Kamis, 10 Desember 2015

Lavender mix Tosca for Graduation Day



Assalamualaikum...

Kenapa judulnya begitu? Tenang-tenang. Saya paham kok. Bukan saya yang diwisuda, tapi adek saya. Saya jelas inget umurlah. Wisudanya sudah x-tahun yang lalu. Hehehe.

Tanggal 28 Oktober 2015 kemarin, adek saya yang nomor satu, diwisuda di kampusnya, Universitas Diponegoro Semarang dan resmi menyandang gelar S. Gz dibelakang namanya. Alhamdulillah. Tepat waktu. Nah, suami saya pengen pulang ke Madiun, sekalian kabur sebentar dari sesaknya asap yang melanda Duri. Akhirnya mas suami ambil cuti pas di minggu adek saya wisuda, sekalian pengen jalan-jalan dulu ke Semarang. 

Wisuda identik dengan foto keluarga dimana foto saat wisuda dengan keluarga dianggap dapat mengabadikan moment bahagian keluarga bahwa salah satu anggota keluarga telah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Untuk wisudawan membuat foto wisuda adalah hal paling gampang segampang mengambil foto biasa (kecuali toganya yang harus nyewa ya).  Sedangkan foto wisuda untuk wisudawati harus dilakukan saat itu juga, mengingat make-up dan hijab-do yang tidak mungkin di ulang kedua kalinya. 

Karena tema baju yang dipakai adek saya adalah berwarna tosca, maka saya pun mencari-cari sesuatu di lemari saya yang berwarna tosca. Tapi ternyata saya tidak memiliki baju yang berwarna biru mengarah ke tosca Karena harus matching-in juga dengan kemeja yang akan dipakai suami, akhirnya saya memilih basic dress berwarna lavender yang saya dobel dengan bolero berwarna keunguan. Dimana warna toscanya? Warna tosca saya ambil dari hijabnya yaitu dasar berwarna ungu dengan motif yang berwarna tosca kombinasi sedikit warna gold kemerahan yang cocok dengan payet yang ada di lengan bolero saya. Fixed.


Premium Scarf by UWAIS HIJAB | Basic Dress by arlisa clothing (ig: @arlisa_id) | Bolero private collection

Apakah saya tidak merasa panas di tengah teriknya Semarang? Jelas tidak. Karena bahan basic dress yang saya pakai sangat nyaman sehingga nggak terasa panas walaupun pemakaiannya saya dobel dengan bolero. Saya paling suka dengan dress-nya, karena flowing-nya lebar banget dan jatuhnya bagus saat saya pakai.

Hijabnya juga nggak kalah oke, wide size scarf dengan ukuran 120 x 130 cm pas banget untuk membuat kreasi hijab menutup dada dan punggung. Ornamen di hijabnya yang ‘blink-blink’ membantu banget ‘mengangkat’ derajat basic dress saya yang tadinya biasa-biasa aja jadi semi formal-party dress.




Salam,


Lisa.

Rabu, 09 Desember 2015

Graduation Outfit from Time to Time



Assalamualaikum...

Lagi booming wisudaan nih, jadi pengen wisuda lagi, eehh... hehehehe. Iya sih kadang-kadang, jadi baper teringat masa lalu saat-saat wisuda dulu. Jadi ketahuan udah lama wisudanya, haha. Oke STOP. Back to the post! Momentum wisuda tenyata membawa dampak yang cukup besar lhoh di dunia fashion. Nggak percaya? Yuuk dikupas bareng-bareng

Momentum wisuda adalah event yang membahagiakan, baik dari mahasiswanya sendiri yang diwisuda maupun dari keluarga. Oleh sebab itu, wisuda sering dijadikan sebagai ajang ngumpul-ngumpul keluarga (dan ajang mengenalkan pasangan, eh). Hehehe. Wisuda yang merupakan occassion semi-formal ini mengharuskan wisudawan dan wisudawati berpakaian sesuai dengan acara yang digelar. Untuk wisudawati, biasanya memakai kebaya dan untuk wisudawan biasanya memakai kemeja yang dilengkapi dengan jas dan dasi.

