Kamis, 04 Juni 2015

Palumara Ulu Juku



Beberapa jenis ikan yang saya tahu, ada yang memiliki rasa atau hambar jika hanya digoreng biasa saja, perlu diolah menjadi masakan tertentu yang kaya rasa sehingga keluar rasa asli dari ikan tersebut. Misalnya ikan kakap merah dan ikan mas yang sepengetahuan saya, tidak memiliki rasa yang khas jika hanya digoreng saja.

Weekend lalu, saya mencoba membuat salah satu masakan khas Makassar. Masakan yang berkuah asam segar ini enak dinikmati saat udara panas. Aroma bawang, cabai dan kunyit memberikan harum yang khas. Penasaran? Ini dia resepnya

Bahan:
1 kg ikan kakap merah/ ikan mas
3 sdm margarin untuk menumis
3 siung bawang merah, iris tipis
2 siung bawang putih, iris tipis
2 buah tomat, potong-potong
1 batang serai, memarkan
3 batang daun bawang, iris kasar
2 buah cabai merah, iris serong
30 gr asam jawa, larutkan dengan sedikit air
1 lt air
Garam dan gula pasir secukupnya

Bumbu:
2 cm kunyit
3 butir kemiri

Cara membuat:
1.       Haluskan bumbu Palumara yaitu, 2 cm kunyit dan 3 butir kemiri.
2.       Panaskan 3 sdm margarin atau minyak untuk menumis. Tumis bawang merah, bawang putih dan cabai hingga matang.
3.       Masukkan bumbu halus, aduk hingga matang dan harum.
4.       Masukkan daun bawang, tomat, serai dan larutan asam, aduk hingga tercampur rata.
5.       Masukkan 1 liter air, tambahkan garam dan gula secukupnya. Didihkan.
6.       Masukkan ikan kakap yang telah dibersihkan.
7.       Masak hingga ikan matang dan bumbu meresap. Angkat. Sajikan hangat.



Ikan yang saya gunakan untuk masakan ini adalah ikan kakap merah. Bisa juga menggunakan ikan mas. Ikan mas memang dagingnya lebih tebal, sayangnya, duri ikan mas terlalu banyak dan kecil-kecil, hampir seperti duri yang terdapat pada bandeng dan saya rasa kurang cocok untuk diolah menjadi masakan ini. Bisa-bisa kita tidak bisa menikmati makanan karena terlalu sibuk menyelamatkan lidah dari duri ikan mas. Hehehe. Untuk penyuka masakan pedas, bisa ditambahkan cabe rawit dengan cara diiris kasar ataupun dihaluskan, tergantung selera masing-masing.

Bagaimana? Mudah kan cara memasaknya? Jadi, siapa bilang harus ke daerahnya langsung untuk mencicipi makanannya jika membuatnya saja semudah ini? 

Selamat mencoba


Salam,
Lisa.

Sabtu, 30 Mei 2015

Behind The Scene of My Blog Post



 


Bagi sebagian blogger, menulis itu itu gampang. Tapi tidak untuk saya. Menurut saya, menulis itu adalah berada diantara gampang-gampang susah, atau susah-susah gampang. Kadang-kadang kata-kata itu meluncur dari kepala saya menjadi kalimat-kalimat yang tersusun menjadi paragraf-paragraf menjadikannya sebuah uraian yang kemudian saya posting di blog. Tapi ada kalanya juga tidak ada satu kata pun yang dapat saya tuliskan menjadi sebuah kalimat. Ketika itu terjadi, berasa sudah stres aja, keinginan untuk menulis ada, tapi apa yang akan di tulis tidak ada. 

Jadi? Bagaimana prosesnya kok bisa (kadang-kadang) jadi sepanjang itu postingnya?

Jadi begini ceritanya, karena saya belum mahir posting, maka ada beberapa tahapan yang mesti dilalui.

1.     Ide Posting. Ini yang paling susah. Bagi saya, ide itu kadang-kadang bisa muncul dimana saja, kapan saja, saat dengan siapa saja, saat sedang melakukan apa saja. Atau kebalikannya, sedang tidak melakukan apapun. Parahnya ketika saya sedang mati ide, tidak ada satupun yang terpikir di kepala. So, how? Disini saya mengandalkan hp dan manual note alias buku catatan biasa yang terbentuk dari kumpulan kertas bukan note elektronik. Jadi, ketika saya memiliki ide untuk posting blog, maka saya akan tuliskan ide itu beserta poin-poin pembahasannya di salah satu perangkat note. Tapi biasanya jika saya sedang berada di luar, tidak membawa buku catatan, ide itu akan saya tulis di memo hp, setelah sampai dirumah, ide itu akan saya coba jabarkan sedikit di notes manual saya, selanjutnya akan dieksekusi saat mood menulis muncul. Mengapa harus menunggu mood? Itulah jeleknya saya, ketika saya memaksakan diri untuk melakukan posting sementara kepala sedang tidak ada isinya, maka postingan saya hanya akan berisi kalimat random yang dipaksa menjadi satu paragraf.

