Tampilkan postingan dengan label Love Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2020

My Decade Recape


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Iseng-iseng bikin #decaderecape lah, walaupun udah telat sih yaaa... Cuma pengen tahu aja, saya udah ngapain aja 10 tahun terakhir, secara saya bukan tipe visioner yang bikin planning duluan, mau apa aja, ngapain aja beberapa tahun ke depan. Saya lebih ke jalani aja duluuu... Just go with the flow 😅

2010
•Masih kuliah tapi udah masuk tahun terakhir.
•Pertama kali ketemu camer di wisuda mas pacar, aahheeyy, sekarang jadi mertua beneran, Alhamdulillah 😆🙈


Wisuda Mas Pacar
2011
•Sibuk-sibuknya Tugas Akhir, ‘digembleng’ salah satu dosen penguji, memorable banget ternyata Pak ðŸ˜Ģ How do you do pak 🙋ðŸŧ‍♀️
*gakbranimentionorangnya ðŸ˜Ģ
•Eh si mas pacar udah ngajak nikah mele gara-gara dikomporin bosnya dikantor, padahal dia juga baru setahunan kerja, takut eike kabur bawa cintamu pak @cordiatno? ðŸĪŠ
•Di tahun ini Wisuda dooong akhirnyaaa ðŸ‘ĐðŸŧ‍🎓

Foto pamer buku Tugas Akhir 😎
2012
Got my 1st job di kota kelahiran.
•Dapat pak bos yang klop n santuy, gimana kabar pak @arie_ardie dan tim karaoke pak vin traktor @m.zaenuri99 ðŸĪĢðŸĪĢ
•Ketemu ibukmay @maya_irva yg gagah cem Mb Ais wkkwkwkw ðŸĪĢðŸĪĢ💊ðŸŧ💊ðŸŧ

Kurang 1 personil 
2013
Married juga akhirnya sama mas pacar di usia 24 tahun.
•Melanjutkan perjuangan LDR sejak 2010 ke LDM 😊
°Pernah ikutan merantau ke Makassar walaupun cuma seminggu, sebelum akhirnya dimutasi lagi ke ibukota.


2014
Resign dari pekerjaan pertama & terakhir saya 🙈
•Diboyong ke Duri, Riau, No more LDM, yeay 💕
Been busy switching habit from 8 tO 5 workers to stay at home wife’s.



2015
•Ketemu sama mamacim @mirna_saga yang nularin hobi masak-masak sampai sekarang, dulu saya nggak suka masak ðŸ‘ĐðŸŧ‍ðŸģ 
•Ketemu mamayung @ayu.kemalaputri & Mb Lope, sesama istri perantauan 😅
•Nggak nyangka bisa jalan-jalan keliling Sumbar, bahkan sampe nyebrang ke negara tetangga, semua gara-gara ngekor suami #masyaAllahtabarakallah 

Malacca
2016
•Pindah ke ibukota, nggak sengaja ikutan WS #smartphonephotography nya Mb @ariana_arriana trus keterusan suka pota-poto #foodphotography sampai sekarang, walaupun skill-nya tetep segitu-gitu aje 😌
•Ketemu Mb @griyo_fepi yang ternyata pasien DokNan juga, sempit sekali Ibukota 😅 hai Mb Fep, gimana kabar? 🙋ðŸŧ‍♀️


pertama Kali ketemu mb Fepi
2017
•Nekat Start IVF dengan budget yang pas-pasan setelah bertahun-tahun nyoba berbagai program kehamilan.
•Setelah 2xFET yang penuh perjuangan, drama dan air mata, 1 Des dinyatakan positif hamil singleton ðŸĪ°ðŸŧ

Kontrol terakhir ke Dr. Nando
2018
•Akhirnya ngerasain hamil yang menyenangkan, minim keluhan dan melahirkan si Adek tanggal 4 Agustus, our long awaited gift ðŸĪąðŸŧ


Moment Aqiqah si Adek
2019
Struggling dengan kondisi pencernaan si Adek, sampai akhirnya berkenalan dengan Naturopathy, gara-gara selalu ngepoin account Mb Vega @veganugrohos Thank you Mb Ve 🙏ðŸŧ😘
Eager tO learn more and more about healthy life style 💊ðŸŧ
°Ngubek-ubek Cilegon, tiap weekend PP Jakarta-Cilegon, semua demi ngintilin suami.
°Pernah nekat tinggal dikosan Jakarta juga selama beberapa bulan karena takut berduaan doang sama si Adek di kontrakan Cilegon.
°Survei rumah tiap weekend, Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, semua diubek-ubek, tapi lelahnya pun akhirnya terbayar, insyaAllah bermukim di Bekasi, Alhamdulillah.



