Tampilkan postingan dengan label Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Challenge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2020

Serunya Bikin Chui Kao So #dirumahaja bareng Anak

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai-hai... bagaimana kabarnya setelah #dirumahaja selama 16 hari? Alhamdulillah saya dan keluarga saya sehat, InsyaAllah, Aamiin... 🙏🏻
Dan masih berusaha tetap #dirumahaja, nggak kemana-mana kecuali untuk hal mendesak seperti belanja kebutuhan harian. Semoga pandemi global virus covid 19 ini segera berlalu, sehingga kita bisa bebas kemana-mana tanpa ada rasa khawatir.

Kalau saya biasanya emang #dirumahaja sih, jadi nggak terlalu merasa gimana-gimana dengan adanya anjuran #dirumahaja dari pemerintah terkait pandemi global virus covid 19. Bahkan mungkin nggak berasa ada efeknya buat saya. Anjuran #dirumahaja dari pemerintah mungkin akan lebih berasa dampaknya bagi mereka yang terbiasa bekerja diluar rumah, anak sekolah dan orang tua yang memiliki anak yang sudah sekolah. Untuk yang terbiasa bekerja diluar rumah alias ngantor, anjuran #workfromhome agaknya cukup memberatkan, banyak hal yang mesti dipertaruhkan. Suami saya misalnya. Sebagai karyawan kantoran yang terbiasa berangkat pagi pulang sore, kelihatan jelas bagaimana beliau ‘sedikit struggle’ dengan kebiasaan barunya. Sedikit terlihat bosan dirumah selama seharian penuh walaupun sedang kerja.

Tantangan #dirumahaja juga berdampak besar untuk anak sekolah dan orang tua yang memiliki anak yang sudah sekolah. Banyak sekali penyesuaian dan pengorbanan yang harus dilakukan. Si anak harus survive #dirumahaja melawan rasa bosan dengan tugas yang begitu banyak sebagai ganti sekolah agar tidak tertinggal pendidikannya. Belum lagi rasa kangen karena tidak bertemu dan main bersama teman-teman sekolahnya. Sedangkan bagi orang tua yang memiliki anak yang sedang sekolah, anjuran #dirumahaja jadi tantangan tersendiri baginya, terutama untuk seorang ibu. Si ibu harus sukses menggantikan tugas guru disekolah sembari mengerjakan segala pekerjaan domestik hariannya. 

Saya? Si Adek, anak saya
masih berusia batita 21 bulan, sehingga saya belum merasakan bagaimana riweuhnya ngawasi anak belajar sambil mengerjakan PR sambil mengurus pekerjaan domestik sepanjang hari. Berasa hari jadi semakin panjang saja walaupun cuma membayangkannya 😆 Bisa membayangkan kalau akhirnya si ibu punya nada sampai lebih dari 7 oktaf, bisa lebih cerewet dan lebih galak daripada guru di sekolah, karena spaneng dengan berbagai pekerjaan yang harus selesai saat itu juga 😅

Nah, biar nggak bosen ketika #dirumahaja saya biasanya mengajak anak saya memasak atau membuat kue. Jangan kira anak saya yang batita nggak bisa merasa bosan #dirumahaja walaupun belum sekolah. Anda salah! Justru karena belum sekolah, anak jadi rawan lebih bosan, karena harus #dirumahaja seharian selama beberapa hari, tanpa main sama teman-temannya, tanpa pergi kemana-mana dengan orang tuanya. Jadi, sebisa mungkin saya selalu mengajak anak saya melakukan kegiatan yang berbeda-beda, salah satunya dengan memasak atau membuat kue. Karena saya hobi juga sih kalau ini 😅

Salah satu kue yang bisa dibuat bareng anak adalah Chui Kao So. Chui Kao So adalah kue kering khas negeri China yang biasanya ada dalam acara Sangjit, yaitu prosesi lamaran orang suku Kong Hu, suku asli orang Hong Kong. Dalam prosesi Sangjit tersebut, terdapat box seserahan yang berisi 4 jenis kue, dan Chui Kao So termasuk salah satunya. Chui Kao So sendiri berasal dari Cui yang berarti crispy, Kao yang berarti sesuatu yang dipanggang/ bake dan Shao berarti bake. 

