricey kan, sesuai yang saya jelaskan sebelumnya. Tapi ini jangan ditiru lhoo, baiknya diteruskan.

Setelah beberapa bulan kembali ke skin care supermarket ala saya, sekitar dua atau tiga bulanan ini saya mulai ‘menata’ kembali life style saya, berprogres ke Healthy life style sedikit demi sedikit, pelan-pelan, termasuk soal skin care demi sehat paripurna 😎

Jadi saya udah mulai nyoba-nyoba, riset sana-sini, baca sana-sini, tanya sana-sini. Soon, akan saya bahas juga soal ini, sesuai janji saya. Ditunggu yaaa...

Sekian dulu bahasan soal skin care untuk program hamil IVF. Seperti biasa, jika ada yang kurang-kurang, akan saya update kemudian, sesuai dengan pertanyaan dan diskusi dengan teman-teman semua. Jadiii... yuk komen, kita belajar, discuss n bahas sama-sama 😊🙏🏻



Salam,



Lisa.