Banyak juga ternyata, 10 tahun yang luar biasa buat saya, penuh berkah, mengajarkan saya banyak hal, membentuk saya yang sekarang. Rencana Allah SWT memang yang terbaik. Saya nggak pernah menyangka bisa keliling Sumbar, kalau saya nggak resign, kalau saya nggak ngekor suami, dst, dst. Nggak pernah menyangka juga bahwa rejeki kami hadir melalui #IVF , dengan segala ups and downs kami dalam mengerjakan ujian-ujian Allah SWT untuk kebaikan saya dan keluarga saya. Proudly said we’re really blessed #masyaallahtabarakallah 🙏ðŸŧ

Semoga kita semua dianugerahi usia untuk menjalani dekade-dekade selanjutnya dengan bahagia. Aamiin... 🙏ðŸŧ



Salam,


Lisa.

Jumat, 15 Januari 2016

A Happy Unhappy Moments of 2015




Assalamualaikum...

2015. Kalau diingat – ingat lagi satu tahun kebelakang, merupakan tahun yang luar biasa untuk hidup saya. Entah karena saya yang terlewat baper dan geer atau gimana, tapi saya merasa saya melalui banyak sekali ujian dan mulai berani mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Keputusan-keputusan besar itu sukses membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang ini. Eccieeh... Hehehe

Jadi, apa aja sih ujian hidup yang saya alami?

Puas LDR dan LDM
Saya menyebut LDR (Long Distance Relationship) dan LDM (Long Distance Married) adalah sebuah Lifestyle. Mengapa? Karena, banyak sekali pasutri yang menjalani hubungan itu di masa sekarang ini, bukan hanya saya dan suami saya. Alasannya ya jelas bervariasi tergantung dari yang menjalani. Mulai dari alasan finansial, alasan sayang dengan pendidikan tinggi yang sudah dienyam, alasan kesejahteraan keluarga, dan sebagainya. Segala sesuatu memerlukan sebuah proses. Kami (saya dan suami saya) telah melalui proses itu beberapa tahun lamanya. Kami pun merasa cukup. Cukup bagi saya. Cukup juga bagi suami saya. Sudah sewajarnya saya mengabdikan hidup saya untuk keluarga yang sedang kami bangun bersama. Keputusan itu mendorong saya untuk lebih berani mengambil keputusan besar lainnya, yaitu resign.



Resign
Bagi sebagian orang mungkin resign itu adalah hal mudah. Semudah pindahan kantor, cukup membawa diri beserta cv dan menunggu panggilan. Bagi saya, keputusan resign merupakan keputusan yang cukup menguras otak. Berbagai macam pilihan dan konsekuensinya saya diskusikan dengan suami saya. Apa yang harus, apa yang tidak harus, apa positifnya, apa negatifnya. Semuanya kami bahas. Dan itu tidak hanya memakan waktu satu atau dua bulan. Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir. Berada diantara keinginan dan kewajiban itu tidak mudah, apalagi menyeimbangkannya.



Welcome, A New Married Life!
Tujuan dari keluarnya saya dari pekerjaan kantoran yang saya miliki adalah untuk mengabdikan diri saya full hanya untuk keluarga saya. Akhirnya mendorong saya untuk mengambil langkah selanjutnya. Saya harus siap berpindah-pindah rumah untuk mewujudkan keinginan kami. Welcome, a new married life. Memang ya, kehidupan rumah tangga baru bisa kita rasakan kalau kita sudah berada di bawah satu atap yang sama. Saya pun akhirnya paham fungsi dari ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Hehehe. Begitulah, saya mulai belajar macam-macam, semacam-macamnya pekerjaan rumah tangga. Segalanya berubah.
 