Chui Kao So ini teksturnya garing dan renyah mirip kue emping. Dan uniknya, Chui Kao So ini berasa kayak ada kacangnya padahal dalam bahan-bahannya nggak ada disebutkan kacang ataupun emping. Ini yang bikin banyak orang jadi penasaran. Kalau kata Chef Thomas Law ada penggunaan campuran minyak goreng atau minyak sayur dalam adonan Chui Kao So, sedangkan kalau di China sendiri menggunakan minyak B2. Pastry Chef, Yongki Gunawan juga mengatakan kalau bahan kunci kue kering ini adalah minyak sayur. Jadi lemaknya itu dari minyak sayur sehingga jadinya kress dan renyah.

Nah kenapa saya pilih Chui Kao So untuk dibuat bersama anak? Karena Chui Kao So adalah salah satu kue kering yang mudah banget cara membuatnya, nggak perlu mengeluarkan mixer, cuma diaduk-aduk aja dengan spatula. Nggak perlu cetakan aneh-aneh, nggak perlu dibentuk rumit juga. Cukup dibulat-bulatkan terus ditekan dengan jempol, oles kuning telur, tabur wijen, panggang sebentar, jadi. Sesederhana itu. Inti dia resepnya.

GF Chui Kao So

Bahan:
180 gr @ladanglima.id All Purpose Cassava Flour
55 gr coconut sugar
100 ml minyak goreng kelapa
1 btr kuning telur ayam kampung organik
50 gr butter margarin
1/4 sdt baking powder
1/4 sdt garam Himalaya
1/2 sdt soda kue
2 sdm air

Olesan:
1 btr kuning telur ayam kampung organik + 1 sdm minyak goreng kelapa, aduk rata

Topping:
Wijen hitam & wijen putih secukupnya

Cara Membuat:
•Campur soda kue dan air, aduk rata.
•Dalam bowl, masukkan tepung mocaf, coconut sugar, minyak goreng kelapa, butter margarin, baking powder dan garam, aduk rata.
•Masukkan 1 sdm campuran soda kue dan air, aduk rata hingga bisa dipulung.
•Bulat-bulatkan adonan seukuran 1 sdt takar, letakkan di loyang yang sudah dioles margarin/ dialasi kertas roti, tekan dengan jempol hingga agak pipih dan melebar, lakukan hingga habis.
•Oles permukaan dengan bahan olesan, taburi wijen.
•Oven dengan suhu 175’ C selama 20 menit/ hingga matang kecoklatan.
•Angkat, dinginkan di rak kawat, simpan dalam stoples kedap udara.

Gimana? Gampang banget kan? Kalau anaknya sudah agak dewasa, mungkin malah bisa masuk ke semua prosesnya, artinya mulai nimbang, ngadon dan nyetak, si anak bisa ikutan. InsyaAllah seru. Semoga dengan membuat kue kering Chui Kao So bisa membantu menumbuhkan kepercayaan diri anak kalau dia bisa menghasilkan ‘sesuatu’ juga dari dapur ibunya. Sesuatu yang mungkin jarang banget dia lakukan selama sekolah.

Kalau anaknya masih balita atau bahkan batita banget, kayak anak saya, bisa masuk di step ngadon diawal pas ngaduk atau oles kuning telur dan atau tabur wijen, dijamin anaknya pasti udah Happy banget, berasa udah bisa bikin kue Full dari awal 😆 Jangan lupa lihat juga ekspresi nggak sabarannya anak-anak buat nungguin kue buatannya jadi, asli, seru banget, gemeeesss...