Sifat dari occassion-nya yang semi-formal ini, membuat wisudawati bebas menentukan outfit yang akan dipakai, asal masih dalam koridor semi-formal. Outfit wisuda ini pun ternyata mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Bertahun-tahun lalu, saat ibu saya wisuda, outfit yang dikenakannya adalah (masih) menggunakan atasan kebaya kutubaru ngepas badan yang mulai ngetrend lagi akhir-akhir ini dengan bawahan berupa Jarit/ Jarik. Jarit/ Jarik (dalam Bahasa Jawa) adalah kain batik yang dililit secara horizontal ke tubuh bagian bawah mulai dari pinggang kemudian disisakan sedikit di depan lutut dan dilipat rapi kecil –kecil yang disebut dengan wiru. Ikatan itu kemudian dikuatkan dengan stagen yang digunakan melingkar di pinggang agar tidak lepas. Pakaian ini dilengkapi juga dengan selendang kecil sebagai pemanis yang di selempangkan di bahu kanan atau kiri atau bisa secara menyilang di depan dada.

Orang Tua saya sebelum mereka menikah, ketika wisuda Ibu saya | Oktober 1986

Untuk tatanan rambut adalah menggunakan konde dengan ukuran sedang atau besar dengan hiasan yang sederhana. Saat itu wanita berjilbab masih sangat jarang, termasuk ibu saya. Saya pikir fashion hijab pun belum ada dan belum bervariasi seperti sekarang ini sehingga konde adalah satu-satunya pilihan untuk tampil resmi atau formal.

Outfit wisuda saat jamannya ibu saya ini masih dilengkapi dengan sandal selop (mirip dengan alas kaki pengantin Adat Jawa, tapi biasanya berbeda motif atau lebih sederhana) atau sandal teplek dengan heels yang pendek. Outfit wisuda ini masih dipermanis lagi dengan clutch bag atau sling bag yang warnanya diserasikan dengan kebaya yang dipakai. Outfit ini merupakan penyederhanaan dari Pakaian Pengantin Adat Jawa dimana outfit ini merupakan outfit standar yang digunakan untuk acara-acara resmi seperti wisuda, tunangan, ijab qobul, pendamping pengantin, penerima tamu, arisan, upacara kenegaraan, peresmian, dll.

Berasa riweuh banget ya, kalau kita membandingkan jaman dulu dan jaman sekarang. Tapi memang begitulah adanya. Coba tanya ibu atau nenek masing-masing, mungkin mengalami masa-masa itu. Atau, coba buka kembali album foto orang tua saat masih muda, maka bisa dipastikan kalau pakaian standar resminya adalah seperti itu, kebaya kutubaru dan Jarit/ Jarik.

Semakin berkembangnya dunia fashion, outfit graduation pun mengalami banyak perkembangan. Kebaya model kutubaru yang di jaman ibu saya ngetrend abiz sudah mulai ditinggalkan, diganti dengan kebaya moderen sebagai akibat dari akulturasi fashion luar negeri yang variasinya bermacam-macam dan dapat disesuaikan dengan keinginan. Perubahan mode kebaya dibarengi juga dengan menjamurnya penjahit kebaya yang mahir dan kreatif memainkan pola dan jenis-jenis kain menjadi kebaya modern yang sesuai pada masanya.

My Graduation Outfit | September 2011

Kebaya modern dibentuk dari kain tile/ tulle dan kain brokat yang dibentuk dan diatur sesuai dengan pola tertentu sesuai dengan keinginan. Kesan mewah dapat ditimbulkan dari penambahan payet di bagian-bagian tertentu pada kebaya atau pada keseluruhan kebaya. Badan dapat dibentuk lebih ramping dengan menggunakan dalaman torso yang terbuat dari kain satin halus dengan warna yang senada dengan kebaya. Untuk wanita berhijab, dapat menggunakan manset sebelum memakai torso sebagai dalaman kebaya. Untuk bawahannya, simpel menjadi alasan utama untuk merubah kain Jarit/ Jarik menjadi skirt dengan potongan tertentu. Bahkan, kebanyakan orang sudah mulai meninggalkan kain Jarit/ Jarik dan menggantinya dengan kain bermotif batik yang warnanya dapat disesuaikan dengan kebaya modern yang sudah pasti harganya jauh lebih miring dari pada kain Jarit/ Jarik yang merupakan batik asli. Tapi, perubahan mode kebaya tersebut tidak mengurangi kesan resmi dari suatu acara.