Bahasa Minang
Setahun lebih saya ikutan ‘nebeng’ suami disini, Kota Duri, Riau. Dan saya belum bisa Bahasa Minang sama sekali! Hahaha. Lidah dan otak Jawa saya berasa kelu mengartikan apa yang orang katakan kalau menggunakan Bahasa Minang. Boro-boro ngejawab dan ikutan ngobrol, paham apa yang diomongin aja enggak. Hahaha. Selain itu, kebanyakan dari teman-teman suami dan para istrinya adalah Orang Jawa, jadi we nggak berkembang itu pergaulannya! Orang temen-temennya juga Orang Jawa semua! Hehehe.

Memulai Blogging
Lepas dari pekerjaan kantor yang menguras otak selama lebih dari delapan jam sehari, membuat saya mencari –cari kegiatan positif lain untuk mencegah timbulnya rasa bosan karena tinggal seharian dirumah. Akhirnya saya pun mempelajari berbagai hal, termasuk diantaranya adalah blogging. Tergabung dalam beberapa komunitas cukup mengobati kerinduan saya akan ‘dunia luar’. Ecieeeh... Biar tetep eksis meskipun sehari-hari hanya duduk manis di depan lepi gitu.

Travelling
Salah satu keuntungan yang bisa saya peroleh dari ‘nebeng’ suami adalah travelling. Menjadi istri seorang kontraktor, memberikan saya kesempatan travelling yang begitu luasnya yang tidak pernah saya banyangkan sebelumnya. Saya tidak pernah bermimpi saya bisa Menjelajahi Sumatera Barat yang notabene berada di Pulau Sumatera, berjarak ribuan km dari rumah orang tua saya. Lha wong yang di Pulau Jawa seperti Air Terjun Sri Gethuk aja baru dikunjungi Agustus 2015 kemarin. Benar-benar Alhamdulillah.

Chavery Beach Hotel - Bungus, Padang

Jadi, apakah saya sempat menyesal dengan semua keputusan-keputusan yang sudah saya ambil? Saya rasa saya tidak akan pernahmenyesal, karena segala sesuatu akan berproses dengan sendirinya. Hanya saja, kadang-kadang masih sering sedih dan kangen dengan mereka, teman-teman seperjuangan saya yang masih berjuang di kantor cabang masing-masing, terutama perempuan-perempuan hebat diluar sana yang berhasil menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarganya. Keep a balance life sist!





Salam,



Lisa.

  
Nb: Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge: “The Best Moment of 2015”. Yuk ikutan tantangan  indonesian-hijabblogger.com ini, ada hadiah menarik bagi yang terpilih lho, jangan sampai ketinggalan ya, hari ini terakhir nih, maksimal tgl 15 Januari 2016 ya


Minggu, 20 Desember 2015

The Power of Surprise




Assalamualaikum...

Allah subhanahu wa ta’ala memberikan apa yang kita perlukan bukan yang kita inginkan.

Kalimat itu membuat saya ‘sadar’ dan mengucapkan syukur sekaligus istighfar sedalam-dalamnya. Alhamdulillahirabbilalamin. Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kepada saya bahwa kalimat itu bukanlah ungkapan semata, bahwa kalimat itu adalah benar dan nyata adanya. Astagfirullahhaladzim, saya begitu sombong dan angkuh hingga kesombongan itu menutup mata hati saya akan karunia dan nikmat Allah yang luput dari rasa syukur saya.

Lebaran Idul Fitri 2015 kemarin, ketika saya bersama suami dan adik-adik saya jalan-jalan ke Yogyakarta, kami mampir di salah satu muslimah store yang terkenal di kota tersebut. Saya pun mengungkapkan keinginan saya kepada suami untuk memiliki satu mukena lagi, mukena parasit tepatnya, untuk dipakai bepergian. Alasannya tentu karena mukena parasit lebih ringan dan ringkas untuk dibawa bepergian dan memang saat itu saya sedang menginginkan mukena. Fyi, mukena parasit saya agak rusak bagian bawahnya karena kesalahan saya. Saya terbiasa menyetrika semua pakaian saya, termasuk mukena parasit. Hah? Iya. Saya tetap perlu merasa menyetrika mukena parasit saya dengan alasan mengurangi kusutnya. (Kan malu ya, kalau kusut dan kelihatan nggak rapi?). Padahal ada yang bilang kalau mukena parasit itu tidak perlu disetrika karena sifat kainnya yang tipis dan mudah ‘terbakar’. Tapi saya pun selalu ngotot menyetrika mukena saya dengan temperatur hangat. Sayangnya, dua mukena parasit saya, sempat ‘terbakar’ sedikit pada bagian bawahannya karena temperatur setrika saya terlalu panas. Itu salah saya. Kelalaian saya. 

