Senin, 23 Maret 2020

Review Skin Care untuk Program Hamil

Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai-hai... ini tulisan lanjutan dari postingan saya sebelumnya ya, masih soal Skin Care untuk Program Hamil. Iyaa masih ngomongin skin care kitaaahh. Kali aja penasaran saya pake apa aja pas berhasil hamil, daripada ditanyain duluan, saya akan bikin jawabannya duluan, hehehe... saya akan review produknya satu-satu. Sekalian latihan nge-review lagi, udah lama banget nggak bikin postingan review hehehe.

Yuuk...
Bismillahirrahmanirrahim...


Ini serangkaian produk yang saya pakai saat berhasil hamil IVF yaaa... Namanya paket No 1, udah lengkap banget dari ujung kepala ke ujung kaki. Kalau mau samaan bisa, silakan hubungi account ig @bumil_store. Tapi ini udah lama banget yaaa, tahun 2017, bisa jadi isi paketnya udah beda macemnya. Tapi intinya sama, sama-sama cari yang aman untuk janin kita, sama-sama bebas bahan kimia berbahaya, insyaAllah.

Daaan disclaimer dulu nih, saya nggak ada kerjasama dengan si pemilik account ig/ seller tersebut ya, saya nggak dibayar, jadi ini review murni dari saya sebagai customer, pengalaman saya, karena memang saya pakai pada saat itu, hingga kurleb setahun kedepan.

Yuuk mulai...

Shampoo: Kukui Oil by OgX
Untuk shampoo-nya saya dipilihkan Kukui Oil. Perlu digarisbawahi disini, ‘dipilihkan’. Yes, dipilihkan oleh seller. Jadi si seller ini akan sedikit tanya-tanya ke kita soal jenis rambutnya yang kayak gimana saat kita chat mau order. Dan ini ngebantu banget buat customer yang buta arah soal organik macam saya saat itu. Karena jujur nih, saya biasa pake shampoo anti dendruff merk tertentu favorit saya yang dimana-mana ada. Ternyata setelah saya cek ada bahan kimia yang berbahaya buat bumil dan busui, jadi mau nggak mau harus banting setir, putar haluan, cari yang organik. Titik.

Kesan pertama gimana? Dari serangkaian Paket 1, produk shampoo-nya ini yang paling smells friendly buat saya. Bukan berarti lainnya baunya nggak enak ya, bukan. Mungkin saya terbiasa dengan bau harum dari campuran bahan-bahan kimia, pewangi ataupun parfum ya, jadi pertama kali nyium bau bahan-bahan organik agak syok sedikit hidungnya. Kenapa saya bilang smells friendly? Ya karena setelahnya kan Alhamdulillah saya positif, namanya hamil muda kan sensitif banget dengan bau-bauan. Nah bau Kukui Oil ini lumayan nyegerin. Busa shampoo-nya juga banyak, ada kesan keset dan bersih pasca keramas. Kalau terbiasa pakai conditioner kayak saya, agak sulit beradaptasi, karena conditioner melembapkan dan melembutkan rambut setelah keramas, ada smooth effect yang ditimbulkan, nah ini nggak ada, keset doang, gituuu...

Saya juga terbiasa dengan shampoo yang ada menthol-nya, yang bermanfaat meredakan kulit kepala saya yang kadang gatal, selain suka sama sensasi dingin segernya pas diguyur air. Nah ini nggak ada mentholnya, jadi yaaa udah gitu aja. Perihal adaptasi doang sih intinya.

Pernah juga tanya sama si seller kalau saya Pengen yang ada sensasi dinginnya, trus disarankan nyoba ganti varian Teatree Mint shampoo, karena kadang pakai shampoo Kukui Oil bikin kulit kepala saya gatal, tapi eh ternyata saya kurang suka sama varian Teatree Mint. Ada sih sensasi dingin-dinginnya sedikit, tapi nggak sekuat sensasi dingin dari Menthol di shampoo idola saya, hehe. Jadi bukan itu yang saya inginkan. Then, balik lagi pakai Kukui Oil.

Untuk kemasannya lumayan besar ya, jadi kalau dihitung-hitung dan dibandingkan dengan shampoo yang biasa saya pakai, itu sama, sebanding. Jadi jatuhnya nggak mahal. Dan lama habisnya, padahal saya keramas dua hari sekali.

Body Wash: Organic Care - Creamy Berry
Kesan pertama untuk body wash-nya, kemasannya gedheee banget, berasa nggak habis-habis, hehehe. Dan agak ngerepotin juga pas dibawa-bawa travelling. Karena saya dua kali staycation ala Baby moon keluar kota saat hamil, dan saya terpaksa mindahin ke kemasan lebih kecil, kalau misal nggak sempat ya dibawa aja segedhe itu walaupun pak suami udah pasti ngomel.