Oh iya, karena saya dan anak saya memiliki beberapa alergi dan intoleran terhadap beberapa bahan kue, maka saya buat Chui Kao So versi gluten free dan refined sugar free agar sedikit lebih ramah di tubuh saya dan anak saya. InsyaAllah nggak banyak merubah rasa. Justru mungkin lebih enak karena coconut sugar ada rasa gurih-gurihnya sedikit, nggak seperti manis gula pasir yang manis banget. 


Untuk resepnya tetep pakai resepnya Mb @riyasirmadona via @bundnina_kitchen, junjungan saya soal masak-masakan dan bikin kue.

Resep asli pakai tepung terigu protein sedang atau rendah ya, jadi kalau mau bikin versi tepung terigu, silakan ganti tepungnya jadi 200 gr tepung terigu dan 75 gr gula halus atau gula pasir. Konversi tepung dan gula yang saya gunakan lebih rendah karena masa jenis asli Cassava Flour atau tepung mocaf yang lebih berat daripada tepung terigu sehingga perlu dikurangi paling nggak 10% nya untuk memiripkan hasilnya. Karena konversi tepung dikurangi maka konversi gula juga ikut saya kurangi agar nggak terlalu manis. 

Rasanya gimana? Enak doooong... gurih... renyah. Saya belum pernah makan Chui Kao So versi aslinya yang pakai tepung terigu ya, jadi nggak bisa ngasih komentar apa-apa. Tapi biasanya nggak ada perbedaan yang signifikan untuk soal rasa kalau dari substitusi antara tepung terigu dan tepung mocaf. Biasanya kadar manisnya aja yang sedikit berbeda dan sedikit legit kalau memakai tepung terigu, sedangkan tepung mocaf lebih plain aja.

Kurang lebih gitu ya... yuk seru-seruan membuat Chui Kao So dirumah bareng si kecil. Buat kenangan di memori si kecil bahwa #dirumahaja juga bisa seru bareng ibunya 😊




Salam,




Lisa.

Kamis, 09 Januari 2020

Kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya seneng nulis nggak sih? Mungkin. Tapi nulisnya nggak pernah ‘disempatin’ tapi ‘sesempatnya’. Beda ya... Disempatin itu sengaja meluangkan waktu untuk menulis. Tapi sesempatnya ya seadanya waktu, sesuai mood, kalau lagi ‘ada’, kalau lagi ‘nggak ada’ ya sepi 😅

Trus tiba-tiba, nggak sengaja baca pengumuman kelas menulis via WA grup di account ig @nulisyuk , Alhamdulillah berjodoh. Sekian bulan yang lalu, entah kapan, lupa tepatnya kapan, saya pernah ingin ikutan kelasnya, tapi ternyata belum berjodoh. Lupa juga waktu itu kelasnya temanya apa. Daaan terlupakan karena satu dan lain hal. Kemudian nggak sengaja kebaca di salah satu feed instagram, langsung buru-buru follow up biar nggak kelupaan atau keselip lagi.




Alhamdulillah sekarang tergabung di kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina. So far, seneng sih, dapet ilmu baru, ilmu literasi. Karena biasanya yang pengen saya ikuti adalah ilmu fotografi. Sudah banyak saya ulas juga di beberapa postingan saya. Karena belakangan suka nulis di blog perihal pengalaman program hamil dan tulisan-tulisan di caption instagram, tetiba kepikiran buat ikutan kelas menulis. Just because karena saya perlu UPDATE ILMU literasi biar tulisan saya lebih enak dibaca. Sesederhana itu. Nggak ada pikiran bakalan nulis buku atau apa, nggak ada. Just as simple as that. Dan ternyata seru.