Alasan simpel, lagi-lagi digunakan sebagai dasar untuk merevisi kebaya sebagai outfit graduation. Kebaya yang tadinya dibuat two pieces berupa atasan kebaya dan bawahan, direvisi menjadi kebaya yang dijahit menyatu dengan bawahannya menjadi one piece berupa dress. Komponen penyusun dress masih sama dengan kebaya modern pada umumnya, hanya saja bentuknya dimodifikasi menjadi sebuah dress lengan panjang yang simpel dan manis untuk dikenakan pada occasion semi-formal.


My Sist Asri Subarjati in her Graduation Outfit | 28 Oktober 2015

So, apa pilihan kebayamu untuk occassion semi-formal? Share donk




Salam,


Lisa.

Jumat, 04 Desember 2015

Surabi Bandung Enhaii





Haaaiii... very long long time no see yaa... (kayak yang nungguin posting banyak aja, hehehe). Ya sutralah, langsung aja yaa...


Ngomongin makanan itu memang nggak ada habis-habisnya ya? Adaaa aja yang pengen diceritain. Mulai dari segi rasa, segi seasoning, penyajian atau platting, tempat makannya atau restonya dan pakaging-nya untuk take away. Semuanya bisa diceritain. Bikin mupeng diri sendiri kalau lagi nulis tentang makanan. Apalagi yang baca ya? Hehehe. Sambil ngebayangin aja nggak apa-apa ya? Okelah kalau begitu


Sebelum kenal jajanan yang satu ini, saya nggak terlalu suka dengan serabi. Iya serabi. Serabi yang yang menurut definisi merupakan merupakan jajanan pasar tradisional berasal dari Indonesia. Terdapat dua jenis serabi, yaitu serabi manis yang menggunakan kinca (saus manis yang terbuat dari gula merah) dan serabi asin dengan taburan oncom (makanan yang diolah secara fermentasi dari bahan kacang-kacangan) yang telah dibumbui diatasnya. Untuk yang tradisional, saya kurang begitu tahu dan paham ya. Makanya saya tambahin keterangan apa itu kinca dan oncom. Karena saya pribadi juga tidak paham. Hehehe. How come? The answer is as simple as where do you come from? That’s it. Saya berasal dari Caruban, Kab. Madiun yang membuat pengetahuan istilah yang saya miliki terhadap nama sebutan di daerah lain sangat minim. Karena kadang benda yang sama memiliki nama sebutan yang bermacam-macam berdasarkan daerah masing-masing. Contoh paling gampang adalah makanan. Oleh sebab itu, kalau saya salah, boleh kok koreksi di komen bawah ya, sharing is caring


Oke, balik lagi. Serabi yang kadang disebut dengan Surabi, yang saya kenal adalah yang versi moderen. Lhoh ada? Iya, ada. Yang mungkin sudah sering temen-temen makan, memiliki topping yang variannya luar biasa banyak. Saya pun baru mengenalnya setelah berpenasaran-ria tanya ini itu ke suami tapi suami juga nggak ‘ngeh’ juga. Akhirnya diajakain nyobain di salah satu kios cabangnya yang terletak di Kota Padang. Ternyata... pilihan toppping-nya banyak banget. Asli. Saya dan suami sampai bingung mau pilih yang mana. Akhirnya pilihan jatuh pada rasa cokelat dan nangka spesial.

Surabi Bandung Enhaii Cab. Padang - Sumatera Barat


Sebelum nyobain, saya agak ragu-ragu nih. Karena awalnya memang saya biasa aja, nggak ada feeling apa-apa sama si serabi ini. Mungkin bisa dibilang kurang suka ya, mau makan, cuma ya nggak nge-fans banget. Karena terkadang ada aja yang rasanya bikin nggak pas di mulut saya saat dimakan. Entah santannya, entah nangkanya. Jadi saya nggak terlalu nge-fans-lah sama jajanan serabi. Tapi, kalau yang ini lain, asli beda. Saya langsung jatuh cintaaa. Serabi ini dikenal dengan merk dagang Surabi Bandung Enhaii. Nah, udah pada kenal kan? Belum? Yasudah, Lisa ceritain ya


Surabi Bandung Enhaii merupakan salah satu merk dagang dari jajanan surabi atau serabi yang kiosnya sudah banyak dijumpai di kota-kota besar. Surabi Bandung Enhaii menyediakan jajanan tradisional surabi khas Bandung yang topping-nya sudah divariasikan dengan berbagai rasa, namun tetap tidak meninggalkan rasa asli surabi. Penambahan variasi topping tentu saja meningkatkan ‘derajat’ si surabi ini. Bagaimana tidak, jajanan tradisional Bandung yang biasanya dijajakan di pagi hari, kini dapat dinikmati setiap saat sesuka hati, tidak peduli pagi, siang atau malam dan tidak harus berada di daerah asalnya.