Varian ini wanginya enak banget ya, favorit deh. Busa juga lumayan banyak walaupun organik. Tapi saya pakai shower puff ya, jadi kelihatan banget busanya melimpah saat dikruwes-kruwes di shower puff. Walaupun busanya melimpah tapi ini agak licin ya, makanya perlu shower puff. Jadi maksud saya mungkin karena organik, liquid-nya lembut di kulit, melembabkan, nggak membuat kulit kering, nggak banyak mengandung bahan yang membuat kulit kering, berasa bedanya kalau dibandingkan dengan mandi pakai sabun mandi biasa yang berasa keset sehabis mandi.

Bentuknya liquid atau cair dengan tingkat kekentalan sama dengan sabun cair pada umumnya. Jadi tinggal di-manage aja pemakaiannya, mau irit apa pelit.

Saya lupa ya pernah nyoba varian apa aja untuk body wash-nya. Tapi kayaknya sih cuma nyoba Creamy Berry dan Vanilla Ylang-Ylang. Enak mana? Enak semua sih, cuma beda baunya aja, satu merk kan.

Pasta Gigi: Pasta Gigi Herbal (HPAI)
Saya biasa pakai pasta gigi Sensodyne dengan varian merah, yang original, yang nggak ada rasa-rasa gimana-gimananya pasca dipakai. Saya pakai pasta gigi ini sejak tahun 2013an atas saran dokter gigi saya. Yes, saya agak bermasalah dengan gigi sejak saya kecil. Long story short, ganti pasta gigi jadi pakai pasta gigi herbal HPAI nggak ada masalah berarti buat saya. Cuma, saya jadi berasa kalau pasta gigi Sensodyne Merah ada rasa-rasa Mint nya sedikit, karena pasta gigi herbal HPAI LEBIH PLAIN pasca dipakai sikat gigi. Saya sering balik lagi pakai Sensodyne Merah kalau ternyata kehabisan pasta gigi herbal HPAI, saat itu. Pas balik lagi ini, saya merasanya gitu. Emang so far, nggak ada masalah kalau biasanya pakai pasta gigi yang cenderung plain kayak yang biasa saya pakai, Sensodyne Merah. Tapi kalau biasanya pakai pasta gigi yang dingin, ada sensasi menthol, segar dan semacamnya, jelas aneh banget saat pakai pasta gigi herbal HPAI. Malah mungkin nggak berasa udah sikat gigi. Karena pasta gigi HPAI kayaknya less atau non-detergent, jadi busanya sedikit banget. Mau pakai agak banyakan pun tetep sedikit aja jadinya. Dan satu lagi kekurangannya, disemutin. Entah kenapa semutnya doyan banget ngerubutin kepala pasta giginya, sikat gigi saya pun juga. Padahal sebelum pakai pasta gigi herbal HPAI, sikat gigi saya nggak pernah disemutin. Sudah dicuci berkali-kali pun semut-semut bakalan balik lagi-balik lagi. Entah kenapa. Tapi kalau dirasa-rasain sih, memang ada rasa sedikit manis. Mungkin manis herbalnya ini yang menarik buat semut, sehingga doyan banget ngerubutin. Beda kalau pasta giginya banyak bahan kimia, mungkin semut nggak akan mau.

Face wash: Unscented Soapless Facial Cleanser by Sensatia Botanica
Buat yang terbiasa pakai facial wash yang ada di pasaran, minimarket, yah pokoknya yang dimana-mana ada lah, kayak saya, siap-siap adaptasi pakai facial wash ini. Karena facial wash ini soapless, minim banget busanya. Kalau wajah lagi kotor banget, berminyak banget, pasca pakai make up agak tebelan, saya biasa ulang 2-3 kali untuk mendapatkan bersih maksimal versi saya, atau kalau nggak, tuang agak banyakan ditangan. Karena ya soapless itu tadi, nggak banyak menghasilkan busa kayak facial wash diiklan-iklan TV yang nuang seukuran pearl size aja udah cukup buat membersihkan seluruh muka. Dan karena ini unscented, alias nggak ada aroma-aroma wangi parfum, hati-hati juga. Bukan apa-apa sih, cuma buat yang usia kandungannya masih muda, alias hamil muda, hati-hati sama mualnya. Saya selalu mual dan berasa pengen muntah tiap kali cuci muka ketika masih di trimester awal. Ini berlangsung cukup lama dan lumayan menyiksa banget. Pengennya cuci muka doang tapi malah mual gara-gara aroma sabunnya, jadi punya dilema yang nggak penting, hehehe.