Kelas pertama diadakan tanggal 2 Januari 2020 jam 20.00 WIB sampai 21.30 WIB. Dimulai dengan sedikit perkenalan dengan mentor menulis, kak @jeeluvina, kemudian langsung dilanjutkan dengan materi. Di pertemuan pertama via WA grup itu, kami diminta untuk menuliskan alasan kenapa mau menulis. Buat nglemesin jempol katanya. Hehehe. Dituliskan minimal 200 kata dalam waktu 15 menit. Nggak kebayang kan? 200 kata Lhoh, banyak itu. Mana waktunya cuma 15 menit lagi. But then I did it. 

Ini alasan menulis saya:
Menulis buat saya pertama adalah untuk menyalurkan ‘hasrat’ bicara dan berpikir  yang kadang nggak bisa ditumpahkan semuanya alias nggak nemu ‘tempat’ yang tepat buat menumpahkan semua. Karena sehari-hari cuma berdua bayi, bertiga kalau suami sudah pulang kantor. Kadang suka nggak tega sama suami, udah capek tapi masih perlu ndengerin celoteh penting nggak penting istrinya. Pernah baca juga kalau wanita bisa mengeluarkan berapa ribu kata sehari, dan itu harus dikeluarkan, disalurkan biar nggak stres, jadi wajar kalau cerewet, hehehe. Jadi, ‘tong sampah’ saya selama ini ya instagram dan blog. Hobi banget nulis panjang-panjang 😅 Pengaruh dari dosen saya juga kalau menulis itu haruslah bisa membuat pembaca paham tanpa harus bertanya apa maksud dari tulisan kita. Oleh karena itu saya selalu berusaha membuat kalimat yang sekiranya mudah dimengerti. Makanya panjang-panjang dah tuh 😅

Tujuan kedua tulisan saya adalah untuk reminder saya pribadi, sebagai jejak digital dalam bentuk tulisan yang sekaligus untuk sharing. Misal postingan saya soal program kehamilan yang saya ikuti, jadi reminder saya bahwa saya pernah berada di titik itu, posisi itu dengan segala hal yang saya usahakan dan saya alami, yang nantinya ingin saya bagi dengan anak-anak saya, siapa tahu juga bisa menginspirasi orang lain yang sedang mengalami hal serupa. Untuk postingan resep, jadi reminder juga buat saya, justifikasi apa saja yang saya lakukan untuk membuat masakan atau kue tersebut, jadi next kalau misal mau masak lagi, saya ada record-nya, tinggal baca ulang, duplikasi, nggak perlu merefer ke resep asli lagi.

Ternyata bisa lhooo... tapi saya nggak hitung ya berapa tepatnya. Dan saya nggak paham juga sih ngitungnya gimana. Kalau pakai laptop dan pakai MS Word sih udah pasti ketahuan ya berapa jumlah katanya. Nggak perlu hitung manual. Saya nggak pahamnya ngitung manual itu apakah kata sambung dihitung juga, atau gimana? Itu saya nggak paham. Mungkin next pertemuan mau saya tanyakan ke kak mentor.

Yang nggak kalah seru ikutan kelas ini adalah cepet-cepetan enter hasil tulisan ketika kak Jee open chat. Itu serunya bukan main. Gimana nggak seru coba. Itu di keterangan WAG ganti-gantian bla-bla-bla is typing... rebutan enter chat sebelum ditutup 🤣 kan bikin geregetan buat yang udah mau enter tapi keburu di closed chat 🤣 berasa pengen nimpuk kak Jee deeehh 🤣🙏🏻 *saking geregetannya 🤣🤣

Kemudian kelas dilanjutkan lagi dengan materi. Bahwasanya kita nggak perlu pusing mikirin mau nulis apa.

Tulis apa saja yang kita tahu.
Tulis apa saja yang kita dengar.
Tulis apa saja yang kita lihat.
Tulis apa saja yang kita rasakan.
Tulis apa saja yang kita pikirkan.

5 ini aja kata kuncinya. 

Nggak perlu mikir jauh-jauh.