Surabi Rasa Nangka Spesial


Variasi topping-nya yang bermacam-macam dengan ukuran yang pas, cocok untuk mengisi celah kosong dalam perut kita saat belum terlalu lapar. Rasa surabi yang gurih dan lembut ditambah aneka pilihan topping, seperti rasa coklat, keju, nangka, durian, jagung, sosis dan lain-lain berpadu dengan saus seperti mayonaisse manis tentu membuat kita lupa sama lapar. Tapi, kalau ternyata kita sudah sangat lapar, kios Surabi Bandung Enhaii juga menyediakan berbagai pilihan makanan berat. Kiosnya pun yang lumayan besar, cocok untuk dijadikan sebagai tempat ngumpul-ngumpul santai atau acara tertentu bareng pasangan, teman, rekan kerja atau keluarga.


Apa lagi ya? Saya tidak bisa menceritakan lagi lebih banyak, karena saat itu saya membeli surabi untuk take away sehingga saya tidak berkesempatan nyobain bagaimana rasa dari salah satu makanan berat yang dijajakan di kios Surabi Bandung Enhaii atau bagaimana pelayanannya. Yang bisa saya pastikan adalah, rasa surabinya enaaaakk banget, membuat saya langsung fix nge-fans dan janji akan kesana lagi suatu saat nanti di salah satu kiosnya



Amiinn







Salam



Lisa.


Kamis, 03 Desember 2015

White Dots in My Baby Tosca Dress



Assalamualaikum...

Terik cuaca di Semarang yang masih jarang hujan membuat saya pengennya pakai baju yang menyerap keringat, agar nggak kepanasan dan tetap merasa nyaman dipakai untuk dipakai jalan-jalan keliling kota Semarang. Banyak tempat menarik di Semarang yang harus saya kunjungi dengan berbagai rute yang harus dilewati dan tentunya kuliner khas Semarang yang patut dicoba. Mumpung lagi liburan disini.

Pilihan saya jatuh kepada dress yang berwarna baby tosca dengan motif polkadot putih dari koleksi finalovehijab (ig @finalovehijab). Potongan dress-nya yang simple dan feminim membuat saya langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Bahan kainnya yang terbuat dari kain katun sangat halus dan nyaman banget dipakai. Di bagian pinggangnya dipermanis dengan tali yang bisa dibentuk simpul pita sesuka hati.


Untuk padanan hijabnya, saya sih nggak terlalu berani memainkan banyak warna ya, jadi sukanya main aman aja. Nggak tahan kalau jadi sorotan orang gegara pake baju nggak match atau tabrak warna, hahaha.  

Jadi hijabnya pun saya pakai warna senada yaitu putih. Karena motif dress-nya udah rame, biar nggak terkesan tabrak motif or tabrak warna aja.

Biar nggak gampang capek karena daftar panjang jalan-jalan dengan rute yang relatif jauh, andalan saya adalah selalu dengan flat shoes. Always! Nyaman banget buat jalan-jalan jauh dan lama. Nggak bikin kaki pegel pastinya. Hehehe. Biar tampilan nggak monoton karena dari atas sudah match semua, teman-teman bisa memasangkan dengan sepatu dan tas yang bernuansa netral, cokelat misalnya.

Tapiii kalau misalnya teman-teman pengen terlihat lebih formal, flat shoes-nya bisa diganti dengan high heels ya. Lisa pernah pakai dress yang sama ke aqiqahan anak temennya suami, Lisa ganti flat shoes Lisa dengan sepatu high heels warna broken white. Jadilah tampilan feminin yang semi-formal

viscose shawl by hl (ig @heaven_lights) | Dotty Dress by FLH (ig @finalovehijab) | bag Neo Amberiaux by Signature Sophie Paris | Flat Shoes bu Collete


 Location : Lawang Sewu, Semarang
Taken by hubby with Asus Zenphone 2



Salam,


Lisa.