Facial scrub: Coconut and Vanilla Facial Scrub by Sensatia Botanica
Ini adalah jenis facial wash kedua yang saya pakai. Saya pakai ini ganti-gantian sama facial wash Sensatia yang saya jelaskan sebelumnya. Yang ini juga produknya Sensatia Botanica, cuma ini ada scrub-nya, gunanya buat ngangkat sel-sel kulit mati. Ini nggak ada di paketan yang saya sebutkan di awal post ini ya. Tapi saya merasa perlu pakai facial scrub ini, jadi saya beli terpisah dari paket. Saya pakai facial scrub ini karena efek soapless-nya Sensatia face wash yang saya pakai, yang menurut saya kurang bisa membersihkan minyak dan sebum yang ada di muka saya. Maka dari itu, saya perlu facial scrub, inipun pakainya cukup seminggu 2x aja sesuai petunjuk kemasan, karena mengandung scrub, jadi memang nggak boleh tiap hari, takut kering di muka. Dan perlu hati-hati juga saat cuci muka pakai facial scrub ini, jangan dipakai pas lagi jerawatan parah ya, takut tambah meradang jerawatnya. Atau kalaupun terpaksa banget, perlu pakai facial scrub, jangan terlalu keras membasuhnya, karena scrub-nya lumayan berasa tajam di muka. 

Saya paling suka sama after effect-nya. Berasa lembut dan bersih banget muka saya pasca pakai facial scrub ini. Jadi ini recommended banget.

Facial scrub ini juga lebih smells friendly daripada facial wash-nya Sensatia yang saya ceritakan sebelumnya. Terutama yang hamilnya masih ada mual-mualnya. As you know, mual-mual bisa sangat mengganggu banget buat beberapa orang. Dan saya termasuk ke dalam kelompok ini, mengalami dilema nggak penting soal skin care yang bikin mual 😅 

Facial scrub ini juga lebih irit. Seukuran pearl size aja udah bisa buat membersihkan seluruh muka. Jadi lebih hematlah untuk ukuran skin care organik.

Moisturizer: Unscented Sensitive Facial C-Serum by Sensatia Botanica
Moisturizer ini menurut saya biasa aja efeknya di kulit muka dan leher saya. Nggak memberikan efek yang gimana-gimana, tapi mungkin karena saya belum belajar banyak soal kesehatan holistik kali yah, jadi makannya masih sembarangan banget. Jadi ya nggak heran juga kalau misalnya muka saya jadi lokasi strategis jerawat buat ‘meeting’ alias ngumpul semua. 

Bentuk moisturizer-nya liquid, cenderung cair dengan botol pump, gampang banget memakainya. Dan cuma butuh seukuran pearl size aja buat melembabkan seluruh muka dan leher, hemat. Berasa agak sedikit licin di muka jadi perlu waktu untuk meresap ke kulit dan ringan banget, kayak lagi nggak pakai moisturizer lah, kalau dibandingkan dengan moisturizer yang ada di pasaran ya, yang ini lebih ringan. Setelah kering, saya biasa pakai bedak tabur, nah bedak saya nempel sih, tapi cuma sebentar aja. Selebihnya udah ilang aja 😅 Jadi kalau menurut saya, dia nggak bisa mengikat bedak tabur saya buat nempel lebih lama. Jadi kadang udah bedakan tapi malah kelihatan kayak orang belum mandi, hahaha. Tapi untuk baunya, lumayan smells friendly, jadi nggak bikin mual insyaAllah.

Fyi, saya pakai moisturizer ini lumayan lama Lhoh. Mulai sebelum FET2 sampai si Adek usia setahunan lebih, sekitar dua tahunan kan jadinya. Nggak ngefek tapi masih terus pakai? Mmm... gimana ya? 😅 Udah kepalang beli, pricey pula, jadi ya dihabisin dulu sebelum akhirnya ganti dan Alhamdulillah lebih cocok. Sekarang saya pakai produknya Amore. Next time saya review ya 😊

Hand n Body Lotion: Nourishing Body Lotion by Petal Fresh var Olive Oil n Shea
Produk-produk organik yang saya beli ini enaknya kemasannya gedhe-gedhe. Apalagi hand n body lotion-nya ini, gedhe banget. Nggak ada kemasan kecil. Jadi kekurangan kalau misal mau dibawa travelling. Tapi jadi kelebihan kalau kita ngomongin soal harga. Asli awet, nggak habis-habis. Apalagi kalau pakainya jarang-jarang kayak saya. Karena saya lumayan males pakai hand n body lotion saat hamil kalau lagi nggak kemana-mana, jadi tambah awet n nggak habis-habis kan tuh 😅

Bentuk lotion-nya lebih cair kalau dibandingkan dengan hand n body lotion yang biasa saya pakai. Agak licin tapi cepet meresap juga dikulit jadi enak. Dan baunya nggak begitu menyengat. Saya sengaja menghindari bau-bau yang menyengat saat hamil demi menghindari mual yang berlebihan. Jadi saya pilih varian Olive Oil n Shea yang katanya bisa menutrisi kulit ibu hamil yang cenderung kering. Saya nggak sempet nyoba varian lain ya, karena ya itu dia, nggak habis-habis karena kemasannya gedhe banget, jadi saya nggak ada kepikiran re-purchase juga karena cukup membebani kalau mau dibawa-bawa travelling, apalagi bentuk kemasannya pump.