That’s it. Tapi kadang adaaa aja yaaa, alasannya. Yang inilah, yang itulah, banyak. Intinya sih males aja. Mungkin.

Then, tantangan senam jempol kedua adalah dengan meluangkan waktu 10 detik untuk memejamkan mata, kita diminta untuk menikmati setiap tarikan napas, merasakan, apa yang sedang dirasakan. Tuliskan tentang rasa itu, minimal 200 kata dalam 15 menit!

Dan ini hasil saya:
10 detik memejamkan mata, tarik nafas, ternyata begini rasanya jadi ibu. Ikutan kelas @nulisyuk sambil nyusuin buat nidurin anak. Rasanya? Ya otaknya mikir ngikutin kelas, nenennya di kenyot bayi yang On the way tidur. Ngetik sambil sesekali usap-usap punggung, si anak bayi yang lagi manja. MasyaAllah tabarakallah. Riweh-riweh sedep. Alhamdulillah. Tapi riweh inilah yang saya tunggu-tunggu. MasyaAllah.

Di tantangan kedua saya cuma bisa nulis sedikit. Karenaaa yaaa ituuu, sesuai hasil tulisan saya. Lagi nidurin si anak bayik. Tangan kiri pegang hape, nyimak kelas, tangan kanan nggak bisa nyambi nulis karena si bayi minta diusap-usap punggungnya sambil nenen. Begitulah. Multitasking yang hanya bisa dialami dan dilakukan ketika sudah menjadi ibu. Tapi, multitasking inilah yang saya tunggu-tunggu sekian tahun. Our struggle is real. Seperti yang sudah saya ceritakan melalui postingan-postingan saya sebelumnya, tentang program hamil yang telah saya dan suami saya lalui demi mendapatkan anak kami ini.

Then, kelas ditutup dengan pertanyaan atau tanggapan dari peserta, karena nggak sengaja waktunya udah melebihi jadwal kelas.

Kesan? Seneng Alhamdulillah, seru, dapet ilmu baru. Dan dari kak Jee juga saya baru tahu kalau istilah EYD sekarang nggak lagi digunakan untuk menyebutkan kata-kata baku, ejaan dan tulisan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Sekarang gantinya ada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Pengetahuan simpel tapi ternyata perlu. Dan yang perlu jadi highlights lagi adalah penyingkatan kata. Seringnya nih kalau saya nulis di caption instagram, kebanyakan saya singkat biar muat dalam kuota caption instagram. Tapi penyingkatan kata dalam dunia literasi ternyata nggak dibenarkan. Sebaiknya ditulis lengkap, jika nggak muat bisa dilanjutkan di space komen, kecuali memang buru-buru banget, hindarin menyingkat kata layaknya SMS yang terbatas karakter. Alhamdulillah nya saya nggak pernah menyingkat kata kalau sedang nulis di blog. Jadi bismillahirrahmanirrahim mari kita kembali ke jalan yang benar sesuai dengan ilmunya.

Sebagai penutup, peserta mendapat Challenge pertama di Instagram untuk @nulisyuk batch 43. Tugasnya adalah menulis caption tentang, "Apa yang ingin kamu lakukan melalui menulis sebagai seorang istri dan ibu?" Dan sampaikan semangat menulis peserta setelah mengikuti pertemuan pertama. Berat yaaa... Next saya post juga disini jawaban saya untuk Challenge ini. 
Sekian dulu...



Salam,




Lisa.

Kamis, 30 Juni 2016

What Makes Me Had to Go and Watch a Movie!



Bismillah.

Assalamualaikum...

What Makes Me Had to Go and Watch a Movie

A very simple and straight forward question, right?

Its a simple challenge and looks very interesting to me. I said to my self that I have to make a post about this. Although I am so late to do the submission on BEC. But its okay. I will take it as a note to my self.