Kemudian, karena saya tidak mendapat restu dari suami, saya pun mengurungkan niat saya dengan berpikir bahwa mungkin saya belum terlalu membutuhkannya tapi salam hati saya, saya tetap ingin memiliki suatu saat nanti, entah kapan.

Kemarin sore, suami saya pulang membawa sebuah kotak dari seorang teman, katanya sebagai tanda perpisahan karena sudah tidak bekerja sama lagi (habis kontrak kalau bahasa kerennya para kontraktor, hehe), mereka memberi suami saya bingkisan. Di kantor, suami saya hanya mengintip isinya. Dia putuskan untuk dibawa pulang, diberikan kepada saya. Ketika diberikan kepada saya, “Ini lho dek oleh-olehnya dari Bukittinggi yang dijanjikan. Belum saya buka. Sepertinya itu taplak meja.” Saya heran. Taplak meja kok setebal ini, pikir saya. Setelah saya buka, ternyata isinya adalah mukena! Saya pun langsung kegirangan dan berucap syukur Alhamdulillah.
Selang beberapa menit, saya berkata kepada suami saya, “Allah tahu Adek pengen mukena! Alhamdulillah.” Suami saya pun balik bertanya, “Memangnya Adek kapan pengen mukena?”. Kemudian saya pun bercerita kembali tentang keinginan saya memiliki mukena beberapa bulan yang lalu. Suami saya pun ikut tersenyum. Bersyukur. Yang saya terima memang bukan mukena parasit, tetapi lebih bagus dan lebih indah. Alhamdulillah.


“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)


The Power of Surprise.

Semua orang, tanpa terkecuali sangat suka dengan kejutan atau surprise. Apalagi kalau yang memberi surprise berasal dari orang-orang terdekat, orang-orang tersayang. Rasanya pasti akan sangat membahagiakan. Apalagi kalau isi surprise-nya adalah sesuatu yang sangat kita idam-idamkan.

Lantas bagaimana kalau yang memberi surprise itu adalah Sang Pemilik Nyawa, Allah subhanahu wa ta’ala? Subhanallah wal hamdulillah. Maka yang terasa dalam hati akan melebihi dari perasaan  bahagia sehingga sudah sepantasnyalah kita bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepada kita hingga detik ini.


Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)


Kita sebagai manusia tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah kita terima. Nikmat itu dapat berupa apa saja. Jika kita pandai bersyukur maka Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan menambah nikmat. Sama halnya dengan doa. Jika kita pernah menuliskan doa pertama yang kita panjatkan sejak kita dilahirkan di dunia hingga doa kita hari ini, entah sudah menghabiskan berapa lembar buku. Dan apakah kita sanggup menghitung berapa banyak keinginan kita hingga hari ini, sementara kita selalu menginginkan lebih dan lebih. Lalu, apakah Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan semua keinginan-keinginan itu? 


“Mungkin, Tuhan tidak menjawab semuanya. Tapi kita akan tahu: cara Tuhan tidak mengabulkan sebagian doa kita adalah mengabulkan doa-doa kita yang lainnya. Tuhan Maha Tahu mana yang paling baik bagi kita, sementara kita hanya bisa mengira-ngira. Mungkin juga ditunda. Mungkin.” (Rumah Tangga – Fadh Pahdepie)


Seperti pengalaman saya, Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan keinginan saya disaat yang tidak terduga. Bahkan ketika saya sudah melupakan keinginan itu, tapi Allah subhanahu wa ta’ala masih mendengarnya. Subhanallah. Betapa Allah Maha Mendengar. Betapa Allah Maha Baik.

Ayo, tingkatkan keimanan kita dengan banyak bersyukur atas segala karunia nikmat-Nya hingga hari ini. Siapa tahu, akan mendatangkan banyak ‘surprise – surprise yang tidak terduga’ nantinya. Amiin. InshaAllah.


“Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui lebih banyak dari yang sanggup kita ungkapkan dalam doa.”
Image taken from


Salam,


Lisa.