Deodorant: chamomile n Green tea pomegranate By Crystal Essence
Soal skin care organik itu paling susah pas bagian deodorant kalau menurut saya. Kalau biasa pakai deodorant yang ada di pasaran, tentu rasanya beda banget pas pakai deodorant organik. Kenapa? Deodorant organik nggak bisa menghilangkan bau odor tubuh saya. Untuk brand Crystal Essence ya. Deodorant yang ada di pasaran itu mengandung alumunium kalau nggak salah (correct me if I’m wrong), yang bisa menghambat produksi keringat berlebih di bagian ketiak, sehingga nggak akan bau odor seharian jika bercampur dengan bakteri karena kita nggak akan mengeluarkan keringat. Nah ternyata, dari ilmu yang saya pelajari akhir-akhir ini keringat itu harus dikeluarkan dari tubuh sebagai bagian dari proses detox tubuh. 

Ternyata penting banget untuk tidak menghambat keringat keluar dari ketek karena disitulah pusat kelenjar limfe terbesar yang artinya itu juga tempat pengeluaran toxin terbesar dan terpenting di tubuh kita jadi jangan malah dihambat.

Nah, salah satu produk yang paling highly toxic di kehidupan sehari-hari adalah deodorant apalagi yg anti-perspirant. Ini yang biasa saya pakai juga. Merk ‘R’ yang sudah jadi andalan banget. Tapi setelah belajar ini-itu, soal kesehatan dari sudut pandang holistik, jadi galau, gimana dong? Ketek bau, pengen berhenti, tapi butuh. Dilema antara mau berhenti masukin toxin ke badan tapi butuh. Saya tipikal yang malu banget kalau sampai bau, berasa nggak bersihan aja jadi orang. Cewek apalagi kan, lebih sensian.

Solusinya?

Akhirnya setelah belajar lebih lanjut, dari mentor kesehatan holistik saya, solusinya adalah detox ketek! Jadi silakan dievaluasi masing-masing dari asupannya setiap hari. Kalau bau ketek kita asem ya emang berarti tubuh kita sedang dalam kondisi acidic karena banyak makan-makanan yang acidic atau lagi stress atau apapun yang membuat pH tubuh kita jadi rendah dan asam. Dengan tahu lewat keringat, kita jadi bisa bertindak. Misalnya mengurangi makanan acidic, perbanyak makanan yang sifatnya alkaline/ basa. Kalau dari stress kita bisa bertindak dengan stress release, atau diselesaikan masalahnya dengan baik, atau apapunlah yang penting stress-nya keluar dan nggak berhenti lagi di badan. 

Kalau kata mentor saya, nggak perlu takut bau ketek setelah lepas deodorant pabrikan (sebutan baru untuk deodorant yang ada di pasaran), karena berdasarkan pengalaman mentor saya, malah yang bikin bau sengit ketek itu ya residu-residu bahan kimia dan logam-logam dari si deodorant pabrikan itu sendiri, terutama aluminiumnya. Makanya bahkan beberapa deodorant residunya banyak banget sampai berbekas di baju bagian ketek, yang biasanya warnanya kuning keras dan bau. Bayangkan, di baju aja jadinya efeknya begitu, gimana kalau di badan. Nggak heran ya, penggunaan deodorant pabrikan ini sangat erat berhubungan dengan penyakit-penyakit  seperti breast/lymphatic cancer. Serem!

Setelah nggak pakai deodorant pabrikan lagi insyaAllah ketek nggak bakalan bau sengit yang tajam lagi. Tapi kalau bau asem mungkin banget yang asalnya dari kondisi badan yang saya jelaskan sebelumnya. Dan malah berguna banget sebagai peringatan dini dan bahan introspeksi atas apa aja yang kita konsumsi selama ini.

Jadi gimana caranya detox ketek?

Gampang, tinggal pake lemon/ jeruk nipis setiap 3 jam sekali, lalu pas sebelum mandi gosok pakai garam epsom dan kepit sebentar, baru kemudian mandi. Lakukan setiap hari kurang lebih 3-7 harian, bisa lebih, tergantung individu dan tingkat keparahannya, si bau ketek insyaAllah nggak muncul lagi.

Nah, sekarang untuk deodorant organik, pertama kali saya pakai merk Crystal Essence dengan varian chamomile n Green tea. Then, karena saat itu saya pikir varian chamomile n Green tea nggak bisa menahan bau odor ketek saya, saat itu saya belum banyak belajar soal kesehatan holistik, maka saya sempat curhat ke seller-nya soal ini dan disarankan untuk ganti varian pomegranate. But, sama aja. Memang sih, varian pomegranate kayaknya lebih setrong jika dibandingkan dengan varian yang sebelumnya saya pakai. Cuma, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, saya belum banyak belajar soal kesehatan holistik seperti sekarang, maka mungkin makanan yang saya konsumsi ya makanan yang nggak jelas, ditambah hamil IVF yang sudah tentu banyak mengkonsumsi obat-obatan, dll yang tentu membuat kondisi tubuh saya nggak oke secara holistik sehingga deodorant merk itu nggak banyak membantu menghalau bau odor ketek saya, walaupun sudah ganti varian. Jadi karena saat itu nggak tahu apa-apa yaudahlah pasrah aja dengan harapan cepet lahiran cepet ganti deodorant yang biasa. Hehehe.