2.   Foto. Ide dan foto biasanya saya lakukan dengan waktu yang hampir bersamaan. Ketika satu ide muncul, biasanya dibarengi dengan ide foto apa yang akan saya gunakan. Jadi hp pun disulap untuk dapat melakukan multitasking. Tentunya saya tulis juga di notes saya foto apa yang akan saya gunakan untuk posting ide tersebut. Saya berusaha menggunakan foto hasil jepretan saya sendiri. Oleh karena itu, saya berusaha melakukan sedikit editing dan watermark dengan menggunakan Photoshop sebisa saya atau minta bantuan suami yang lebih mahir editing dengan Photoshop.

3.   Membuat draft dalam Word Document. Saya terbiasa membuat draft sebelum melakukan posting. Draft itu saya ketik di word document saat kepala saya mampu melakukan konsentrasi penuh. Fungsi dari draft ini adalah menjaga saya untuk tetap berkonsentrasi dan tidak keluar dari jalur. Menjaga juga kalau-kalau saya mati ide di tengah-tengah perjalanan menulis, sehingga dapat saya lanjutkan lain waktu.  

4.    Darurat Posting. Ini termasuk dalam kasus khusus. Saya sebut darurat posting karena saya dibatasi oleh deadline. Misalnya, saya ikut berpartisipasi dalam challenge tertentu atau giveaway yang sudah pasti memiliki tanggal deadline. Jadi bagaimana? Dengan saya yang masih bergantung dengan mood dan angin-anginan untuk posting ini? Hehehe. Sudah tentu tahapannya sama seperti yang sudah saya sebutkan, cuma bedanya, temanya sudah ada. Jadi saya tinggal mencari ide yang sesuai dengan tema. Karena tema sudah ditentukan, untuk fotonya akan saya usahakan memakai foto sendiri dengan cara membongkar-bongkar galeri foto-foto saya. Tapi kalau saya tidak memiliki foto yang sesuai tema, maka saya akan menggunakan gambar yang saya dapat dari SEO dengan mencantumkan asal gambar pada captionnya.

Bagaimana? Apakah behind the scene versi saya dapat menginspirasi? Kalaupun nggak juga nggak apa-apa, namanya juga usaha.

Sepertinya itu aja. Jadi begitulan ceritanya sebelum terbentuk posting-posting saya. bagaimana dengan teman-teman? Adakah yang seperti saya? share donk 

Note:

Posting ini saya ikutkan dalam IHB May Blog PostChallenge. Yuk ikutan tantangan  indonesian-hijabblogger.com ini, ada hadiah menarik untuk 3 tulisan terbaik lho, jangan sampai ketinggalan ya, maksimal tgl 31 Mei 2015

Kamis, 28 Mei 2015

If I was One of The BEC Administrators


 
BEC


Same with other members, a few times I did check the BEC blog to know the theme of this week. But it turns out admin BEC is holding a giveaway. Since I am not an idealistic person with vision or mission, just go with the flow. So, what would I do if I was one of the BEC administrators? Maybe I will be busy browsing or searching for inspiration about what topics are suitable and interesting to be in a weekly challenge. Then, busy blog walking to member’s submissions and make a weekly recap as a result for the next week. What a busy week! Therefore, I am personally very appreciate the hard work of the BEC team is willing to take their time a few minutes away from overall their business to keep BEC exist.

Selasa, 26 Mei 2015

EF#20: From Lip Service to Learning Service




Starting relationships with others is not easy. At least we must have one thing in common or similarity that makes us connect with new people who will be in a relationship with us. This applies in general, both with people who later became a best friend, boyfriend, husband, or maybe just friends. Because that one thing in common will make us easier to communicate with others.

Then, what if we do not have any similarity with those who will be in a relationship with us? It will be our homework. As it turns out we have to make efforts to get closer to us with these people. Efforts that may be done is to find out the interest of those who will be our approach. Once we know it, we can make the interest as an ingredient to communicate. Then, what if the interest of people who would we approach proved to be outside of our capacity to understand it? We can meet directly with a standard preamble to initiate communication. Yes, although the standard pleasantries sometimes more difficult to do for some people, including me. Hehehe.

It will be even harder when we are going to try to enter in a certain group. For example, my experience as a new employee in my office three years ago. It all starts with lunch and a standard preamble. Next conversation will flow by itself. Somehow, my adaptation process as a new employee at that time fairly quickly. Maybe because the other person or my opponent in communication is also having an open personality. So with a standard preamble can deliver them to tell about themselves to me.

In my office, I was the youngest employee, so I hung out with the elders. And it was not as difficult as I imagined, because our characters may be the same, so we were comfortable exchanging ideas about anything. About news, works, families, parents, children, home, education, anything. Because of relationship with people who are older than me, made me learn many things from their experiences. I also feel comfortable asking their opinion about what I faced at the time and make it as the basis for my decision making.

That is, the effect of the relationship between co-workers, starting from small talk at lunch that led my colleagues tell about them and certainly made me a lot to learn through their experiences. I was very pleased to have the opportunity to meet and share stories with those great people. Although I was no longer working with them and it may be difficult for me to meet them, but I am still grateful to have known them. They have an important role in my life who taught me to see the world through different viewpoints. I will miss them and our moments together.

This is my story about relationship effect in my office, where’s yours?


Note:
This is my late submission (again and again) because I was so busy crafting and packing for my online shop, so I just spending my time for doing it than doing a submission. So sorry, hope I will not late again next time