So, a simple and direct question, yet got my interest throught the heart. As a movie lover, it makes me feel that I should tell you my reason. So here we go!

1. I love watching movie
I really like movie. I really enjoy watching movies, whether in cinema or by my self using my personal computer. I could even say that I have a hobby of watching a movie. I could even isolate my self all day in my room just to watch a movie. Especially if I’m watching Korean Drama. I also have not any slept for spending every episode of the Korean Drama. Because it’s so interesting to me and I got so curious about whats next, I can’t stand to wait or leave a single minute. Hehe. But, not all types of movies that I prefer, my favorite movies are romantic, comedy, drama, cartoon, etc except thrill and horror. Don’t expect I will watch this types of movies. It will never happen!
 
2. If people are talking about it and they have interesting conclusions or satisfied about the movie, then I had to go too.
Because it’s by nature I have a hobby of watching movies, then when people are talking about it, like my friends and they have the same conclusion that the movie is interesting or satisfied, so I felt I had to watch as well to prove it.

You should go to a cinema if people are talking about the movie

3. From its ads seems attractive.
Just like a new product, movies are also have trailers that they use as an ads to attract the audience. And I was one of those who easily persuaded by movies ads and trailers. Hehehe.
 
4. I have already watched the first one, then I was so curious whether it will be made a sequel.
When watching a movie and that movie turned out to be made a sequel, so I don’t want to miss, I want to know how the continuation of the story.

5. I have already read the novel and looks interesting if it was turned into a movie.
When a novel turned into a movie, and I consider it as an interesting novel, then I need to watch the movie. Although at the end of the movie will be filled with discussions that essentially compares the content of the novel and the movie. 

6. Quality time with my husband
Watching movies is one way for me to have quality time with my husband. Usually, we set off early, buy tickets for one to two hours earlier. Fill our stomach first while strolling around before entering the cinema.
Our date will ended by discussing things about the movie that we watched on the way home until we are going to bed. The discussion will start from the actor and actress, the story of the movie, scenes, the possibility of a sequel, and everything. This method has never failed to establish our quality time, helping to understand each other through what we like and dislike.

That’s all.

What about you? Do you have the same reasons to go and watch a movie as me?



Salam,



Lisa.

Jumat, 15 Januari 2016

A Happy Unhappy Moments of 2015




Assalamualaikum...

2015. Kalau diingat – ingat lagi satu tahun kebelakang, merupakan tahun yang luar biasa untuk hidup saya. Entah karena saya yang terlewat baper dan geer atau gimana, tapi saya merasa saya melalui banyak sekali ujian dan mulai berani mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Keputusan-keputusan besar itu sukses membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang ini. Eccieeh... Hehehe

Jadi, apa aja sih ujian hidup yang saya alami?

Puas LDR dan LDM
Saya menyebut LDR (Long Distance Relationship) dan LDM (Long Distance Married) adalah sebuah Lifestyle. Mengapa? Karena, banyak sekali pasutri yang menjalani hubungan itu di masa sekarang ini, bukan hanya saya dan suami saya. Alasannya ya jelas bervariasi tergantung dari yang menjalani. Mulai dari alasan finansial, alasan sayang dengan pendidikan tinggi yang sudah dienyam, alasan kesejahteraan keluarga, dan sebagainya. Segala sesuatu memerlukan sebuah proses. Kami (saya dan suami saya) telah melalui proses itu beberapa tahun lamanya. Kami pun merasa cukup. Cukup bagi saya. Cukup juga bagi suami saya. Sudah sewajarnya saya mengabdikan hidup saya untuk keluarga yang sedang kami bangun bersama. Keputusan itu mendorong saya untuk lebih berani mengambil keputusan besar lainnya, yaitu resign.