Pengennya dilanjutin yaaa... karena seru. Tapi udah panjang banget ini, next saya akan tulis ulang soal detok ketek ini biar lebih jelas. Dan nambah satu postingan lagi soal skincare yang saya pakai sekarang. Oke... oke...
See you...


Salam,


Lisa. 

Rabu, 19 Februari 2020

Pizza Teflon


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Hai-hai... Lama banget nggak nulis di blog. Iyaa... lama. Tapi saya masih sempet kok update instagram, hehe. Sibuk? Enggak. Cuma sok sibuk aja kadang-kadang 😅

Kemarin tema di @uploadkompakan (UK) adalah pizza, sedari kemarin udah ngubek-ubek stok foto, cuma dari pagi kok bimbang banget mau setor, merasa stok foto pizza saya nggak proper buat disetorin di UK. Akhirnya waktu berlalu, tahu-tahu udah malam aja, udah kelewatan, hehe. Jadi pelariannya kesini, ke blog, untungnya belum pernah diupload juga di blog.

Jadi ini itu stok foto pizza hasil ngubek-ubek Gallery sejak kemarin malam. Ternyata resepnya belum pernah di upload, di instagram juga, tapi mungkin disini sudah. Sementara saya udah move On dari resep ini, alias punya resep pizza andalan baru yang lebih ciamik hasilnya. Jadi resep ini udah nggak saya pakai lagi. Resep Untuk dough-nya maksudnya. Untuk saus toppingnya saya tetap bertahan dengan urutan ini. Merasa cocok untuk membuat jenis pizza gurih apapun. 



Pizza Teflon 
Sources: Erna Infitharina via shared on fb
Modified by @arlisa_jati

Bahan:
500 gr tepung terigu pro tinggi
1 ½ sdt ragi instan
3 sdm margarin cair
½ sdt garam
½ sdt gula pasir
250 ml susu cair
1 btr telur ayam

Saus:
1 sdm mentega
1 bks saus bolognese instant La Fonte (280 gr)
2 buah bawang bombay, iris tipis

Topping:
Mayonaise
Sosis, rebus, iris sesuai selera
Paprika hijau dan merah, iris sesuai selera
Keju cheddar, parut memanjang.
Keju mozarrella / cheddar melted, parut memanjang.

Cara Membuat:
•Panaskan mentega, tumis bawang bombay hingga harum, masukkan saus bolognese instant, aduk rata, masak hingga mengental dan matang, sisihkan.
•Campur semua bahan, uleni adonan sampai kalis (kurang lebih 15 menit).
•Tutup adonan dengan serbet atau plastik wrap, diamkan selama 40 menit (proofing 40 menit).
•Siapkan pan teflon anti lengket, olesi pan teflon anti lengket dengan margarin secara merata.
•Bagi adonan pizza menjadi beberapa bagian, bulatkan sampai benar-benar bulat dan halus agar hasil pizza saat matang tidak bergelombang-gelombang.
•Pipihkan adonan di atas pan teflon yang sudah diolesi dengan margarin. Lebarkan adonan sesuai dengan ukuran pan teflon yang digunakan.
•Olesi bagian dasar adonan pizza dengan mayonaise, tumpuk di atasnya saus bolognese yang telah dimasak.
•Tata topping di atas saus bolognese sesuai dengan keinginan.
•Taburi dengan keju cheddar dan keju mozarella.
•Tutup rapat pan teflon.
•Masak diatas api yang sangat kecil selama kurang lebih 12 menit. Lakukan tes tusuk jika perlu.
•Angkat. Siap disajikan.



Saat memipihkan roti dough-nya di Teflon,  kalau bisa sih tipis saja, tipis banget malah, karena roti akan mengembang saat dipanggang. Tapi, tingkat ketebalan bisa disesuaikan dengan keinginan ya, kalau ingin rotinya tebal, yaaa boleh agak tebal juga adonan yang dipipihkan. Nah, punya saya ini ketebelan ya, jangan ditiru, kurang tipis waktu memipihkannya, jadi rotinya jadi tebel banget waktu matang. Trus jaga apinya tetep kecil banget, karena kalau apinya stabil, dia bisa cepet gosong bagian bawahnya. Itu saya males nungguin, jadi satunya saya taruh di loyang trus dioven sebentar sampai matang. Karena api saya stabil dan teflon saya cepet banget panasnya.

Resep ini saya dapat dari facebook. Tahu kan? Biasanya ada Gallery save-save resep-resep kalau mendekati bulan Ramadhan. Dan resep ini salah satu yang saya simpan, then saya screenshoot juga, trus simpan di HP saya yang lama. Biar nggak hilang, akhirnya saya save juga di blog ini. Kenapa pakai resep ini? Karena resep ini ada step by step-nya, per gambar juga. Jadi cocok buat saya yang masih amatiran dan newbie banget saat itu, duluuu banget, jauh sebelum resep ci @tintinrayner ngetrend, saya beratahan dengan resep ini. Alhamdulillah resep ini berhasil menghalangi kami buat jajan pizza diluar, karena udah bisa bikin sendiri. Lumayan ngirit.

Yuuuk coba juga... next saya posting juga resep pizza andalan saya yang lainnya, tapi coba ini dulu yaaa...
Happy baking...


Salam,



Lisa.

Kamis, 09 Januari 2020

Kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya seneng nulis nggak sih? Mungkin. Tapi nulisnya nggak pernah ‘disempatin’ tapi ‘sesempatnya’. Beda ya... Disempatin itu sengaja meluangkan waktu untuk menulis. Tapi sesempatnya ya seadanya waktu, sesuai mood, kalau lagi ‘ada’, kalau lagi ‘nggak ada’ ya sepi 😅

Trus tiba-tiba, nggak sengaja baca pengumuman kelas menulis via WA grup di account ig @nulisyuk , Alhamdulillah berjodoh. Sekian bulan yang lalu, entah kapan, lupa tepatnya kapan, saya pernah ingin ikutan kelasnya, tapi ternyata belum berjodoh. Lupa juga waktu itu kelasnya temanya apa. Daaan terlupakan karena satu dan lain hal. Kemudian nggak sengaja kebaca di salah satu feed instagram, langsung buru-buru follow up biar nggak kelupaan atau keselip lagi.




Alhamdulillah sekarang tergabung di kelas @nulisyuk Batch 43 Khusus untuk seorang istri dan ibu with @jeeluvina. So far, seneng sih, dapet ilmu baru, ilmu literasi. Karena biasanya yang pengen saya ikuti adalah ilmu fotografi. Sudah banyak saya ulas juga di beberapa postingan saya. Karena belakangan suka nulis di blog perihal pengalaman program hamil dan tulisan-tulisan di caption instagram, tetiba kepikiran buat ikutan kelas menulis. Just because karena saya perlu UPDATE ILMU literasi biar tulisan saya lebih enak dibaca. Sesederhana itu. Nggak ada pikiran bakalan nulis buku atau apa, nggak ada. Just as simple as that. Dan ternyata seru.

Kelas pertama diadakan tanggal 2 Januari 2020 jam 20.00 WIB sampai 21.30 WIB. Dimulai dengan sedikit perkenalan dengan mentor menulis, kak @jeeluvina, kemudian langsung dilanjutkan dengan materi. Di pertemuan pertama via WA grup itu, kami diminta untuk menuliskan alasan kenapa mau menulis. Buat nglemesin jempol katanya. Hehehe. Dituliskan minimal 200 kata dalam waktu 15 menit. Nggak kebayang kan? 200 kata Lhoh, banyak itu. Mana waktunya cuma 15 menit lagi. But then I did it. 

Ini alasan menulis saya:
Menulis buat saya pertama adalah untuk menyalurkan ‘hasrat’ bicara dan berpikir  yang kadang nggak bisa ditumpahkan semuanya alias nggak nemu ‘tempat’ yang tepat buat menumpahkan semua. Karena sehari-hari cuma berdua bayi, bertiga kalau suami sudah pulang kantor. Kadang suka nggak tega sama suami, udah capek tapi masih perlu ndengerin celoteh penting nggak penting istrinya. Pernah baca juga kalau wanita bisa mengeluarkan berapa ribu kata sehari, dan itu harus dikeluarkan, disalurkan biar nggak stres, jadi wajar kalau cerewet, hehehe. Jadi, ‘tong sampah’ saya selama ini ya instagram dan blog. Hobi banget nulis panjang-panjang 😅 Pengaruh dari dosen saya juga kalau menulis itu haruslah bisa membuat pembaca paham tanpa harus bertanya apa maksud dari tulisan kita. Oleh karena itu saya selalu berusaha membuat kalimat yang sekiranya mudah dimengerti. Makanya panjang-panjang dah tuh 😅

Tujuan kedua tulisan saya adalah untuk reminder saya pribadi, sebagai jejak digital dalam bentuk tulisan yang sekaligus untuk sharing. Misal postingan saya soal program kehamilan yang saya ikuti, jadi reminder saya bahwa saya pernah berada di titik itu, posisi itu dengan segala hal yang saya usahakan dan saya alami, yang nantinya ingin saya bagi dengan anak-anak saya, siapa tahu juga bisa menginspirasi orang lain yang sedang mengalami hal serupa. Untuk postingan resep, jadi reminder juga buat saya, justifikasi apa saja yang saya lakukan untuk membuat masakan atau kue tersebut, jadi next kalau misal mau masak lagi, saya ada record-nya, tinggal baca ulang, duplikasi, nggak perlu merefer ke resep asli lagi.