Resign
Bagi sebagian orang mungkin resign itu adalah hal mudah. Semudah pindahan kantor, cukup membawa diri beserta cv dan menunggu panggilan. Bagi saya, keputusan resign merupakan keputusan yang cukup menguras otak. Berbagai macam pilihan dan konsekuensinya saya diskusikan dengan suami saya. Apa yang harus, apa yang tidak harus, apa positifnya, apa negatifnya. Semuanya kami bahas. Dan itu tidak hanya memakan waktu satu atau dua bulan. Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir. Berada diantara keinginan dan kewajiban itu tidak mudah, apalagi menyeimbangkannya.



Welcome, A New Married Life!
Tujuan dari keluarnya saya dari pekerjaan kantoran yang saya miliki adalah untuk mengabdikan diri saya full hanya untuk keluarga saya. Akhirnya mendorong saya untuk mengambil langkah selanjutnya. Saya harus siap berpindah-pindah rumah untuk mewujudkan keinginan kami. Welcome, a new married life. Memang ya, kehidupan rumah tangga baru bisa kita rasakan kalau kita sudah berada di bawah satu atap yang sama. Saya pun akhirnya paham fungsi dari ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”. Hehehe. Begitulah, saya mulai belajar macam-macam, semacam-macamnya pekerjaan rumah tangga. Segalanya berubah.
 
Bahasa Minang
Setahun lebih saya ikutan ‘nebeng’ suami disini, Kota Duri, Riau. Dan saya belum bisa Bahasa Minang sama sekali! Hahaha. Lidah dan otak Jawa saya berasa kelu mengartikan apa yang orang katakan kalau menggunakan Bahasa Minang. Boro-boro ngejawab dan ikutan ngobrol, paham apa yang diomongin aja enggak. Hahaha. Selain itu, kebanyakan dari teman-teman suami dan para istrinya adalah Orang Jawa, jadi we nggak berkembang itu pergaulannya! Orang temen-temennya juga Orang Jawa semua! Hehehe.

Memulai Blogging
Lepas dari pekerjaan kantor yang menguras otak selama lebih dari delapan jam sehari, membuat saya mencari –cari kegiatan positif lain untuk mencegah timbulnya rasa bosan karena tinggal seharian dirumah. Akhirnya saya pun mempelajari berbagai hal, termasuk diantaranya adalah blogging. Tergabung dalam beberapa komunitas cukup mengobati kerinduan saya akan ‘dunia luar’. Ecieeeh... Biar tetep eksis meskipun sehari-hari hanya duduk manis di depan lepi gitu.

Travelling
Salah satu keuntungan yang bisa saya peroleh dari ‘nebeng’ suami adalah travelling. Menjadi istri seorang kontraktor, memberikan saya kesempatan travelling yang begitu luasnya yang tidak pernah saya banyangkan sebelumnya. Saya tidak pernah bermimpi saya bisa Menjelajahi Sumatera Barat yang notabene berada di Pulau Sumatera, berjarak ribuan km dari rumah orang tua saya. Lha wong yang di Pulau Jawa seperti Air Terjun Sri Gethuk aja baru dikunjungi Agustus 2015 kemarin. Benar-benar Alhamdulillah.

Chavery Beach Hotel - Bungus, Padang

Jadi, apakah saya sempat menyesal dengan semua keputusan-keputusan yang sudah saya ambil? Saya rasa saya tidak akan pernahmenyesal, karena segala sesuatu akan berproses dengan sendirinya. Hanya saja, kadang-kadang masih sering sedih dan kangen dengan mereka, teman-teman seperjuangan saya yang masih berjuang di kantor cabang masing-masing, terutama perempuan-perempuan hebat diluar sana yang berhasil menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarganya. Keep a balance life sist!





Salam,



Lisa.

  
Nb: Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge: “The Best Moment of 2015”. Yuk ikutan tantangan  indonesian-hijabblogger.com ini, ada hadiah menarik bagi yang terpilih lho, jangan sampai ketinggalan ya, hari ini terakhir nih, maksimal tgl 15 Januari 2016 ya