Ternyata bisa lhooo... tapi saya nggak hitung ya berapa tepatnya. Dan saya nggak paham juga sih ngitungnya gimana. Kalau pakai laptop dan pakai MS Word sih udah pasti ketahuan ya berapa jumlah katanya. Nggak perlu hitung manual. Saya nggak pahamnya ngitung manual itu apakah kata sambung dihitung juga, atau gimana? Itu saya nggak paham. Mungkin next pertemuan mau saya tanyakan ke kak mentor.

Yang nggak kalah seru ikutan kelas ini adalah cepet-cepetan enter hasil tulisan ketika kak Jee open chat. Itu serunya bukan main. Gimana nggak seru coba. Itu di keterangan WAG ganti-gantian bla-bla-bla is typing... rebutan enter chat sebelum ditutup 🤣 kan bikin geregetan buat yang udah mau enter tapi keburu di closed chat 🤣 berasa pengen nimpuk kak Jee deeehh 🤣🙏🏻 *saking geregetannya 🤣🤣

Kemudian kelas dilanjutkan lagi dengan materi. Bahwasanya kita nggak perlu pusing mikirin mau nulis apa.

Tulis apa saja yang kita tahu.
Tulis apa saja yang kita dengar.
Tulis apa saja yang kita lihat.
Tulis apa saja yang kita rasakan.
Tulis apa saja yang kita pikirkan.

5 ini aja kata kuncinya. 

Nggak perlu mikir jauh-jauh.

That’s it. Tapi kadang adaaa aja yaaa, alasannya. Yang inilah, yang itulah, banyak. Intinya sih males aja. Mungkin.

Then, tantangan senam jempol kedua adalah dengan meluangkan waktu 10 detik untuk memejamkan mata, kita diminta untuk menikmati setiap tarikan napas, merasakan, apa yang sedang dirasakan. Tuliskan tentang rasa itu, minimal 200 kata dalam 15 menit!

Dan ini hasil saya:
10 detik memejamkan mata, tarik nafas, ternyata begini rasanya jadi ibu. Ikutan kelas @nulisyuk sambil nyusuin buat nidurin anak. Rasanya? Ya otaknya mikir ngikutin kelas, nenennya di kenyot bayi yang On the way tidur. Ngetik sambil sesekali usap-usap punggung, si anak bayi yang lagi manja. MasyaAllah tabarakallah. Riweh-riweh sedep. Alhamdulillah. Tapi riweh inilah yang saya tunggu-tunggu. MasyaAllah.

Di tantangan kedua saya cuma bisa nulis sedikit. Karenaaa yaaa ituuu, sesuai hasil tulisan saya. Lagi nidurin si anak bayik. Tangan kiri pegang hape, nyimak kelas, tangan kanan nggak bisa nyambi nulis karena si bayi minta diusap-usap punggungnya sambil nenen. Begitulah. Multitasking yang hanya bisa dialami dan dilakukan ketika sudah menjadi ibu. Tapi, multitasking inilah yang saya tunggu-tunggu sekian tahun. Our struggle is real. Seperti yang sudah saya ceritakan melalui postingan-postingan saya sebelumnya, tentang program hamil yang telah saya dan suami saya lalui demi mendapatkan anak kami ini.

Then, kelas ditutup dengan pertanyaan atau tanggapan dari peserta, karena nggak sengaja waktunya udah melebihi jadwal kelas.

Kesan? Seneng Alhamdulillah, seru, dapet ilmu baru. Dan dari kak Jee juga saya baru tahu kalau istilah EYD sekarang nggak lagi digunakan untuk menyebutkan kata-kata baku, ejaan dan tulisan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Sekarang gantinya ada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Pengetahuan simpel tapi ternyata perlu. Dan yang perlu jadi highlights lagi adalah penyingkatan kata. Seringnya nih kalau saya nulis di caption instagram, kebanyakan saya singkat biar muat dalam kuota caption instagram. Tapi penyingkatan kata dalam dunia literasi ternyata nggak dibenarkan. Sebaiknya ditulis lengkap, jika nggak muat bisa dilanjutkan di space komen, kecuali memang buru-buru banget, hindarin menyingkat kata layaknya SMS yang terbatas karakter. Alhamdulillah nya saya nggak pernah menyingkat kata kalau sedang nulis di blog. Jadi bismillahirrahmanirrahim mari kita kembali ke jalan yang benar sesuai dengan ilmunya.

Sebagai penutup, peserta mendapat Challenge pertama di Instagram untuk @nulisyuk batch 43. Tugasnya adalah menulis caption tentang, "Apa yang ingin kamu lakukan melalui menulis sebagai seorang istri dan ibu?" Dan sampaikan semangat menulis peserta setelah mengikuti pertemuan pertama. Berat yaaa... Next saya post juga disini jawaban saya untuk Challenge ini. 
Sekian dulu...



Salam,




Lisa.

Minggu, 05 Januari 2020

My Decade Recape


Bismillahhirrahmannirrahim...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Iseng-iseng bikin #decaderecape lah, walaupun udah telat sih yaaa... Cuma pengen tahu aja, saya udah ngapain aja 10 tahun terakhir, secara saya bukan tipe visioner yang bikin planning duluan, mau apa aja, ngapain aja beberapa tahun ke depan. Saya lebih ke jalani aja duluuu... Just go with the flow 😅

2010
•Masih kuliah tapi udah masuk tahun terakhir.
•Pertama kali ketemu camer di wisuda mas pacar, aahheeyy, sekarang jadi mertua beneran, Alhamdulillah 😆🙈


Wisuda Mas Pacar
2011
•Sibuk-sibuknya Tugas Akhir, ‘digembleng’ salah satu dosen penguji, memorable banget ternyata Pak 😣 How do you do pak 🙋🏻‍♀️
*gakbranimentionorangnya 😣
•Eh si mas pacar udah ngajak nikah mele gara-gara dikomporin bosnya dikantor, padahal dia juga baru setahunan kerja, takut eike kabur bawa cintamu pak @cordiatno? 🤪
•Di tahun ini Wisuda dooong akhirnyaaa 👩🏻‍🎓

Foto pamer buku Tugas Akhir 😎
2012
Got my 1st job di kota kelahiran.
•Dapat pak bos yang klop n santuy, gimana kabar pak @arie_ardie dan tim karaoke pak vin traktor @m.zaenuri99 🤣🤣
•Ketemu ibukmay @maya_irva yg gagah cem Mb Ais wkkwkwkw 🤣🤣💪🏻💪🏻

Kurang 1 personil 
2013
Married juga akhirnya sama mas pacar di usia 24 tahun.
•Melanjutkan perjuangan LDR sejak 2010 ke LDM 😪
°Pernah ikutan merantau ke Makassar walaupun cuma seminggu, sebelum akhirnya dimutasi lagi ke ibukota.


2014
Resign dari pekerjaan pertama & terakhir saya 🙈
•Diboyong ke Duri, Riau, No more LDM, yeay 💕
Been busy switching habit from 8 tO 5 workers to stay at home wife’s.



2015
•Ketemu sama mamacim @mirna_saga yang nularin hobi masak-masak sampai sekarang, dulu saya nggak suka masak 👩🏻‍🍳 
•Ketemu mamayung @ayu.kemalaputri & Mb Lope, sesama istri perantauan 😅
•Nggak nyangka bisa jalan-jalan keliling Sumbar, bahkan sampe nyebrang ke negara tetangga, semua gara-gara ngekor suami #masyaAllahtabarakallah 

Malacca
2016
•Pindah ke ibukota, nggak sengaja ikutan WS #smartphonephotography nya Mb @ariana_arriana trus keterusan suka pota-poto #foodphotography sampai sekarang, walaupun skill-nya tetep segitu-gitu aje 😌
•Ketemu Mb @griyo_fepi yang ternyata pasien DokNan juga, sempit sekali Ibukota 😅 hai Mb Fep, gimana kabar? 🙋🏻‍♀️


pertama Kali ketemu mb Fepi
2017
•Nekat Start IVF dengan budget yang pas-pasan setelah bertahun-tahun nyoba berbagai program kehamilan.
•Setelah 2xFET yang penuh perjuangan, drama dan air mata, 1 Des dinyatakan positif hamil singleton 🤰🏻

Kontrol terakhir ke Dr. Nando
2018
•Akhirnya ngerasain hamil yang menyenangkan, minim keluhan dan melahirkan si Adek tanggal 4 Agustus, our long awaited gift 🤱🏻


Moment Aqiqah si Adek
2019
Struggling dengan kondisi pencernaan si Adek, sampai akhirnya berkenalan dengan Naturopathy, gara-gara selalu ngepoin account Mb Vega @veganugrohos Thank you Mb Ve 🙏🏻😘
Eager tO learn more and more about healthy life style 💪🏻
°Ngubek-ubek Cilegon, tiap weekend PP Jakarta-Cilegon, semua demi ngintilin suami.
°Pernah nekat tinggal dikosan Jakarta juga selama beberapa bulan karena takut berduaan doang sama si Adek di kontrakan Cilegon.
°Survei rumah tiap weekend, Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, semua diubek-ubek, tapi lelahnya pun akhirnya terbayar, insyaAllah bermukim di Bekasi, Alhamdulillah.



Banyak juga ternyata, 10 tahun yang luar biasa buat saya, penuh berkah, mengajarkan saya banyak hal, membentuk saya yang sekarang. Rencana Allah SWT memang yang terbaik. Saya nggak pernah menyangka bisa keliling Sumbar, kalau saya nggak resign, kalau saya nggak ngekor suami, dst, dst. Nggak pernah menyangka juga bahwa rejeki kami hadir melalui #IVF , dengan segala ups and downs kami dalam mengerjakan ujian-ujian Allah SWT untuk kebaikan saya dan keluarga saya. Proudly said we’re really blessed #masyaallahtabarakallah 🙏🏻

Semoga kita semua dianugerahi usia untuk menjalani dekade-dekade selanjutnya dengan bahagia. Aamiin... 🙏🏻



Salam,


Lisa.